
Mereka melewati gerbang batu lagi dan setelah beberapa menit mereka sampai di sebuah hutan.
Hutan dengan pohon yang tingginya melebihi kelapa dan rindang. Bahkan seperti gelap tanpa sinar. Rumput-rumput jarang sekali yang tumbuh, hanya ada daun pohon yang mulai membusuk. Lembab sekali dan sangat menakutkan itulah kesannya.
" Guru, apa yang akan kita lakukan di tempat seram ini? " Isuke berkata sambil melihat sekeliling. Hanya ada hutan yang gelap tapi penerangannya remang-remang. Sehingga Isuke masih bisa melihat. Dia juga sepertinya terbiasa karena di rumahnya yang baru dibuat beberapa minggu lalu, penerangannya selalu remang-remang.
" Tunggu sebentar, aku akan pergi ke sana. Jika aku tak kembali, maka ikuti kemana arah aku pergi" Kang Dong langsung melesat ke depan setelah selesai berucap.
" Guru! Guru! " Isuke memanggil-manggil gurunya. Dia tidak menyangka gurunya akan meninggalkannya sendiri di tempat yang menakutkan seperti ini.
Dia pun berlari dengan ilmu meringankan tubuhnya. Meski dia masih di tingkat pendekar pemula, setidaknya dia bisa menggunakan ilmu meringankan tubuh selama beberapa saat. Dia tidak yakin bisa mengejar gurunya itu. Karena kecepatannya di luar nalar.
Setelah setengah jam dia berlari, dia merasa lelah dan hendak beristirahat di bawah pohon. Belum sempat dia meletakan bokongnya, dia dikejutkan dengan sebuah belalang raksasa sebesar rumah.
" Trrrrrr...Trrrrrr...Trrrrrr... "
Suara sayap tipisnya menghasilkan angin kecil. Belalang itu memandang Isuke seperti harimau menemukan mangsanya.
" Slaaassshhh..... " Belalang itu melompat.
"Bammmmmm... " dia langsung berdiri di depan Isuke.
Isuke tersedak ludahnya sendiri melihat belalang yang begitu besar tepat berada di depannya dengan hawa membunuh. Dia berniat berlari tapi baru sepuluh langkah, belalng itu melompat lagi dan " Bammmmmm.... " dia berdiri menghadang jalan Isuke.
" Slassssh slashhhhh...." dia menyerang Isuke dengan tangannya yang panjang. Ujung tangannya seperti gigi gergaji yang tajam.
Tapi Isuke mampu menghindar dengan susah payah. Dia berfikir jika tangan belalang itu mengenai tubuhnya, dia tidak yakin akan hidup.
Belalang itu menyerang Isuke lagi. Sepertinya dia benar-benar ingin menjadikan Isuke sebagai makanannya.
Tapi Isuke mampu menghindar lagi dan lagi. Belalang itu sepertinya mulai kesal karena belasan serangannya selalu dihindari Isuke.
Isuke mulai merasa lelah setelah menghindar secara terus menerus. Dia merasakan tenaga dalamnya tidak dapat digunakan lagi. Mungkin sudah habis fikirnya.
Isuke pun berfikir. Mungkin dia harus mengalahkan siluman belalang itu dengan mengandalkan tenaga fisiknya yang tersisa.
Dia berlari kedepan berniat untuk menebas menggunakan pedang yang dia dapatkan dari gurunya.
" Slaaassshhh... Cthingggg..... " serangannya mampu ditahan oleh tangan yang seperti gergaji milik belalang tersebut. Tapi akibatnya si belalang sedikit kesakitan karena pedang Isuke sangat tajam.
__ADS_1
Belalang itupun menarik lengannya. Isuke langsung melompat setelah menyadari kelengahan musuhnya. Dia menebas tangan belalang yang digunakan untuk menangkis pedangnya tadi hingga terputus.
" Slaaassshhh.... Cruat... "
Darah menyembur dan membuat sebagian sweater hitam Isuke yang sudah kumal menjadi merah.
" Ngiaaaaaak... " Belalang tersebut menjerit kesakitan. Isuke tak berhenti di situ, dia berlari dan mengincar kaki belalang tersebut.
Isuke melompat dan " Cruatt... Cruatt... " dua kaki belalang tersebut putus dari badannya. Tersisa dua kaki dan satu tangan dari si belalang itu. Tapi dia tidak bisa berdiri dengan seimbang karena kesakitan.
" Brukkk... "
Tubuhnya ambruk dan Isuke langsung melesat memotong-motong leher belalang itu hingga putus.
Akhirnya belalang itu di kalahkan oleh Isuke. Isuke berdiri dengan bantuan selongsong pedang di lengan kirinya. Sementara tangan kanannya yang masih memegang pedang tampak gemetar.
Dia baru saja membunuh makhluk hidup yang besar dan menakutkan. Ini adalah pengalaman pertamanya dalam membunuh jadi dia masih syok.
Setelah beberapa saat dia baru merasa lega dan bersandar di tubuh belalang tersebut. Tak lupa dia menyarungkan kembali pedangnya.
Setelah beberapa lama dia beristirahat, dia mulai merasa lapar dan berfikir untuk memakan daging siluman yang dia kalahkan. Isuke memotong-motong daging yang dia rasa cukup enak untuk di panggang.
" Trrrrr... Trrrrrr….. Trrrrrrr.... Trrrrrr...... "
Puluhan belalang raksasa terbang dari arah belakang Isuke. Mereka menuju ke arah Isuke.
Isuke gemetar melihat langit yang dipenuhi belalang raksasa. Dia pun mengambil daging yang dia potong tadi dan berlari tak tahu arah tujuan.
Setelah beberapa saat dia berlari, dia pun berbaring di tanah lembab di hutan tersebut.
Sesekali dia menatap daging yang di pegangnya.
" Kurasa ini adalah neraka" Isuke berkata.
Setelah bertarung dan laria-larian dia merasa sangat lelah. Kini dia merasa ngantuk dan mulai memejamkan matanya.
Baru beberapa saat dia memejamkan mata, dia merasakan ada cairan yang mengganggu wajahnya. Dia pun membuka matanya dan langsung melompat kebelakang. Gerakannya sangat refleks dan mendadak.
" Kyyyaaaaaa..... "
__ADS_1
Seekor serigala sebesar gajah sedang membuka mulut hendak memakannya. Ternyata cairan itu adalah air liur serigala itu.
Sedetik saja Isuke tak menyadari hal itu, mungkin dia akan mati di makan serigala itu.
Dia pun berlari lagi. " Traaangggg.... " Serigala itu hanya menggigit angin karena Isuke sudah lari terbirit-birit. Serigala itu kesakitan karena giginya berbenturan. Lalu dia mengendus dan berlari mengikuti arah bau Isuke.
Isuke berlari sekuat tenaga karena takut. Saking takutnya dia tidak merasakan bahwa dia sudah kentut dan membuat penciuman serigala yang mengejarnya terganggu.
Isuke ngos-ngosan dan untungnya serigala itu sudah tidak terlihat lagi. Isuke tidak sadar bahwa serigala itu kehilangan jejaknya akibat bau kentut. Hahahaha.....
Dia mendengar suara pertarungan di sebelah kanannya. Karena penasaran, dia menghampiri asal suara itu. Dilihatnya kera berbulu putih dengan mata yang merah sedang bertarung dengan ular berkepala lima. Terlihat keduanya sama-sama kuat.
Siluman-siluman itu mampu mengendalikan elemen. Kini mereka saling menyerang dengan keahlian masing-masing. Siluman kera mengeluarkan elemen angin dan melesat ke arah Isuke.
Isuke terkejut dan langsung berlari lagi untuk menghindar. Tapi naasnya dia tetap terkena dampaknya. Dia terhempas lumayan jauh.
" Brukkkk... Brukkkk…. Brukkkk.... " Isuke mendarat di tanah keras dan berguling-guling.
Ia berusaha duduk sambil memegangi kepalanya yang sedikit pusing.
" Aduhhhh.... Pusing sekali. Kurasa tempat ini bukan tempat aman"
Isuke mulai berfikir untuk memiliki tempat tinggal agar aman dari serangan siluman berbahaya. Dia pun berdiri dan terlihat sebuah gua di depan matanya.
Isuke memasuki gua tersebut karena penasaran. Dia meraba-raba sekelilingnya karena gua tersebut sangat gelap.
Setelah beberapa menit dia memeriksa gua tersebut, dia merasa gua ini aman untuk dijadikan tempat tinggal. Diapun memutuskan untuk tinggal di tempat ini sampai gurunya menemukannya atau dia menemukan gurunya.
Isuke pun mencari kayu bakar untuk memasak daging yang dia pegang dari tadi. Awalnya dia tidak sadar bahwa tangannya selalu memegang pedang dan daging saat berlari, mungkin karena ketakutan. Tapi setelah sadar, dia merasakan ada sedikit keberuntungan yang memihak kepadanya.
Isuke membuat api unggun dengan mengandalkan dua buah batu. Kayu yang digunakan juga sedikit basah karena sepertinya sinar matahari tidak ada di sini. Melihat sekelilingpun dia sedikit kesulitan. Pohon di sini sangat rindang dan tinggi, ini sangat menyulitkan Isuke.
Setelah selesai makan, dia membiarkan api unggun menerangi gua tersebut dan dia memutuskan untuk tidur.
Baru setengah jam dia tertidur, dia membuka matanya karena badannya terasa terlilit benang yang lengket.
" Whooaaaaaaaaa..... Apa itu? "
Dia pun mengakhiri chapter ini. " Dasar author jail" kata para readers.
__ADS_1
" Maaf ya, segini dulu, semoga terhibur. Hehe" Kata author cengengesan dengan wajah polos.