Legenda Pedang Garuda

Legenda Pedang Garuda
12. Kesepakatan


__ADS_3

Sehari kemudian Isuke terjaga dari pingsannya. Hal yang pertama ia lihat adalah jeruji besi. Dia diikat rantai dalam ruangan pengap dan gelap. Ada cahaya yang menjalar dari sisi kanan ke depan pintu jeruji besi tersebut.


" Isuke " Terdengar suara gadis yang lemas dari arah kanan Isuke. Itu adalah Tsuruna, dia lemas karena seharian di ruangan ini tanpa makanan.


" Tsuruna apa yang terjadi? Apa kau baik-baik saja? " Isuke sedikit gemetar dan bingung. Dia belum terbiasa dengan hal seperti ini.


Tsuruna pun menjelaskan bahwa mereka di jadikan tahanan oleh sekte Rawa Laba-laba. Beruntungnya mereka tidak dibunuh. Tsuruna pun bingung apa yang direncanakan mereka.


Tsuruna juga menjelaskan benda pusaka yang di ambil oleh Rawa Laba-laba. Benda pusaka itu adalah sebuah benda kotak dan dia tidak mengetahui isinya karena itu turun temurun dan belum pernah ada yang membukanya. Meski Tsuruna tahu bahwa di dunia modern dulu tak ada yang seperti itu tapi itulah yang diceritakan ibunya dulu.


Awalnya Isuke bingung mengapa banyak orang yang mengejar Tsuruna dan kini dia mengerti.


Isuke kini memahami apa yang sedang terjadi. Akhirnya keduanya pun hanya terdiam dan memikirkan cara agar mereka keluar dari tempat ini.


***


Di ruangan Min Tan...


Min Tan sedang membolak-balik benda pusaka yang ia dapatkan. Dia berusaha menghancurkan kotak dan ingin segera melihat benda pusaka di dalamnya. Tapi sejauh ini dia belum bisa menghancurkannya meski dengan tenaga dalam.


Dia pun menemui Jiun Huk dan meminta bantuan kepadanya. Tapi tetap saja benda itu tidak hancur, bahkan utuh tidak tergores sedikitpun.


Keduanya pun berjalan menuju ruang bawah tanah. Ternyata itu adalah ruang penjara. Mereka menuju penjara paling dekat dengan tangga dan terlihat dua orang yang kaget dengan kehadiran mereka. Sepertinya mereka sedang melamun. Ya! Mereka adalah Isuke dan Tsuruna.


" Katakan padaku bagaimana cara membuka benda pusaka ini? " Dengan nada sedikit menekan, Min Tan bertanya kepada Tsuruna. Isuke yang berada di sampingnya bergumam 'Orang tua tapi tidak sopan'.


Tsuruna yakin bahwa itu adalah ketua sekte Rawa Laba-laba. Meski dia tak bisa melihatnya tapi dia bisa merasakan auranya.

__ADS_1


" Kata Ibuku benda itu akan memilih pemiliknya sendiri dan ketika benda itu tersentuh oleh orang terpilih maka pusakanya akan tampak. " Tsuruna berkata dengan santai dan meyakinkan.


Awalnya dia tidak ingin memberitahukannya. Tapi setelah di fikir-fikir tidak akan terjadi apa-apa karena tidak mungkin benda itu menjadi milik orang jahat seperti mereka. Akhirnya dia pun memberitahukannya.


Min Tan tampak geram karena benda itu tak kunjung menampakan diri saat bersentuhan dengannya.


Dia pun berjalan keluar dan meninggalkan Isuke tanpa pamit. 'Sungguh tak sopan'Hhaaha itulah fikiran Isuke.


" Ketua, kenapa kita tidak membunuh mereka? " Jiun Huk bertanya dengan ragu.


" Jika benda pusaka ini belum keluar, aku tidak akan membunuh mereka. Aku yakin gadis itu menyembunyikan sesuatu tentang pusaka ini. Sekarang aku ingin istirahat dulu. Kepalaku terasa pusing" Ketua Min Tan berkata sambil memegangi kepalanya. Dia pun berjalan menuju ruang pribadinya.


Jiun Huk memahami keadaan ketuanya. Karena dia mengurus sekte dan berusaha membuka benda pusaka itu tapi tetap benda yang diinginkan ketuanya belum tampak. Sangat jengkel pastinya.


***


Dia pun langsung masuk ke dalam sekte tersebut dan berniat menemui ketuanya. Beberapa penjaga gerbang menanyakan apa yang terjadi tapi si pria ini terus berjalan dan menghiraukan pertanyaan yang ditujukan kepadanya.


" Tetua Ji Me apa yang terjadi? "


" Tetua apa anda baik-baik saja?"


Begitulah pertanyaan yang terlontar kepadanya dan masih banyak lagi.


Akhirnya dia sampai di sebuah ruangan, terlihat seorang wanita paruh baya sedang duduk di kursinya.


" Ketua Cua Mei, ada yang mencuri benda pusaka itu dariku. Dia berasal dari sekte Rawa Laba-laba. " Tetua Ji Me langsung pingsan setelah memberikan informasi itu. Dia kelelahan karena menahan sakit dan berlari ke kota Hagok selama sehari.

__ADS_1


Ketua Cua Mei langsung memerintahkan tabib sektenya untuk mengobati Tetua Ji Me. Dan dia langsung mengumumkan rapat tetua untuk membahas informasi tersebut.


Tak butuh waktu lama empat tetua sekte tersebut sudah berkumpul. Sebelum bertukar fikiran, ketua Cua Mei memberikan informasi terlebih dahulu tentang keadaan yang menimpa tetua Ji Me.


Merekapun membahas keadaan tetua Ji Me yang terluka saat mempertahankan benda pusaka yang telah ada di tangannya. Mereka juga membahas untuk menyikapi orang yang telah melukai tetua Ji Me.


" Ketua, bagaimana kalau kita menyerang dan menghancurkan sekte Rawa Laba-laba itu. Aku tidak terima kakakku jadi kehilangan lengannya " Tetua Ji Mo yang merupakan adik kandung tetua Ji Me terlihat paling marah dan tak sabaran. Keduanya di kenal dengan julukan 'Si Kembar Lengkap'. Julukan ini mereka dapatkan karena saat mereka bertarung secara bersamaan mereka seolah bertambah kuat dan kekompakan permainan pedang mereka sulit dicari celahnya. Tapi keduanya merupakan tetua paling lemah di sekte ini. Mereka dijadikan tetua karena berjanji mengabdi kepada Merak Hitam saat di taklukan oleh ketua Cua Mei.


" Tetua Ji Mo, anda pasti mengetahui kekuatan tetua Ji Me. Jika dia kalah seperti itu, berarti lawannya akan sulit. Kita tak boleh gegabah " Sahut tetua lainnya yang tampak tenang. Tetua ini dikenal dengan nama Cua Gue dan merupakan adik kandung ketua Cua Mei.


Terciptalah kegaduhan di ruangan tersebut karena perbedaan pendapat dan fikiran.


Hingga akhirnya mereka mencapai kesepakatan. Mereka memutuskan untuk merebut kembali benda pusaka tersebut dengan menyerang sekte Rawa Laba-laba besok.


Sementara sekte di serahkan dahulu kepada Cua Gue, adik lelaki ketua Cua Mei. Yang kekuatanya sedikit di bawah ketua Cua Mei. Dan ketua Cua Mei akan ikut serta dalam penyerangan. Awalnya Cua Gue bersikukuh ingin mengikuti penyerangan tapi ketua Cua Mei membentaknya sehingga diapun bersedia. Jadi jika kursi kepemimpinan kosong maka sama saja ingin meruntuhkan sekte tersebut. Karena bisa saja ada serangan dadakan untuk menghancurkan sekte tersebut.


Keesokan harinya...


Sekitar setengah anggota sekte Merak Hitam berkumpul dan sudah siap berangkat. Mereka menunggu ketua Cua Mei yang sedang berbicara dengan San Zang.


" Ketua, mohon izinkan aku ikut dalam penyerangan ini " Begitulah ucapan yang keluar dari San Zang. San Zang merupakan murid paling berbakat di sekte ini. Jadi Ketua Cua Mei tidak mengijinkannya. Tapi San Zang tetap merengek ingin ikut dan mengeluarkan wajah memelas terbaik yang ia miliki. Tetapi tetap saja tak mengubah keputusan ketua Cua Mei.


Akhirnya mereka berangkat tanpa San Zang. Ketua Cua Mei memakai kuda berada paling belakang mengikuti sekitar seratus anggota sekte tersebut yang berjalan kaki. Diikuti tiga tetua lainnya dan sepuluh pendekar tingkat bumi.


Setelah dua hari mereka sampai di kota Roztint dan beristirahat di dalam hutan. Mereka membuat tenda-tenda. Kini hari pun sudah gelap tidak lagi terlihat keindahan di hutan tersebut.


Keesokan harinya beberapa orang mencari informasi keberadaan sekte Rawa Laba-laba. Mereka akhirnya mendapatkan apa yang mereka cari dan langsung menuju sekte Rawa Laba-laba untuk memulai penyerangan.

__ADS_1


__ADS_2