
Dua orang lelaki berambut panjang berbeda warna berdiri membelakangi semua orang yang saat ini masih tertegun diam memandang keduanya. Wajah dari seluruh anggota Bae Len menjadi melas, keringat dingin keluar dari dahi dan turun ke pelipis mereka.
Mereka semua tidak melihat serangan yang datang menerpa Penatuanya, tetapi dari akibatnya bisa dianggap kekuatan dari serangan itu sangat kuat. Sedangkan seluruh penempa dan pendekar aliran putih yang ada di sekitar itu hanya fokus memandang intens Ye Biu.
Di tangan kanannya Ye Biu sudah memegang pedang. Dalam melesatnya kesini pedang itu ia ambil dari tanah yang berserakan, meski tak ada darah di bilah pedang itu, tetapi dialah yang memutus lengan Bae Len. Meski kualitas pedang itu terlihat biasa, akan tetapi di tangannya ia bisa memanfaatkan itu dengan baik. Namun, terlihat di ujung sisinya menunjukkan kerusakan keretakan.
Hal itu bisa terjadi apabila seseorang mengalirkan tenaga dalam terlalu banyak ke pedang tersebut yang tidak memiliki kualitas tak mumpuni sehingga tidak bisa menampung tenaga dalam berjumlah besar.
Tiada yang bisa berasumsi bahwa Bae Len telah tewas. Mengecualikan Li Fang semua orang yang melihat itu yakin penatua yang telah berubah wujud menjadi setengah serigala itu telah tewas. Namun demikian, Li Fang yang sebelumnya sudah bertarung dengan salah seorang anggota Taring Serigala tak bisa mengatakan dalam satu serangannya ia bisa membunuh orang itu. Karena orang yang tadi dia rasakan jauh lebih kuat dari pemimpin anggota Taring Serigala yang ia bunuh.
"Dia belum mati. Ciri khas dari Kelompok ini mereka memiliki kekuatan fisik yang kuat," ucap pelan Li Fang yang merujuk terhadap Ye Biu.
Li Fang merasakan saat serangannya menyentuh tubuh Bae Len, dia merasa kekuatan fisik dari orang itu sedikit setingkat di bawahnya.
Dua lapak jebol akibat hantaman tubuh Bae Len, tetapi dengan perlahan ia bangkit kembali. Aura pembunuh mencekam seketika menyelimuti desa ini, suhu sekitar seketika menurun, udara sedikit dingin. Bae Len kembali berdiri dan melesat ke depan Li Fang dan Ye Biu tubuhnya bergemetaran menahan amarah sebelum kemudian mengaum.
"Auuuuu!"
"Tolong kau bawa cucuku menjauh dari sini. Aku akan membereskan dia sendiri, kamu tidak akan bisa melawan dia. Karena jika pendekar yang mengandalkan kekuatan fisik saling bertarung membutuhkan waktu yang lama dan bisa-bisa kalian berdua menghancurkan seluruh lapak desa ini."
Ye Biu sangat amat terkejut ketika melihat Li Fang mendaratkan serangannya. Di sisi lain ia tersenyum tipis melihat kemampuan yang ia anggap sangat langka bagi seorang pemuda sepertinya.
Li Fang tak membalas lebih lanjut, ia segera menghampiri Ye Fai. Yang sedang memandang dirinya.
Ye Fai tak percaya bahwa Pemuda yang terlihat miskin tak punya apa-apa memiliki kemampuan sehebat itu. Dia bahkan merasa canggung dan sedikit bersalah saat Li Fang membantu menompa tubuhnya berdiri.
"Aku menyesal telah memperlakukannya seperti itu. Diriku tak mau lagi menyinggungnya, tidak baik bagi masa depanku..." Ye Biu berkata dalam hati. Merasa ia tak ada apa-apanya kalau bertarung dengannya.
Li Fang memberikan Ye Fai ke salah seorang pengawalnya. Dia berniat mengawasi semua anggota Taring Serigala yang terus-menerus memandangnya.
__ADS_1
"Setelah apa yang telah kalian semua lakukan. Jangan berharap kalian bisa pergi dengan mudah," ucap Li Fang seraya berjalan pelan ke arah orang-orang itu.
Langkah kakinya semakin bertambah cepat seperti berlari kecil setelah itu ia kemudian melesat dengan tinju kanan.
**
Ye Biu mengeratkan tangannya dengan keras ke gagang pedang itu. Retakan halus menjalar ke seluruh bilah pedang hingga tak lama kemudian hancur berkeping-keping. Rambut panjang Ye Biu berhembus terangkat ke segala arah sedetik setelah hancurnya pedang itu.
"Makhluk sepertimu ingin menantangku? Hanya satu orang saja yang bisa mengalahkanku di Kekaisaran ini. Dan itu di lakukan oleh seseorang yang sangat ku hormati, sahabat sekaligus panutanku."
Setelah itu, Ye Biu mengangkat tangan kiri dengan telapak tangan terbuka ke depan sembari memberi gestur pada Bae Len untuk maju. Dan setelahnya ia mengambil kedua pedang yang berserakan di tanah.
Bae Len menghiraukan gestur menyuruhnya untuk maju itu. Dengan wujudnya seperti ini pikirannya sudah tak ada lagi, yang ada hanya nafsu membunuh saja, ia akan menyerang tanpa di minta sekalipun. Tak sampai 3 tarikan nafas cakaran tangan kanannya sudah berada di Ye Biu.
Kendati begitu, sebelum serangan itu sampai, dia masih sempat berbicara. "Kecepatanmu terlalu lambat, kau bisa saja akan mati kalau bertarung dengan pemuda itu." Selepasnya, Ye Biu kemudian melompat beberapa langkah ke belakang.
Bae Len terdiam tak melanjutkan serangannya. Bibirnya berkedut tubuhnya bergetat menahan amarahnya, ia tersinggung karena pertarungannya dengan Kakek itu seperti sedang latih tanding bersamanya, mengungkap kesalahan dalam serangannya.
Bae Len kembali maju menyerang. Akan tetapi setelah beberapa serangan ia lontarkan, Ye Biu masih tetap santai menghindarinya.
"Kuda-kuda mu terlalu lebar sehingga membuat pertahananmu lemah. Kau coba lihat ini," ujar Ye Biu yang tiba-tiba telah berada di belakang Bae Len, kemudian menendang bokongnya.
Bae Len tersungkur ke depan, membuat harga dirinya jatuh.
"Grrhhh," ia bangkit berdiri menatap geram Ye Biu.
Sementara di sisi lain, Li Fang telah selesai dengan urusannya. Ia hanya ingin menuntaskan tugasnya untuk mendapatkan 'hadiah' dari Kakek itu. Semua anggota Taring Serigala bawahan Bae Len kali ini telah terbaring di tanah dengan kedua tangan dan kakinya di ikat tali rotan. Lebih buruk lagi, wajah mereka semua tidak bisa lagi di sebut wajah orang normal, Li Fang membuat wajah mereka di penuhi lebam bengkak.
Sebaliknya, sedikitpun Li Fang tak mengalami luka. Semua orang yang melihat itu merasa kagum atas apa yang di lakukan olehnya, bahkan pendekar-pendekar yang melihatnya tak percaya anak semuda itu memiliki tingkat Kultivasi sekuat itu, jauh di atas mereka yang hanya berada pada Pendekar Raja.
__ADS_1
Tak bisa ada yang membantah, kekuatan fisik yang di tunjukkan olehnya memang setara dengan Pendekar Bumi. Dan membuat mereka berasumsi bahwa anak muda itu berada pada tingkat Kultivasi itu.
"Tenang saja aku tak akan membunuh kalian semua. Namun, sebagai permintaan maafku ke macan-macan itu kalian akan ku berikan sebagai santapan mereka," ucap Li Fang sembari mengambil pedang-pedang anggota Taring Serigala, lalu dia berikan ke para penempa yang ia telah buat lapaknya hancur akibat serangannya.
Sedangkan Ye Biu terus saja terlihat menghindar dari serangan Bae Len.
"Banyak sekali kekurangan dari seranganmu. Satu saja anak buah dari pemimpin siluman macan itu, aku yakin kau tak bisa melawannya, dan sebaliknya kau akan mati."
Ye Biu kembali melompat ke belakang, tetapi kali ini ia tak terlalu jauh mundur. Dia mengangkat kedua pedangnya, mata pedangnya lurus ke depan mengarah ke dada Bae Len.
"Akan ku perlihatkan betapa jauhnya kekuatan antara kita berdua. Sang Dewa Pedang, itulah julukanku di dunia persilatan tak ada yang bisa selamat dari jurus yang sebentar lagi akan kugunakan ini, kecuali sahabatku itu."
"Pedang Angin Seribu!"
Semua pasang mata melihat dua pedang itu berubah menjadi ratusan bahkan ribuan pedang yang sedang mengarah ke tubuh Bae Len.
Srashh...
Srashh...
Srashh...
Dalam sekejap mata, dada Bae Len di penuhi luka sabetan yang sangat dalam hingga terlihat tulang-tulangnya sedikit nampak. Tubuh Bae Len seketika terjatuh di bawah tanah dengan badannya yang terpisah dari pinganggnya.
"Dewa Pedang. Beritahu kepada orang-orang di alam kematian sana bahwa itu julukan seseorang yang membunuhmu..."
**
Q : Kenapa Li Fang tidak berikan cincin ruang oleh ayahnya saat pergi meninggalkan sekte.
__ADS_1
A : Simple saja, karena dia belum punya tenaga dalam. Sementara cincin ruang untuk mengaksesnya membutuhkan tenaga dalam.