
Kejadian yang telah berlalu selama 150 tahun lalu itu. Berusaha di lupakan dan di biarkan terhapus dari dalam ingatannya.
Namun, sekuat apa Li Ba berusaha melupakan itu, kenyataannya otaknya tak mampu membuat sistem ingatannya untuk melupakan kejadian itu.
Li Ba sampai saat ini masih menaruh dendam kepada kakaknya, meskipun dia sudah membunuhnya dengan mengenaskan, dan membuat nama Li Zheng di cap oleh warga sebagai pendosa yang besar.
Setelah kakaknya membuang kedua benda pusaka itu, ia sudah menyuruh semua prajurit Istana, bahkan sampai di bantu oleh rakyat yang ia anggap sebagai sarang nyamuk untuk mencarinya di seluruh Alam Suci ini. Namun, tetap saja tak ada yang berhasil menemukannya
Li Ba dengan wajah bosannya memangku satu tangannya di bantalan singgasana, lalu kemudian menyandarkan sisi kanan pipinya, memandang petir-petir yang bergemuruh melalui jendela ruangan sucinya ini.
"Huh..."
Awalnya, dirinya merasakan depresi setelah tak ada yang ia dapatkan dari rencananya itu, di tambah penyesalan yang tiba-tiba menerpa hatinya setelah pembunuhan yang ia lakukan sendiri kepada Istri dan Anak-anaknya.
Namun, seiring berjalannya waktu, apa yang ia rasakan perlahan-lahan memudar. Tapi, berbeda dengan kasus pembunuhan Istri dan anaknya. Dia sama sekali tak bisa melupakan kedua benda pusaka itu.
Setiap kali ia mengingatnya, darahnya dengan tiba-tiba berdesir semangat, ingin memilikinya untuk menjadi penguasa dunia yang kuat tak tertandingi.
"Apa daya...Masa iya, diriku yang suci ini harus turun ke bumi. Tempat para manusia lemah nan kotor itu." Li Ba berkata dengan wajah jijik.
Setelah perkataan menghina itu keluar dari mulutnya, ia merasakan seseorang dari luar bangunan tempat bernanungnya singgasana yang ia duduki ini, dirinya merasa ada yang ingin masuk menghampirinya.
Li Ba segera mengganti posisinya, saat melihat Jenderalnya melangkah masuk.
"Apa ada hal penting yang ingin kamu sampaikan, Jenderal Han."
Pada saat Li Zheng yang menduduki tahta ini. Bui Han atau panggilan resminya Jenderal Han, adalah yang terkuat kedua setelah Tao Sang dari ke tujuh Jenderal yang ada.
Bui Han sama sekali terlihat tak memberi hormat pada Li Ba walau sedikit. Ia tahu senyum lelaki yang duduk dengan angkuh di depannya ini adalah senyum palsu, yang bisa menjatuhkannya kapan saja.
Dalam posisi berdiri tanpa menunduk memberi hormat layaknya seorang Ksatria, Bui Han berucap. "Kau mungkin tak tahu, arti dari petir-petir yang bergemuruh saat ini di luar?"
__ADS_1
Bui Han memberikan pertanyaan hanya sebagai pembuka percakapan saja di antara mereka berdua. Dia tahu lelaki yang memiliki kedudukan tertinggi di Alam Suci ini sama sekali tak tahu apa-apa.
Tidak mau mendengar kata 'aku tak tahu', Bui Han kembali melanjutkan perkataannya. "Jika kau perhatikan lebih teliti lagi, petir itu berwarna merah kehitaman. Yang mempunyai arti salah satu dari benda Pusaka itu telah ada yang memilikinya."
Li Ba membuka mulutnya tak percaya mendengar penjelasan dari Jenderal di depannya ini.
Tapi, sebelum merespons, Bui Han kembali berkata. "Aku yang usiaku jauh darimu. Sangat mengetahui akibat dari apabila kedua benda pusaka itu memiliki, Tuan yang baru. Dan bila itu sudah tiba, kita semua akan tunduk kepada Penguasa dunia yang baru itu..."
Bui Han dan Tao Sang telah mengabdi kepada Istana ini, saat pertama kali di bangun. Jelas mereka mengetahui semua rahasia dan sejarah yang di miliki oleh kejadian-kejadian yang terjadi lampau.
Bui Han mengakhiri ucapannya dengan membalikkan badannya meninggalkan Li Ba yang saat ini masih merasakan syok. Terlihat bagian jubah di punggung Bui Han bolong seperti sehabis terkena serangan dari petir.
"Akan ku tunggu kedatanganmu kesini, sang Penguasa..." gumamnya sambil tersenyum kecil dalam keadaan berjalan keluar melewati pintu bangunan ini.
**
Sementara, masih di dalam area Istana ini, atau lebih tepatnya di sebuah penjara yang sel-selnya terlihat di aliri petir biru.
Di dalam penjara itu, seorang wanita yang kedua kaki dan tangannya dipasung, seluruh badannya mempunyai bau yang tak karuan lagi. Segera melempar mangkok makanannya ke tembok hingga membuat suara pecahan terdengar oleh penjaga.
Wanita itu segera memandang ke arah penjaga berdiri. Dia terlihat tersenyum menunjukkan seluruh giginya yang kotor, seperti tak pernah di bersihkan selama bertahun-tahun.
Wanita itu terdiam sejenak, tak menjawab perkataan sang penjaga. Namun, tetap menyunggingkan senyumnya.
"Hahahaha..."
Wanita itu tertawa menggelegar, dengan durasi sedikit lama. Dari suaranya terdengar kebahagiaan begitu juga kesedihan, dan yang paling menyita perhatian ketika seseorang yang menganggapnya telah hilang kerawasan, ternyata memiliki keanggunan dari tawa yang keluar melalui mulutnya.
Penjaga lelaki itu tiba-tiba menundukkan kepalanya. Dan lalu berkata pelan. "Cepat katakan, apa yang, Nona mau. Segera aku akan memberikannya."
"Hahaha..."
__ADS_1
Tawa yang anggun itu kembali bergema, tetapi kali ini durasinya lebih cepat dari sebelumnya. Karena wanita itu memotongnya dengan ucapan yang tidak di mengerti penjaga itu.
"A-anakku, anakku sebentar lagi akan datang kesini, menghampiriku dan kemudian membalas kekejaman kalian terhadapku. A-akan ku pastikan dia akan membunuh kalian semua secara mengenaskan," ucapnya sambil melompat-lompat dan menunjuk-nunjuk ke bawah.
Wajah dari wanita itu terlihat berseri-seri dengan melompat kegirangan. Mungkin, dia memang telah kehilangan kewarasan.
Penjaga itu memasang wajah kesal, lalu berjalan memunggungi sel penjara, tempat wanita yang ia anggap telah kena gangguan mental.
Namun, sebelum Penjaga lelaki itu melangkah lebih jauh, sebuah petir dengan suara gemuruh dan memiliki kekuatan sangat besar menerjang balkon atap, tepat di atas kepalanya sekarang berdiri.
Durhrhrhr...
Dengan refleks penjaga itu menghindari, ke akibatan yang di terpa oleh petir itu.
"Apa?!" Penjaga itu berkata dengan wajah terlihat bingung
Tak di sangka, petir yang telah menerjang balkon atap hingga runtuh, menerobos masuk lewat sela-sela lubang di atas. Terlihat mengincar ingin menerjang Penjaga itu.
Satu sampai dua kali, dengan pergerakan yang lumayan cepat Penjaga itu berhasil menghindar dengan mulus dari setruman petir itu.
Penjaga yang merasa telah aman, tak ada petir lagi, segera memandang lobang balkon di atas yang di akibatkan dari petir itu sambil mengerinyitkan kening.
Sesuatu yang tak di sangka-sangka pun terjadi. Petir berwarna merah kehitaman dengan kecepatan luar biasa turun dari atas langit mendarat ke wajah penjaga itu.
"Ahhhhh!!!"
Seluruh tubuh, bahkan rambutnya pun bergetar dengan hebat.
Apa yang baru saja terjadi itu menarik perhatian penjaga yang lain.
"Apa yang terjadi dengannya, mengapa petir ini..." Salah satu Penjaga berkata dengan wajah tak percaya.
__ADS_1
Dalam kepanikan dan kebingungan itu, Wanita yang kedua kaki dan tangannya di pasung, berkata dengan nada dingin dari dalam sel penjaranya.
"Itulah balasan dari anakku..."