
Pada saat awal memasuki hutan, tidak terjadi apa-apa disana. Mereka tidak menemukan keberadaan para beast dan hanya ada hembusan angin saja yang menerpa pohon-pohon. Ada berbagai macam serangga yang sesekali terbang melewati mereka. Berwarna hijau dengan ukuran yang sebesar kepalan tangan orang dewasa. Itu adalah jenis serangga yang tidak berbahaya dan hanya memakan nektar bunga, meski tampangnya yang menyeramkan. Mereka tidak menghiraukan itu dan melanjutkan perjalanan mereka.
Semuanya berjalan memasuki hutan yang lebih dalam untuk berburu. Mengaktifkan semua panca indera mereka untuk menerka-nerka keberadaan dari beast yang mereka ingin buru.
Namun setelah satu jam lamanya mereka berjalan masuk lebih dalam ke hutan itu. Semuanya sama sekali tidak menemukan beast, hanya ada jejak keberadaan dari beast itu namun sama sekali tidak ada beast yang bisa mereka temukan. Namun mereka ada pada dua situasi gawat sekarang. Hari yang sudah mulai gelap memaksa mereka untuk pulang dengan perut lapar. Namun mereka yang tidak memiliki pengalaman berburu melupakan arah jalan mereka untuk kembali.
Hutan yang mulai gelap semakin membuat mereka panik karena tidak adanya penerangan.
"Hao ma sialan! kau berlagak jenius padahal otak mu tidak lebih pandai dari seekor kera!"
"Bagaimana kau bisa melupakan jalan keluar dari hutan ini?"
Yeonhee terus menggerutu ditengah perjalanan mereka mencari jalan.
"Sudahlah Yoenhee tidak ada gunanya mengomel seperti itu, lihatlah yang lain mereka tidak berisik seperti mu." ucap Hao ma mencari pembelaan dengan melibatkan yang lain.
Alis Ru tsung dan Liey gong berkedut mendengar hal itu.
"Bocah sialan! kau pikir aku tidak kesal dengan ini, kenapa kau masih berpikir benar dengan caramu hah?!"
Liey gong yang cukup kesal menarik kerah baju Hao ma dan terus mengoceh tentang itu. Sementara Ru tsung tetap menahan diri untuk tidak meninju wajah Hao ma.
Di situasi itu Alvitar berusaha berpikir tenang meski dia sendiri sedikit takut dengan suasana yang gelap seperti ini. Alvitar mampu mengingat semua jalan untuk kembali karena ingatannya yang tajam. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa karena keadaan yang sangat gelap gulita. Dia tidak tau apa yang harus dilakukan dan hanya mewaspadai sekelilingnya.
"Bukankah lebih baik kita bermalam disini dulu? dua jam lebih kita berputar-putar disini. Dan tidak tau semakin jauh atau semakin dekat kita untuk keluar dari hutan."
Semua melirik ke arah Alvitar yang ada di barisan paling belakang. Dan berpikir mengenai perkataan Alvitar yabg dirasa benar. Namun Yeonhee yang tidak ingin terlihat kalah seolah-olah berpikir hal yang sama seperti Alvitar.
"Y-yah, aku juga ingin mengatakan itu sebelumnya. Kita tidak tau posisi kita sekarang, jadi lebih baik beristirahat sampai hari terang."
*Blek ...
Hao ma menusukan tombaknya ke tanah dan menyetujui permintaan mereka. Dia terlihat seperti seorang pemimpin dengan sikapnya yang tegas dan dingin. Meski otaknya tidak sama dengan gayanya.
"Baiklah, kita akan istirahat disini sampai besok. Jadi tahan rasa lapar kalian ya."
Dengan itu mereka akhirnya mulai beristirahat disitu dengan memanfaatkan apa yang ada disekitar. Menggunakan daun pohon yang besar sebagai alas untuk mereka tidur. Hao ma menjadi orang pertama yang berjaga disana dan akan bergantian setiap 2 jam sekali.
Di situasi gelap dan hanya diterangi oleh cahaya bulan, mereka mulai tertidur. Hao ma masih senantiasa berjaga dengan tombak yang masih dia pegang dengan erat di tangan kanannya.
'Aku harus menjaga mereka semua, yah benar. Aku akan menjaga tempat ini dengan baik.'
Setidaknya itulah yang Hao ma pikirkan, namun. dia tidak bisa mengontrol rasa kantuknya sendiri. Dia memaksakan diri dengan melihat sekeliling nya dan memastikan tidak ada apa-apa yang terjadi.
Namun, perlahan-lahan kesadarannya mulai hilang, dan matanya perlahan menutup dengan sendirinya.
Alvitar yang menyadari itu langsung membuka matanya dan duduk menyadar pada salah satu pohon di belakangnya.
Namun saat pertama kali bangun, sekilas Alvitar seperti melihat sesuatu yang menyeret Hao ma ke semak belukar. Dia mengucek matanya kembali, dan mulai sadar akan sesuatu.
'Apa itu? siapa yang menyeret Hao ma?' pikir Alvitar sambil berusaha melihat dengan jelas.
__ADS_1
Namun saat dia menyadari itu, dia sudah sepenuhnya terlambat. Karena tepat di sekeliling nya banyak beast dengan mata merah menyala berkumpul dari balik semak belukar. Salah beast terlihat menyeret tubuh Hao ma pergi menjauh.
"Huh? ini kenyataan, dia dibawa beast!" ucap Alvitar dengan suara keras.
Dia lalu reflek mengambil busur panahnya dan memanifestasikan anak panah angin untuk membunuh beast itu. Alvitar melesatkan serangan itu ke arah beast yang menyeret Hao ma. Namun, karena dia tidak memiliki pengalaman memanah. Serangannya hanya melukai telinga kiri beast itu saja.
Semua beast yang sebelumnya bersembunyi mulai keluar sesaat setelah Alvitar melesatkan panahnya.
Suasana menjadi sangat mencekam saat satu persatu beast itu memperlihatkan wujudnya. Taring besar yang mencuat dari mulut dengan kulit berwarna coklat matang, dan cakar yang berada di kaki depannya.
Itu adalah beast tipe normal Doggy beast. Tipe anjing yang masih satu spesies dengan Magical Wolf beast, meskipun perbedaan kekuatannya tidak bisa dibandingkan karena Doggy beast masih sangat lemah dibanding Wolf beast.
Mereka memiliki karakteristik yang sama yaitu berburu dengan mengandalkan kelompok, namun mereka tidak memiliki pemimpin dan bertindak berdasarkan insting.
Semuanya terbangun tepat setelah para Doggy beast memperlihatkan wujudnya.
"Waaarrh ... makhluk sialan! kau mengigit kaki ku!"
Hao ma langsung menjauh dan menendang kepala beast itu sambil tersentak kaget.
"Bagaimana makhluk ini menemukan kita! Hao ma apa saja yang kau lakukan tadi?" ucap Ru tsung sambil memegang pedang dengan tangan bergetar.
"Singkirkan masalah itu, fokus saja untuk membunuh mereka semua!" ucap Hao ma. Dia tanpa pikir panjang langsung maju menyerang beast yang sebelumnya menggigitnya.
Dia maju tanpa persiapan dan bertindak berdasarkan emosi. Hao ma menyerang dengan ujung tombaknya ke arah beast itu namun Doggy beast memiliki pengalaman bertarung yang lebih baik daripada dia.
Serangan Hao ma berhasil dihindari dan beast yang lain menerjang dari belakang. Tiga cakaran membekas di punggung Hao ma serangannya tidak cukup dalam karena tidak mengenai organ fital.
Tepat saat pandangan Hao ma teralihkan, beast itu menyerang kembali dan menggigit lengan kanannya.
Teriakan keras Hao ma menggema di seluruh area hutan. Insting bertarungnya sama sekali belum terasah karena selama ini mereka hanya menjalani latihan biasa saja dan tidak menghadapi pertempuran secara langsung.
"AKKHHH ... Tangan ku terkoyak ... berhenti bertindak penakut dan bantu aku!!"
Ketiga anak membeku ditempat setelah melihat darah yang keluar banyak dari tubuh Hao ma. Itu mengingatkan mereka pada kenangan buruk 5 tahun yang lalu. Mereka seakan-akan tenggelam pada pemikiran mereka sendiri dan mengabaikan teriakan keras Hao ma.
Namun disaat genting itu, angin melesat cepat dan membunuh satu beast yang mengigit lengan Hao ma.
Alvitar menggunakan kemampuan element anginnya dan memanifestasikan anak panah untuk membantu Hao ma.
Alvitar tidak mengerti kenapa yang lain diam saja meski Hao ma hampir mati di depan mereka.
"Ada 10 ekor beast disini, Hao ma. kenapa tidak gunakan Arts body?" tanya Alvitar sambil memperhatikan sekelilingnya.
Hao ma yang sebelumnya terbaring mulai bangkit kembali dengan tangan dan punggung yang berlumuran darah.
"Maaf soal itu aku terlalu terpaku pada senjata yang kubawa. Tapi sejujurnya ini terlalu sakit tangan ku seperti akan terlepas dengan luka koyakan seperti ini."
Alvitar melihat kondisi Hao ma yang sangat parah, dia berpikir Hao ma akan mati jika tidak mendapatkan perawatan segera.
Alvitar menggunakan magicnya kembali lalu memanifestasikan tebasan angin kecil untuk membangunkan tiga anak yang lain dari pikiran kelamnya.
__ADS_1
Namun sebelum melakukan itu Hao ma melemparkan batu seukuran jempol tangan ke arah mereka sambil berteriak keras.
"Kita akan mati kalau diam saja! sadarlah pengecut!"
*Bletak
Lemparan baru mengenai kepala dengan sempurna.
"Lihat kondisi sekarang pengecut tidak ada waktu untuk berpikir lama!"
Yeonhee yang sudah tersadar memegang kepalanya dan melihat kondisi Hao ma yang sudah hampir sekarat.
Tangannya sangat bergetar saat itu namun dia tetap memaksakan diri setelah melihat apa yang terjadi pada Hao ma.
Ru tsung dan Liey Gong berpikir hal yang sama dan mengeratkan genggaman mereka pada senjata yang ada ditangan.
"Hao ma, kami akan mengambil alih!" ucap Ru tsung sambil mengarahkan pedangnya ke depan.
Meraka saling mendekat satu sama lain, membuat formasi melingkar dengan Hao ma ditengahnya.
Cuih ...
Ru tsung meludahi tangannya untuk mengeratkan genggamannya.
"Semua ada 10 beast mulai lah berjuang semuanya!!"
Ru tsung bertindak sangat gila, dia langsung menerobos menyerang seperti yang Hao ma lakukan sebelumnya. Begitu juga dengan Liey Gong, yang membuang panahnya dan maju menggunakan seni martial arts untuk membunuh para beast itu.
Alvitar bertindak cepat untuk membackup mereka dari belakang. Namun beast lain tidak membiarkan itu, para beast juga maju menerobos dan pertempuran berdarah terjadi di sana.
Beast ini memiliki karakteristik yang sedikit berbeda dengan Wolf beast, yang dimana wolf beast akan marah jika rekannya dibunuh. Berbeda dengan Doggy beast, makhluk ini akan tertekan jika rekannya terbunuh. Itulah mengapa saat pertama kali Alvitar membunuh satu doggy beast, kawanan yang lain diam saja karena takut oleh ancaman Alvitar.
Namun, Alvitar juga dalam kondisi buruk kali ini. Dia menghadapi 4 doggy beast sekaligus atas bayaran dari konsekuensinya tadi.
Alvitar menggunakan kemampuan sky walk nya dan berjalan di udara sambil memanah dari atas. Namun Doggy beast yang memiliki gerakan yang lincah mampu membuat Alvitar sangat kewalahan.
Beast itu menggunakan instingnya dan menalaki pohon-pohon untuk dijadikan pijakan, lalu melompat menyerang Alvitar yang ada di udara.
Panah Alvitar terkoyak dan patah karena terkena cakaran beast itu. Meskipun Alvitar jenius, dia tetap memiliki batasan. Alvitar hanya dapat berjalan di udara setinggi 3 meter saja dan maksimal 5 meter. Karena bebannya sangat berat, dan harus menyeimbangkan magic sambil mempertahankan posisi.
Lengan kanan Alvitar sobek terkena cakaran beast itu, namun adrenalinnya meningkat hingga rasa sakit seperti tidak terasa karena ditengah pertarungan.
Alvitar menggunakan martial arts dalam pertarungan sebab panah sudah hancur. Ditambah pikirannya yang kacau dan tidak tenang membuat dia tidak dapat menggunakan magic.
Alvitar membungkus dirinya dengan energi Qi dan sepenuhnya menggunakan panca indra nya dalam pertarungan. Dia sama sekali tidak diberikan ruang untuk melakukan serangan balik, karena situasinya sangat tidak memungkinkan. Bagaimanapun melawan 4 beast sekaligus sangat sulit bagi Alvitar, dia masih dapat bertahan karena otot nya yang masih kuat menahan serangan dari beast itu.
'Tidak ada waktu untuk menggunakan magic. Aku hanya dapat menggunakan martial arts sekarang.' pikir Alvitar sambil berusaha mencari celah.
Meskipun arts body sudah digunakan, dia masih menerima efek luka karena arts body nya masih belum cukup kuat.
Pada tahap ini pengalaman benar-benar diperlukan dalam sebuah pertarungan. Mereka benar-benar dipaksa untuk mengerahkan semua kekuatan mereka untuk mempertahankan hidup.
__ADS_1
Karena bagaimanapun, belajar paling cepat adalah belajar di situasi terdesak, dimana harus mempertaruhkan segala yang mereka punya untuk menyelesaikan permasalahan itu sendiri. Mereka akan bertambah kuat dengan rasa sakit.