Legenda Pedang Kebebasan

Legenda Pedang Kebebasan
Sōzō-ryoku


__ADS_3

Mereka benar-benar terintimidasi hanya dengan sebuah aura. Dengan itu dapat disimpulkan, jika kedua orang itu jauh lebih kuat dibandingkan mereka berdua. Alvitar dan Ru tsung berpikir hal yang sama, yang mereka lihat seperti pembantaian para beast dan menurut pandangan mereka, kedua orang itu adalah monster yang lebih kuat dari monster itu sendiri.


Alvitar dan Ru tsung baru pertama kali melihat pertarungan sungguhan saat melawan beast. Dibandingkan dengan mereka yang waktu itu menghadapi Doggy beast hal itu tidak seberapa dibandingkan apa yang mereka lihat sekarang.


Alvitar menganalisis bagaimana pertarungan itu terjadi, dia fokus mengamati dengan tujuan untuk meniru gerakan yang dia lihat.


'Cara bertarung yang tidak membuang banyak gerakan yang sia-sia, semua serangannya mengenai monster itu. Dia tidak memperdulikan serangan monster yang mengarah padanya dan fokus untuk menyerang bagian yang ingin diserang.'


'Aku tau ini bukan teknik original mereka, melainkan hanya teknik dasar. Tapi teknik dasar yang mereka miliki saja sudah sangat kuat sekali jadi bagaimana dengan teknik original yang mereka miliki?' pikir Alvitar sambil menganalisis pertarungan.


Dalam pertarungan itu juga Alvitar fokus terhadap pedang besar yang digunakan oleh salah satu dari orang itu. Karena ada semacam energi negatif yang besar dari pedang yang orang itu gunakan.


*Trank ...


Orang itu menancapkan pedang miliknya ke tanah. Dia dan temannya sudah selesai dengan pertarungan yang ada. Namun Ru tsung dan Alvitar cukup heran, karena para beast itu hanya dibuat tidak sadarkan diri meskipun ada beberapa yang terpotong oleh pedang. Namun sebagian besar dari para beast masih hidup.


Aura membunuh yang sebelumnya menyebar berubah dengan cepat dan mengarah pada mereka berdua. Aura yang cukup intens itu membuat Alvitar dan Ru tsung kesulitan mengatur napas mereka.


"Akhh ... napas ku sesak, tidak. Aku kesulitan bernapas." bisik Ru tsung.


Alvitar membungkam mulutnya sendiri agar tidak mengeluarkan suara. Karena jika mereka sampai ketahuan ada kemungkinan akan dibunuh.


'Aku tidak bisa bernapas dengan benar, ini terasa sangat sesak, tapi aku tidak boleh membuat banyak gerakan sekarang. Mereka adalah orang-orang berbahaya, jika sampai ketahuan aku dan Ru tsung akan mati.' pikir Alvitar yang terus berusaha tidak membuat suara.


Namun takdir berkata lain, peluru panas melesat cepat ke arah mereka dan membuat bolong sebuah pohon. Serangan itu tidak mengenai mereka tapi Alvitar dan Ru tsung sangat ketakutan saat ini.


"Hoi ... bagaimana bisa ada seorang bocah di hutan yang penuh dengan beast seperti ini."


Seorang pria berambut hitam dan berkulit coklat mengacungkan pistolnya ke arah mereka.


Ru tsung tidak mempunyai keberanian untuk bergerak, seakan-akan otaknya berhenti berfungsi.


Sementara Alvitar, dia tidak tau harus berbuat apa dan hanya diam saja tanpa mengatakan apa-apa.


"Siapa dua bocah ini? kenapa dia bisa ada di hutan seperti ini, bukankah ini sangat janggal?"


Pria dengan pedang besar ditangannya berbicara pada teman yang ada di sampingnya.


"Mungkin mereka hanya seorang budak yang ditinggalkan majikannya di sini."


"Gwahahaha ... ini sungguh lucu, budak yang dibuang kedalam hutan. Tapi jujur saja ..."


*Duack ...


Pria itu menendang kepala Ru tsung yang dari tadi hanya terdiam.


Ru tsung terpental sejauh dua meter dari tempat sebelumnya. Alvitar yang ada di sampingnya cukup terkejut dengan itu.


'Apa itu? aku tidak bisa melihat gerakannya sama sekali.' pikir Alvitar sambil melihat ke arah Ru tsung yang pingsan.

__ADS_1


"Aku sangat membenci seorang budak! terutama budak lemah dan pengecut sepertinya."


Dia menunjuk ke arah Ru tsung.


Alvitar bangkit saat itu juga, dia memaksakan diri dengan tubuhnya yang bergetar.


'Tidak peduli sekuat apa orang ini, aku tidak berpikir untuk mati di sini.' pikir Alvitar. Dia menanamkan pemikiran itu di otaknya.


"Ohh ... bocah yang berani. Aku melihat semangat berapi dalam matamu."


Alvitar tidak memperdulikan ucapan pria itu, dia hanya fokus pada satu tujuan, yaitu menggunakan segala cara agar dirinya dan Ru tsung tidak mati ditempat seperti ini.


Alvitar menggunakan Energi Qi nya. Dia sepenuhnya siap dalam posisi bertarung.


"Aku tidak mempunyai niatan untuk bertarung dengan anak kecil sepertinya. Kau saja bertarung saja dengannya. Aku akan pergi membawa beast ini." ucap seorang pria dengan pistol ditangannya.


Dia lalu mengeluarkan karung besar dari saku nya dan memasukan semua beast yang tergeletak ke dalam karung itu. Pria itu membawa banyak beast hanya dengan bermodalkan karung. Itu sangat besar. Dia membawa semua beast itu di pundaknya.


"Kalau begitu, aku pergi duluan. Lakukan sesuka mu dengan anak itu tapi kau tau akan apa yang kau harus lakukan nanti sore?"


"Ah berisik, kau sangat menggangu suasana pergi sana."


Kedua pria itu saling berbicara dengan santai dan seakan tidak memperdulikan keberadaan Alvitar. Melihat kelengahan itu Alvitar langsung bergerak cepat dan melancarkan pukulannya pada wajah pria itu.


Namun serangan jarak dekat Alvitar mampu dihindari oleh orang itu dengan mudah. Bahkan tanpa harus melirik ke arah Alvitar sedikitpun. Dan tanpa Alvitar sadari, tangan kanan pria itu sudah berada tepat di depan wajahnya. Alvitar langsung terpental hanya dengan sekali serangan.


*Plak ...


Urgh ...


'Wajah ku seperti terbakar, ini sangat perih terutama di hidung.' pikir Alvitar, dia menahan pendarahan yang ada di hidung menggunakan tangannya.


"Maaf, kupikir itu lalat, tapi ternyata kau yang berusaha menyerang ya." ucap pria itu berbicara polos di depan Alvitar.


Alvitar mengusap darah yang keluar dari hidungnya dan mulai bersiap memasuki pertarungan.


"Semangat yang masih tetap sama, mata yang membara dan penuh akan semangat bertempur. Meskipun kau seorang budak aku suka sifat mu." ucapnya.


Pria itu lalu berjalan pelan menuju Alvitar. Sambil menggenggam pedang besar di tangan kanannya, pria itu lalu melanjutkan dengan menyerang perut Alvitar menggunakan pedangnya.


Alvitar sudah membaca serangan itu, dia menghindarinya seminimal mungkin agar tidak serangan itu.


'Tidak terlalu cepat seperti sebelumnya, serangannya lambat. Aku bisa melakukan serangan balasan.' pikir Alvitar sambil mengamati situasi untuk menciptakan sebuah celah.


Namun pemikiran itu langsung terbantahkan saat pria itu menyerang Alvitar tanpa henti menggunakan pedangnya.


'Semakin aku menghindari serangannya, ayunan pedangnya semakin bertambah cepat. Ini benar-benar batas ku untuk menyamai kecepatan serangannya.'


Alvitar mulai jatuh dalam keputusan saat tau jika dirinya sedang dipermainkan. Ada dinding diantara mereka berdua yang sangat sulit untuk dilalui. Alvitar seperti melihat batu yang sangat besar yang menghalangi perjalanannya.

__ADS_1


Mulai pada titik ini, Alvitar tidak berpikir untuk mengalahkan lawannya, dia hanya berpikir untuk menghindari semua serangan yang ada di depannya.


"Mana semangat mu? nyalakan kobaran api mu sekali lagi dan tunjukkanlah padaku sekarang!"


Orang itu membalik pedangnya dan menyerang Alvitar dengan bagian yang tumpul.


*Buack ...


Serangan itu tepat mengenai tulang rusuk Alvitar. Darah segar keluar dari mulut Alvitar. Pria itu sama sekali tidak menahan diri meski yang dihadapinya adalah seorang anak kecil.


*Euough ....


'Semua tubuh ku berdenyut kesakitan, tulang rusukku seperti remuk terkena pedang itu.' pikir Alvitar.


"Aku menghormati mu sebagai seorang bocah budak yang memiliki keahlian bertarung. Martial arts mu cukup bagus, tapi kau memilih lawan yang salah untuk kau hadapi. Pertaruhkan semua yang kau punya dan lawan aku lagi!"


Alvitar mulai bangkit kembali memaksakan tubuhnya untuk bergerak. Bukan karena kata-kata pria itu tapi karena keinginannya sendiri untuk bertahan hidup.


Alvitar menggunakan teknik martial arts miliknya sekali lagi. Dia fokus mengeluarkan semua kemampuan yang dia milikki.


Lawannya saat ini adalah seseorang yang menggunakan senjata, Alvitar memperkirakan jarak antara dirinya dan mengimajinasikan Pria itu di dalam kepalanya. kekuatan Alvitar biasa disebut sebagai Sōzō-ryoku kemampuan untuk memvisualisasikan objek apapun yang dilihat dan merekamnya di dalam ingatannya sendiri.


Itu adalah kemampuan alami yang Alvitar milikki, hanya 1 dari sekian banyak orang yang memiliki kemampuan semacam ini.


Di dalam ruang imajinasi yang dia buat, Alvitar memvisualisasikan pria itu dan bertarung dengannya, segala macam cara dan teknik yang Alvitar gunakan tidak ada yang berhasil sama sekali.


Di dalam ruang imajinasi yang Alvitar buat, dia sudah mati sebanyak 10 kali dengan hasil, mati sebelum melakukan pergerakan. Dalam hal kekuatan, kecepatan dan daya tahan.


Pria itu jauh lebih unggul dari Alvitar. Tidak ada cara untuk mengalahkan pria itu di level Alvitar yang sekarang.


Banyak keringat membasahi wajah Alvitar, meski dari tadi dia dia hanya diam saja namun otaknya benar-benar bekerja keras.


'Huh ... total ada sepuluh kali aku mati, dan itu terjadi oleh karena serangan pedang miliknya yang sangat cepat. Tebasan yang sama sekali tidak bisa ku prediksi dan gerakan yang berbeda setiap kali dia melakukan serangan. Aku tidak bisa mengalahkan orang ini.' pikir Alvitar sambil terus melihat ke arah depan.


"Padahal hanya diam saja, kenapa kau terlihat sangat kelelahan?" ucap Pria itu sambil menunjuk ke arah Alvitar.


"Ah, lupakan soal itu, jika kau hanya diam membatu seperti saja aku yang akan menyerang lebih dulu."


Saat pria itu maju menyerang, Alvitar memperhatikan dengan sangat fokus ke arah mana orang itu akan menyerang. Alvitar membaca setiap postur, dan gerakan yang dilakukan oleh pria itu.


'Cara dia menyerang, dan bagaimana gerakan dan kecepatan yang dia hasilkan. Ini sama persis seperti saat tadi. Serangannya membengkokkan udara.' pikir Alvitar yang mempercepat pemrosesan pikirannya.


Orang itu mengganti arah lintasan serangannya dan berpindah tempat lalu berada tepat di belakang Alvitar.


'Ini seperti yang terjadi sebelumnya.' pikir Alvitar. Dia sudah menunggu momentum ini. Alvitar menggunakan kaki nya untuk memberikan serangan kejutan ke arah belakang. Sambil menggunakan energi Qi miliknya. Alvitar memakai teknik martial arts dan dikombinasikan dengan serangan magic skala kecil.


"Combat arts."


"Flower kick + Splitting wind."

__ADS_1


Tendangan cepat Alvitar mengarah tepat pada leher pria itu. Alvitar berniat untuk langsung membunuh pria itu dengan serangan kejutan. Serangan kali ini Alvitar menggabungkan martial arts dan magic angin, efek dari serangan itu adalah dapat langsung memotong target. Karena Alvitar melapisi magic angin pada serangannya yang mana seperti menanamkan pisau pada sebuah benda tumpul.


__ADS_2