Legenda Pedang Kebebasan

Legenda Pedang Kebebasan
Analyzing Seed magical Element


__ADS_3

2 Minggu berjalan.


Setelah mereka semua mempelajari dan memahami teknik-teknik martial arts yang diajarkan Tang woo mereka mulai melatih diri mereka sendiri secara mandiri.


Hao ma, Ru tsung dan Liey Gong berlatih keras dengan cara berlatih tanding setiap harinya, melawan Tang woo ataupun satu sama lain. Karena setelah semua anak mengetahui bakat yang ada di dalam tubuh Alvitar semua menjadi sangat bersemangat untuk berlatih lebih dan lebih keras lagi mereka tidak ingin kalah dengan Alvitar yang memiliki bakat luar biasa di dalam tubuhnya.


Mereka tidak peduli bakat atau apapun itu yang membuat semua usaha menjadi mudah. Karena mereka percaya bakat dapat dikalahkan oleh kerja keras tidak peduli orang itu berbakat atau tidak selama mereka bekerja keras dan berusaha mereka yakin dapat akan dapat meraih apapun yang mereka inginkan.


Semua anak menetapkan prinsip itu di dalam pikiran mereka. Berlatih, bekerja keras, konsistensi dan rasa tidak ingin kalah dari yang lain adalah yang membuat mereka menjadi seperti ini.


Berbeda dengan anak yang lain yang melanjutkan pembelajaran martial arts nya, Yeonhee dan Alvitar di ajarkan secara langsung oleh Fenti untuk mempelajari magic. Alasan kenapa Tiga anak tidak ikut mempelajari magic juga karena tidak adanya magician seed di dalam tubuh mereka.


Magic berbeda dengan martial arts tidak semua anak dapat mempelajari magic meskipun semuanya memiliki mana di dalam tubuhnya. Karena untuk mempelajari magic dibutuhkan Magic Seed di dalam tubuh, magic seed adalah kecocokan terhadap suatu element. Jika seseorang tidak ada magic seed otomatis tidak dapat menggunakan magic karena tidak ada element yang cocok terhadap mereka. Itulah kenapa bakat diperlukan untuk mempelajari magic karena tidak semua orang bisa mendapatkan itu.


"Yeonhee, Alvitar. Kemari."


Di pagi yang cerah Fenti memerintahkan Alvitar dan Yeonhee untuk mempelajari magic di tempat biasa yaitu halaman depan rumah, namun sebelum itu dia terlihat akan melakukan sesuatu terlebih dahulu pada mereka berdua.


"Seishou kami sudah siap menerima ajaran magic mu!" ucap Yeonhee, sangat bersemangat saat mengetahui dirinya mempunyai magic seed.


"Seishou apa yang harus kami lakukan untuk mempelajari magic?" tanya Alvitar sambil berdiri menghadap Fenti.


"Pertanyaan bagus. Tentu saja banyak yang harus kalian lakukan, tapi pertama-tama kalian harus melakukan Analyzing terlebih dahulu untuk mengetahui element jenis apa yang kalian miliki."


"Maaf seishou bukankah mage bisa menciptakan element sendiri?"


"Benar Alvitar, mage memang bisa membuat element sendiri dengan magic namun itu hanya tipe elemental dasar. Contohnya adalah aku dapat menggunakan element api yang padahal jenis element yang cocok padaku adalah angin, tapi aku hanya dapat mengeluarkan sedikit element api saja dan tidak bisa ku kembangkan karena itu bukan magic yang cocok padaku."


Dari penjelasan yang Fenti katakan dapat diambil kesimpulan jika seseorang dapat menggunakan semua element meskipun itu tidak cocok pada jenis element yang mereka miliki namun hanya sebatas menggunakan pada skala kecil saja karena element yang tidak cocok pada tubuh maka element itu tidak dapat di kembangkan lagi dan sangat lemah.


"Kalau begitu seishou bagaimana cara mengecek element miliku juga?" tanya Yeonhee yang sangat bersemangat ingin mengetahui tipe element miliknya.


"Kita harus mengunjungi katedral untuk mengetahui itu."


Alvitar dan Yeonhee tidak mengerti tempat yang Fenti maksud.


"Aku akan menjelaskannya di dalam perjalanan, sekarang ayo ke pusat kota terlebih dahulu."


Mereka bertiga berjalan menuju tempat yang Fenti maksud. Namun Alvitar dan Yeonhee tampak muram saat mendengar akan pergi ke pusat kota. Karena tempat itu adalah tempat yang sangat brutal disana, dan mereka memiliki kenangan pahit sendiri saat datang kesana. Orang yang diperlakukan semena-mena, deskriminasi manusia, dan tindakan kriminal sudah menjadi hal yang biasa disana. Pusat kota bagian bawah itu seperti wilayah tanpa hukum yang tidak pernah disentuh oleh pemerintah dan dibiarkan begitu saja. Jarak antara desa yang mereka tempati dan pusat kota bagian bawah tidak terlalu jauh jadi mereka dapat sampai kesana lebih cepat.


"Seishou kenapa kita harus pergi ke katedral bisakah kau melakukannya sendiri?" tanya Alvitar dengan wajah lesu.


"Melakukan Analyzing harus menggunakan Artefak item kita tidak cukup kaya untuk mendapatkan itu. Dan juga kita hanya seorang budak jadi tidak dapat membeli benda seperti itu. Tapi kita cukup beruntung mempunyai master yang terkenal, karena dengan itu kita bisa melakukan Analyzing secara gratis."

__ADS_1


Alvitar mengerti dan diam saat mendengar penjelasan Fenti, dia tidak bisa melakukan apapun karena dia hanyalah seorang budak.


"Seishou bagaimana cara agar tidak menjadi budak?" Yeonhee langsung bertanya setelah mendengar kata budak.


"Ah, tentu aku tau kalian ingin lepas dari perbudakan seperti itu kan? Tapi sepertinya sangat sulit untuk mewujudkannya karena kita adalah sisa-sisa dari rakyat kekaisaran barat, kita harus membayar sejumlah uang yang besar setiap bulannya yaitu sebesar 5 keping emas pada pemerintah wilayah atas. Seseorang yang tidak mampu membayar biaya itu maka akan dijadikan budak dan diperjualbelikan. Dan jika ingin lepas dari gelar budak maka harus membayar 3 kali lipat dari yang sebelumnya tapi ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk lepas dari gelar budak, perjanjian dengan master yang menjadikan kita budak, ataupun campur tangan dari para bangsawan lain."


Alvitar dan Yeonhee tampak murung mendengar jawaban itu karena mereka tidak ingin selamanya menjadi budak dan ingin hidup bebas.


Fenti lalu menepuk dengan pelan kepala Alvitar dan Yeonhee.


"Jangan khawatir, aku dan Tang woo sedang mengusahakan yang terbaik untuk kebebasan kalian." ucap Fenti sambil tersenyum.


Dan setelah berjalan selama 15 menit mereka akhirnya sampai di depan pintu masuk pusat kota bagian bawah.


suara-suara yang sangat bising terdengar di sepanjang mereka masuk ke dalamnya.


"Hei sialan cepat berjalan seperti kuda!"


"Sialan ada perampok!"


"Kejar perampok itu dasar budak tidak berguna!"


"Kau jalan terlalu lambat! cepatlah berlari seperti kuda!"


"Hei buang jasad wanita ini, dia sudah tidak berguna."


Di sepanjang jalan semua kejadian tak berakal dan tak bermoral terjadi disana. Sisa para bangsawan Kekaisaran barat melakukan hal yang semena-mena terhadap rakyat biasa, menjadikan mereka budak dan memperlakukan mereka seperti apa yang mereka mau. Fenti berusaha menutup mata Alvitar dengan tangan kanannya dan terus memegangi tangan Yeonhee dengan tangan kirinya. Dia bertindak seperti ibu yang menjaga anak-anaknya.


"Sampai, inilah katedral yang ku maksud, masuklah dan menunggu antrian, aku tidak diperbolehkan masuk karena tidak ada kepentingan di dalam." ucap Fenti, dia lalu membuka mata Alvitar yang ditutup dan mendorong mereka untuk masuk ke dalam. Disana terdapat anak-anak bangsawan dari sisa kekaisaran barat yang sedang melakukan Analyzing juga.


Banyak mata memandangi keberadaan mereka, memandang dengan wajah jijik seakan melihat sampah yang bergelimpangan di jalan.


"Kenapa budak sepertinya kesini?"


"Kenapa budak sepertinya percaya diri untuk menjadi seorang magician"


Kata-kata anak para bangsawan itu terdengar membanjiri telinga. Mereka sibuk membicarakan seorang budak yang datang ke katedral. Namun kata-kata mereka tidak berlaku pada Alvitar dan Yeonhee, mereka tidak memperdulikan ucapan itu dan sibuk berbicara satu sama lain.


"Menurut mu apa element yang akan kudapat?"


"Mungkin api?" jawab Alvitar.


"Kenapa kamu berpikir begitu?"

__ADS_1


"Karena aku kepikiran element itu."


"Aku tidak akan meminta pendapat lagi."


Dengan itu percakapan mereka berakhir, dan saatnya Yeonhee untuk memasuki altar yang ada didepan. Terdapat bola Artefak magic disana, Artefak itu berwarna hitam diluar dan di dalamnya terdapat bintik-bintik cahaya kecil di dalamnya.


"Letakkan tangan mu di dalam dan masukan sedikit mana ke dalamnya."


"Baik."


Yeonhee mengerti tentang itu dan langsung meletakkan tangannya ke Artefak dan dilanjutkan dengan mengaliri Artefak itu dengan mana miliknya.


Bintik-bintik cahaya yang sebelumnya berwarna putih seketika berubah menjadi warna biru sesaat setelah Yeonhee mengalirinya dengan mana.


"Seed magic manifestasi air. kamu bisa melepaskan tangan mu kembali."


"Jadi element ku adalah air ya. Ini sangat cocok untuk ku." ucap Yeonhee sambil melihat telapak tangan kanannya.


Yeonhee lalu kembali dan keluar menyusul Fenti. Dan dilanjutkan dengan Alvitar yang berjalan memasuki Altar.


Alvitar lalu meletakkan tangannya di atas bola Artefak itu dan mengalirkan mana ke dalamnya. Bintik-bintik cahaya berubah warna menjadi putih.


"Seed magic manifestasi angin. kamu bisa melepaskan tangan mu kembali."


"Jadi angin ya, sama seperti Fenti tak masalah." Alvitar lalu berjalan keluar menuju tempat Fenti dan Yeonhee.


"Alvitar element ala yang kau dapat?"


Sesaat setelah Alvitar keluar, Yeonhee langsung memberikan pertanyaan itu.


"Element seed ku angin sama seperti Fenti."


"Oh benarkah, kalau begitu aku dapat lebih mudah mengajarkan manifestasinya padamu."


Fenti cukup senang mengetahui Alvitar memiliki element yang sama sepertinya.


"Seishou element miliku berbeda, apakah aku masih bisa diajari oleh mu?" ucap Yeonhee dia cukup sedikit kesal karena element nya tidak sama seperti Fenti.


"Jangan khawatir, meskipun berbeda element namun aku akan mengajarkan hal yang sama pada mu. Karena perbedaan element bukan menjadi masalah sama pelatihan magic. Kalau begitu ayo kembali kita akan langsung berlatih setelah pulang nanti."


"Baik seishou!" jawab Alvitar dan Yeonhee dengan secara bersamaan.


Setelah melakukan Analyzing dan mengetahui element yang mereka miliki. mereka akhirnya kembali untuk melanjutkan latihan mereka di desa.

__ADS_1


__ADS_2