
Tepat setelah kepergian Fenti dan Tang woo suasana rumah mendadak menjadi sangat hening. Tidak ada satupun suara percakapan antara mereka, semuanya diam membisu tanpa suara. Mereka tidak tau apa yang selanjutnya mereka lakukan setelah ini. Karena semuanya sudah menganggap Tang woo dan Fenti sebagai pelopor hidup mereka.
Anak-anak itu seperti kehilangan arah dan tujuan. Tidak ada tempat bagi mereka untuk bercanda ria seperti dulu lagi, ataupun melakukan latihan bersama kembali. Namun meski berat mereka harus terus melangkah untuk menggapai impian masing-masing meskipun belum tentu tapi kesempatannya tidak nol. Mereka masih dapat bertemu lagi meskipun tidak pasti.
Di sore sehari setelah kepergian dua orang itu. Kelimanya mulai bergerak sendiri untuk melakukan apa yang mereka inginkan. Yeonhee kembali ke halaman depan rumah dan melatih magicnya kembali sementara keempat anak yang lain pergi ke gudang bagian belakang.
Mereka berempat masuk ke dalam gudang tempat senjata-senjata tersimpan. Fenti dan Tang woo sering ke tempat ini untuk mengambil senjata yang nantinya akan digunakan untuk berburu. Hao ma adalah orang pertama yang mengajak mereka berempat untuk pergi ke gudang dan sisanya hanya mengikuti saja karena mereka masih tidak menerima jika Tang woo dan Fenti pergi.
Sesaat setelah mereka masuk ke dalam gudang bau menyengat tercium dari dalam, bau seperti bangkai tercium sangat menyengat disana. Namun bau seperti itu bukan menjadi masalah besar. Mereka lalu melihat-lihat isi yang ada di dalam gudang itu.
'Semuanya terlihat hanya senjata disini, ruangan tanpa penerangan seperti ini bagaimana seishou bisa melihat dan mendapatkan senjata disini.' pikir Alvitar sambil terus melihat senjata yang lain.
"Tujuan kita kesini adalah mencari senjata untuk dipakai berburu, karena seishou sudah tidak ada kita harus mencari makanan sendiri. Carilah senjata yang kalian inginkan." ucap Hao ma yang berada di paling depan.
Kapak berkarat, pedang berkarat, panah dan anak panah, crossbow, tombak dan senjata yang lain tersimpan di dalam meski dalam keadaan yang hampir semuanya berkarat. Namun itu masih tetap kuat dan dapat digunakan untuk berburu di setiap senjata itu terdapat banyak noda darah dari para hewan atau beast yang dibunuh oleh Tang dan Fenti.
"Aku akan mengambil tombak ini, bagaimana dengan kalian?" tanya Hao ma sambil melihat kebelakang ke arah anak-anak yang lain.
"Aku belum pernah menggunakan senjata sebelumnya, jadi aku lebih baik tangan kosong saja."
__ADS_1
Semua melirik ke arah Alvitar sesaat setelah dia mengatakan itu. Karena hanya dia yang belum memegang satupun senjata ditangannya. Sementara Ru tsung dan Liey Gong sudah memegang panah dan pedang.
"Jangan katakan hal yang bodoh, meskipun kau jenius sekalipun kau akan mati jika ke hutan tanpa senjata ditangan mu. Arts body level dasar tak akan bisa menahan serangan beast. Ambil saja senjata yang kau inginkan."
Hao ma memaksa Alvitar mengambil senjata demi keselamatan dirinya juga.
'Aku memiliki element seed angin sama seperti seisho. Jadi lebih baik mengambil busur panah saja.' pikir Alvitar. Dia lalu mengambil busur panah namun dia tidak mengambil anak panahnya.
"Apa yang kau lakukan? kenapa anak panahnya tidak kau ambil?" tanya Ru tsung.
"Aku dapat menggunakan magic angin untuk memanifestasikan anak panah." jawab Alvitar. Dia lalu keluar dari gudang itu dan disusul oleh anak-anak yang lain.
Semua anak keluar dari gudang dan sudah siap untuk pergi berburu ke dalam hutan.
"Yeonhee ..., aku tidak bisa membiarkan mu berburu tanpa senjata, setidaknya bawa sajalah pedang ini untuk jaga-jaga." ucap Hao ma sambil memberikan pedang padanya.
Sikap Hao ma mendadak berubah setelah kepergian Tang woo dan Fenti pagi tadi. Hao ma lebih dewasa dibandingkan sebelumnya, karena meskipun umur mereka sama Hao ma lebih tua beberapa bulan dibandingkan ketiganya. Meskipun pada dasarnya bukan karena itu dia berubah, karena ada hal lain yang mendasari perubahan Hao ma. Salah satunya adalah pemikiran, dia berpikir jika dirinya yang sekarang yang bertindak sendiri tanpa arahan dari Tang woo dan Fenti mungkin akan mengalami perkembangan yang lebih besar dari sebelumnya karena dia bisa bertindak lebih leluasa melakukan latihan yang mengancam nyawa dengan cara ekstrem yang dia punya. Hao ma berpikir latihan dengan cara mempertaruhkan nyawa akan lebih terasa daripada latihan rumahan seperti sebelumnya.
Mereka lalu berjalan menuju hutan untuk berburu beast, karena stok makanan mereka di dalam rumah juga sudah habis.
__ADS_1
"Hao ma, apa kau sudah mempunyai pengalaman berburu di dalam hutan sebelumnya? kenapa kau tampak biasa saja? hutan adalah tempat para beast tinggal apa kau sadar tentang itu?"
Ru tsung sedikit bimbang dengan keputusan Hao ma.
"Aku tau itu, kita kesana juga dengan tujuan untuk berburu. Mencari beast lemah untuk dimakan dan sekalian melakukan latihan. Itu adalah tujuan kita." jawab Hao ma sambil mengacungkan tombak nya ke atas.
Beast berbeda dengan magical beast, beast adalah hewan besar yang biasa dijadikan hewan buruan, dan magical beast adalah hewan yang dapat menggunakan magic dalam serangannya ataupun melindungi tubuhnya. Perbedaan antara keduanya cukup siginifikan magical beast jauh lebih kuat dari beast itu adalah perbedaan mutlak antara keduanya.
"Kita tidak bisa mengandalkan seishou lagi, karena mereka sudah pergi untuk melakukan tugas mereka. Jadi mulai saat ini tujuan kita adalah bertahan hidup dan bertindak sendiri. Dan juga dalam perburuan ini anggap saja kita sedang berlatih menggunakan senjata. Karena kita pasti akan sering melakukan ini."
Semua paham dengan ucapan yang dikatakan Hao ma. Secara tidak langsung Hao ma berkata jika terus merenungi kepergian Tang woo dan Fenti tidak ada gunanya. Lakukan apa yang bisa mereka lakukan sekarang dan terus maju ke depan untuk terus melangkah.
Perlahan-lahan mereka mulai membuang pikiran naif mereka soal perpisahan, dan lebih memikirkan situasi untuk kedepannya.
Perasaan mereka saat ini campur aduk, diliputi rasa khawatir, cemas dan takut tidak dapat melakukan apapun jika bertemu dengan beast nanti. Akan tetapi pikiran itu seakan-akan sirna saat mengingat tragedi 5 tahun yang lalu dimana pertumpahan darah dan pembantaian terjadi dimana-mana.
Ru tsung, Hao ma, Liey Gong dan Yeonhee. Dulu mereka adalah seorang gelandangan yang setiap harinya hanya mencuri untuk memenuhi kebutuhan. Dan mereka berempat sudah tinggal bersama saat itu. Siksaan, penindasan, kekerasan, dan hal-hal keras dalam kehidupan sudah mereka rasakan semuanya. Namun selama mereka hidup tidak ada hal yang paling menakutkan selain pembantaian masal saat itu, dimana potongan tubuh berceceran dimana-mana dan bau amis darah tercium menyengat di hidung. Peristiwa itu adalah peristiwa terkelam yang pernah mereka alami seumur hidup. Tidak ada hari paling menakutkan selain dari itu.
Selama beberapa menit berjalan, mereka akhirnya sampai pada tempat yang dituju. Suara angin yang menerpa pohon, terdengar jelas ditelinga mereka. Rimbunnya pohon semakin membuat mereka berpikir dua kali untuk masuk ke dalam. Namun mereka tidak selemah itu apalagi menuruti rasa takut mereka. Semuanya mengeratkan genggaman pada senjatanya masing-masing dan bergegas masuk ke dalam hutan.
__ADS_1