
Siang menjelang sore ini, Wu San di cemaskan oleh Li Fang yang tiba-tiba menghilang dari ruang semedi. Dia sudah mengelilingi Sekte ini mencarinya, tetapi tetap tidak menemukannya.
Wu San memutuskan untuk pergi menemui Kakek Yo, yang kemungkinan menurutnya berada di halaman depan Sekte.
Setelah sampai di tempat biasa Kakek Yo menyendiri. Sama dengan Li Fang, ia juga tak menemukan keberadaannya.
Wu San kemudian memusatkan konsentrasinya, memfokuskan dirinya sambil dengan tenang mengalirkan sedikit Tenaga Dalam ke saraf otaknya, untuk mencari hawa keberadaan dua orang itu.
Namun demikian, selang beberapa detik ia melakukan itu. Tetap saja hawa keberadaan dari Li Fang dan Kakek Yo ia tak deteksi sedang berada di area Sekte ini. Dia hanya mendeteksi hawa-hawa keberadaan hewan di sekitarnya.
"Mengapa bisa Fang'er dan Penatua Yo tidak berada di sini? Ini bukan suatu yang kebetulan terjadi..."
Wu San terlihat cemas dan sekalingus bingung, dengan situasi yang terjadi ini. Maka dari itu, saat ini ia mengerutkan dahinya berfikir keras.
"Atau ini hanya kecemasanku yang berlebihan saja... Mungkin saja 'kan, Penatua Yo mengajak Fang'er berjalan-jalan, hanya sekedar memperkenalkan area tempat sekitar Sekte ini. Mungkin, itu mungkin terjadi...," ucapnya pelan sambil manggut-manggut.
Sebelumnya Wu San telah berfikir seperti itu. Untuk lebih memperkenalkan alam liar terhadap Li Fang, karena selama beberapa tahun ini tak pernah di jamah oleh mata anak itu. Maka itu pula, ia seminggu yang lalu membawanya ke hutan.
"Tidak masalah bila ia bersama, Penatua Yo. Tak lama lagi juga aku akan menyuruh Fang'er keluar dari sini untuk melakukan pengembaraannya di luar sana, maka lebih baik terlebih dahulu dia mengenal lebih dekat alam luar, agar nantinya tak kaget..."
Wu San memang berencana untuk melepaskan kepergian Li Fang. Sebab, dari awal dia hanya berniat melatihnya untuk menjadi kuat saja. Ia tak mau mengikat anak itu untuk harus terus berada di sini, karena masih banyak yang harus dirinya lakukan di luar sana.
"Kehidupannya adalah milik dirinya sendiri. Aku tak boleh mencampurinya, besok-besok diriku harus berusaha menghilangkan sedikit rasa empatiku padanya, dia telah di takdirkan di kemudian hari akan menjadi seseorang yang hebat..."
Wu San berfikir untuk kembali ke kamarnya. Ingin melanjutkan aktivitasnya yang tadi tertunda, yaitu 'tidur.'
Tapi, pada saat dirinya telah berada di ambang pintu ruang tamu Sekte. Dirinya tiba-tiba mematung, tangannya terkepal, giginya ia gemeretakkan, urat-urat muncul di kepalanya. Tanpa di ketahui sebabnya, dia saat ini terlihat sangat marah, di tunjukkan dari tembok di sampingnya sedikit retak akibat Tenaga Dalamnya yang menguar dengan kuat keluar.
"Dasar Siluman Ular busuk... Beraninya kau!" Kata Wu San dengan tekanan berat dalam ucapannya.
Wu San berkata geram demikian, karena tiba-tiba pada saat langkahnya telah sampai di ambang batas pintu. Tanpa memfokuskan konsentrasi pikirannya, Wu San merasakan hawa keberadaan yang sangat kuat.
"Jika kau melakukan hal yang tidak-tidak kepada dirinya, aku memutuskan untuk menghabisi dirimu dan semua anggotamu, bahkan itu hanya sekedar ular biasa saja!"
Setelah berkata demikian, tanpa dapat di lihat mata biasa. Dalam beberapa tarikan nafas, Wu San telah berada di depan gerbang. Lalu kemudian ia terlihat bergerak dengan sangat cepat menuju ke arah hutan berada.
**
Li Fang hanya bisa memejamkan matanya saja menunggu sesuatu akan datang. 'Sesuatu,' kata itu ia tafsirkan menjadi dua arti, yaitu baik dan buruk.
__ADS_1
Maksud dari kata buruk adalah, jelas itu di tujukan kepada Ular yang menyerangnya.
Sementara, kata baik itu ia tujukan kepada Sang Pencipta, dia meminta untuk melakukan pertolongan kepada dirinya.
Li Fang mengekspektasikan serangan dari semua Ular itu akan sampai selama 3 detik. Namun, setelah waktu itu menurutnya telah berlalu, bahkan dirinya merasa puluhan detik telah berlalu. Taring dan racun bisa ular belum ia rasakan ditubuhnya.
Lantas dirinya membuat opini kepada apa yang terjadi terhadap dirinya saat ini.
"Aku tidak menyangka permintaan pertolonganku akan di kabulkan dalam waktu secepat itu..." Li Fang berucap sambil tersenyum tipis.
Li Fang tak bisa menahan bibirnya untuk menyunggingkan senyum syukur. Dia perlahan membuka matanya dari pejaman mata yang sedari tadi ia lakukan.
Setelah kelopak matanya terbuka dengan sempurna. Dirinya tiba-tiba tersentak kaget tak percaya atas apa yang terjadi saat ini.
Li Fang mendapati dirinya menjauh dari Ular-ular yang sekarang tengah saling bertabrakan. Sekitar puluhan meter menjadi jarak banding dari tempatnya saat ini berada dengan tempat sebelumnya, saat dirinya berada di tengah-tengah kerumunan hewan berbisa itu.
"Anda terlalu ceroboh, Tuan Muda. Hampir saja nyawa anda melayang, oleh Siluman Ular licik itu."
Li Fang segera mencari sumber suara yang dengan tanpa izin masuk menginvasi gendang telinganya. Dia kemudian membalikkan badannya 90 derajat, karena sumber dari suara yang terdengar pemiliknya sudah sepuh berada tepat di belakangnya.
"Ka-Kakek Yo..., Me-mengapa Kakek ada di sini?" Li Fang melebarkan kedua matanya saat mendapati seseorang yang ia kenal ternyata yang berhasil menyelamatkan nyawanya.
Kakek Yo tak menjawab pertanyaannya. Wajahnya bertambah emosi dengan pandangan yang sama sekali tak mengarah ke Li Fang.
"Huh... dingin sekali, apa yang terjadi saat ini, Kakek Yo."
Li Fang terlihat tak kuat menahan dinginnya angin itu, dia sangat mengigil. Dan semakin-lama semakin berjalannya waktu, hembusan angin itu bertambah kencang.
Banyak pohon-pohon di sekitar mereka berdua yang tumbang. Daun-daun dari pohon yang memiliki daun lebat berterbangan tak karuan ke seluruh arah penjuru.
Kakek Yo tak membalas perkataan Li Fang. "Cepat, Tuan Muda, berlindung di belakang Kakek. Sesuatu yang berbahaya sebentar lagi akan terjadi!"
Karena ucapan Kakek Yo kali ini terdengar sangat tegas. Li Fang menurut dengan berdiri di belakangnya.
Dan setelah berselang beberapa lama setelah ucapan Kakek Yo. Semua Ular-ular bersisik hitam itu yang tadinya saling menumpuk di tempat Li Fang tadi berdiri, kini terlihat berbaris dengan rapi di belakang pepohonan besar tak berdaun yang tadi di sentuh oleh telunjuk tangan Li Fang.
Rambut panjang Kakek Yo dan Li Fang sudah berhamburan acak-acakan akibat angin yang berhembus kencang itu.
"Hahaha, aku sangat menunggu kedatangan si Tua Bangka itu, tetapi hanya bawahannya saja yang datang..."
__ADS_1
Suara itu adalah suara yang membawa Li Fang kesini. Dia tak tahu kenapa suara itu memiliki kekuatan ketertarikan yang besar, hingga mampu membuatnya kesini.
"Berlindung terus di hadapanku, Tuan Muda. Sekalipun aku akan mempertaruhkan nyawaku untuk melindungimu, karena semua anggota Sekte Kabut Bayangan telah berjanji akan melindungi Sektemu. Dan itu tak kami lakukan, maka kali ini aku akan membayarnya!"
"Aku jadi sedikit terharu mendengar ucapanmu itu..."
Sebuah Ular yang ukurannya sekitar belasan meter muncul di hadapan mereka berdua. Wujudnya sama dengan Ular-ular yang lain, tetapi ukurannya saja yang jauh lebih besar.
Angin yang berhembus kencang itu seketika berhenti.
Kakek Yo membawa Li Fang melompat mundur ke salah satu dahan pohon yang tinggi.
"Jangan kalian berfikir untuk pergi dari sini. Tak akan ku biarkan kalian berdua pergi, sebelum Si Tua Bangka itu sendiri yang datang kesini untuk menyelamatkan kalian berdua..."
Li Fang tak habis pikir bahwa ular juga bisa menggunakan bahasa layaknya manusia. "Lebih baik kita pergi saja dari sini, Kek."
"Tak bisa, Tuan Muda, kita tidak memiliki peluang untuk sekedar keluar dari area hutan ini! Dia tak akan membiarkan kita berdua pergi."
Tidak mendengarkan perkataan, Kakek Yo. Li Fang langsung melompat dari satu pohon ke pohon lain untuk pergi dari sini sambil menarik paksa Kakek Yo.
"Kekuatan fisik anak ini besar sekali...," gumam pelan Kakek Yo, di kejutkan karena ia tak bisa melawan saat tangannya di tarik paksa.
Ular berukuran raksasa itu terlihat geram melihat mereka berdua. "Dasar anak muda bodoh."
Ular itu mengangkat ekornya, lalu mengibaskannya ke tubuh Li Fang dan Kakek Yo.
Mereka berdua terhempas kencang, hingga saat tubuh mereka menabrak pohon, barulah di situ tubuh Li Fang dan Kakek Yo tak lagi terhempas di udara.
Efek dari serangan ekor ular itu sama sekali terlihat tak mengefek ke tubuh Li Fang. Sementara Kakek Yo mengalami luka yang parah, dia memuntahkan darah yang banyak. Dia terlihat saat ini telah kehilangan kesadaran.
"Sudah ku katakan kepadamu, anak muda. Namun, tetap saja kau lakukan..."
Dari wujud seorang Ular raksasa, pelan-pelan tubuh dari ular itu terlihat menyusut.
Hingga tak lama kemudian memunculkan seorang lelaki tua berpakaian warna serba hitam, dengan sedikit di lehernya terdapat sisik hitam.
Tepat di belakang lelaki tua yang sedang tersenyum sambil memejamkan mata itu, sekitar ratusan orang hampir menyerupai pakaian yang sama dengannya, tetapi dengan wajah berbeda, saat ini berbaris rapi.
**
__ADS_1
Maaf jika ada kesalahan, semacam Typo.
Mohon menjadi penyemangat saya untun. Meng- Like, Vote, dan komen ceritaku ini.