Legenda Pedang Garuda

Legenda Pedang Garuda
14. Penyerangan II


__ADS_3

Hong Li memandang asap yang mengepul di arah barat dekat pasar. Lalu dia menemui walikota Wu Hin.


Tak butuh waktu lama diapun sampai di ruangan walikota. Dia mengetok pintu terlebih dahulu, lalu masuk ke ruangan tersebut setelah di beri izin. Terlihat walikota sedang menatapi asap dari balik jendela rungannya.


" Walikota, kuarasa aku harus memeriksa wilayah tersebut." Hong Li berbicara penuh hormat.


" Aku juga berfikir begitu, firasatku buruk tentang asap itu. Bawalah pendekar terbaik kota Roztint bersamamu untuk berjaga-jaga!. Aku yakin para pengacau di hari kemarin mengacau lagi di tempat itu. " Walikota berkata dengan wajah gelisah. Sesekali dia menatap Hong Li yang masih berdiri di dekat pintu. Walikota sangat khawatir terhadap rakyatnya, dia adalah pemimpin paling bijak dan disayangi rakyatnya. Jadi sudah sepatutnya dia segera bertindak agar hal buruk tidak terjadi.


Hong Li pun pamit terlebih dahulu kepada walikota dan dia segera meninggalkan ruangan tersebut.


Hong Li berangkat menuju tempat asal kepulan asap. Dengan memakai kuda diikuti lima pendekar tingkat langit dan lima pendekar tingkat bumi. Sementara Hong Li sendiri sudah mencapai puncak pendekar dewa. Selangkah lagi dia akan mencapai pendekar dunia, tapi semua orang mengetahui bahwa untuk mencapai tingkatan ini sulit dan butuh waktu relatif lama.


Beberapa jam kemudian Hong Li sampai ke tempat tujuannya. Dan betapa terkejutnya dia melihat mayat berserakan dimana-mana.


***


Sebelum Hong Li sampai...


Para tetua Merak Hitam dibuat kerepotan dengan teknik jaring laba-laba.


" Tiada cara lagi selain menunggu mereka kehabisan tenaga dalam" Ucap tetua Ji Mo kepada kedua temannya. Dia yakin menggunakan teknik itu pasti memakan tenaga dalam cukup banyak. Dan dia berfikir 'Pantas saja kakakku terluka menghadapi teknik seperti ini'.


Meski tetua Ji Mo paling lemah diantara ketiganya, tapi ucapan dari tetua ini dijawab anggukan tanda setuju oleh tetua lainnya. Mereka kini tampak serius dan mulai menghindar lagi serta menangkis.


Tebakan tetua Ji Mo salah besar, teknik jaring laba-laba tentunya hanya mengeluarkan sedikit tenaga dalam karena ada cara khusus yang dimiliki sekte Rawa Laba-laba, jadi para tetua dari sekte Rawa Laba-laba akan mampu bertahan cukup lama dengan teknik bertarungnya.


Pertarungan masih tetap berlanjut dan hampir mencapai puncak.


"Sringg… sringg…..sriinggg..."


Sekitar dua puluh lima pisau melayang-layang dan menyerang tetua Ji Mo dan kawannya lagi.


" Cruaat…" Tetua Ji Mo terkena goresan di pipi kirinya oleh pisau yang melayang-layang.


"Sial..." dia sangat geram karena begitu merepotkannya teknik ini.

__ADS_1


" Sleebb...." Dia juga terkena tusukan di bagian paha kiri. " Arrrrgh…." Dia kesakitan, dan segera mengaliri lukanya dengan tenaga dalam untuk menghentikan pendarahan dan menguatkan kakinya agar tetap bergerak lincah.


Hingga hampir dua jam pertarungan berlangsung. Seluruh pasukan Rawa Laba-laba telah mati semua oleh sepuluh pengajar dan anggota kecil lainnya.


Sementara di pihak Merak Hitam tersisa dua puluh tujuh orang termasuk sepuluh pengajar. Mereka tampak ada yang terluka cukup parah dan ada pula yang kehabisan tenaga serta banyak luka menghiasi tubuhnya.


Mereka saling menolong untuk berdiri dan berjalan, mengambil jarak agar jauh dari pertarungan yang sedang terjadi.


Para tetua Rawa Laba-laba teralihkan perhatiannya karena anggota mereka sudah tak tersisa. Mereka merasa geram dan marah.


Kesempatan ini tak di sia-siakan oleh tetua Merak Hitam. Mereka langsung memperpendek jarak dan langsung menebas.


'Cruuaaat.... '


'Cruuaaat..... '


'Cthiiinggg.... '


Darah mengalir dan bau amis mengisi udara. Dua tetua mati di tangan para tetua Merak Hitam dengan kepala terpisah dari badannya. Sementara tebasan dari tetua Ji Mo mampu di tangkis oleh tetua tetua Jiun Huk. Mungkin serangannya terkesan lambat karena kekuatannya belum tinggi seperti dua kawannya. Atau mungkin karena luka di pahanya.


"Cthingg... Cthingg... Cthingg... "


" Dasar licik, kalian menyerang disaat musuh tak siap. Kalian memang pantas untuk mati sekarang! " Para tetua lainnya dari sekte Rawa Laba-laba yang tersisa geram melihat dua temannya mati mengenaskan. Dan dia pun langsung menyerang dengan teknik jarak dekat.


" Coba saja bunuh diriku dengan pisau tumpulmu itu! " Tetua dari Merak Hitam memprovokasinya dan berhasil membuat musuh kehilangan konsentrasi.


Begitu pula dengan tetua satunya lagi, tak ada cara lain lagi karena musuh mendekatinya dia pun bertarung dengan jarak dekat.


Karena tersulut oleh emosi, serangan dari dua tetua itu sangat mudah di hindari. Saat dua tetua tersebut menyerang dua tetua Merak Hitam dengan teknik jarak dekat, keadaan ini begitu menguntungkan tetua Merak Hitam. Mereka bergerak dengan lihai dan saling menyerang satu sama lain. Lalu terdengarlah suara.


"Hahahaha, akhirnya aku membalaskan dendammu kak! " Tetua Ji Mo berteriak sekencang-kencangnya sambil memegang kepala Jiun Huk. Dia merasa sangat puas karena berhasil membalaskan dendam kakaknya kepada Jiun Huk. Meski dia mendapatkan luka yang begitu serius di dua paha dan perut. Tusukannya begitu dalam tapi dia terlihat tidak menghiraukannya.


" Cleeebs... " karena teralihkan, kini teman tetua Ji Mo membunuh tetua dari Rawa Laba-laba. Seketika dia mati karena tertusuk tepat di bagian jantung. "Aaarrrrggggh..... "


Tetua dari Rawa Laba-laba yang tersisa teralihkan karena temannya berteriak kesakitan dan melihat kepala tetua Jiun Huk sudah tak berada di tempatnya. Akibat kelengahannya, " Slaashh, cruatt.... " kepalanya terpisah dari badannya. Dia mati seketika dengan mata terbuka dan mulut terbuka.

__ADS_1


***


Beralih ke pertarungan antara ketua...


Pertarungan ini sudah hampir mencapai puncak. Min Tan mengeluarkan jurus tapak


" Wussssh... "


Tapi berhasil di hindari oleh Cua Mei. Dia pun memberikan serangan balasan


" Wussssssh..... "


Tapak yang sangat besar berwarna ungu hampir mengenai tubuh Min Tan jika sedetik saja dia tak menghindar.


Tapak itu mengenai pepohonan dan mengakibatkan kerusakan yang sangat parah.


Min Tan melayang-layangkan kembali pisaunya.


"Srhingg... Shringgg.... "


Cua Mei menghindar lalu dia terbang ke atas dan memberikan serangan tapak


"Wussssh.... "


Min Tan memilih menghindar karena masih fokus mengendalikan pisaunya. Tapak itu mengenai tanah tempat Isuke ditahan. Dan menciptakan cekungan.


Isuke yang sedang bersandar di dinding bagian dalam langsung terpental lumayan jauh. Dan dia mendarat di danau dekat sekte tersebut.


"Plunggg…."


Dia langsung tenggelam. Dia berusaha sekuat tenaga untuk berenang ke tepi danau tersebut. Tapi sesuatu menariknya ke dasar danau. Dia seperti manusia tapi karena Isuke di dalam air jadi penglihatannya kurang normal. Dia berfikir itu adalah monster di sungai ini dan akan membunuhnya.


Isuke sempat mendengar teriakan Min Yue memanggil namanya. Dia tidak bisa bernafas karena kehabisan oksigen. Perlahan dia tidak merasakan lagi beberapa inderanya. Dia juga mulai kehilangan kesadarannya.


'Apakah begini rasanya mati? Tak kusangka aku akan berakhir seperti ini. ' Isuke tersenyum kecil memikirkan betapa menyedihkan dirinya akan mati konyol karena tenggelam di danau Rawa Laba-laba.

__ADS_1


Bagi man teman dan kakak readers yang berhati mulia mohon tinggalkan likenya. Author gak maksa, yang ikhlas mohon dukungannya. Mohon maaf bila author menyinggung. Terima Kasih.


__ADS_2