
Li Fang dan Ye Biu melesat bersama pergi ke gerbang yang baru setengah selesai di perbaiki, karena sebelumnya telah di rusak oleh Kelompok Taring Serigala. Ye Biu terlebih dahulu tiba, sedangkan beberapa detik kemudian barulah Li Fang. Sebab, kecepatan Langkah Angin meringankan tubuh Kakek itu jauh lebih cepat.
Selama perjalanan kesini, keduanya mendapati jalanan telah sepi. Di tepi jalan atau di depan lapak penempa, pendekar tak ada lagi yang membeli pedang, demikian juga penempa tiada satupun yang terlihat berada di lapaknya.
Pasalnya, selepas kejadian tadi siang, Ye Biu memberitahu untuk sementara para pendekar tidak berkunjung untuk berbelanja ke Desa selama dua hari ini. Sementara para penempa dengan sengaja di perintahkan oleh sang Kakek untuk menutup lapaknya dan bersembunyi di dalam kediamannya sebelum situasi aman.
Puluhan orang dengan jubah pakaian yang sama berkumpul di depan gerbang Desa yang telah rusak. Ye Biu dan Li Fang sudah berada di depan Siluman macan-macan itu yang di pimpin oleh Yuo Lin yang berdiri paling depan. Lima meter menjadi jarak yang memisahkan mereka.
Ye Biu tersenyum tipis memandang wanita yang telah terlihat tua itu, poni yang menutupi keningnya sepertinya hanya sebuah hiasan saja supaya agar di lihat masih muda. Sedang Yuo Lin menatap Ye Biu dengan tangan terkepal geram.
"Suatu kehormatan Desaku ini di kunjungi langsung oleh salah satu Penatua Siluman Macan. Tapi, apa gerangan nona ini datang malam-malam begini...," ucap Ye Biu yang di maksudkan ke Yuo Lin.
"Aku sama sekali tidak merasa tersanjung dengan ucapanmu itu," balas Yuo Lin dengan dengusan seraya melipat kedua tangan di depan perutnya, menatap angkuh Kakek tua itu.
Ye Biu merespons dengan senyuman tipis. "Lalu, nona beserta semua pasukannya ini mempunyai tujuan apa kesini?"
Sedang Li Fang hanya berdiam diri mendengarkan percakapan mereka berdua, dia terkejut melihat sikap wanita itu di depan sang Kakek, dan seketika membawanya untuk berasumsi bahwa ia pasti memiliki Kultivasi yang tinggi setara dengan Ye Biu.
"Waktuku tidak banyak untuk meladenimu! Sedikit pelajaran hanya ingin ku berikan padamu agar keesokan harinya kau harus lebih menghormati Ras ku!"
Seperti tadi Ye Biu membalas perkataan wanita itu menggunakan senyuman saja, tetapi senyumannya seketika pudar ketika Yuo Lin berseru.
"Serang!!!"
Setelah ia serukan perintah itu, Yuo Lin yang menggunakan pedang pendek bergerak maju menyerang Ye Biu yang belum terlalu siap, sehingga terpaksa membuat pedang itu menggores bahu kirinya, tetapi detik berikutnya ia berhasil menghindari serangan kedua hingga seterusnya dengan mudah tanpa terkena serangan wanita itu lagi.
"Nak," ucap Ye Biu sambil menghindari serangan Yuo Lin sekali-kali juga ia menangkis dengan pedang di tangannya. "Kamu tahan yang lainnya, setelah urusanku dengan wanita ini selesai segera aku akan membantumu!"
Li Fang segera memindahkan pandangannya ke puluhan Siluman Macan yang sudah mengepungnya dari segala arah. Dia juga melihat ada seorang yang tengah bergerak ke arah pertarungan Ye Biu, ia dengan cepat segera menghentikannya.
__ADS_1
Buk!
Li Fang meninju siluman itu, membuatnya terpental keras menjauhi area pertaungan antara Ye Biu dan Yuo Lin.
Melihat salah satu bawahannya terpental, Gu Feng di buat kesal. Kadang ada juga seorang Pendekar yang merasa di remehkan ketika lawannya menggunakan serangan dengan tangan kosong, karena kalau terkena serangan seperti itu mereka menganggap orang itu terlalu arogan.
Maka itulah, kebanyakan orang lebih memilih di penggal kepalanya menggunakan senjata tajam, kesannya terlihat gagah dari pada harus mati dengan serangan tangan kosong.
"Kau adalah anak muda paling arogan. Selama hidupku ini baru pertama kali aku melihat anak muda dengan sikap sepertimu, jangan bilang kalau kau menyamakan kekuatan tingkat Kultivasi kita setara!" Gu Feng menaikkan alisnya dengan tatapan sinis.
Li Fang tak merespons perkataan lelaki itu, "Mudah-mudahan kau tak menguras energi kehidupanku terlalu banyak," katanya dalam hati yang merujuk ke Pedang Langit Bumi.
Li Fang kemudian menarik Pedang itu dari sarungnya. Gu Feng segera melebarkan senyumnya. Hal utama yang sedari tadi ia mengatakan bahwa anak muda ini arogan di sebabkan oleh pedang yang masih bersarung di tangannya, sedangkan ia yakin bahwa anak muda itu pengguna pedang.
"Ku pikir kau tidak akan menggunakan pedangmu, ternyata perkiraanku salah." Gu Feng juga menarik pedangnya, sebelum berteriak lantang ke seluruh anggotanya. "Dengar, aku ingin bertarung sendiri melawan anak ini kalian semua tak perlu repot-repot, cukup hanya menonton saja."
"Aku berfikir makanan yang ku berikan kepada kalian sudah cukup untuk membuat senior-seniorku ini tertidur pulas karena kekenyangan..."
Singgg!
Seinci lagi pedang itu mendarat, Gu Feng telah melompat mundur. Wajahnya terlihat tak senang. "Pandanganku sebelumnya yang menganggap dirimu sebagai pemuda berbakat ternyata salah. Kau memang 'pemuda berbakat', tetapi dalam hal kecurangan. Aku belum siap kau sudah bergerak terlebih dahulu!"
Li Fang di buat mengerinyitkan kening, tak mengekspek akan mendengar ucapan itu. Tentu saja ia akan menyerang, tanpa menunggu lelaki itu siap.
"Tidak mungkin 'kan aku meminta izinnya terlebih dahulu, betapa pemikiran yang tak sehat," ucapnya dalam hati menertawakan lelucon itu.
"Aku pikir dengan usiamu, kau sudah tahu bahwa dalam pertarungan tidak ada yang namanya kecurangan..."
Perkataan Li Fang tak bisa di toleran lagi oleh Gu Feng. Dia memegang erat gagang pedangnya. Cahaya berwarna emas terang bersinar keluar dari atas kepalanya membentuk kepala Macan.
__ADS_1
Apa yang di katakan oleh Li Fang sepenuhnya tak salah, karena pertarungan antara mereka berdua tidak termasuk kedalam turnamen yang memiliki banyak aturan. Namun, sepertinya Gu Feng tersinggung.
Di sisi lain, Li Fang merasa heran. Pasalnya, ia merasa pedang di tangannya ini tak melakukan apa-apa terhadapnya. Dia dari awal memperkirakan perlahan-lahan pedang ini akan menyerap energi kehidupannya, hingga akan membuatnya lemas. Dan pada saat itu tiba, dia tidak akan menggunakan Pedang Langit Bumi lagi, tetapi ini...?
**
Sementara di area pertarungan antara Ye Biu sama Yuo Lin. Terlihat sang Kakek lebih unggul. Serangannya lebih bertenaga dan cepat, tetapi ia hanya memberikan luka kecil saja kepada wanita ini. Mayoritas serangannya tak mengarah ke arah vital.
Sementara Yuo Lin, dia tak menduga dan sekaligus merasa frustasi merasakan bahwa kekuatannya yang telah ia latih selama ini ternyata masih belum cukup mengalahkan Ye Biu. Dia telah meningkatkan Kultivasinya ke tingkat yang saat ini sudah berada di Pendekar Bumi puncak (satu tahap di atas Gu Feng). Merasa gagal karena masih belum bisa membalaskan dendamnya ke Kakek ini.
Dahulu saat awal-awal pertama kali Yuo Lin membawa pasukannya untuk mencari tempat tinggal, karena Ras-nya yang telah terpecah, kala ia menemukan sebuah gua, seorang Pendekar tingkat tinggi yang terkenal di juluki sebagai Dewa Pedang tak membiarkannya dengan mudah untuk bertempat tinggal di gua tersebut. Hingga membuatnya harus menelan kekalahan yang memalukan, dan membuatnya termotivasi untuk mengalahkannya.
"Haha, apa kau mau melanjutkan ini?" Berkata Ye Biu sambil tersenyum tipis.
Yuo Lin melompat mundur, darah segar keluar dari tepi mulutnya. Dia merapatkan giginya geram mendengar perkataan Ye Biu.
Di tengah-tengah pertarungan yang berhenti itu. Sebuah aura yang cukup kuat menyelimuti desa ini.
"Sudah ku bilang, jangan menggunakan kekuatan penuh!" gumam Yuo Lin mendelik tajam ke belakang tempat cahaya aura itu berasal.
Pandangan Ye Biu berlabuh ke Li Fang yang tengah berhadapan dengan salah seorang yang ia tahu adalah tangan kanan bawahan Yuo Lin.
Karena perhatiannya yang terbagi menjadi dua, hal itu membuat Yuo Lin memanfaatkannya dengan mendaratkan sebuah serangan ke tubuhnya.
"Ah!"
Bahu kanan Ye Biu terkena tebasan pedang yang cukup dalam.
"Aku harus segera menyelesaikan ini secepat mungkin, barulah setelah itu aku membantu Fang'er. Siluman itu bukan lawannya..."
__ADS_1
Setelah bergumam demikian, Ye Biu kemudian bergerak menyerang. Kecepatannya ia tambah yang sedikit lagi menjadi kecepatan maksimalnya.
Yuo Lin di buat kewalahan, sayatan-sayatan pedang telah memenuhi pedangnya. Dalam waktu singkat ia telah terjatuh kalah dengan terbatuk darah.