
Menunjukkan bahwa mereka berdua kuat, bukan sebuah jaminan mereka bisa mengalahkahkan anggota Taring Serigala. Itulah yang membuat Li Fang turun tangan membantu keduanya, ia sengaja menarik pemimpin dari anggota Taring Serigala itu untuk bertarung dengannya. Supaya Jia Song dan Jia Bingbu dapat mengeluarkan kemampuan penuh tanpa mengalami luka berat.
Perihal tempat bertarung mereka saat ini, sebenarnya sangat tak cocok bagi Kakak beradik itu. Sebab, Li Fang perhatikan mereka berdua lebih mengandalkan kecepatan, sedangkan anggota Kelompok Taring Serigala terlihat memiliki kekuatan fisik sebagai senjata utama bertarung.
Li Fang merasa sangat berperan penting di sini. Pasalnya, jika ia tak menarik pemimpin lawan yang mempunyai kekuatan fisik lebih kuat dari semuanya, situasi akan berdampak buruk di derita kedua temannya itu.
Li Fang sama sekali tak kesulitan bertarung di tempat yang sedikit sempit. Karena ia lebih menggunakan fisik. Kursi, meja, dan benda-benda yang lain akan ia pergunakan sebagai senjata.
Li Fang tiba-tiba menaikkan alisnya. Pria yang sedari tadi menemaninya bertarung tangan kosong. Kali ini sedikit demi sedikit berubah wujud. Bulu-bulu berwarna hitam tumbuh di leher dan lengannya. Kepalan tangannya di selimuti aura, yang warnanya selaras dengan warna bulunya juga. Dia tidak tahu mengapa musuhnya menjadi begitu, tetapi yang pasti itu bukan sesuatu yang baik.
"Apa yang terjadi dengannya?" Berkata Li Fang dengan wajah kebingungan. Namun, setelah itu ia menarik senyum, "jangan bilang kau mau berubah menjadi monster. Tapi, sepertinya cukup menarik juga kalau melawanmu dalam wujud seper--"
Li Fang terpaksa mengehentikan ucapannya. Secara refleks ia menghindari serangan yang berupa tinjuan mengarah ke wajahnya. Tidak berhenti di situ, Pria itu menyerang kembali. Namun, serangannya lebih brutal dari sebelumnya.
Akan tetapi, Li Fang masih bisa menghindarinya dengan mudah. Sekali-kali juga, ia mengambil kursi kayu yang berada dekat dengannya sebagai tameng. Pertarungan tangan kosong antara mereka berdua kurang lebih sudah berjalan belasan menit, tetapi masih belum menunjukkan siapa yang akan kalah.
Jiwa kekanak-kanakan Li Fang jelas masih belum hilang. Dia memanfaatkan pertarungannya untuk kesenangannya sendiri, karena itu pula, pertarungan ini berjalan cukup alot. Pasalnya, ia hanya menghindar saja.
"Ku akui, kecepatanmu berada sedikit di atasku," ucapnya sembari melompat ke atas meja.
Apa yang di katakannya benar, dan ia mengakui itu. Beberapa kali, Li Fang harus menggunakan kedua tangannya untuk menangkis pukulan dan tendangan Pria tersebut karena sedikit terlambatnya refleks pergerakan yang ia lakukan dalam menghindar.
"Tapi...," lanjut Li Fang sambil menghindari serangan Pria itu yang terasa sudah sedikit melambat, "kekuatan fisikmu masih jauh di bawahku. Jika ku ajak dirimu bertarung selama 3 hari penuh. Aku yakin kau tak akan sanggup."
Prakk...
Pria itu menghancurkan meja yang di atasnya berada Li Fang. Dia lantas melompat agak jauh dari Pria yang terlihat lebih bisa di katakan saat ini telah kesurupan.
Li Fang memasang kuda-kudanya. "Sudahlah, kita akhiri saja pertarungan ini. Larutnya malam, membuatku sedikit mengantuk."
Pria itu kemudian berlari ke arahnya dengan sebuah tinjuan yang mengacung ke depan.
Li Fang tak menyambut serangan itu dengan berdiam diri di tempat. Dia juga lantas ikut berlari menghampirinya dengan kepalan tangan yang mengacung kedepan.
__ADS_1
Semeter lagi jarak yang memisahkan mereka berdua. Pria itu dengan tinju berselimutkan aura hitam telah bersiap-siap mendaratkan serangannya.
Satu detik berselang terlihat tinjuan dari Pria itu akan mendarat ke tubuhnya dengan telak. Kecepatan tinjuan Li Fang masih kalah cepat dengan lawannya.
Sehingga terlihat mata dengan jelas tinjuan itu akan mengenainya dengan telak.
Mengetahui itu, Li Fang dengan cepat segera menarik tangannya. Ia kemudian menunduk jongkok ke bawah, lalu menyerang dari bawah ia meninju rahangnya. Membuat Pria itu terlempar kuat ke atas hingga menembus balkon atap.
Li Fang yang sedari tadi berusaha meredam suara kegaduhan yang akan memancing anggota cabang markas di gerbang datang kemari. Kini, suara keributan itu tak bisa di sembunyikan dari mereka.
Suara tapak kaki banyak terdengar dari arah luar. Dan, Li Fang mendengar itu sangat jelas.
"Kakak Song! Saudara Bu! Ayo cepat pergi!"
Sementara itu, di area pertarungan Jia Song dan Jia Bingbu, di dalam ruangan ini sekarang di banjiri oleh becekan darah.
"Mati kau!" Seru Jia Song melayangkan pedangnya sebagai serangan terakhirnya.
Srasshhh...
Mendengar panggilan itu, mereka berdua lantas menghampiri Li Fang yang menunggunya.
"Ada apa, Saudara Fang?"
"Seluruh anggota cabang markas yang kita arahkan ke gerbang. Telah beranjak kemari, karena akibat keributan yang kita timbulkan!"
"Kita lawan saja mereka, Adik Fang." Berkata Jia Song.
"Tidak perlu, hanya membuang tenaga saja. Sekalian juga agar mereka semua melaporkan kabar ini ke Ketuanya."
"Lalu, bagaimana kita akan keluar dari sini bila mereka menghadang kita."
Li Fang sudah tahu, meskipun berhasil, tetapi rencananya ini pasti di sebagian sisi akan gagal. Terbukti ia melakukan hal sia-sia dengan membakar kandang kuda.
__ADS_1
Jia Song dan Jia Bingbu sudah bersiap-siap dengan pedangnya kalau musuh akan telah tiba di hadapannya sambil mereka berdua masih menunggu solusi dari Li Fang.
Di dalam waktu yang sedikit itu, Li Fang kembali mengingat saat ia melarikan diri lewat ruangan bawah tanah itu.
"Cepat, ikuti aku!"
Li Fang berlari kecil di sertai Jia Song dan Jia Bingbu yang juga sambil berlari, tetapi dengan raut wajah yang terlihat bingung.
Menyusuri lorong kecil, yang mempunyai sedikit penerangan berhasil mengantarkan Li Fang ke tempat itu lagi.
"Kalian berdua, turunlah terlebih dahulu..."
Jia Song masih tak beranjak, ia menatap ragu Li Fang.
"Tidak apa-apa, Kakak," ucap Li Fang pelan meyakinkannya.
Baru sekitar 19 detik kemudian, Jia Song melangkah turun ke bawah melewati lubang kecil itu. Setelahnya, Jia Bingbu ikut turun, lalu kemudian barulah Li Fang.
Namun demikian, Jia Song masih bingung dengan apa yang akan di lakukan oleh Li Fang.
"Ini tempat apa, Adik Fang. Mengapa kamu membawa kami ke sini?"
Li Fang tak merespons, ia hanya berjalan pelan ke sebuah sudut tembok tempat beradanya pintu tersebut.
Jia Song dan Jia Bingbu tertegun, mulutnya membuka tutup.
"Cepat, keluarlah...," ujar Li Fang dengan senyuman tipis.
Mereka berdua tak menyadari bahwa di ruangan ini ada sebuah pintu rahasia. Dan jika melangkah keluar akan langsung mengantarkannya ke tengah-tengah hutan. Ia dapat melihat dari sini di luar pintu itu pohon-pohon banyak tumbuh. Namun, di dalam pikiran Jia Song sekarang ia tengah mempertanyakan diri Li Fang yang tahu tempat ini.
Mereka berdua kemudian berjalan keluar, tetapi Jia Song tiba-tiba berhenti di hadapan Li Fang.
"aku sangat ingin tahu siapa dirimu sebenarnya," katanya pelan.
__ADS_1
Li Fang membalas dengan senyuman tipis, sebelum kemudian ia juga ikut melangkah keluar.