
Bersamaan dengan pertarungan itu, Li Fang dan Ye Biu mengamati dari sudut tempat yang bisa menjangkau dan melihat itu semua dari sini. Sekilas Li Fang melihat ekspresi wajah dari kakek itu berbeda. Namun, hanya bertahan selama satu detik saja ekspresi itu telah berganti kembali.
Pertarungan antara pemuda itu beserta pengawalnya dan anggota Taring Serigala yang di pimpin Bae Len telah berlangsung setengah jam lebih. Ritme dari pertarungan mulai melambat, tidak ada luka di tubuh pemuda itu. Hanya saja terlihat dia sudah kelelahan. Lebih parahnya, belasan pengawalnya telah mundur akibat menerima luka yang cukup parah dari anggota Taring Serigala.
Pemuda itu tak bisa lagi bertahan lama berduel satu lawan satu dengan Bae Len. Apalagi sekarang ia sedang di keroyok, oleh sebagian anggota Taring Serigala. Melihat hal itu, Kakek di samping Li Fang terlihat dari garis wajahnya menunjukkan kecemasan.
"Dia adalah cucuku, karena itulah aku cemas..."
"Siapa yang bertanya dia cucumu," desis Li Fang dalam hati.
Nama pemuda itu Ye Fai cucu dari Ye Biu. Dialah pemuda yang menghadang Li Fang saat sedang melihat-melihat pedang di depan lapaknya.
Dari yang Li Fang sedikit tahu dari Kakek itu. Persamaannya dengan cucunya terletak pada dingin dan sombongnya. Li Fang mengambil persamaan itu saat pertama kali bertemu sama Ye Biu di dalam gubuknya.
"Bantu aku membereskan semua nyamuk pengganggu itu! Setelah ini akan ku berikan kau sesuatu."
Li Fang memandang bingung Kakek itu, sebelum kemudian berkata dalam intonasi bertanya. "Sesuatu itu seperti hadiah?"
"Hmph." Ye Biu mengangguk pelan.
"Tapi, aku berfikir kita berdua muncul di saat-saat dramatis. Sekali-kali berlagak seperti pahlawan, bisa 'kan?"
Ye Biu tidak menjawab ia hanya terdiam memandang cucunya yang semakin lama terdesak. Li Fang menganggap itu sebagai persetujuan setuju.
"Baiklah, sebentar lagi kita akan beraksi di sana!" Li Fang berkata sambil tersenyum tipis.
**
Prakk!
Ye Fai terus bergerak menghindari sabetan-sabetan pedang yang datang dari segala arah. Lapak yang berada di sekitatnya ia jadikan tempat perlindungan sambil sesekali mengambil pedang yang banyak berserakan di bawah, karena pedang yang awalnya ia pakai telah menunjukkan kerusakan.
Akibatnya, beberapa lapak hancur lebur menjadi serpihan kayu, parahnya para pendekar di sekitar itu mengambil keuntungan dengan memungut pedang yang berserakan. Penempa yang melihat itu memandang tajam pendekar-pendekar itu.
__ADS_1
Tangan dari pemuda yang bernama Ye Fai itu terlihat sudah bergetar mati rasa tak sanggup lagi melakukan perlawanan menggunakan senjata pedang.
"Sudah ku katakan kau tidak akan bisa mengalahkanku, bocah sombong! Ini akibatnya bila kau ikut campur!"
Bae Len menyerang secara beringas, ia tidak lagi memerhatikan pertahanannya. Kuda-kuda pertahanannya terlalu lebar kalau ada orang yang menyerangnya mungkin itu akan bersarang dengan sempurna di tubuhnya, karena tak sanggup bergerak menghindar dengan cepat.
Meski demikian, ia merasa saat ini tak perlu memerhatikan pertahanannya, yang ada hanya full serangan saja. Kalau dia masih memerhatikan pertahanannya ia tidak akan bisa mengeluarkan serangan penuhnya.
Ye Fai memanfaatkan itu dengan baik. Kali ini ia lebih memilih mengincar bagian bawah musuh dengan menendang tubuh bawahnya.
"Kau!" Bae Len menggemeretakkan giginya. "Kalian serang dia cepat, tetapi jangan biarkan mati. Aku mau mengambil nyawanya menggunakan tanganku sendiri."
"Kau merasa bisa menangkapku?! Sedari tadi saja pedangmu tak bisa menyentuhku." Ye Fai mencoba memprovokasi.
Satu hal kelemahan pendekar aliran hitam yang semua orang telah tahu. Memiliki sifat yang gampang marah, sehingga dapat melemahkan diri mereka sendiri. Karenanya, Ye Fai mencoba melakukan itu untuk keuntungannya sendiri. Karena ketika seorang pendekar tengah berada tingkat emosinya yang naik, serangan pertahanan akan semakin berantakan di sebabkan oleh nafsu membunuhnya.
Strategi itu terbukti berhasil, dalam satu tarikan nafas Ye Fai berhasil membuat beberapa tendangannya mendarat tepat ke tubuh lawan. Bae Len semakin menyerang beringas. Anggotanya berhenti menyerang. Pandangan mereka semua jatuh ke Penatuanya.
Bulu-bulu berwarna hitam seketika tumbuh di sekujur badannya, tetapi hanya tumbuh sampai leher saja. Namun, yang paling mengejutkan semua orang yang melihatnya adalah aura berwarna hitam pekat menyelimuti kedua tangannya. Giginya membentuk dua taring tajam yang memanjang ke bawah.
"Auuu." Bae Len tiba-tiba melolong.
"Grrhhh!"
Bae Len menggeram ke samping. Tempat semua anggotanya memandang tertegun dirinya.
Tak lama kemudian setelah itu, dia langsung menyerang Ye Fai. Yang juga sedang memandangnya dengan penuh kebingungan. Sebuah cakaran mengincar bahu pemuda itu, tetapi kali ini ia dapat menghindar. Namun demikian, di detik berikutnya dan sampai berlalunya waktu serangan cakar dari Bae Len semakin cepat dan bertenaga.
Hingga membuat tubuh dari Ye Fai di penuhi cakaran, darah membasahi pakaiannya. Serangan cakar yang di arahkan ke segala sisi tubuhnya semakin cepat sampai tak berselang lama cakaran itu tak bisa di lihat oleh matanya, sekilas ia hanya dapat melihat angin hitam.
"Arghhh!"
Ye Fai terkena cakaran itu dengan dalam. Bajunya sudah sobek-sobek tak karuan, tak bisa di katakan lagi sebagai pakaian. Karena modelnya sudah tidak jelas. Dia langsung melompat mundur jauh, jeda itu ia gunakan untuk menarik nafas.
__ADS_1
Tapi, belum lama ia bernafas. Sekitar baru 3 tarikan nafas ia lakukan. Berbagai pedang dari semua sisi sedang mengarah ke arahnya. Dia sangat mengagumi kecepatan refleksnya, tetapi saat ini tenaga dalamnya sudah terkuras banyak hingga membuatnya merasa lemas.
Anggota Taring Serigala yang lain dengan senyuman licik memberikan serangannya itu untuk Ye Fai. Pemuda berbadan sedikit kurus itu terlihat pasrah memandang pedang itu yang datang dari segala sisi, tetapi mempunyai objek yang sama yaitu lehernya.
Dengan sedikit tenaga dalam yang tersisa, ia menggunakan itu untuk menunduk. Pedang-pedang itu saling berbenturan.
-Trang-Trang-Trang-
Lalu selanjutnya ia mencoba memberikan satu serangan ke salah satu anggota Taring Serigala yang masih tak percaya ia dapat menghindar. Serangan tinjuan yang ia ingin lontarkan terasa sangat begitu sakit.
"Ah." Ye Fai memaksa tangannya yang sudah mati rasa untuk meninju.
Namun, belum sampai tinjuannya mengenai wajah lawan. Dia sudah terhempas jauh dan berhenti saat tubuhnya menghantam lapak penempa.
Bae Len yang sudah berubah menjadi setengah serigala adalah pelakunya. Ia menendang ulu hati Ye Fai keras. Darah segar keluar dari mulutnya.
"Auuuuu!" Bae Len melolong panjang. Sebelum kemudian berjalan pelan menghampiri Ye Fai yang sudah tak bisa menggerakkan badannya.
Sementara di sisi lain, dua lelaki berbeda jauh usia itu terlihat telah bersiap untuk bergerak.
Bar Len meluruskan kuku-kukunya yang panjang.
"Grrhh." Dia saat ini telah berjongkok di depan Ye Fai yang bersandar lemas di kayu depan lapak. Kuku-kuku panjangnya itu ia arahkan ke tengah leher pemuda itu.
Hanya beberapa centi yang memisahkan jarak ujung cakar kuku itu dengan kulit lehernya. Kematian seolah-olah sebentar lagi akan merengkapnya. Dia hanya bisa berpasrah.
Bae Len dengan gigi taringnya terlihat tersenyum licik, tetapi hanya bertahan selama beberapa detik saja senyum licik itu sepenuhnya hilang.
"Grhhh!!!"
Tiba-tiba Bae Len mengiris kesakitan dengan mengaumkan geraman serigalanya sambil memegang bahu kanan berbulunya yang sudah buntung. Lengannya jatuh ke tanah dengan darah yang mengalir deras keluar.
Setelah itu, debuman keras terjadi. Bae Len terpental kuat menabrak lapak penempa hingga hancur. Tubuhnya baru berhenti setelah menghancurkan tiga lapak. Sebuah tendangan telak mengehempaskan tubuhnya.
__ADS_1
**
Kalian tahu 'kan tendangan itu milik siapa?