Legenda Pedang Kebebasan

Legenda Pedang Kebebasan
Dua orang misterius


__ADS_3

2 hari berlalu semenjak kejadian di malam itu, mereka memutuskan untuk menetap disana mengingat luka yang Hao ma derita cukup parah hingga pada kondisi yang membuat dia tidak bisa berjalan sama sekali. Mempertimbangkan hal itu mereka akhirnya memilih untuk berdiam diri terlebih dahulu dihutan dan mencari tempat yang aman untuk singgah, sebelum mereka menemukan jalan keluar dari hutan.


Mereka tersesat sangat jauh dan masuk ke dalam hutan yang lebih dalam lagi sehingga kesulitan untuk menemukan jalan keluar dari sana. Bahkan dengan ingatan Alvitar yang tajam sekalipun itu tidak membuahkan hasil, karena hutan itu tampak asing dan Alvitar belum pernah melihat situasi seperti ini sebelumnya.


Selama 2 hari lamanya, mereka menetap di dalam hutan dengan membuat tempat sederhana untuk mereka berlindung. Menggunakan pohon yang mereka tebang dan dedaunan besar untuk membuat atapnya.


Meski kecil dengan tempat itu setidaknya mereka bisa melindungi diri dari terpaan hujan dan para beast yang lain.


"Aku tidak menyangka daun Hipokte ini tumbuh di hutan ini, kupikir Hipokte hanya ada di dalam buku." ucap Ru tsung. Dia sedang mengambil daun Hipokte bersama dengan Alvitar.


"Ya, aku tidak berpikir hal yang sama dengan mu, tapi kurasa tempat daun Hipokte memang di hutan seperti ini. Dan jika tidak ada daun Hipokte kita mungkin akan kesulitan karena didatangi para beast." jawab Alvitar, mereka lalu berjalan kembali menuju tempat persembunyian.


Daun Hipokte yang mereka bawa adalah tanaman yang memiliki manfaat menyamarkan aroma. Daun ini bisa menyamarkan aroma dengan cara di tumbuk hingga halus dan kemudian disebarkan. Dengan tanaman ini dapat membuat penciuman para beast terganggu dan membuatnya tidak bisa membedakan bau sekitarnya.


Mereka menggunakan tanaman ini untuk menyamarkan bau tempat mereka tinggal, karena di hutan ini banyak beast. Daun ini sangat berguna untuk menutupi indra mereka.


Di sela-sela perjalanan, mereka menemukan ada yang janggal dengan suasana hutan. Suasana yang hening tanpa adanya satupun suara hewan dan para beast. Mereka cukup curiga karenanya. Hutan ini adalah habitat para makhluk buas tinggal, tapi mereka setidaknya hanya menemukan Doggy beast saja itupun dua hari yang lalu.


Meski mereka banyak menemukan jejak kaki para beast, namun mereka tidak menemukan keberadaanya. Itu cukup janggal jika memikirkan soal kondisi hutan yang sebenarnya.


Ru tsung adalah orang yang pertama berbicara soal keanehan suasana hutan.


"Alvitar, apa kau tidak merasa ini aneh? sepanjang perjalanan kita menemukan banyak jejak kaki para beast tapi kita tidak menemukan beast itu sama sekali."


"Lihat, ini jejak kaki beast kan? cukup besar dan sepertinya kuat. Tapi kenapa kita tidak menemukan beast ini." Ru tsung mulai berpikir saat itu, begitu juga Alvitar.

__ADS_1


Mereka memikirkan itu bukan tanpa sebab karena bahan makanan mereka sudah hampir habis. Mereka menggunakan daging Doggy beast untuk bertahan hidup disini. Jika tidak itu mungkin mereka akan mati kelaparan.


"Dari arah jejak kakinya, beast ini pergi ke belakang sana. Mungkin lebih baik kita mengikutinya." ucap Alvitar sambil menunjuk ke arah semak belukar di belakangnya.


"Pilihan bagus. Ayo dapatkan daging lagi."


Mereka pergi mencari tahu letak kejanggalan itu dengan mengikuti jejak beast yang melarikan diri. Meski tampak jelas beast itu adalah beast kuat. Mereka tidak peduli karena mereka memerlukan daging beast itu untuk makan. Setidaknya itu yang mereka pikirkan.


Alvitar dan Ru tsung mengikuti jejak beast itu pergi. Masuk ke dalam hutan yang lebih dalam dan lebih dalam lagi, meski banyak semak belukar yang menghadang mereka tetap meneruskan perjalanan. Dan hingga pada akhirnya, mereka menemukan sedikit barang bukti tentang sesuatu yang terjadi.


"Jejak kakinya berhenti di sini." ucap Ru tsung sambil melihat kondisi sekitar.


"Tempat ini sangat berantakan, ini seperti bekas dari pertempuran, mungkinkah ada seseorang yang bertarung dengan beast ini?" tanya Alvitar sambil meraba bekas dari pohon dan terkena cakaran.


"Tidak salah lagi, ini bekas dari pertarungan. Beast ini mungkin cukup terdesak karena menghancurkan area sekitar."


Ru tsung menemukan semacam peluru yang tertancap di salah satu pohon. Peluru itu berbentuk seperti jarum namun dengan ukuran yang dua kali lebih besar daripada jarum biasa.


"Aku tidak pernah melihat yang seperti ini di dalam buku. Tapi tidak salah lagi peluru ini mungkin sangat berbahaya karena bisa membuat beast sebesar ini mengamuk." jelas Alvitar.


Ru tsung terdiam dan tidak merespon ucapan Alvitar. Dia menggunakan energi Qi nya dan fokus akan sesuatu.


"Alvitar, gunakan energi Qi dan perluas panca Indra mu."


Alvitar tanpa pikir panjang langsung melakukan itu dan memfokuskan diri pada energi sekitar.

__ADS_1


Perasaan hening dan sejuk, mengalir di tubuhnya. Dia memfokuskan diri dan menyerap energi alam yang membuat instingnya lebih sensitif dari biasanya. Di suasana yang sejuk dan tenang yang dia rasakan itu, ada semacam gelombang negatif yang muncul di area sekitar tidak jauh dari tempat dirinya sekarang.


Alvitar memfokuskan diri lebih dalam lagi untuk membuat dirinya bisa merasakan situasi yang terjadi. Energi negatif semakin terasa saat Alvitar merasakan lebih dekat energi itu.


'Dari pancaran energi Qi ini, tidak salah lagi ini adalah aura keberadaan manusia. Sepertinya dia sedang bertarung dengan beast. Tapi perasaan apa ini. Ada semacam energi yang menusuk dari orang itu.' pikir Alvitar.


Dia merasakan ada dua energi yang berbenturan satu sama lain dan menciptakan gelombang frekuensi aura yang memadat dan mengalir di area sekitar.


'Aku sudah tau letak dari pertempuran itu, mungkin lebih baik aku langsung menuju lokasi saja.' lanjutnya.


Alvitar lalu sadar kembali dan membuka matanya. Begitu juga dengan Ru tsung yang telah mendeteksi keberadaan dari benturan dua energi negatif itu.


"Aku merasakannya juga, tidak jauh dari sini sepertinya ada pertempuran. lebih baik menuju lokasi dan melihatnya secara langsung." ucap Alvitar.


Dia lalu pergi menuju lokasi bersama dengan Ru tsung yang ada di belakangnya.


"Perhatikan sekeliling mu! kita harus menangkap banyak beast tanpa membuat beast-nya terluka parah." ucap seorang pria dengan pakaian hitam dan dua pistol ditangannya.


"Jangan mengatakan hal yang sama berulang-ulang, aku tau itu. Tapi menangkap lebih sulit daripada membunuh, aku tidak bisa terlalu menahan kekuatan ku."


Seorang pria dengan pedang besar ditangannya dengan mudah memotong gerombolan beast yang mengepung dirinya.


"Jangan sampai kita mengalami kerugian karena mu!"


"Ah sial, ini merepotkan!" balasnya.

__ADS_1


Alvitar dan Ru tsung melihat bagaimana pertempuran itu terjadi. Mereka dibuat merinding oleh keganasan orang itu dalam bertarung. Pria yang dua pistol ditangannya bertarung dengan sangat baik dan dengan mudah dapat menumbangkan 5 beast sekaligus. Sementara pria dengan pedang besar ditangannya itu adalah pria yang bertarung sangat ganas dan masing-masing dari senjata yang mereka gunakan keluar semacam aura negatif yang membuat Alvitar dan Ru tsung merinding seketika. Aura membunuh yang dua orang itu pancarkan benar-benar kuat, Alvitar tidak pernah merasakan merinding seperti ini sebelumnya.


__ADS_2