
Setelah membuat Alvitar terlempar dengan tendangannya. Fenti lalu terbang ke arah mereka yang sedang berusaha bangkit kembali. Yeonhee sedikit heran melihat bagaimana Fenti yang dapat terbang menggunakan magicnya.
"Jadi ini hasil dari belajar selama 3 bulan? kalian masih sangat terlalu lemah. Bangkitlah lagi dan keluarkan semua yang kalian miliki. Jika ini pertarungan sungguhan kalian sudah pasti akan mati." ucap Fenti sambil melihat tajam ke arah mereka.
"Ya, bangkitlah cepat aku tidak memiliki banyak waktu. Ingat aku pernah mengajarkan martial arts untuk orang lemah."
Tepat setelah perkataan itu keluar dari mulut Tang woo. Ru tsung, Hao ma dan Liey Gong bangkit kembali dan mendekat kesamping Alvitar dan Yeonhee yang sudah berdiri.
"Bukan hanya kalian berdua yang berkembang. Kami juga berkembang dan berhasil menciptakan teknik sendiri."
Ketiganya mulai menggunakan energi Qi nya, aliran energi Qi yang keluar menggumpal sangat tebal membungkus tubuh mereka.
Tang woo tersenyum pahit melihat ketiganya yang memiliki semangat bertarung menggebu hingga mempengaruhi energi Qi mereka.
"Ini baru namanya murid ku! sekarang ayo keluarkan semua yang kalian punya!!"
Tanpa rencana apapun mereka mulai menyerang dengan gila. Tanah yang mereka hancur sesaat setelah mereka berlari. Ledakan energi Qi mempengaruhi seluruh area. Ditambah dengan magic yang Alvitar gunakan membuat udara di sekitar semakin kacau.
Dalam jarak yang sangat dekat, keempat anak menyerang Tang woo dalam posisi yang berbeda-beda. Ru tsung mengincar tangan kanan, Hao ma bagian belakang punggung, Liey Gong menyerang tangan kiri dan Yeonhee mengincar kedua kaki Tang woo.
Dalam keadaan yang sedang menerima 3 serangan dari arah yang berlawanan tidak membuat Tang woo terdesak. Dia menahan semua serangan yang dilancarkan dan berniat melakukan serangan balasan.
Namun, Yeonhee yang mempersempit jarak. Berhasil memakai magic air nya dan menggunakan teknik air yang berhasil dia pelajari.
"Jet stream."
Dari bawah tempat Tang woo berpijak, element air bertekanan tinggi menyembur keluar. Tang woo berhasil menghindari serangan itu, begitu juga ketiga anak yang lain. Mereka sedikit terkejut dengan magic air yang digunakan Fenti.
Serangan air bertekanan tinggi itu tidak berhenti sampai situ. serangan itu semakin banyak menyerang Tang woo dari tanah membuatnya seperti mangsa yang dikejar oleh predator. Di setiap Tang woo berpijak, air selalu menyembur keluar itu sama sekali tidak memberikannya waktu untuk menyerang balik. Air itu sangat kuat dan cepat dan jika terkena serangan itu bagi orang biasa akan dapat langsung berlubang tubuhnya. Namun Tang woo tidak peduli akan hal itu, karena baginya itu hanya permainan semprotan anak air anak kecil.
Tang woo mengepalkan tinju ditangannya, lalu melompat ke udara dan meninju air yang keluar dari dalam tanah. hasil dari pukulan Tang woo membuat lubang yang sangat besar. Namun Yeonhee tidak berhenti sampai situ, dia melanjutkan serangan dengan memanifestasikan air dan membentuk tangan raksasa dengan posisi yang mengepal. Yeonhee lalu melemparkan semua serangan itu pada Tang woo yang berada di udara.
"Thousand Hand Strike."
Yeonhee mengeluarkan teknik magic terkuatnya untuk membuat Tang woo mengakui dirinya. Yeonhee membuat serangan itu semakin banyak dan semakin banyak lagi Yeonhee ciptakan. Tang woo meladeni itu dengan membalas dengan tinjuan yang sama. Meski itu element air namun itu sangatlah kuat karena Yeonhee memadatkan molekul air itu dan membuatnya keras seperti sebuah batu besar.
Setiap hantaman pukulan yang Tang woo gunakan membuat magic air itu hancur satu persatu. Keadaan disekitar terlihat seperti hujan karena element yang hancur langsung berubah menjadi seperti air biasa.
'Dia benar-benar anak yang rakus, mempelajari magic hingga pada tahapan ini, beast tipe normal mungkin akan mati setelah terkena serangan air beruntun ini.' pikir Tang woo sambil meninju semua air yang mengarah padanya. Saat dirinya mendarat ke tanah pun tinju air itu masih tetap ada dan terus bertubi-tubi menyerangnya.
"Yeonhee, aku tau kau benar-benar mengeluarkan semua kekuatan mu jadi berbanggalah dengan kekuatan itu. Dan lihatlah ini"
Energi Qi yang sangat kuat berkumpul di tangan Tang woo. Tang woo bersiap-siap mengeluarkan salah satu teknik miliknya.
'Akan kuperlihatkan salah satu teknik ku pada mereka, teknik yang saat itu kupakai untuk meninju Magical beast yang ada di magical forest. Kan ku arahkan serangan ini kelangit.'
"Flower mega fist."
*Whzzzzzzzhhhhh
*Dhuarr
Angin yang sangat besar tercipta dari serangan Tang woo, seangan itu memberikan dampak yang benar-benar besar pada area sekitar cuaca yang sebelumnya seperti hujan terlihat terang benderang kembali.
__ADS_1
Mata semua anak tertuju pada langit saat itu, kejadian yang tidak pernah mereka melihat sebelumnya kekuatan yang benar-benar jauh dari ekspektasi mereka sendiri.
"La-langitnya ... terbelah."
Yeonhee tidak mempercayai apa yang dia lihat. Serangan yang melampaui batasan manusia yang bahkan membelah langit sekalipun. Semua anak tidak bisa berkata apa-apa lagi soal itu.
'Jadi ini kekuatan asli dari seorang martial arts sejati.' pikir Alvitar dalam keheningan.
Kekuatan Tang woo sudah sangat berkembang pesat semenjak dirinya naik ke ranah Evolusionary Awakening kelima, kekuatan saat pertama kali dia naik tahapan 50 % itu dia gunakan pada saat menghabisi Tao yu beast. Namun pada saat ini kekuatan Tang woo benar-benar sudah sampai pada tahap sempurna yaitu 100% kekuatan yang mana kekuatan ekstrem yang melebihi ekspektasi manusia.
Semua tinju air milik Yeonhee hancur seketika terkena satu serangan kuat milik Tang woo.
"Fiuh ... seperti itu ya, itu adalah salah satu teknik milikku. Jika kalian ingin seperti itu berlatihlah sekeras mungkin."
"Seishou kau benar-benar hebat aku akan mengikuti mu selamanya!" ucap Ru tsung berteriak keras menyaksikan teknik Tang woo yang mampu membelah langit.
"Seishou bagaimana kau bisa berbuat seperti itu? apa kau dapat membelah bulan dengan teknik itu?"
Hao ma berfantasi gila setelah melihat teknik Tang woo.
"Mana mungkin bodoh. Aku tidak dapat melakukan itu tapi pada ranah yang lebih tinggi lagi itu bisa saja dilakukan. Bagaimanapun juga ini hanyalah sebagian kecil kekuatan yang dimiliki oleh pengguna martial arts, masih banyak ranah lain yang lebih tinggi yang bukan hanya dapat membelah langit bahkan memutar balikan gunung dan membuat dunia kacau pun dapat dilakukan oleh seorang martial arts."
Anak-anak seketika terdiam mendengar ucapan Tang woo. Namun itu hanya sesaat karena di detik berikutnya angin besar tiba-tiba muncul dan menghempaskan banyak debu ke arah mereka.
"Pertarungan disini sudah selesai tapi kenapa 2 orang itu masih belum selesai juga?" tanya Tang woo sambil duduk mengamati pertarungan Alvitar dan Yeonhee.
"Jangan alihkan perhatian mu pada hal lain, fokus saja dengan apa yang menjadi lawan mu saat ini." ucap Fenti sambil menggunakan magic anginnya pada Alvitar. Masih seperti sebelumnya. Dia bertarung di udara dengan menggunakan manifestasi sayap yang dia buat. Kemampuan itu dia berhasil buat setelah keluar dari magical forest.
Fenti menyadari sesuatu setelah keluar dari tempat para beast itu. Dimana dia harus bertambah kuat dengan memanifestasikan banyak magic yang lebih berguna kedepannya. Dan hasil dari pertarungan yang mempertahankan nyawa itu adalah dia menciptakan banyak teknik magic angin dan berkat itu juga dia bertambah kuat. Setelah keluar dari magical forest juga Fenti banyak mendapatkan pengalaman disana dan bukan hanya magic namun martial arts miliknya juga lebih berkembang lagi meskipun tidak sekuat Tang woo.
Hampir semua magic angin yang Alvitar manifestasikan dapat dengan mudah dipatahkan oleh Fenti. Seperti ada semacam zirah pembungkus pada tubuh Fenti sehingga semua serangan angin yang Alvitar gunakan tidak berkesan apapun padanya. Lain hal dengan Fenti dia hanya menggunakan serangan jarum nya saja untuk menyerang Alvitar namun Alvitar sudah dibuat kerepotan dengan itu.
Di sela-sela pertarungan itu Alvitar menoleh ke bawah dimana pertarungan Tang woo dan anak-anak yang lain sudah selesai.
'Pertarungan yang dibawah sudah selesai. Sepertinya mereka kelelahan, aku harus mengatasi situasi ini sendirian.' pikirnya. Fenti yang melihat Alvitar lengah langsung bergerak cepat dan mendekat padanya.
Pukulan cepat Fenti lepaskan pada Alvitar, dan serangan itu mengarah pada pipi kirinya. Namun Alvitar merespon dengan cepat dengan menahannya menggunakan tangan kirinya.
Alvitar lalu menggunakan magic wind cutter di tangan kanannya dan langsung menyerang ke arah sayap angin yang Fenti ciptakan.
Namun Fenti mengibaskan kedua sayap nya ke arah depan dan seketika angin besar yang terpusat pada satu titik menghempaskan tubuh Alvitar kebelakang.
Namun tidak seperti sebelumnya, Fenti bertindak lebih agresif lagi, dia lalu mengejar Alvitar yang terhempas dan langsung menyerang nya dengan sejumlah magic angin yang sebelumnya tidak dia keluarkan.
Fenti memanifestasikan benda seperti palu yang sangat besar menggunakan magic angin miliknya. Dan palu angin itu tepat berada di belakang Alvitar. Dia yang sebelumnya terpental kebelakang terkena serangan palu itu dan membuatnya terhempas kembali ke depan. Di arah depannya itu Fenti sudah siap dengan serangan berikutnya. Dia menggunakan element angin miliknya untuk melemparkan banyak bongkahan tanah dan batu besar bekas dari pertempuran mereka sebelumnya.
Semua batu yang bercampur dengan tanah itu melesat cepat ke arahnya membuat Alvitar tidak sempat untuk menghindar atau menggunakan magic bertipe area lain.
Alvitar lalu menggunakan energi Qi nya dan dibungkus dengan wind cutter untuk memotong semua serangan yang dilemparkan Fenti.
Insting Alvitar benar-benar dipakai dalam pertarungan itu, serangan bertubi-tubi yang Fenti lepaskan benar-benar tidak memberikan sedikit pun Alvitar ruang untuk menghindar.
Alvitar memotong semua serangan yang datang kedua tangannya bergerak seperti pedang yang memotong apapun yang ada di depannya. Alvitar berpikir jika Fenti hanya dapat menggunakan satu teknik dalam satu waktu, namun dia salah tentang itu. saat dia sedang fokus memotong semua serangan. Palu yang sebelumnya datang kembali dari arah samping dan membuatnya harus terpental kembali terkena serangan itu.
__ADS_1
Dan dari arah yang berlawanan Fenti menyerang Alvitar lagi dengan tebasan angin miliknya. Alvitar menggunakan semua pemahaman magic nya pada saat itu.
Alvitar memanifestasikan element angin miliknya dalam lingkup yang lebih besar dari sebelumnya.
"Wind Destruction."
Manifestasi pusaran angin berhasil Alvitar buat. Semua benda yang ada di sekitarnya seakan-akan tersedot ke arah pusaran angin itu.
'Aku tidak pernah mengajarkan teknik seberbahaya ini padanya. Dan ini sangat berpotensi merusak.' pikir Fenti.
Dia lalu bergerak cepat dan masuk ke tengah tepat inti pusaran angin itu terjadi. Dan tepat ditengahnya terdapat Alvitar yang sedang menyeimbangkan magic anginnya.
'Aku tidak bisa menghentikan ini, angin ini terlalu besar.' pikir Alvitar yang panik akan magic yang dia keluarkan sendiri.
Saat dirinya sedang panik itu, Fenti datang dari atas dan memanifestasikan tebasan area yang membuat pusaran angin itu terbelah dari dalam.
Alvitar terjatuh tepat setelah pusaran angin itu hancur.
Tang woo dan anak-anak yang lain langsung menghampiri mereka setelah pertempuran berakhir.
"Akhirnya selesai juga, kalian benar-benar lama aku hampir mengantuk jika tidak ada pertunjukan tadi." ucap Tang woo dengan wajah yang mengejek.
"Tapi perlu ku akui, kalian cukup terampil dalam bertarung dapat menyebabkan kerusakan hingga separah ini adalah bukti dari kekuatan yang kalian miliki. Jadi kami bisa tenang untuk itu."
Semua anak bingung dengan apa yang dikatakan oleh Tang woo.
"Seishou, apa maksud mu? tenang dalam arti apa?" tanya Yeonhee.
"Yah, seperti yang kubilang tujuan ku melatih kalian selama 3 bulan adalah untuk membuat kalian kuat dan dapat menjaga diri kalian sendiri."
"Bukankah seishou akan selalu melindungi kami?" tanya Hao ma.
"Tidak, aku tidak pernah berkata seperti itu. Seperti yang kubilang latihan ini ku lakukan untuk kalian sendiri jadi karena kami sudah melihat bagaimana pertumbuhan kalian kami bisa tenang meninggalkan kalian mulai sekarang."
"Kau pasti bohong kan seishou? bagaimana kami bisa hidup tanpa keberadaan mu--"
Liey Gong tidak menerima kenyataan itu, dan Fenti langsung memotong perkataannya.
"Kalian sudah cukup kuat jangan buat hati kalian lemah terus lah berlatih dan bertambah kuatlah lebih dari yang sekarang. Karena kehidupan kalian yang sebenarnya akan ditempuh mulai dari sekarang." ucap Fenti.
"Aku dan Tang woo akan dipekerjakan oleh seorang bangsawan, di wilayah menengah jadi aku tidak tau dapat bertemu kalian lagi atau tidak. Tapi yang jelas jika ada kesempatan kita pasti akan bertemu lagi. Jadi mulailah hidup mandiri.
"Oh yah Alvitar kau tau, kalung yang terpasang di leher mu adalah kalung yang dimiliki oleh seorang bangsawan. Aku tidak tau dari bangsawan barat mana kamu berasal tapi yang jelas itu adalah kalung milik keluarga kandung mu. Dan saat kamu bayi tersimpan sepucuk surat kecil yang berisi nama mu jadi yang memberikan mu nama adalah orang tua kandung mu dan bukan aku. Jaga diri kalian baik-baik." ucap Fenti.
Mereka perlahan berjalan pergi meninggalkan anak-anak yang ada dibelakang. Kepergian mereka diiringi oleh isak tangis anak-anak yang terdengar sangat jelas.
"Seishou aku tidak akan pernah melupakan mu."
"Apa yang selanjutnya kami lakukan tanpa dirimu?"
"Kalau seperti ini jadinya aku akan berlatih lebih lama lagi." ucap Ru tsung sambil berusaha mengelap air matanya.
"Seorang pengguna martial arts yang telah berusaha mengambil jalan ksatria. Tidak boleh menangis hanya untuk sebuah perpisahan. Kuatkan hatimu dan terus majulah ke depan. Masih banyak rintangan yang selanjutnya kalian tempuh." ucap Tang woo yang berhenti sejenak sambil mengatakan itu dan lalu berjalan kembali meninggalkan mereka.
__ADS_1
Tang woo dan Fenti berusaha menahan agar tidak mengeluarkan air mata, mereka harus terlihat kuat dan tegar dalam mengambil keputusan itu. Karena bagaimanapun juga ini juga demi kepentingan anak-anak. Fenti dan Tang woo menanggung beban dengan menjadikan diri mereka sendiri budak dan sebagai gantinya beban budak pada anak ditanggung oleh Mereka berdua. Mereka ingin anak-anak itu merasakan hidup bebas tanpa perbudakan mereka rela melakukan apapun untuk itu termasuk mengorbankan diri mereka sendiri.