
Isuke tidak merasa ngantuk dan mulai bosan berlatih. Dia berfikir bahwa guru barunya pasti merasa kesepian di sini sendirian. Dia pun berniat membuat rumah kecil di samping rumah Kang Dong karena akan tinggal di sini selama beberapa waktu.
Dia menebang beberapa bambu dengan golok yang tergeletak di dekat rumah Kang Dong. Lalu memotong nya dengan sedemikian rupa.
Tak lupa dia mengumpulkan beberapa akar tumbuhan yang digunakan untuk tali.
Dia juga mengumpulkan rumput ilalang yang ada di pinggiran tempat itu. Rumput ini digunakan untuk atap. Meski dia yakin di sini tak akan hujan, tapi dia ingin menunjukan bahwa dia bisa membuat rumah yang lebih baik dari Kang Dong.
Diapun memulai membuat rumahnya dengan sepenuh hati dan sangat hati-hati.
Beberapa jam kemudian, Kang Dong bangun tepat saat Isuke selesai dengan pekerjaannya.
" Fiuuhhh... Akhirnya selesai juga" Isuke berkata pelan sambil mengusap keringat di keningnya.
Kang Dong yang berdiri di sisi Isuke langsung menatap rumah baru Isuke. Dia sedikit kagum dengan pekerjaan Isuke tapi dia menyembunyikan kekagumannya karena merasa malu.
" Guru kau sudah bangun rupanya. Aku siap berlatih guru" Isuke berkata penuh hormat dan tak sabaran. Tapi sepertinya ucapan Isuke tak sesuai dengan keadaannya. Isuke tampak kelelahan tapi masih memiliki semangat.
" Baiklah-baiklah, sekarang kita mulai berlatih" Kang Dong berkata sambil memandangi rumah baru Isuke. Dia tak menghiraukan keadaan Isuke. Sepertinya dia sangat berpengalaman dalam melatih.
Isuke merasa bangga karena rumahnya begitu bagus, ya setidaknya lebih bagus dari rumah Kang Dong. Isuke juga merasa gurunya itu kagum. Meski tidak ada pujian yang sampai kepadanya, tapi dia melihat wajah gurunya yang berbinar-binar. Itu sudah cukup baginya untuk membuat kesan hebat untuk dirinya sendiri.
Hari mulai terang, matahari terlihat di atas kepala. Isuke merasakan hangatnya sinar sang surya di tempat yang sempit ini.
Kang Dong membawa Isuke ke sebuah tempat. Melewati gerbang batu yang terdapat di dekat danau di tempat itu.
Isuke sempat menanyakan kemana ia akan di bawa, tapi Kang Dong menjawab bahwa dia akan segera tahu.
" Slaasssh…" Isuke di gendong dan di bawa melesat. Kecepatan Kang Dong seperti kuda dan membuat isuke terpejam. Isuke kagum sekaligus takut karena ini pengalaman pertamanya melihat ada manusia secepat kuda seperti itu.
Beberapa menit kemudian sampailah keduanya ketempat yang penuh dengan batu dan lumut.
Ternyata ada tempat lain selain rumah Kang Dong fikir Isuke. Tempat ini menyeramkan dan lembab. Sepertinya tak ada sinar matahari yang masuk ke sini. Kesan dalam benak Isuke adalah horor.
Isuke di perintahkan menggali tanah dengan dahan pohon sebesar betis. Dia harus menggali sedalam lima meter dan luasnya dua meter dengan waktu setengah jam.
__ADS_1
Isukepun melakukannya meski dia yakin butuh waktu yang lebih lama dari waktu yang diberikan.
Benar saja, butuh waktu dua jam Isuke menyelesaikan pekerjaannya. Sekitar lima meter dia menggali dan bertemu dengan sebuah lapisan tanah berwarna perak yang sangat keras. Dia pun berhenti menggali. Kini dia tampak terbaring di dalam tanah karena kelelahan.
" Kau sudah beres rupanya Isuke" Kang Dong berkata sambil malas sepertinya habis bangun tidur.
Isuke berdengus kesal dengan sikap gurunya itu. Dia pun bertanya-tanya untuk apa melakukan hal seperti ini.
"Wussssh Bemmm, wussshhh...... "
Kang Dong melompat lalu berdiri dihadapan Isuke. Pijakannya seperti mengenai baja yang keras dan ada angin pelan yang berhembus akibat pijakannya.
Lalu Isuke di bawa terbang ke atas. " Menjauhlah sedikit! " Kang Dong memerintahkan Isuke dan Isuke langsung menurutinya.
Lalu Kang Dong membuat sebuah bola api dari tangannya. Api ini sangat panas sekali, dan membuat Isuke menjauh beberapa meter agar tak meleleh.
Kang Dong memasukan bola api itu ke dalam lubang yang dibuat Isuke dengan perlahan. Lalu dia tampak menggerak-gerakan tangannya beberapa menit.
Saat Kang Dong mengangkat tangannya ke atas
"Slassh…." sebuah pedang melesat ke atas dan jatuh tepat di hadapan Isuke.
"Guru, apa pedang ini terbuat dari lapisan tanah keras yang tadi aku gali?" Isuke bertanya dengan wajah sedih.
Kang Dong hanya mengangguk dan membuat Isuke kesal.
" Kenapa guru tak menggalinya saja dengan kekuatan guru. Itu bahkan akan lebih singkat dan menghemat tenaga" Isuke berkata sambil berlutut karena kekonyolan gurunya.
" Nanti kau akan faham" Lagi-lagi perkataan gurunya itu membuat Isuke kesal.
" Lihatlah! " Kang Dong melempar-lempar bola air di tangannya lalu menembakannya ke pedang yang tadi melesat. Pedang itu kini berada di tengah bola air tersebut. Bola air itu terus diam, tanpa pecah. Seperti gelembung berisi air. Sepertinya Kang Dong Mendinginkan pedang baru tersebut. Lalu keduanya kembali ke rumah.
Setelah sampai di rumah, Kang Dong memberikan pedang yang tadi dia buat. Isuke mencabut pedang tersebut dari selongsongnya yang berwarna hitam. Isuke terkagum-kagum melihat keindahan pedang tersebut.
Pedang itu sedikit tipis seperti katana berwarna perak. Ujung gagang hitamnya dihiasi ukiran seperti paruh burung garuda.
__ADS_1
Isuke menggerak-gerakan pedang tersebut secara asal. Baru pertama kali dia mendapatkan pedang seperti ini. Jadi dia sangat bangga dengan pengalamannya.
Isuke teringat sesuatu yang difikirkannya sebelum membuat rumah "Guru bagaimana caranya agar aku bisa kembali ke duniaku? " Itulah hal dalam benaknya.
" Aku tidak yakin dengan cara ini, tapi ini satu-satunya cara. Dan syaratnya kau harus memiliki tujuh tabung tenaga dalam" Kang Dong berkata sambil memegang dagu dengan jari telunjuknya.
Isuke ingin bertanya lebih lanjut, tapi Kang Dong memerintahkan muridnya itu untuk segera berlatih saja.
Kang Dong pun melatih beberapa teknik dasar berpedang. Mulai dari cara memegang hingga menggunakannya.
***
Sekitar tiga hari, Isuke berlatih pedang, kini dia menguasai dua jurus dari Kang Dong. Yaitu jurus Tarian dewi bunga dan Tebasan dewa kematian.
Jurus ini sangat sulit di pelajari, tapi untungnya Isuke sedikit pintar dalam hal belajar. Jadi dia menemukan sedikit kesulitan saja.
" Guru, ajarkan aku jurus baru! " Pinta Isuke dan menghentikan latihannya.
" Dua jurus itu cukup membuatmu hebat jika kau seratus persen menguasainya" Kang Dong yang sedang berbaring sambil memandang langit yang gelap tanpa bintang, bulan dan matahari.
Cahaya di tempat ini selalu remang-remang dan membuat Isuke sedikit jengkel. Tapi lama kelamaan dia terbiasa.
Isuke pun meneruskan latihannya.
"Lekukan lututmu dengan benar, benarkan pegangan mu. Lenturkan tubuhmu... "
Begitulah setiap kritik yang dilontarkan Kang Dong.
Pelajaran dari Kang Dong sangat mudah dipelajari oleh Isuke. Sehingga Isuke cepat tanggap dan kini teknik berpedangnya lumayan hebat.
Seminggupun berlalu...
Di minggu ini, Isuke tidak diperbolehkan Istirahat terlalu lama. Dia di beri waktu satu jam untuk tidur dalam sehari. Di minggu ini Kang Dong juga mengajarkan ilmu meringankan tubuh tingkat dasar. Agar Isuke bisa meneruskan latihan lanjutan.
Hari ini Isuke dan Kang Dong akan pergi ke suatu tempat untuk melanjutkan latihannya.
__ADS_1
Sehingga author lelah menulis chapter dan semoga terhibur, terima kasih.
Bila ada typo mohon kasih tau author ya man teman biar saya perbaiki.