Legenda Pedang Surgawi

Legenda Pedang Surgawi
Menguntit


__ADS_3

Pada saat ia melangkahkan kakinya masuk kedalam kedai itu. Seketika membuat dirinya menjadi pusat perhatian dari pengunjung yang sudah terlebih dahulu ada. Terlihat satu meja yang terdapat beberapa orang tengah mabuk asik meminum arak melirik sebentar Li Fang.


"Aku ingin memesan satu porsi sup daging..." Li Fang telah berada di depan meja kasir penginapan memesan makanan.


Seorang pria setengah baya menyambutnya dengan senyuman ramah. "4 koin emas untuk sup daging, dan kalau Tuan ingin di temani arak. Tuan harus merogoh saku lebih banyak dengan menambah 3 koin emas."


Li Fang merajut alisnya bingung. Dia jelas-jelas melihat di belakang kasir ini terdapat tulisan harga bagi masing-masing macam makanan. Dan, ia mendapati harga sup daging yang tertera di situ hanya memiliki harga 1 koin emas, tapi kenapa kasir ini mengatakan dengan melampirkan harga yang salah.


Pria setengah baya itu terlihat tegang menunggu Li Fang menjawab perkataannya tentang harga tadi. Dan, sedari tadi matanya hanya fokus memandang beberapa orang yang sedang asyik mabuk.


Li Fang menangkap dari wajah pria di depannya ini terlihat cemas dan ada sedikit perasaan takut. Awalnya ia tidak tahu kenapa dia bersikap demikian seperti itu, tetapi setelah beberapa saat memperhatikannya, ia kemudian tahu kemungkinan itu karena sekelompok orang yang sedang meminum arak.


"Cepat katakan anda mau memesan apa." Perkataan sang kasir memutus rantai pikiran Li Fang yang sedari terdiam tak menjawab ingin memesan apa, yang lantas membuat pria ini sedikit kesal.


"Eh...Aku ingin memesan semangkok sup daging, tapi dengan air putih saja. Namun, sebelum itu aku ingin bertanya. Siapa orang-orang itu?"


Kasir itu tak menjawab pertanyaan dari kalimat terakhir Li Fang ia hanya mengangguk singkat lalu berniat ke belakang untuk menyiapkan semuanya.


"Apa kedai ini tak memiliki pelayan?" tanya Li Fang dengan gumaman. Dan setelah ia perhatikan lebih lama, memang benar kedai tak ini memiliki satupun pelayan.


Sambil menunggu makanan datang. Dia duduk di meja kosong yang agak jauh dari tempat duduk sekelompok orang-orang itu. Belasan menit duduk diam, makanan yang di pesan masih belum datang.


Li Fang menyadari salah seorang dari 5 orang yang duduk sambil meminum arak itu tengah mengamatinya. Dia hanya berpura-pura sok polos saja dengan mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja sambil memandang ke lain arah.


Setelah beberapa menit menunggu lagi, makanan yang ia tunggu telah datang di bawa oleh kasir tadi. Dari baunya ia mencium sangat menggiurkan dia berekspektasi sup daging ini mempunyai rasa yang nikmat, dan ia berjanji akan menghabisinya sampai ke kuah-kuahnya.

__ADS_1


Sebelum menyantap, ia terlebih dahulu memberikan harga yang telah di tetapkan, tapi ia tidak memberikan 4 koin emas. Li Fang mengambil acak dari kantong kain tempat penyimpanan koin emasnya. Kasir tersebut tak percaya akan di berikan 6 koin emas, dia menatap dari kepala sampai kaki, tapi tak melihat ciri-ciri dari anak muda yang duduk ini adalah seorang yang terkenal di daerah sini, atau bahkan seorang dari kalangan atas.


"Ada apa?" tanya Li Fang ke kasir tersebut yang terlihat terus menatapnya.


"Ah tidak apa-apa..."


Kali ini ia tak menyadari salah seorang dari kelima orang itu yang dari tadi mengamatinya memandangnya dengan sudut bibir terangkat membentuk senyuman licik. Karena Li Fang sedang fokus ke makanannya.


Makanan yang ia sudah ekspektasikan memiliki rasa enak seakan membuat dirinya jatuh terbanting dari langit, SANGAT jauh dari rasa yang telah ia perkirakan.


"Um..." Li Fang menahan agar sesendok sup yang sudah ia suapkan ke dalam mulutnya agar tak tertelan dan turun di lambungnya.


Rasa dari sup daging itu sangat memuakkan baginya. Di dalam bau yang menggoda itu setelah mencium ternyata masih ada bau amis dari dagingnya. Lebih parah lagi, kuahnya terasa seperti meminum air putih saja, rasanya hambar.


Li Fang mengeluarkan sup daging itu dari mulutnya kembali ke mangkuknya. Dia kemudian menatap kesal sang Kasir, sedangkan kasir itu hanya menundukkan kepalanya.


"H...hei jangan terlalu buru-buru Anak Muda. Bisakah kau memberikan sedikit uang kepadaku, untuk sekedar jaminan supaya kamu aman di sini..." Lelaki berpakaian serba hitam itu berkata dengan sedikit mabuk.


Sementara kasir tengah berharap-harap cemas agar pemuda itu memberikan apa yang lelaki itu inginkan supaya nyawanya selamat. Bukan hanya soal nyawa itu saja, tapi dia tak mau gara-gara perbuatan pemuda itu kedainya di buat hancur oleh sekelompok orang itu akibat suasana hati yang buruk.


"Tidak sudi aku memberikan koin emas bagi orang yang tidak berguna sepertimu!"


"Hahahaha..." Lelaki itu tertawa lantang sambil melirik teman-temannya yang lain.


Setelah berkata demikian, Li Fang berjalan keluar menghiraukan suara tawa yang sedikit menganggu gendang telinganya. Akan tetapi, tangan dari orang itu menarik ujung jubah lengannya memaksa ia untuk berhenti.

__ADS_1


"Dasar anak muda sombong...Asal kau tahu, setelah dirimu bersikap seperti itu tak akan ada lagi ampunan untukmu!"


Teman-temannya yang lain kemudian berdiri di belakang lelaki yang memegang erat jubah pakaian Li Fang.


"Benar Kakak, setelah perlakuan tak sopan terhadapmu bocah ingusan ini tak bisa pergi dengan mudah, kita harus memberikan pelajaran terlebih dahulu!" Yang lainnya menimpali.


Li Fang menggemeretakkan giginya. Dia hanya berniat mengisi perut saja di kedai ini dengan tenang, dan juga pergi dari sini mencari kedai yang lain karena kedai ini mempunyai makanan yang sangat buruk sekali.


Namun, sepertinya hal itu tak mudah, orang-orang ini menghambatnya bagaikan penganggu rendahan saja. Dia tidak suka lalat, tapi setelah bertemu sekelompok orang ini ia merasa serangga itu sepertinya lebih baik dari mereka semua.


Li Fang membalikkan badannya menatap datar lelaki ini, yang sedang menyeringai ke arahnya. Tanpa basa-basi ia langsung mencekik lehernya lalu menghantamkan kepalanya ke tembok kedai, detik berikutnya ia melempar lelaki itu ke salah satu meja kedai hingga membuatnya hancur.


Perkiraan kasir tersebut tenyata salah. Awalnya, ia mengira bahwa sekelompok orang itu yang akan melakukan pengrusakan ini, tetapi kenyataannya sebaliknya, Pemuda itu yang melakukannya. Dia melebarkan matanya, tak di sadarinya kedua kakinya bergetar melihat pemuda yang sekilas baru berusia 17 tahun dalam sekejap telah mengalahkan sekelompok orang itu.


"Mo-mohon maafkan saya, Tuan Pendekar. Atas makanan yang tidak layak saya hidangkan," ucap Kasir itu terbata-bata sambil berlutut di hadapan Li Fang, ia tahu Pemuda yang ternyata seorang Pendekar ini dapat membunuhnya dengan mudah.


"Cepat ceritakan sebenarnya apa yang terjadi? Aku tak punya waktu banyak untuk menolongmu."


Sang kasir menceritakan apa yang telah terjadi di daerah sini. Dia berkata sekelompok orang-orang itu berasal dari Kelompok aliran hitam yang memiliki markas di daerah sini.


"Mereka semua juga setiap awal bulan selalu datang ke setiap kedai yang ada di daerah sini memaksa untuk membayar pajak. Dan, hal ini bermula sekitar kurang lebih baru setahun, Tuan. Setelah salah satu sekte yang menjaga keamanan daerah ini di kalahkan oleh Kelompok mereka..."


Li Fang merapatkan giginya geram sehabis mendengar ucapan sang kasir, " dasar biadab...," gumamnya pelan.


Dalam percakapan sang kasir, ia sengaja membiarkan orang-orang yang masih hidup untuk pergi dari kedai ini supaya lebih mudah ia dapatkan letak markas mereka. Ia kemudian memberikan puluhan koin emas kepada kasir sekaligus pemilik kedai sebagai balas ganti ruginya. Ratusan koin emas dari Wu San masih banyak, dan ia tak perlu khawatir untuk kehabisan.

__ADS_1


Li Fang kemudian bergegas mengikuti anggota dari kelompok aliran hitam itu dari belakang, ia memangkas jarak yang aman tanpa di sadari saat menguntit mereka dari arah belakang.


__ADS_2