
Isuke terjaga, dia melihat sekeliling dan meraba-raba badannya.
'Apakah ini yang di sebut alam kematian?' Isuke teringat bahwa beberapa saat yang lalu dia tenggelam di danau dan kehabisan nafas.
" Wah, tak kusangka kau sudah bangun secepat ini. Kukira kau akan pingsan selama beberapa hari, ternyata cuma satu jam " Seorang pria datang dari pintu rumah kecilnya. Dia memakai pakaian compang-camping dan kolor selutut yang bawahnya seperti gigi gergaji. Rambutnya panjang sebahu dan giginya hitam.
" Whoooaaaa, siapa kau? " Isuke langsung berdiri karena terkejut dan merapatkan badannya ke dinding bagian belakang yang mirip batu.
" Ahaha, tak perlu bereaksi berlebihan. Seharusnya aku yang bertanya seperti itu! Siapa kau dan mengapa kau ke sini? " Pria itu terkekeh karena Isuke seperti menemui monster saja saat melihatnya.
Isuke heran, apakah mati memang seperti ini atau dia belum mati?
Dia pun menenangkan dan menguasai dirinya lagi. Lalu pria itu mengajaknya keluar untuk menghangatkan tubuh di depan api unggun yang dia buat.
Isuke menuruti saja keinginanya karena dia yakin bahwa orang di depannya tidak memiliki hawa permusuhan.
Akhirnya mereka mengobrol dan memperkenalkan diri masing-masing. Pria itu bernama Kang Dong. Isuke juga menanyakan 'dunia apa ini?'. Ternyata ini adalah alam siluman, dunia lain selain alam manusia. Di dunia ini tidak ada manusia lain selain mereka kata Kang Dong. Katanya dia juga terdampar di sini beberapa tahun lalu.
Di dunia ini hanya ada siluman yang sudah hidup beratus bahkan beribu tahun. Tempat ini juga selalu gelap dan hanya mengalami siang hari sekitar tiga jam. Jadi waktu malam sangat panjang.
Ini terjadi karena tempat tersebut dikelilingi batu yang besar dan tinggi sekitar puluhan bahkan ratusan kilometer. Luasnya seperti lapangan sepak bola.
Terlihat juga dari tempat Isuke duduk ada sebuah danau yang murni airnya. Sepertinya danau itu tempat Kang Dong mengambil air.
Kini Isuke faham dia berada di mana, meski dia tidak pernah mendengar ada alam kehidupan lain selain alam manusia.
" Paman, mengapa aku bisa berada di situ? " Isuke bertanya lagi sambil menunjuk sebuah bangunan yang terbuat dari bambu yang disusun dengan atap dari ilalang. Bangunan ini sangat kecil mungkin hanya untuk tidur satu orang. Bangunan ini nyaris tidak seperti bangunan, layaknya disebut tumpukan bambu.
" Aku membawamu kerumahku. Karena saat aku mencari kayu bakar dan buah-buahan aku menemukanmu tergeletak pingsan di dekat pohon" Kang Dong berkata sambil sesekali membenahi kayu bakar agar apinya tetap menyala.
__ADS_1
" Wtff.... " Isuke menahan tawa. Dia berfikir 'Apa?itu adalah rumahnya, kurasa itu bukanlah rumah' Isuke tertawa di dalam batin karena takut Kang Dong tersinggung.
"Mengapa kau bisa ada di sini Isuke? " Kang Dong menghentikan tingkah aneh Isuke dengan pertanyaan.
Isuke menjelaskan kejadian yang menimpanya mulai dari pertarungan dua ketua sampai tenggelam dan pingsan.
Kang Dong mengangguk-ngangguk seperti faham.
Kang Dong melemparkan buah seperti apel tapi warnanya ungu kepada Isuke. "Makanlah!"
Isuke menangkapnya dan langsung memakannya.
" Tranggggg.... "
Sepertinya Isuke menggigit baja bukan apel. Ternyata buah itu sangat keras. Isuke merasa giginya akan copot, dia tak mengira bahwa buah itu akan sekeras ini.
Lalu dia melirik ke arah Kang Dong, tapi dilihatnya Kang Dong santai saja dalam mengunyah buah itu. Sepertinya dia tidak merasakan sakit apapun.
Isuke tersedak ludahnya sendiri mendengar buah yang ia pegang adalah buah paling empuk. Dia berfikir bahwa ini adalah neraka baginya.
" Oh iya paman, apakah aku ini masih hidup atau di dalam neraka? " Isuke bertanya.
" Tentu saja kau masih hidup Isuke" Kang Dong menjawab singkat.
" Kau sangat lemah Isuke, hahahaha jika kau bertarung dengan siluman rendah di sini saja pasti kau akan langsung mati. Hahahahaha... "
Kang Dong melanjutkan ucapannya sambil membenarkan kayu bakar agar api tetap menyala.
Isuke tertunduk karena memang benar dia sangat lemah. Lalu dia memanggil-manggil guru Lin, tapi tak ada jawaban dari gurunya itu. Isuke pun kini terdiam. Dia memikirkan apa yang terjadi dengan gurunya itu.
__ADS_1
Suasana menjadi sunyi karena keduanya terdiam cukup lama. Lalu ada sebuah angin kencang yang datang entah darimana. Cukup membingungkan karena ada angin di tempat yang dikelilingi batu tinggi seperti ini.
Akibat angin ini api yang dibuat Kang Dong menjadi Padam. Lalu dia menjentikan jari telunjuknya dan terciptalah api sebesar bola basket. Kang Dong pun menyalakan api unggunnya kembali.
Hal yang dilakukan Kang Dong barusan membuat Isuke melongo dan membuka mulutnya lebar-lebar. Dia tidak menyangka orang didepannya yang seperti gila itu sesakti itu. Dia bisa membuat api hanya dengan menjentikan jari 'Sungguh mengagumkan' Fikir Isuke.
Isuke pun bertanya " Paman, sesakti apa dirimu? Aku ingin melakukan hal seperti tadi. Tolong ajari aku paman guru" Isuke berdiri sambil membungkukan badannya memberi hormat. Dia bersikap sebaik mungkin agar Kang Dong menerimanya sebagai murid.
" Hahahaha…, jika kau siap maka aku akan melatihmu, Isuke" Kang Dong tertawa sambil mengusap kepalanya.
" Latihan yang kuberikan mungkin akan sangat sulit, tapi percayalah jika kau serius maka hal seperti tadi adalah hal kecil. Kuharap kau siap menerima latihan keras dariku" Kang Dong melanjutkan ucapannya.
" Aku siap guru" Isuke membungkukan badannya lagi, dia bersikap penuh hormat.
" Sekarang istirahatlah dulu dengan puas sebelum kita berlatih. Aku ingin tidur di rumahku, kau bisa beristirahat di sini karena rumahku sempit" Kang Dong berkata sambil berlalu pergi masuk menuju rumah kecilnya.
Isuke menahan tawa, karena yang dikatakan rumah oleh Kang Dong itu tampak seperti bukan rumah. Saat Kang Dong membaringkan badannya, bangunan itu reot dan bergetar. "Kreeeet… kreeet... Kreet... ".
Kini Isuke sendirian di dekat api unggun. Dia pun mengambil kitab Triwindra dari dalam sweaternya. 'Aku terlihat gemuk saat menyimpan kitab ini di perut, huuuft merepotkan sekali' fikir Isuke. Dia merasa heran karena kitab itu tak basah dan masih utuh meski sudah tenggelam ke danau bersamanya.
Dia pun berfikiran bahwa kitab itu sakti, jadi mungkin kitab itu tahan dari air. Ngawurnya fikiran Isuke.
Perlahan Isuke membuka bagian pertama dari kitab itu. Tentang ilmu beladiri tangan kosong. Teknik ini disebut teknik sayap garuda. Isuke pun berniat mempelajarinya di waktu ini.
Isuke berdiri dan memperagakan gerakan yang tertera di kitab itu. Sesekali dia melongo karena lupa bagaimana gerakan selanjutnya. Dia pun melihat kembali kitab tersebut dan berlatih lagi.
Begitu fokusnya dia berlatih, sehingga tak terasa sudah dua jam dia berlatih. Isuke nampak kelelahan dan duduk di dekat api yang sudah padam. Dia melamun sambil memegang lututnya.
Dia pun teringat sesuatu dan bergumam 'Aduh lambannya otakku, mengapa aku lupa menanyakan ini kepada Guru Kang Dong'
__ADS_1
Author pun segera mengakhiri chapter ini dan langsung berkata " Terima kasih sudah membaca, semoga terhibur. Author juga minta maaf baru up, soalnya minggu ini sibuk jadi gak sempet nulis"