
Tidur di hutan yang hanya beralaskan tanah membuat pakaian mereka bertiga kotor. Dan hampir seharian penuh berjalan dengan keringat membasahi tubuh, akan semakin meyakinkan seseorang menganggap mereka bertiga sebagai orang miskin atau pengemis.
Beberapa saat mereka berjalan turun mengikuti jalur jalanan itu. Suara tempaan besi yang terdengar seperti saling sambut menyambut. Di dengar oleh telinga ketiganya.
"Mengapa suara tempaan besi banyak sekali terdengar dari arah Desa itu. Atau mungkin...," ucap Jia Song dengan wajah skeptis tak percaya.
"Mungkin apa, Kakak Song."
Sambil berjalan turun, Jia Song menjelaskan kepada Li Fang tentang suara tempaan itu. Dari yang ia ketahui, dan sudah di ketahui oleh seluruh Pendekar. Dia mengatakan hanya ada satu Desa yang seluruh penduduknya mempunyai keahlian menempa besi. Semua Pendekar yang menggunakan pedang sebagai senjata, datang jauh-jauh ke sini hanya untuk sekedar membeli pedang saja.
"Letaknya rahasia, namun namanya sudah terkenal di seantero Kekaisaran Zhou. Dan kemungkinan Desa inilah yang kumaksud."
Li Fang dan Jia Bingbu sambil berjalan mereka juga mendengarkan dengan serius.
"Jika begitu, apalagi yang kita tunggu, Kak. Ayo kita berjalan cepat kesana. Aku ingin mengganti Pedangku yang sudah terlihat tak layak di pakai ini!"
"Bu'er, memang kau punya uang?" tanya Jia Song dengan wajah malas.
Jia Bingbu tersenyum canggung menggaruk lehernya. Setelah merogoh saku jubahnya, di dalamnya hanya terdapat tiga koin perunggu, sedangkan menurut Jia Song harga paling dari pedang yang di jual oleh penempa di desa itu adalah 5 koin emas.
"Nanti aku belikan satu untukmu, Saudara Bu."
"Benarkah! Kau memang baik sekali, Saudara Fang."
Jia Bingbu memeluk erat dirinya. Membuat Li Fang menjadi tidak nyaman.
"Entah mengapa, aku menjadi sedikit iri kepadanya, Adik Fang." Jia Song berkata sambil memperlihatkan wajah ketidaksukaannya, hampir sama seperti wanita jika suasana hatinya tak baik.
"Tenang saja, aku juga akan membelikan, Kakak."
Langkah Li Fang berhenti. Lebih tepatnya ia tidak bisa berjalan, karena Kakak beradik ini memeluknya dari dua arah yang berbeda. Mereka berdua terlihat seperti seorang anak yang meminta uang jajan kepada Ayahnya.
Lima keping koin emas sangat sedikit jika di bandingkan dengan jumlah keping emas yang di berikan Wu San kepadanya. Dia juga merasa harus membalas kebaikan keduanya karena telah membantunya menyukseskan rencananya.
__ADS_1
Beberapa saat berjalan, mereka bertiga telah berada di depan gerbang Desa. Li Fang kaget saat melihat keramaian Desa ini. Meskipun sebentar lagi matahari akan terbenam, tetapi tetap saja masih ada orang melakukan transaksi jual beli.
Suara tempaan nyaring yang memekikan telinga sedikit mengganggu dirinya. Sedangkan Jia Song dan Jia Bingbu kebalikannya, mata mereka berdua berbinar memandang pedang-pedang yang di pajang di depan lapak yang terletak di depan rumah masing-masing penempa.
Namun, keduanya tidak langsung memutuskan untuk membeli pedang. Melihat dari atas, mereka tahu bahwa Desa ini sangat luas. Karenanya, Kakak beradik itu lebih memilih untuk masuk jauh kedalam dulu melihat-lihat mencari pedang yang murah, tetapi punya kualitas yang cukup baik.
Li Fang mengikuti mereka berdua dari belakang. Dia sama sekali terlihat tidak tertarik dengan pedang-pedang para penempa ini. Meskipun belum pernah ia gunakan untuk bertarung langsung, tetapi menurutnya kualitas Pedang Surgawi jauh lebih di atas dari buatan tangan para penempa.
Namun, ia menggunakan kesempatan ini untuk menambah wawasan tentang kualitas-kualitas pedang. Jika, ia bertarung menghadapi seorang pengguna pedang, pemahaman ini akan sedikit mempermudahnya.
"Aku merasa bosan mengikuti kalian. Ambil saja keping emas ini...," ucap Li Fang seraya memberi mereka masing-masing 10 keping koin emas, "nanti kita bertemu lagi di gerbang Desa ini."
Setelah berkata demikian, Li Fang kembali menyusuri jalan Desa hingga masuk lebih ke dalam. Dia sekali-kali singgah di lapak para penempa, tetapi tak membeli. Ia hanya sekedar bertanya-tanya saja.
Bahkan salah seorang penempa yang ia kunjungi lapaknya mengusir dirinya. Karena terlalu banyak bertanya namun ia tak membeli.
"Orang miskin sepertimu tak perlu banyak bertanya!"
Li Fang menjadi pusat perhatian para warga dan beberapa pembeli. Namun, ia hanya menghiraukan tatapan tajam mereka semua, yang menganggapnya sebagai orang rendahan.
Li Fang kembali menyusuri jalan Desa ini. Hingga tak di sengaja ia berhenti di sebuah lapak penempa, ia tak bisa menahan diri untuk tidak kagum.
Di hadapannya sekarang terdapat sebuah lapak yang berbeda dari semua lapak yang ia temui sebelumnya. Lapak ini bertingkat dua, dengan semua pedang berkualitas tinggi berjejer dan tergantung di dalamnya. Rumah yang berfungsi untuk menempa pun tak kalah besarnya.
"Oi, anak miskin!
Li Fang mengalihkan perhatiannya ke seorang pemuda seumurannya. Pemuda itu memakai pakaian mahal seperti apa yang sering di pakai seorang bangsawan, sang pemuda berjalan menghampirinya.
"Jangan sekali-kali kau lewat di sini lagi! Aku takut Ayahku akan memarahiku kalau salah satu pedangnya hilang!" Pemuda itu memandang rendah Li Fang.
"Baik," ucap Li Fang sambil mengangguk mengiyakan.
"Bagus! Sekarang pergilah, lebih baik kau masuk ke gubuk tua itu. Sana...
__ADS_1
Di dalam hatinya, Li Fang berusaha menahan amarahnya yang mulai naik. Dia tidak mau membuat Desa ini gaduh atas ulahnya. Apalagi, ia melihat pemuda di hadapannya ini, kemungkinan berasal dari keluarga terpandang di Desa ini.
"Aku berikan keringanan kali ini. Jika, kau bersikap seperti itu lagi kepadaku akan ku buat kau menderita seumur hidup."
Li Fang berkata dalam hati, sebelum kemudian pandangannya berlabuh ke sebuah gubuk kayu kecil tepat berada di samping lapak tingkat ini. Semenjak ia masuk ke Desa ini, satu- satunya yang tak mempunyai lapak, mungkin tempat itulah.
Namun demikian, entah mengapa Li Fang merasa tertarik untuk pergi kesana. Dia kemudian berjalan masuk ke halaman gubuk sederhana itu.
Mungkin perasaannya saja, tetapi ia merasa banyak orang yang memperhatikannya.
"Kau mau bertaruh? Aku yakin pemuda itu akan terlempar keluar dari dalam gubuk."
"Aku juga sama, semua pendekar yang masuk di dalam sana pasti mengalami itu."
"Entah mengapa, aku merasa yakin bahwa pemuda itu tak akan di lakukan seperti itu."
Semua pemilik lapak yang juga berada di sekitar itu terlihat sedang berbicara satu sama lain, saat melihat Li Fang melangkahkan kakinya untuk ke gubuk itu. Mereka bahkan sampai bertaruh.
"Ok. 2 koin emas jika siapa yang tebakannya benar."
Semua orang yang bertaruh itu memasang wajah tegang sambil memandang setiap langkah perjalanan Li Fang membuat mereka tak berkedip memandangnya.
"Mungkin bau keringatku, sangat menarik mereka semua," Ia tertawa kecil sambil berjalan.
Beberapa langkah berjalan, Li Fang kini telah berada di depan pintu gubuk. Dari dalam dia mendengar suara penempaan besi.
"Boleh saya bertemu dengan pemilik gubuk ini?" Li Fang mengetuk pintu gubuk itu.
Li Fang terdiam berfikir, "jelas gubuk ini ada pemiliknya. Mungkin, dia tidak mendengarku karena sedang menempa besi."
Li Fang kemudian melangkahkan kakinya masuk kedalam gubuk itu. Wajah dari orang-orang yang bertaruh itu semakin menegang dengan menelan ludah melihat Li Fang melangkah masuk.
Setelah masuk, Li Fang mendapati seorang Kakek sepuh dengan rambut, kumis, dan janggut yang sudah putih sedang menempa besi. Namun, badan dari Kakek itu terlihat berotot.
__ADS_1
Yang di dapat Li Fang adalah pandangan sorot mata tajam dan dingin, di berikan oleh Kakek itu kepadanya. Sebuah interaksi yang tak bersahabat sebelum melakukan transaksi jual beli.