Legenda Pedang Surgawi

Legenda Pedang Surgawi
Merealisasikan Rencananya


__ADS_3

Li Fang memberitahu rencana barunya, ketika Pendekar Aliran Hitam itu masuk. Ia menjelaskan secara ringkas, tetapi langsung ke intinya.


Malam semakin larut. Berjam-jam sudah, Jia Song dan Jia Bingbu menunggu tanda-tanda dari Li Fang untuk memulai rencananya. Tangan Jia Song sudah berada di lonceng yang berfungsi sebagai penanda jika ada yang menyerang. Sementara, pandangan Jia Bingbu tak pernah beralih dari tempat kandang kuda berada.


Beberapa saat kemudian, Li Fang dengan tudung jubah yang menutupi kepalanya, keluar dari area belakang tempat kandang kuda berada, lalu kembali menghilang lagi.


Jia Bingbu yang melihat Li Fang sudah memberikan tanda yang telah di sepakati sebelumnya sebagai dimulainya rencana ini, langsung memberitahu Jia Song.


"Kak! Kak! Saudara Fang sudah memberikan tanda!"


Tidak menunggu lama, Jia Song langsung memukul lonceng itu berulang kali. Memancing semua orang yang berada di dalam untuk keluar.


Ting...


Ting...


Ting...


"Cepat panggil Penatuamu!"


Suara lonceng itu tak pernah berhenti. anggota Kelompok Taring Serigala yang sedang bersenang-senang sambil meminum arak segera berdiri dari duduknya dan berlari keluar. Dan kemudian di susul oleh semua anggota cabang markas Aliansi Aliran Hitam.


**


Di sisi lain, kandang kuda saat ini. Telah di lahap oleh si jago merah. Li Fang sudah menyiram minyak ke seluruh benda-benda yang bisa di bakar, lalu kemudian membakarnya.


Li Fang segera berlari cepat lewat pintu belakang ke ruangan tempat kedua Penatua itu, yang ia yakini jam segini sedang tertidur pulas. Namun, sebelum ia membuka pintu ruangan itu, seorang anggota cabang markas ini tak sengaja melihatnya.


"Si-siapa kau!" Berkata anggota itu sambil menggerakkan tangannya ingin menarik pedang.


Namun, sebelum orang itu berhasil menarik pedang dari pinggangnya.


Bukkk..


Li Fang sudah mendaratkan tinjuan ke perutnya. Hingga membuat orang itu menghancurkan meja kayu di belakangnya akibat di hantam oleh tubuhnya.


Merasa orang itu telah tewas, ia kemudian melangkah masuk keruangan kedua Penatua itu.


Li Fang mendapati kedua Penatua itu sedang tertidur di atas kursi. Keduanya menyandarkan kepala ke punggung kursi.


Dengan pelan, Li Fang melangkah tanpa menimbulkan suara. Dia berhenti tepat di belakang salah satunya. Selama seminggu ini, ia mengetahui bahwa Penatua di depannya ini bernama Lin Lang, sedangkan yang satunya mempunyai nama Ba Yun.


"Karena selama seminggu ini, kau sama sekali tidak pernah menyakitiku, mau itu secara fisik dan hati. Maka, diriku akan memberimu kematian yang cepat," gumamnya pelan, tangan kirinya telah bersiap untuk membekap mulutnya.

__ADS_1


Pelan-pelan Li Fang mengarahkan tangan kirinya kedepan mulutnya. Satu detik, dua, tiga! Li Fang menggunakan tangan kirinya langsung membekap mulutnya.


"Umm! Umm!"


Tak mau melihatnya meronta lebih parah, Li Fang mengangkat tangan kanannya yang terkepal, meninju dengan keras dan tepat ke saraf lehernya berada.


Li Fang kembali membaringkan tubuh yang sudah tak bernyawa, Penatua itu kembali ke posisinya sewaktu tidur.


"Ku kira kau bisa bertahan dalam beberapa kali pukulan..."


Setelah itu Li Fang kembali menjatuhkan pandangannya ke Penatua yang satunya. Penatua yang selama seminggu ini selalu memperlakukannya layaknya seorang budak rendahan.


Namun, ia berniat tak akan memberikan kematian yang cepat kepadanya seperti apa yang di lakukannya terhadap Penatua sebelumnya. Dia ingin membuat Penatua ini merasakan ketakutan yang luar biasa dan memberikannya rasa sakit yang belum pernah di rasakan seumur hidupnya, sebelum ia mengirimnya ke alam baka.


Li Fang menggoyang-goyangkan jari-jemari tangannya ke arah ke leher Penatua yang bernama Ba Yun itu. Berselang beberapa detik, ia langsung mencengkram lehernya, dan mengangkat tubuhnya ke atas.


"Ah!"


Ba Yun tak bisa berkata-kata, karena lehernya sekarang di cekik. Ia sedang berada sedikit lebih tinggi dari lantai tempat kakinya berpijak. Memutar matanya sedikit kebawah, dia mendapati seorang pemuda yang selama seminggu ini ia jadikan budak.


Li Fang membalas reaksi ketakutan wajahnya dengan sebuah senyum menakutkan.


"Penyusup ! Penyusup !" teriaknya, tetapi menggunakan suara hati. Dan tak akan di dengar oleh siapapun.


"Aku baru tahu, seseorang yang menekankan dirinya sebagai Penatua, ternyata bisa melakukan hal seperti ini saat sedang ketakukan, ya?"


Karena salah satu, apa yang ia mau telah tercapai, dengan membuat Penatua ini merasa ketakutan. Dia segera melemparnya ke bawah.


"Kau sebenarnya siapa! Aku tak akan membiarkanmu keluar hidup-hidup dari sini!" Ba Yun berteriak marah setelah lehernya bebas dari cekikan itu.


Dengan wajah datar dan sorot mata tajam. Li Fang menghampirinya, lalu menginjak jari jemarinya.


Terdengar suara tulang retak setelah telapak kakinya menginjak jari-jemari tangan Ba Yun.


"Arghhh!"


"Ini yang sebelumnya kau lakukan terhadapku, 'kan. Aku tidak akan melakukannya jika dirimu tak berbuat seperti ini juga kepadaku!" teriak Li Fang seraya meninju perut Penatua itu.


"Uhuk-uhuk..." Ba Yun seketika muntah darah.


"Kau bisa membandingkan tinjuanku dengan tinjuanmu sewaktu menghantam perutku."


Tidak berhenti sampai di situ. Li Fang kembali melakukan hal menyakitkan, yang ia yakin belum pernah di rasakan lelaki itu.

__ADS_1


Li Fang menarik kedua kakinya. "Aku juga tak akan lupa, saat dirimu meminta untuk di pijat. Dan diriku masih ingat bagian tubuh manamu yang ku pijat pada saat itu!"


Ba Yun seketika berteriak keras, akibat rasa sakit yang ia terima terlalu menyakitkan untuknya.


"Arghh! Arghhh!"


Tanpa sedikit pun terlihat merasa bersalah di wajahnya. Li Fang mematahkan kedua kakinya.


Merasa ada yang sedang kemari.


Mencabut semua giginya, mematahkan kedua tangannya. Dia melakukan itu dengan begitu cepat kepada tubuh sang Penatua.


Li Fang kemudian melangkah cepat keluar, meninggalkan Ba Yun sendiri di ruangan ini yang sedang menangis tanpa suara.


**


Jia Song menjelaskan ke anggota Taring Serigala bahwa ada beberapa orang penyusup masuk kesini. Dan dengan cepat berlari ke arah kandang kuda, yang kemungkinan masuk melalui pintu belakang.


"Biarkan aku, dan semua anggotaku saja yang menangkap Penyusup itu. Akan ku cincang-cincang mereka lalu kubakar dagingnya menjadi makanan..."


Salah satu dari anggota Kelompok Taring Serigala yang terlihat memimpin. Memerintahkan semua anggota cabang markas ini untuk tetap waspada dengan berjaga-jaga di depan gerbang.


Sementara, belasan anggota Kelompok Taring Serigala yang tadi sore datang itu. Segera pergi ke area belakang.


Setelah mereka semua berjalan agak jauh, Jia Song dan Jia Bingbu menyelinap lalu mengikuti mereka semua dari belakang sambil tetap menjaga jarak.


"Kita terlambat! Penyusup itu pasti telah melancarkan serangannya!"


Mereka semua segera berlari ke dalam, saat melihat api yang telah berkobar di kandang kuda. Bahkan, telah menyebar ke tembok-tembok sekitar.


Tak lama, mereka sekarang telah berada di dalam sebuah ruangan, dan tubuh mereka semua seketika bergidik.


"Apa yang terjadi? Mengapa dirimu menjadi seperti ini?!"


Ba Yun yang tak bisa berbicara, hanya bisa menunjuk-nunjuk ke arah luar pintu.


Pemimpin dari anggota Taring Serigala langsung mengerti. "Cepat kalian periksa seluruh area bangunan ini! Jangan biarkan penyusup itu keluar dengan selamat!"


Semua anggota Taring Serigala mengangguk.


"Tak perlu bersusah payah mengeluarkan tenaga kalian untuk mencari penyusup itu..."


Suara yang muncul tiba-tiba itu, memberhentikan niat semua anggota Taring Serigala. Mereka semua mengerinyitkan kening.

__ADS_1


"Karena kamilah penyusup itu!" Li Fang, Jia Song, dan Jia Bingbu, berkata serempak bersamaan.


__ADS_2