Legenda Pedang Kebebasan

Legenda Pedang Kebebasan
Sebuah Tawaran


__ADS_3

Serangan Alvitar melesat cepat ke arah pria itu. Dengan mengkombinasikan antara magic dan martial arts. Alvitar yakin jika serangannya akan mengenai pria itu.


Namun, pada akhirnya itu hanya sebatas teori miliknya saja. Karena serangan kombinasi yang Alvitar banggakan sepenuhnya ditahan oleh pedang pria itu.


*Clank ...


Suara benturan terdengar keras memekakkan telinga. Burung-burung terbang menjauh dari lokasi pertempuran mereka.


"Kecepatan berpikir, pola serangan yang baik, dan prediksi gerakan yang sangat mahir. Aku merasa seperti bertarung dengan seorang praktisi beladiri." ucap pria itu sambil menahan tendangan Alvitar.


"Kau dapat menggabungkan seni martial arts dan magic sekaligus. Siapa yang mengajarkan mu teknik ini?" tanya nya.


Alvitar tidak membalas pertanyaan itu namun berpikir untuk memprediksikan serangan selanjutnya yang akan pria itu gunakan.


"Begitu ya, kau cukup percaya diri dengan pengamatan mu bocah. Tapi ... butuh seratus bagimu untuk mengalahkan ku!"


Pria itu melakukan serangan lanjutan. Dia mendorong pedang besarnya untuk memberikan jarak antara dirinya dan Alvitar. Dan di detik berikutnya pria itu bergerak dengan sangat cepat dan seolah-olah menghilang melampaui kecepatan udara.


'Teknik ini, tidak salah lagi, dia menggunakan kemampuan yang tidak bisa ku prediksi sebelumnya.' pikir Alvitar sambil menggertakkan giginya dengan panik.


Dia sama sekali tidak bisa melihat gerakannya, pria itu menghilang seperti angin dan Alvitar tidak bisa merasakan kehadirannya di sekitar.


'Gerakan yang sangat cepat hingga tidak bisa ku rasakan sama sekali kehadirannya. Kalau begitu, serangan bertipe area adalah jalan keluarnya.'


Berpikir tentang itu, Alvitar lalu mulai mengumpulkan mana yang ada di sekitarnya. Mana yang sangat besar seakan tertarik seperti magnet ke tubuh Alvitar.


Dia akan menggunakan magic angin area yang pernah digunakan saat melawan Fenti waktu itu. Perlahan angin mulai mengitari tempat area mereka bertarung. Putaran magic angin yang Alvitar gunakan mempengaruhi sekitar. Pemandangan itu seperti hendak terjadi badai angin.


Daun-daun yang terbang mengitari tempat Alvitar berdiri. Badai angin besar hendak terjadi di situ. Namun di detik berikutnya, saat badai angin hendak tercipta. Seketika kumpulan mana yang mengeliling Alvitar meledak akan sesuatu.


Magic yang Alvitar gunakan seakan terhapus dan terpecah oleh sesuatu. Alvitar cukup bingung dengan itu, dia tidak bisa menggunakan magic nya sama sekali.


"Magic ku tidak bekerja, aku tidak bisa mengeluarkan element seed ku. Apa yang sebenarnya terjadi kenapa bisa begini." bisik Alvitar. Sambil melihat ke area sekitar.


"Tidak hanya martial arts, kau juga mampu membuat magic skala besar seperti ini. Kau benar-benar melebihi ekspetasiku."


*Prok ...


*Prok ...


*Prok ...


Pria itu menepuk tangan atas aksi Alvitar barusan. Sementara Alvitar masih bingung dengan apa yang terjadi. Namun, seakan menjawab rasa penasaran Alvitar, pria itu memberikan informasi padanya.

__ADS_1


"Sepertinya kau masih kebingungan ya. Akan aku jelaskan. Sihir mu ... telah dihapuskan. Singkatnya begitu. Kau tidak bisa menggunakan magic di tempat ini karena aku telah memasang artefak anti magic area di sekitar mu."


Alvitar masih tidak paham dengan apa yang dikatakan pria itu. Karena dari tadi dia bertarung dengannya jadi mana mungkin dia memasang anti magic area di saat mereka bertarung. Ditambah lagi Alvitar belum pernah mendengar jika ada artefak item yang dapat memblokir sebuah magic.


Pria itu lalu melanjutkan penjelasannya. Meski terlihat dari wajahnya jika dia tidak senang untuk itu.


"Artefak anti magic. Itu adalah kelemahan bagi para magician. Apa kau tidak diajarkan soal itu?" ucapnya sambil menggaruk kepala bagian belakang.


"Ah sial, ini bukan gayaku untuk menjelaskan seperti ini, tapi bagaimanapun ini harus dilakukan--"


*Boomm ...


Tekanan air berdaya tinggi melesat cepat ke arah pria itu, namun dengan reflektifitas yang cepat, dia mampu menghindari serangannya. Namun serangan berikutnya belum berakhir 2 orang yang lain muncul dari balik semak belukar.


Tendangan horizontal mengarah pada kepala pria itu, disusul orang berikutnya yang mengarahkan serangan ke arah bahu.


"Orang yang tidak ku kenal memaksa masuk dalam pertarungan ya ... sepertinya kalian masih bagian dari orang-orang ini."


Fenti, Yeonhee, dan Liey Gong sudah tiba di tempat itu. Mereka langsung melancarkan serangan dengan menggunakan strategi yang mereka miliki. Dengan harapan dapat mengalahkan pria itu dengan mudah.


Namun, serangan mereka masih belum cukup. Tendangan dan pukulan Hao ma dan Liey Gong berhasil ditahan oleh kedua tangan pria itu.


Hao ma dan Liey Gong langsung mundur kembali dan menyesuaikan jarak antara mereka.


Alvitar sedikit bernapas lega dengan kedatangan mereka.


"Ini cukup memalukan, bagaimana dia bisa tertidur seperti itu di situasi genting seperti ini?" ucap Yeonhee. Dia lalu mengarahkan magic serangan magic air yang tidak berbahaya ke arah Ru tsung.


*Blress ...


Ru tsung langsung bangun setelah tubuhnya basah oleh air.


"Bangun dasar beban! bagaimana kau bisa tidur dengan meninggalkan musuh seperti ini?"


Yeonhee cukup marah dengan itu.


"Urgh ... maaf aku terkena serangannya tadi." ucap Ru tsung sambil bangkit kembali mendekat ke arah Alvitar.


"Maaf aku telah menjadi beban untuk mu."


"Tidak masalah, yang terpenting sekarang adalah kita harus mengurus orang ini dulu." ucap Alvitar. Namun, dia masih cukup bingung dengan situasi yang terjadi karena bagaimana Yeonhee bisa menggunakan magic sementara dia tidak bisa.


Itulah setidaknya yang dia pikirkan barusan, akan tetapi saat mereka melihat jarak antara Yeonhee dengan dirinya yang berjauhan. Alvitar dapat menyimpulkan jawabannya.

__ADS_1


Ada dua kemungkinan, antara ada artefak anti magic yang tertanam di sekitar dirinya atau Artefak anti magic yang hanya merespon ketika ada mana yang besar yang keluar.


Tujuan Alvitar sebelumnya menggunakan serangan area, bukan hanya sekedar putus asa saja. Alvitar memikirkan hal lain yaitu meminta bantuan pada saudara-saudaranya yang lain. Untuk melakukan itu Alvitar sengaja mengeluarkan magic angin skala area yang membuat angin besar di sekitar. Bukan hanya angin. Mana juga akan ikut terkumpul di sekitar area itu. Dengan memanfaatkan peluang itu Alvitar yakin jika Yeonhee akan menyadari dirinya yang sedang dalam bahaya.


Dan apa yang Alvitar pikirkan akhirnya terjadi. Yeonhee menyadari mana milik Alvitar dan langsung bertindak mengikuti arah gumpalan mana itu dan akhirnya merasakan kehadiran Alvitar yang sedang bertarung.


Namun, Yeonhee cukup cerdas. Dia merasakan ada yang janggal dengan perubahan area sekitar seperti ada semacam insting di dalam dirinya yang menyuruhnya untuk menyerang dari jarak jauh menggunakan magic air. Berkat itu dia masih dapat menggunakan magic karena tidak masuk dalam perbatasan area artefak anti magic.


"Hati-hati orang ini benar-benar kuat, semua serangan miliku tidak ada yang mengenainya." ucap Alvitar sambil menatap tajam ke arah pria itu.


"Siapa yang lebih kuat antara seishou dan dia?" tanya Liey Gong.


"Seishou sudah pasti lebih kuat Dia bahkan mampu membelah langit. Orang ini tidak akan sebanding dengannya." bisik Hao ma.


Alvitar diam saja dan tidak menjawab pertanyaan itu karena pertanyaan semacam itu tidak berguna, dan tidak dapat membantu mengatasi situasi ini.


Saat mereka sedang berbicara, perlahan pria itu mendekati mereka.


Semua dalam kondisi bersiap saga dan memasang kuda-kuda bertarung. Akan tetapi, dalam pergerakannya pria itu sangat santai dan tidak menunjukkan rasa haus membunuh seperti sebelumnya. Namun, pada detik selanjutnya mereka dibuat bingung oleh perkataan pria itu.


"Kalian, bekerja sama lah dengan ku."


Yeonhee, Alvitar, Ru tsung, Hao ma dan Liey Gong. Terdiam mendengar tawaran itu, mereka bertanya-tanya apa yang orang ini katakan? untuk pertamakalinya mereka berpikiran hal yang sama.


"Kalian terkejut dengan tawaran ku, itu wajar. Tapi, bukankah ini tawaran yang bagus? aku menawarkan itu dan melepaskan kalian dari belenggu perbudakan. Dan memberikan keuntungan lainnya pada kalian. Ini menguntungkan bukan?"


Mereka masih belum menjawab tawaran pria itu, mereka masih belum mempercayai atmosfer pertarungan yang tiba-tiba berubah seperti ini. Dalam keheningan itu Alvitar berbicara menanggapi tawaran orang itu.


"Barusan kau tadi berniat untuk membunuh ku, tapi sekarang tiba-tiba berubah seperti ini. Bukankah ini cukup mencurigakan? bagaimana aku bisa mempercayai orang yang sebelumnya ingin membunuhku?"


"Yah, itu memang cukup akal. Tapi biar ku luruskan. Aku tidak berniat membunuh, jika aku ingin melakukan itu kau dan teman mu sudah mati dari tadi. Jadi masuk ke inti pembicaraan bagaimana dengan tawaran ku? kalian tidak akan rugi dengan kan?"


Pria itu tetap pada pendiriannya untuk mengajak mereka bergabung. Namun di sisi lain, mereka tidak mempercayai pria itu. Saat ini mereka dalam kondisi yang sulit karena jika menolak tawaran, bisa saja pria itu membunuh mereka semua. Dan jika menyetujui mereka tidak tau akan kerjasama dalam hal apa tapi yang jelas dari perkataan pria itu. Sepertinya tidak ada ruginya untuk mempercayai itu karena hanya inilah jalan keluar agar tidak ada korban diantara mereka.


Yeonhee maju ke arah pria itu dan perlahan mendekat ke arahnya.


"Kami akan bergabung namun dengan syarat, ijinkan kami mengetahui terlebih dahulu tentang maksud dan tujuan mu. Setelah itu kami akan mempertimbangkan tawaran mu."


'Mempertimbangkan situasi yang akan buruk jika menolak tawarannya secara langsung, pilihan ini adalah pilihan yang terbaik sekarang.' pikir Yeonhee.


Pria itu tersenyum pahit mendengar ucapan itu dari mulut Yeonhee.


'Ini cukup mengesankan untuk bernegosiasi dengan seorang bocah. Tapi bagaimanapun mereka adalah aset berharga aku harus membuat mereka bergabung tanpa menggunakan kekerasan.' pikir pria itu yang akhirnya menyetujui syarat Yeonhee.

__ADS_1


"Baiklah, aku setuju. Untuk memberikan rinciannya ikut dengan ku."


Setelah mengatakan itu, dia langsung berjalan menuju suatu tempat. Mereka mengikuti orang itu dari belakang. Orang itu sangat kuat, mereka tidak ingin mengambil resiko dengan melarikan diri disaat orang itu lengah. Oleh karena itu mereka mengikutinya.


__ADS_2