
Beberapa detik diam tertegun, setelahhnya Ye Biu kemudian mempercepatkan langkahnya masuk ke dalam gubuk. Mendengar nama Sekte Pedang Abadi di sebut pikirannya kembali mengingat kenangan antara dirinya dan sahabatnya itu.
"Ada hubungan apa kamu dengan Sekte Pedang Abadi?"
Pertanyaan itu membuat Li Fang dan Ye Fai sedikit tersentak. Karena dari mereka tak ada yang menduga akan mendengar ucapan bernada tanya datang tiba-tiba, tanpa sebelumnya melakulan interaksi perbincangan dengan sang pemilik pita suara.
Pandangan kedua Pemuda itu berpindah ke Ye Biu. Yang saat ini tengah memandang penuh tanya meminta jawaban ke Li Fang.
"Ma-maksud Kakek apa?" jawab Ye Fai mendahului Li Fang yang juga ingin berucap seperti itu.
Namun, Ye Biu hanya menghiraukan ucapan cucunya itu yang lebih mengarah ke pertanyaan. Jelas dia ingin meminta jawaban keluar dari mulut pemuda yang menyebut nama Sekte Pedang Abadi.
Bukan karena tak mengetahui maksud dari pertanyaanya, melainkan Ye Biu membawa suasana di antara mereka bertiga di dalam gubuk ini menjadi sangat serius. "Kalian berdua terlalu serius, apa salahkah kalau nama Sekteku sendiri aku sebut..."
Dedaunan herbal yang berada di tangan kirinya perlahan terlepas dan jatuh ke bawah. Sementara Ye Biu memandang penuh arti Li Fang yang juga sebaliknya tengah memandangnya, tetapi dengan kebingungan.
Bola mata Ye Biu terlihat sedikit demi sedikit tergenang oleh air mata. Hingga akhirnya sepenuhnya menetes keluar. "Andai saja jika aku tak terlambat mengetahui kejadian penyerangan Sektemu, pasti aku akan membantu cucuku, Wang Yuan."
Mengapa dia mengetahui nama Ayahku, dan juga kenapa ia memanggilnya dengan sebutan cucu?
Itu adalah pertanyaan yang menggerogoti pikiran Li Fang. Ia ingin melontarkan pertanyaan itu, tetapi sebelum dia sempat mengeluarkannya. Kakek di depannya ini kembali berkata memotong pertanyaan dari rantai pikiran yang ia ingin tanyakan.
"Kamu menjabat sebagai apa di Sekte Pedang Abadi?" Ye Biu kembali bertanya.
Ye Biu menduga pemuda ini sebelum penyerangan itu pasti mempunyai jabatan yang lumayan tinggi di Sekte itu. Pasalnya, ia berani berasumsi seperti itu saat setelah melihat kekuatannya. Namun, asumsinya segera di bantah oleh Li Fang yang memberikan balasan dengan pernyataan yang tidak ia ekspektasikan.
"Aku tidak mempunyai jabatan di Sekte itu."
Kalimat yang merangkai menjadi pernyataan itu berbanding terbalik sama asumsinya yang kuat mengatakan bahwa anak ini memiliki jabatan tinggi. Ye Biu tahu yang pantas di sebut tidak mempunyai jabatan di Sekte adalah hanya penjaga gerbang. Pasalnya, buat apa seorang yang berprofesi sebagai penjaga gerbang memberitahu pekerjaan yang bagi sebagian kalangan orang menganggapnya 'rendah' di koar-koarkan agar semua orang tahu bahwa ia bekerja seperti itu.
Namun demikian, Ye Biu masih tak bisa menerima, dan sekaligus juga mencerna pernyataan itu.
"Aku tidak bisa begitu saja mempercayai pemuda ini bertugas sebagai penjaga pos gerbang," ucap Ye Biu dalam hati. Akan tetapi ia juga tidak bisa membantah. Karena hanya penjaga gerbang saja yang tak punya tanggung jawab tinggi untuk bertarung, hal itu bisa di sambungkan bahwa sang penjaga bisa selamat dari peperangan sebab dia pergi menyelamatkan diri.
"Terus sebelum penyerangan itu kau bertugas sebagai apa?" tanyanya sekali lagi mencoba memperjelas.
Sebelumnya Li Fang berfikir untuk tak terlalu menutup diri dengan Kakek ini. Sebab, setelah ia menolongnya di dalam hutan dari siluman macan-macan itu dia tahu bahwa Ye Biu seorang yang baik, dan bisa menjaga rahasia, karena sifatnya yang dingin jarang berbicara.
"Namaku Li Fang, aku adalah anak dari nama seseorang yang barusan tadi kau sebutkan..."
"Ap-apa..." Mulut Ye Biu terbuka lebar, sedangkan Ye Fai sendiri memandang penuh kebingungan melihat respons Kakeknya.
Li Fang mengangguk mengiyakan. Ye Biu langsung bergerak lalu mendekap ia dengan pelukannya.
Selang beberapa detik Ye Biu kembali melepaskan pelukannya. "Aku akan menebus kesalahanku, dengan cara melatihmu menjadi lebih kuat."
__ADS_1
**
Di dalam hutan terdapat sebuah gua yang yang besar. Di depan pintu masuk gua yang di tutupi rumput kering terdapat sebuat tanah kosong yang bersih dari tumbuhan liar. Puluhan batu tersusun melingkar, dan tepat di atas batu besar itu di duduki oleh berbagai individu yang warna pakaian beserta coraknya berwarna coklat keemasan.
Sedangkan di dalam gua dua orang berbeda gender tengah berjalan keluar dari dalam.
"Apa perkataanmu itu benar Tuan Feng?" tanya seorang wanita anggun berkulit putih dengan rambut pendek di keningnya membentuk sebuah poni.
"Benar Penatua Lin. Pendekar Ye kembali menujukkan diri setelah enam 6 tahun kita tak pernah mencium hawa keberadaannya," jawab Gu Feng. Ia adalah Siluman macan yang bertemu dengan Ye Biu dan bertarung sama Li Fang di hutan.
Sementara wanita yang berjalan beriringan dengannya di samping bernama Yuo Lin, salah satu Penatua dari Siluman Ras Macan.
"Bisa di katakan ia kembali terjun ke dunia persilatan.... Dan kau tadi mengatakan muridnya menyerang salah seorang anggota kita?"
"Benar, Penatua. Laporanku sama sekali tidak bohong."
Yuo Lin seorang wanita yang memiliki watak keras dalam segi apapun. Dan walaupun itu masalah sepele ia akan membuatnya menjadi besar, karena wataknya.
"Biarpun dia seorang Pendekar tingkat tinggi, tetapi bukan begitu kita boleh di injak-injak seenaknya olehnya. Kita harus memberikannya terapi peringatan agar mengingat bahwa Siluman Ras Macan bisa mengancamnya."
Tanpa terasa beberapa saat berjalan, keduanya telah berada di ujung bibir gua lebih tepatnya di pintu gua. Gu Feng langsung membuka rumput-rumput kering untuk memperlancar Penatuanya berjalan keluar.
Setelah berada di depan gua yang sekarang dirinya tengah menghadap di depan puluhan anggotanya. Yuo Lin kemudian berseru lantang. "Sebelum kita pergi ke Bukit Kematian, terlebih dahulu kita harus turun ke Desa Para Penempa, ada yang ingin ku lakukan di sana!"
**
Berhubungan dengan orang tua Ye Fai, Ayahnya yang bernama Ye Shao sama Ibunya masih belum kembali, sebulan yang lalu mereka meninggalkan Desa ini untuk pergi ke kota Fezhou, katanya untuk menghadiri undangan pertunjukkan seni pedang yang di adakan oleh sebuah toko terbesar yang menjual senjata berbahan baja dan besi di kota tersebut.
Beberapa jam Li Fang bersama Ye Biu. Dia sudah tahu banyak hal tentang sejarah Sektenya. Satu hal yang paling membuatnya terkejut adalah hubungan antara Ye Biu dan Kakek Buyutnya Wang Fei yang dahulu ternyata bersahabat dekat. Entah secara kebetulan, ia merasa aneh dirinya di pertemukan dengan sahabat Kakek dan Kakek buyutnya, sama seperti Wu San yang bersahabat dengan Wang Guo.
"Karena itulah aku mengurung diri selama enam tahun ini. Rasa bersalah kepada sahabatku itu yang awalnya ia amanatkan kepadaku agar menjaga Sektemu tak aku tangguhkan, yang kemudian mengisi pikiranku selama beberapa tahun ini," tutur Ye Biu dengan wajah sendu.
"Tidak perlu larut terlalu dalam, Kek. Sekarang Kakek tak perlu menanggung beban itu, karena kejadian itu telah berlalu."
Li Fang memegang pundak Ye Biu. Membuatnya langsung merasakan sentuhan tangan Wang Fei sewaktu dulu saat mereka berdua sedang curhat menyurhat tentang masalah yang menimpa antara salah seorang dari mereka.
"Kau mirip sekali dengan Wang Fei...," ucap Ye Biu sambil tersenyum tipis, sebelum kemudian berdiri. "Oh, iya, aku lupa tadi mengatakan akan memberimu hadiah."
Tak lama, Ye Biu kembali lagi, tetapi dengan membawa sebuah pedang bergagang biru.
"Nama Pedang ini Langit Bumi sebuah pedang yang menemaniku sewaktu muda dulu dan ini adalah hadiah yang telah kujanjikan kepadamu. Tak ada apa-apanya kalau di bandingkan dengan pedang pusaka itu."
Pedang pusaka yang di maksudkan olehnya adalah Pedang Surgawi. Ye Biu bernafas lega setelah mengetahui pedang yang di bawa oleh Li Fang adalah pusaka penting Sekte, yang di perebutkan oleh seluruh Pendekar di dunia persilatan saat ini.
Li Fang sama sekali tidak menyangka hadiah yang di berikan oleh Ye Biu adalah sebuah pusaka tingkat tinggi. Dia dapat mengetahuinya saat pedang itu berada di depannya, ia sedikit tertekan oleh aura yang menguar dari dalam Pedang Langit Bumi.
__ADS_1
"Aku merasa berat menerima ini, lebih baik Kakek simpan saja atau di berikan ke Saudara Fai karena dia yang lebih pantas mendapatkannya."
Li Fang merasa pedang ini lebih pantas di berikan ke Ye Fai, karena dia ahli dalam menggunakan pedang, sedangkan sebaliknya ia merasa bakatnya bukan di situ. Dia juga berfikir syarat awal untuk menggunakan pedang pusaka ini seseorang pasti harus memiliki tenaga dalam, sedangkan ia belum bisa memproduksi tenaga dalam.
"Bisa-bisa aku mati jika pedang ini kugunakan." Li Fang berkata dalam hati sambil memandang pedang itu.
Li Fang berkata benar, dari apa yang telah di beritahu oleh pamannya, Wu San. Ketika seseorang ingin menggunakan pedang pusaka, maka jelas tenaga dalam harus di miliki. Kalau tidak, pedang pusaka itu akan menyerap energi kehidupanmu. Dan yang lebih parahnya, seseorang kemungkinan akan mati di tempat.
"Tidak perlu sungkan, Nak. Pedang ini juga adalah pemberian Kakekmu dahulu kepadaku. Tentang Ye Fai aku telah menyimpankan sesuatu untuknya, tetapi sebelum ia bisa merubah sifat dan perilakunya itu aku tak akan memberinya."
"Ambillah, Nak..." Ye Biu bergestur meminta Li Fang untuk mengambilnya.
Li Fang lantas mengangkat tangan kanannya untuk memegang pedang itu, tetapi sebelum tangannya mencapai gagang dari Pedang Langit Bumi, teriakan seseorang mengalihkan secara paksa pandangannya dari pedang ke pemilik sumber suara teriakan itu.
"Tolong! Tuan Ye Desa kita sepertinya ingin di serang," ucap salah seorang penempa dengan nafas terengah-engah yang berdiri di ambang pintu gubuk.
"Siapa yang berani menyerang Desa ini lagi? Coba kau jelaskan ciri-cirinya?" tanya Ye Biu yang berdiri dari duduknya menghampiri penempa itu.
"Orang berpakaian serba emas kecoklatan berbaris di depan gerbang desa kita. Semakin lama orang-orang itu semakin banyak berkumpul!"
Seketika membuat Ye Biu menyunggingkan senyum kecut. "Makasih atas pemberitahuanmu, kau bisa kembali ke lapakmu, dan jangan lupa beritahu ke seluruh warga untuk tak membuka pintu, bersembunyilah terus di dalam, setelah situasi aman kalian semua bisa keluar."
"Baik, Tuan Ye!"
"Nak, inilah saatnya untuk kamu tunjukkan kemampuan penuhmu kepadaku. Aku ingin melihat bakat dari calon Pendekar hebat kelak di masa depan nanti..."
Li Fang membalas dengan senyum canggung. Dengan sedikit ragu ia mengambil Pedang Langit Bumi, dan menarik dari sarungnya. Dia juga berniat ingin mengetes kemampuan penuhnya, karena selama ini belum ada lawan yang sanggup untuk menekannya menggunakan kemampuan penuhnya.
Keduanya kemudian melesat keluar pergi ke gerbang desa menemui orang-orang itu.
**
Note :
Ras Siluman di bagi menjadi beberapa macam;
1) Siluman Ular.
2) Siluman Macan
3) Siluman Buaya
4) Siluman Burung Elang
Ke empat Ras Siluman itu adalah penguasa di dunia ini dengan terbagi menjadi beberapa wilayah kekuasaan masing-masing Ras.
__ADS_1