Legenda Pedang Kebebasan

Legenda Pedang Kebebasan
Kerja keras dapat menyaingi bakat?


__ADS_3

Esok harinya dalam keadaan yang masih gelap dimana matahari belum terbit dan angin dingin yang senantiasa berhembus pelan menerpa kulit.


Kelima anak itu sudah memulai latihan mereka, untuk pemanasan mereka sudah terbiasa dengan latihan fisik terlebih dahulu. Berkeliling memutari kediaman sebanyak 20 kali sudah menjadi rutinitas mereka sekarang. Dibandingkan saat pertama kali berlatih, hal ini sudah bukan apa-apa lagi bagi mereka. Berlari sebanyak 20 kali putaran, mengangkat gelondongan pohon dan berlatih fisik berat lainnya hal seperti itu sudah sering mereka lakukan, sehingga tubuh mereka menyesuaikan tekanan yang terjadi dan membuat tubuh mereka terbiasa. Ditambah dengan energi Qi yang mereka milikki perkembangan fisik berkembang dengan sangat cepat.


"900 pukulan, 901 pukulan, 902 pukulan, 903 pukulan."


"Sampai kapan kau akan memukul pohon yang rusak itu? bukankah lebih baik memukul tanah saja yang lebih kokoh?" ucap Liey Gong yang mengejek Hao ma.


"Diamlah! lakukan latihan mu sendiri!"


"Aku hanya memberi saran."


Hao ma lalu berbalik dan melihat bagaimana Yeonhee dan Alvitar berlatih.


"Aku tau kau kesal kan melihat bagaimana perkembangan adik kecil kita lebih baik daripada dirimu sendiri."


Liey Gong hanya diam membisu tidak menjawab ucapan Hao ma dan masih sibuk meninju pohon yang telah rusak. Ru tsung lalu datang dan ikut dalam percakapan itu.


"Hao ma hentikan tindakan mu kau hanya akan membuat dirinya tambah kesal."


"Hmm ... kesal? kenapa harus kesal? aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Bukankah begitu Liey Gong?"


"Bakat bisa dikalahkan oleh kerja keras? itu adalah omong kosong. Awalnya aku mempercayai itu terus berusaha untuk menutupi segala kekurangan, berusaha lagi dan bekerja lebih keras lagi dan mengulang hal yang sama setiap harinya. Menurut mu itu akan berhasil melampaui seseorang yang mempunyai bakat sejak lahir?"


Hao ma terus memprofokasi Liey Gong. Dia ingin membuatnya agar kesal dan meluapkan apa yang mengganjal dihatinya. Namun Liey Gong masih diam, tidak menanggapi ucapan Hao ma sama sekali.


"Tentu kamu tidak mempunyai pemikiran seperti itu bukan? bekerja keras saja tidak akan mampu mengalahkan seseorang yang berbakat. Mereka adalah orang-orang terpilih yang tidak dapat dilampaui oleh orang biasa seperti kita. Aku hanya berkata apa adanya kau harus menerima kenyataan itu! lakukan semua yang ingin lakukan tapi jangan berpikir untuk melampaui orang berbakat!"


Setelah mengatakan itu Hao ma pergi dari ke tempat lain untuk berlatih kembali. Dia benar-benar sudah berubah semenjak adanya bakat luar biasa yang dimiliki oleh Alvitar. Kerja keras mereka yang selama ini dilakukan dengan sangat sudah payah, dapat digapai oleh Alvitar dengan sangat mudah. Awalnya mereka menerima hal itu dan menanggapinya dengan biasa. Namun seiring berjalannya waktu dengan perkembangannya Alvitar yang sangat cepat itu mereka mulai cemburu dengan apa yang tidak mereka miliki.


Mulai dari Martial arts, teknik, pembelajaran, dan bahkan seed magic. Alvitar mempunyai semua itu dan menggapainya tanpa usaha keras seperti yang mereka lakukan. Perlahan-lahan semangat berlatih mereka terkikis oleh rasa iri yang mereka miliki.


Sesaat setelah Hao ma pergi Liey Gong mulai berhenti meninju, dan berbalik badan ke arah Ru tsung yang sedang melihat latihan Alvitar dan Yeonhee.


"Kenapa? apa kau juga merasa ucapan Hao ma adalah suatu kebenaran?" tanya Liey Gong.


"Mungkin ... yah, aku tidak berpikir senaif itu jika bilang tidak. Sejujurnya aku rasa perkataannya memang benar."

__ADS_1


Liey Gong lalu berjalan ke depan dan berdiri tepat di sebelah Ru tsung.


"Huuh ... kau benar-benar sudah berbeda. Padahal diantara kita berlima kau adalah yang paling kuat. Tapi kenapa semangat mu menjadi runtuh begini?"


"Tidak usah sok tegar begitu. Aku tau kau juga memikirkan hal yang sama."


"Hahahaha ... lucu sekali." Liey Gong tertawa dengan sangat keras, setelah itu dia menjatuhkan badannya ke bawah dan berbaring menatap langit yang masih gelap.


"Kalaupun aku bilang aku iri terhadap bakat Alvitar itu, menurut mu apa yang seharusnya kulakukan? menangis dipojokan dan mengutuk nasib begitu? atau menurut mu menyingkirkan Alvitar dengan alasan bakatnya begitu?"


"Kau pikir aku yang paling putus asa? melihat bagaimana cara mu menanggapi apa yang barusan Hao ma katakan bukankah justru sebaliknya? Kalian yang benar-benar iri dengan Alvitar. Melihat bagaimana Alvitar terus melangkah jauh melewati dirimu, terus melangkah semakin jauh dan semakin jauh lagi. itukan yang ada dipikiran mu?" tanya Liey Gong. Ru tsung langsung melihat dengan tajam ke arahnya.


Dia lalu menarik napas nya dan mengeluarkannya perlahan lalu menjawab pertanyaan Liey Gong.


"Yah ... kau benar, aku memang iri dengan bakatnya tapi aku tidak berpikir untuk menyingkirkannya untuk alasan yang tidak masuk akal seperti itu. Karena bagaimanapun juga dia adalah adik angkat kita dan keluarga yang kita punya. Aku iri karena aku tidak bisa melindunginya, karena dia sudah berbakat jadi tidak perlu lagi perlindungan. Itulah yang ku sesalkan."


Tang woo yang terus mengamati mereka dari kejauhan sedikit lega dengan itu.


"Mereka masih bisa mengendalikan diri ya. Itu bagus seorang pengguna martial arts tidak seharusnya iri dengan bakat seseorang. Tapi dengan tidak adanya keributan disini sepertinya masih berjalan dengan baik."


Sudah lama semenjak Tang woo mengamati mereka berseteru. Namun dia hanya diam saja melihat itu terjadi dan berniat mengambil tindakan nanti jika saja terjadi perkelahian. Tang woo cukup senang dengan hasil itu karena dia tidak ingin ikut campur urusan anak-anak yang iri soal bakat.


"Y-yah, itu element api yang sempurna kau berhasil mempertahankan nya, selanjutnya buatlah element air."


"Baik seishou." jawab Alvitar, dia sangat bersemangat dan mempelajari magic karena ini lebih mudah dari pelatihan fisik yang selama ini dia jalani.


Namun dibutuhkan konsentrasi yang besar untuk dapat menggunakan itu. Alvitar lalu kembali dan fokus dalam latihannya kembali sambil memejamkan matanya.


Selanjutnya Fenti lalu berjalan mendekati Yeonhee yang fokus memejamkan matanya untuk membuat element.


'Bakat magic nya memang tidak setinggi Alvitar tapi dia masih memiliki potensi besar menjadi seorang magic martial.' pikir Fenti, tak lama setelah itu Yeonhee membuka matanya dan berteriak senang.


"Aku mengerti sekarang!"


"Aku pasti bisa melakukannya."


Yeonhee lalu mengulurkan dua tangannya ke depan dan mulai merapalkan mantra di dalam pikirannya.

__ADS_1


'Magic adalah sesuatu yang berasal dari imajinasi, aku sudah mengerti konsepnya sekarang aku dapat melakukan apa yang Alvitar lakukan.' pikir Yeonhee.


Dia termotivasi karena sebelumnya Alvitar dapat melakukannya. Yeonhee membayangkan element air dengan sangat jelas membuat seolah-olah air berada di tangannya dan membentuknya menjadi bulatan-bulatan kecil molekul air.


Fenti yang ada di samping Yeonhee melihat sejumlah besar mana yang mulai terkumpul di tangan Yeonhee. Mana itu perlahan berubah menjadi partikel-partikel air yang sangat kecil. Namun saat partikel air itu akan terbentuk lebih sempurna lagi element itu hancur dan membasahi telapak tangan Yeonhee. Dia mengira itu sudah berhasil dan memutuskan untuk membuka matanya kembali.


Akan tetapi dia harus menerima kenyataan bahwa element yang dia telah susun hancur.


"Kenapa ini? aku sudah melakukan apa yang seishou perintahkan. Tapi kenapa ini tidak berhasil." ucap Yeonhee sambil berbicara dengan keras.


"Kau harus mempertahankan konsentrasi mu."


"Huh? Seishou, aku sudah berkonsentrasi sebaik mungkin."


"Tidak, kau gagal memanifestasikan element seed itu, karena kamu tidak bisa mempertahankan konsentrasi mu. Lakukan lagi dengan lebih fokus jangan sampai terdistrak oleh hal-hal yang lain. Fokus saja terhadap element mu."


"Baik seishou."


Yeonhee mencoba fokus kembali memikirkan tentang element yang ingin dia gunakan. Namun dia selalu kepikiran tentang cara Alvitar yang memanifestasikan element seed nya tanpa hambatan.


'Bagaimana Alvitar bisa mengeluarkan element seed nya dengan mudah. Padahal dibutuhkan konsentrasi yang tinggi untuk memanifestasikan magic.'


Pikiran Yeonhee mulai terdistraksi oleh pemikiran itu. Dia mulai tidak fokus terhadap magic nya dan lebih memikirkan keberhasilan orang lain dari pada usaha yang dia lakukan sekarang. Akibatnya dia sama sekali tidak dapat memanifestasikan magicnya.


Fenti yang sedari tadi mengamati merasakan pergerakan mana yang tidak stabil pada Yeonhee. Dan dari mana itu Fenti bisa tau jika pergerakan mana itu semakin lama semakin tidak stabil.


"Yeonhee hentikan itu sekarang!" teriak Fenti dengan sangat keras untuk membangunkan Yeonhee yang tenggelam akan pikirannya.


Yeonhee yang sadar lalu membuka matanya kembali dan terdiam di depan Fenti.


"Fokuskan dirimu jangan memikirkan hal lain, tidak ada gunanya memikirkan hal yang tidak perlu. Yang perlu kau lakukan sekarang adalah fokus terhadap dirimu sendiri. Jangan biarkan pikiran kacau mu mempengaruhi dirimu!"


Pikiran kosong Yeonhee seolah-olah terisi kembali setelah mendengar ucapan Fenti.


"Maaf seishou, akan kulakukan sekali lagi."


'Ya, apa yang seishou katakan benar. Aku hanya perlu memikirkan tentang perkembangan ku sendiri. Sekarang ... aku hanya perlu fokus dan fokus.' pikir Yeonhee dia menetapkan pemikiran seperti itu di dalam otaknya.

__ADS_1


Yeonhee mulai menarik napasnya beberapa kali untuk menstabilkan untuk menenangkan pikirannya. Mana yang sebelumnya tak beraturan mulai tersusun rapi secara perlahan. Pemikiran egois Yeonhee tertambal dengan uraian kata-kata dari Fenti. Mereka berlanjut melatih magic mereka hingga pelatihan ini selesai.


__ADS_2