
Mengesampingkan nyawa para penempa yang sudah tak bernyawa, dan potongan tubuh. Tidak ada sama sekalipun rasa jijik, melainkan bibir mereka masing-masing merekahkan senyum bangga. Dan objek dari senyuman itu demikian tertuju ke Ye Biu yang dengan gagahnya berjalan ke arah mereka memandang bersemi.
Di sisi lain terdalam dari hati masing-masing penempa merasa bersyukur dan berterima kasih kepada Kelompok pembuat onar itu. Karena Kelompok itu, seluruh warga Desa ini dapat kembali melihat Dewa Pedang sang ksatria mereka menunjukkan diri yang selama beberapa tahun sangat jarang keluar dari dalam gubuknya.
Sedangkan Li Fang, mulutnya menganga lebar penuh ketidakpercayaan setelah melihat kemampuan sang Kakek. Namun, menganggap reaksinya sedikit berlebihan ia segera mengembalikan ekspresinya ke normal. Dia memandang penuh obesrvasi Ye Biu yang berjalan ke arahnya menghampiri.
"Atas uluran tangan bantuanmu aku akan menuruti janjiku, tetapi bukan sekarang. Melainkan kalau keadaan Desa ini sudah kembali baik."
Li Fang merespons dengan tersenyum tipis sambil mengangguk pelan mengiyakan ucapan sang Kakek. Entah mengapa ia sekarang tidak terlalu mementingkan 'hadiah' yang membuatnya penasaran ingin mengetahui untuk tahu apa yang akan di berikan Ye Biu kepadanya, melainkan saat dia melihat jurus itu ia anggap itu adalah sebuah hadiah yang mahal.
Sedikit di hatinya ia ingin mempelajari jurus pedang itu, tetapi di sisi lain juga dia mengerti akan keadaan tubuhnya tak memiliki tenaga dalam yang memustahilkan dirinya untuk menguasai jurus yang kemungkinan besar dasarnya saja harus mempunyai lingkaran tenaga dalam yang banyak.
Kendati begitu, Li Fang yakin suatu saat nanti meridiannya akan terbuka dan kemudian tubuhnya bisa memproduksi tenaga dalam. Karenanya ia harus berpetualang mengelana ke seluruh penjuru dunia ini agar dapat mendapatkan sebab sekaligus obat (solusinya)
"Lebih baik terlebih dahulu kita beristirahat saja, Kek," ucap Ye Fai sambil memegang perutnya yang sedang di bantu berdiri oleh seorang pengawalnya.
Ye Biu mengalihkan pandangannya ke cucunya itu, tatapannya sama saat pertama kali Li Fang bertemu dengannya.
"Fai'er, kamu masih saja seperti dulu, sama sekali tak ada perubahan dari sifat sombong dan terlalu percaya dirimu itu."
Pengucapannya terdengar datar tak memiliki arti apa yang harus di maksudkannya, sebab kata perkata itu mengandung sedikit kemarahan, tetapi nada dan ekspresinya datar? Begitulah orang aneh. Mungkin Li Fang berkata dalam hati seperti itu. Namun, Ye Fai langsung menundukkan kepalanya tidak berani memandang Kakeknya.
"Maafkan aku, Kek..."
__ADS_1
**
Kini Li Fang dan Ye Fai telah berada di dalam gubuk Ye Biu. Sementara sang Kakek sendiri tengah pergi, ia mengatakan akan pergi ke dalam hutan untuk mencari dedaunan herbal.
Suasana sedikit canggung di dalam gubuk ini. Li Fang yang memiliki sifat tak banyak bicara justru membawa suasana antara mereka berdua sedikit canggung. Namun setelah beberapa menit berlalu Ye Fai memecahkan keheningan ini.
"Sejak tadi aku telah pendam pertanyaan ini. Kamu sebenarnya siapa?"
Li Fang hanya diam bernafas tak menjawab, diam belasan detik itu mengantar Ye Fai untuk kembali melanjutkan perkataannya menjawab sendiri pertanyaannya.
"Mohon maaf kalau ada salah dalam ucapan yang sebentar lagi akan keluar dari mulutku ini. Awalnya aku berfikir kau berasal dari keluarga yang tak punya apa-apa, otomatis dirimu juga tidak memiliki 'sesuatu' mau itu dari keuangan atau kekuatan."
Li Fang mencerna sebentar perkataannya, yang terkesan menusuk nan merendahkan. Ia mendelik tajam ke Ye Fai sebelum kemudian membalas. "Aku melihat sedikit sisi kesamaan dari engkau dan Kakekmu itu."
Meski tidak mengingat jelas, tetapi Li Fang mendapat inti dari ucapan itu di anggapnya sombong.
Ye Fai tersenyum kecut setelah mendegar respons Li Fang. "Aku telah berusaha menghilangkan sifatku ini, sangat merugikanku sekali bila bertemu dengan orang baru, dan dalam menjalin hubungan dengan seseorang. Mungkin, sifat ini menurun dari ayahku, akan tetapi sama sekali tak ada hubungannya dengan Kakekku...
"Jika aku tak salah sekitar enam tahun yang lalu, Kakek Biu baru bersifat dingin seperti yang kau ketahui saat tahun itu tiba. Awalnya ia adalah individu yang ceria dan bersemangat, tetapi demikian setelah waktu itu tiba tak ada yang tahu sebabnya ia tiba-tiba berubah menjadi dingin lalu lebih memilih untuk menyendiri. Dan tepat pada saat kalian berdua muncul, melihat kalian nerdua terlihat akrab membawa aku untuk bertanya, siapa kau sebenarnya?"
Li Fang memejamkan mata sambil menyunggingkan senyum tipis menghadap ke depan.
"Pertanyaan itu sudah dua kali di berikan kepadaku, tetapi aku tetap diam tak menjawab. Karena aku tidak tahu harus menjawab apa," balas pelan Li Fang pelan.
__ADS_1
"Namun," lanjutnya, "menjawab pertanyaannmu. Latar belakangku hanya seorang anak muda biasa saja. Tidak mempunyai orang tua atau keluarga yang mempunyai pengaruh di Kekaisaran ini."
Tidak ada kebohongan dari respons balasan Li Fang. Namun biarpun begitu, Ye Fai terlihat masih tak percaya. Otaknya memenuhi asumsi bahwa pemuda di dekatnya kalau tidak berasal dari keluarga yang mempunyai pengaruh besar, kemungkinan ia seorang Pendekar dari Partai-partai dari serikat Pengemis yang berkamuflase sebagai pengemis.
"Apa kamu berasal dari Partai Serikat Pengemis?" tanya Ye Fai sedikit terlihat tiba-tiba memasang ekspresi tidak bersahabat.
Di sebuah kota Kekaisaran Zhou keberadaannya menjadi pusat dari berkumpulnya Partai Serikat Pengemis. Tiada yang mengerti berada di aliran apa Partai Serikat tersebut.
Karena mereka membantu menghidupi para warga di kota itu dengan melakukan pekerjaan mengemis di kota seberang, sedangkan beberapa kali anggota dari Partai itu juga melakukan penyerangan terhadap Sekte kecil yang berasal dari aliran putih. Dari semua kabar yang berperskulasi, mereka juga mempunyai banyak pekerjaan. Kalau di bayar dengan upah yang besar di perintah oleh seseorang mereka akan melakukan itu, maupun itu harus membunuh.
"Partai Serikat Pengemis?" Li Fang menaikkan satu alisnya, tak mengerti apa yang di maksud oleh pemuda seumurannya ini.
Melihat responsnya, lantas membuat Ye Fai tak kembali melanjutkan pertanyaannya itu. "Kamu semakin membuat otakku ini ingin meledak karena banyaknya asumsi yang berkeliaran di pikiranku."
"Tidak perlu, kau tanya diriku ini siapa. Setidaknya kamu bisa mengetahui sifatku ini seperti apa, setelah aku tadi menolongmu..."
"Haha, iya, kamu benar. Tidak perlu juga aku mengetahui latar belakang seseorang yang bersifat pribadi seperti kamu, maafkan aku terlalu cerewet."
"Tidak apa-apa, meski aku orang yang gampang tersinggung, tetapi tentang masalah itu aku juga tak akan terlalu berlebihan untuk tersinggung," ucap Li Fang sambil tersenyum penuh arti. Membuat Ye Fai merasakan kehangatan antara mereka berdua.
Namun, Ye Fai kembali membuka suara. "Aku ingin mendengar sekali jawabanmu agar keraguan terhadapku kepadamu sepenuhnya hilang. Apa kamu berasal dari sebuah Sekte aliran putih?"
Di iringi senyuman tipis, Li Fang menjawab santai. "Ya. Jujur aku berasal dari sebuah Sekte. Lebih tepatnya, dahulu sebelum hancur, aku berasal dari Sekte Pedang Abadi."
__ADS_1
Ye Biu yang sudah pulang dengan di tangannya telah memegang banyak dedaunan herbal tiba-tiba tertegun terpaku di depan pintu gubuknya saat mendengar kalimat terakhir Li Fang.