Legenda Pedang Surgawi

Legenda Pedang Surgawi
Tindakan Keji


__ADS_3

Sebagian orang akan mengatakan orang-orang berkuda ini ingin membeli pedang. Itu sama sekali masuk logika, karena di Desa ini juga berbisnis untuk menarik pembeli, tetapi kenyataannya salah.


Selama beberapa saat tak ada yang merasa orang-orang ini ingin membuat onar di sini. Namun, setelah masuknya Bae Len bersama puluhan anggota yang lain mengikuti di belakang. Tiga orang anggota yang paling belakang langsung menghancurkan gerbang kayu Desa sederhana ini.


Para penempa yang sedang berada di lapaknya kini telah merubah ekspresi yang awalnya menyambut baik mereka. Di tangan masing-masing penempa telah tersemat senjata tajam, tetapi yang lebih tajam adalah tatapan mereka kepada orang-orang berkuda itu.


"Kalau kalian terus menatapku seperti itu, akan kukeluarkan bola mata kalian!" teriak lantang Bae Len.


Kendati demikian, ia berteriak dengan suara lantang, wajah sangar, tetapi masih saja sebagian para penempa masih mempertahankan ekspresi tak senangnya. Namun, di detik berikutnya setelah aura pembunuh tiba-tiba menguar hingga menekan sebagian orang, penempa-penempa langsung menundukkan kepala.


"Hidup ini sebenarnya sederhana. Orang lemah seperti kalian semua harus tunduk kepada yang kuat. Dan contohnya sekarang dapat di ambil antara kita ini. Kalian sepatutnya sudah harus menundukkan kepala, saat aku masuk di sini!"


Bae Len awalnya ragu masuk kesini. Namun, sehabis anggotanya mengonfirmasi dan ia juga sendiri tiada merasakan kehadiran 'orang kuat itu'. Dia sekarang menjadi tak memiliki rasa ragu. Dan juga, ia yakin saat ini dirinyalah terkuat di dalam sini.


"Hei, kau coba kumpulkan pedang-pedang di seluruh lapak ini!" Bae Len menyuruh anggotanya. "Kalau ada yang melawan, beritahu kepadaku. Akan ku potong lidahnya lalu kita santap dagingnya. Sekaligus cari juga penyusup itu!"


Tingkat Kultivasi kekuatan Bae Len berada di Pendekar Kaisar, jumlah tenaga dalamnya sudah masuk syarat dengan mengumpulkan 250 lingkaran, dan juga otomatis kapasitas Dantiannya bertambah lebar, tetapi meridiannya belum banyak terbuka. Di tambah juga sebuah tahap khusus dalam setiap tingkatan belum di lewatinya tingkatan Kultivasi Pendekar Kaisar yaitu 'kecepatan'.


Bisa di katakan dia saat ini telah berada di Pendekar Kaisar menengah. Lebih dari itu semua penempa beserta Pendekar pengunjung yang berada di sini tak ada yang menyamai Kultivasinya. Karenanya, ia sangat antusias untuk menguasai Desa ini, dan mengkorup pemasukan para penempa untuk masuk di kantongnya sendiri.


Apa yang di lakukan oleh anggotanya termasuk dalam hal memaksa. Sebagian penempa ada yang mencoba bertahan dengan melakukan perlawanan, tetapi yang di dapatkannya naas. Tangan mereka di ikat lalu di bawa didepan Bae Len. Disamping mereka sudah yang terlebih dahulu mengalami itu.

__ADS_1


Darah keluar deras dari mulut beberapa penempa yang telah terlebih dahulu mendapat perlakuan keji Bae Len, karena kehilangan banyak darah mereka akhirnya mengikuti apa yang menjadi nasib mereka dengan pergi ke alam kematian.


Tak mengherankan kalau mayoritas warga, bahkan dari kalangan apa saja membenci Pendekar aliran hitam. Ada juga masyarakat yang menanam perasaan benci terhadap semua Pendekar tanpa membagi aliran. Dan itu karena ulah perbuatan aliran hitam.


"Ma-maafkan saya, Tuan. Akan kuberikan semua barang jualan saya dan juga seluruh koin emas lapak saya, tapi mohon Tuan ampuni nyawa saya," pinta salah seorang penempa yang sudah di ikat tangannya, memohon ampun.


Penempa itu sudah mengeluarkan cara pemohonan untuk di ampuni. Dari eksperesi mimik wajah, tangisan, suara seduh sudah ia praktekkan. Namun, Bae Len terlihat sama sekali tak memperdulikannya.


Walaupun merasa marah, dan sedih memberikan semua barang jualannya secara percuma. Kendati di sisi lain, para penempa juga merasa lega karena tidak mengalami hal keji itu. Ketika mata mereka melihat sendiri apa yang di lakukan Bae Len terhadap teman-teman mereka.


Tak ada dari mereka menduga bahwa hari ini akan terjadi hal seperti ini. Sementara Pendekar-pendekar yang sedang berbelanja terlihat tak ingin ikut campur terhadap apa yang menimpa penempa.


Begitulah watak Pendekar zaman sekarang, mereka hanya akan bertindak ketika dirinya di usik, tidak ada rasa empati sedikitpun di dalam hati mereka untuk orang lemah.


Bae Len berjalan menghampiri penempa yang barusan tadi memohon di tangannya sudah ada pedang yang mata bilahnya telah di penuhi oleh darah segar. "Apa yang kau katakan tadi? Sepertinya aku kurang jelas mendengarnya. Coba kau berkata lagi, tetapi dengan mulut terbuka lebar begini agar lebih jelas."


Bae Len berjongkok di depan sang penempa itu. Tangannya membuka paksa mulutnya. Sambil menyeringai, Bae Len mengangkat pedangnya.


Penempa itu mencoba keras untuk meronta. Akan tetapi segera di tahan oleh anggota Bae Len dengan menekan pundaknya, mengunci agar tak bergerak-gerak.


Tangan kiri Bae Len menarik keluar lidah penempa. "Kau jangan terlalu melawan! Aku mencoba memotong lidahmu secara cepat supaya tak ada rasa sakit yang terlalu menyakitkan. Ini sebagai balasan atas permohonan mu tadi kepadaku."

__ADS_1


Bae Len kembali berdiri, ia menyuruh salah seorang anggotanya untuk memegang lidah penempa itu agar di tegangkan supaya lebih mudah memotongnya.


Banyak yang mengumpat tapi mereka pendam umpat-umpatannya itu di dalam hati melihat kejadian keji yang sebentar lagi akan terjadi. Tangisan berbunyi nyaring oleh keluarga Penempa yang sebentar lagi akan di potong lidahnya.


Mengangkat pedang sedikit di atas, sekitar seukuran panjang lengan di atas lidah penempa itu. Bae Len telah mengalirkan sedikit tenaga dalam ke pedangnya. Berniat memotong lurus.


"Kau tak usah khawatir. Istri dan anakmu akan ku bawa untuk di gunakan sebagai mainanku setiap malam tiba," ucap Bae Len sembari menoleh ke istri penempa itu. Lidahnya ia julurkan dengan menjilat bibirnya.


"Sampaikan kabarku ke penjaga neraka!"


Trang...


Sepuluh centi baru ia gerakkan pedangnya untuk menebas, tiba-tiba telah berhenti dengan di tangkis oleh sebuah pedang.


"Aku akan berikan penyesalan terhadapmu, karena telah berani masuk kesini menganggu kedamaian Desa Kakekku ini!"


Bae Len mendapati seorang pria muda melontarkan pernyataan itu terhadapnya. Dia kemudian mengalihkan matanya melihat beberapa anggotanya terlantung-lantung lari menghampirinya. Luka sabetan memenuhi seluruh badan anggotanya.


Bae Len kemudian mundur, di ikuti oleh anggotanya berdiri di belakangnya. "Jangan berlagak sok jagoan, Anak muda. Aku saja sendiri di sini sudah bisa membunuh kau dan pengawal-pengawal mu itu."


"Pengawal? Dia bukan pengawalku tetapi anak buahku."

__ADS_1


Apa bedanya?


"Tapi, itu menarik juga. Mari kita coba!" Pemuda itu maju menyerang Bae Len.


__ADS_2