Legenda Pedang Surgawi

Legenda Pedang Surgawi
Ye Biu


__ADS_3

Sekitar enam ekor macan berwarna coklat keemasan menggeram kepada Li Fang. Macan-macan itu menghadangnya terlihat seperti tidak ingin membiarkan target makanannya itu untuk keluar hidup-hidup tanpa menyantapnya.


Namun begitu, meskipun ia sedikit terkejut dengan kedatangan tiba-tiba kawanan hewan buas itu, tetapi ia masih tenang. Terbukti dari mimik wajahnya yang mengangkat dua garis bibirnya menyunggingkan senyum simpul.


"Salah paham sepertinya terjadi antara kita," ucap Li Fang memandang kawanan macan. "Biarpun begitu, aku tak akan membunuh kalian semua. Hanya luka kecil akan kuberikan sebagai pengingat agar kalian tak lagi pernah menganggu manusia." Perkataan Li Fang ia akhiri dengan menambah senyum sedikit melebar.


Grrhhh!


Macan-macan itu kembali mengeluarkan raungan geraman seperdetik setelah Li Fang berkata.


Tanpa menunggu respons dan juga tak perlu terlebih dahulu memberi izin, Li Fang dengan gerak cepat melesat ke salah satu macan yang berada paling dekat dengannya sekaligus dari tubuhnya paling kecil dari yang lain.


Li Fang menendang perut samping macan itu menggunakan telapak kakinya. Dia juga tak memakai penuh kekuatan fisiknya, hanya seperempat saja.


Hasil dari tendangan itu berhasil membuat sang macan terlontar jauh sambil badannya terseret di tanah, baru beberapa saat setelah itu baru sepenuhnya tubuhnya bisa berhenti dari serekan.


Grrhhhh!!!


Macan yang terlihat bobot tubuhnya lebih dari keenamnya menggeram keras, melihat satu temannya di serang.


Kendati seperti itu, Li Fang tak berniat kembali memberi serangan lanjutan kepada sang macan itu. Ia ingin menyelesaikan ini cepat, karenanya dia lebih memilih menyerang macan-macan yang lain. Serangannya saat ini tertuju kepada macan yang tadi barusan menggeram.


Li Fang tahu macan itu adalah pemimpin dari kawanan ini. Dia juga tahu sekedar dari melihatnya saja macan itu memiliki kekuatan yang paling kuat. Makanya ia meningkatkan kekuatan serangan tendangannya sedikit naik.


Satu centi lagi tendangannya menghantam tubuh sang macan. Ia di buat kagum melihat macan itu sama sekali tak bergerak menghindar, terlihat ingin menantangnya.


Saat telapak kakinya telah tepat mendarat. Li Fang tak bisa menahan dirinya untuk melebarkan mata. Dia yakin jika seorang Pendekar Raja tahap awal sampai menengah akan terpental kuat setelah menerima serangannya. Namun, hal itu sama sekali tidak terjadi terhadap sang macan.

__ADS_1


Macan itu hanya terseret ke samping sekitar beberapa meter saja. Matanya tak menunjukkan sama sekali rasa takut, malahan terlihat semakin marah.


Grrhhh!!!


Macan itu kembali menggeram keras. Sedetik kemudiannya macan-macan yang lain melompat ke Li Fang dengan cakaran ingin merobek tubuh pemuda itu.


Li Fang bisa menghindari itu tanpa membiarkan cakar itu menyentuh kulitnya. Namun demikian, ia harus menggunakan penuh refleks kecepatannya. Karena dia di kejutkan dengan serangan yang datang tiba-tiba itu.


"Apakah macan ini juga siluman?" gumam tanya Li Fang. Ia kembali di ingatkan ular-ular bersisik hitam itu yang mempunyai otak sama seperti manusia, bahkan bisa berubah wujud.


Li Fang menjaga jarak se aman mungkin. Dia tertarik untuk mengamati sebentar tubuh macan besar itu. Namun, sesuatu yang tidak di sangka-sangka sama sekali terjadi. Seorang lelaki berbadan tegap yang seluruh rambutnya telah memutih tiba-tiba berdiri di depannya sambil pandangannya fokus memandang ke kawanan macan.


**


Tidak jauh dari gerbang Desa dua orang yang memakai pakaian jubah abu-abu terlihat memata-matai Desa para penempa ini. Tak lama dua orang itu telah menghilang dan pergi ke suatu tempat.


Mereka adalah anggota dari Kelompok Taring Serigala yang di berikan tugas oleh Gong Xui, dua jam sudah mereka di sini. Sekitar tiga puluh orang ini di pimpin oleh seorang Penatua. Karena Gong Xui membagi anggotanya ke beberapa kubu, dan di dalam satu kubu terdapat sekitar puluhan orang yang masing-masing di pimpin oleh satu Penatua.


Penatua di kubu ini bernama Bae Len, dia berada paling depan di antara yang lainnya.


"Lapor Penatua, pemilik Desa yang di maksud sepertinya telah lama mati. Karena menurut kabar orang itu sekitar puluhan tahun yang lalu telah mati. Dan deteksiku tak mendapat aura kuatnya." Salah seorang dari dua orang yang dari tadi mengamati Desa telah memberikan laporannya.


Bae Len mengarahkan matanya memandang arah gerbang Desa berada. "Tidak mungkin orang berkemampuan tinggi bisa meregang nyawa tanpa sebab tak di ketahui. Setidaknya, dia mati di tangan seorang Pendekar kuat," gumamnya sebelum kemudian menggeleng pelan.


"Mudah-mudahan kabar itu benar." Bae Len kembali bergumam pelan, lalu kemudian berseru lantang. "Ayo kita bergegas masuk kedalam, perasaanku mengatakan ketiga penyusup itu berada di dalam Desa ini!"


Sedetik selepas seruan itu mereka kemudian bergegas masuk ke gerbang Desa.

__ADS_1


**


Macan-macan yang ingin menyerang itu tak melanjutkan gerakannya untuk menyerang Li Fang. Mereka berhenti paksa tepat di depan Lelaki itu, lalu kembali berkumpul ke samping macan pemimpin mereka.


Melihat anak buahnya terlihat takut. Macan bertubuh besar itu kemudian menggeram dengan membuka mulutnya lama.


"Grrhhh!!!"


Burung-burung berterbangan tak tentu arah setelah mendengar raungan itu, meninggalkan sarangnya.


Li Fang yang sebelumnya memiliki asumsi bahwa macan itu adalah seekor siluman ternyata benar. Aura cahaya berwarna emas mengepul di tubuh macan itu. Dan seketika juga telah berubah wujud menjadi seorang manusia. Kelimanya yang lain juga telah berubah wujud.


Berbagai jenis usia terdapat ke enam orang di depannya itu. Terlihat paling tua adalah seorang pria yang berdiri paling depan di antara kelimanya, sedangkan yang lainnya berusian paruh baya.


"Aku tak bermaksud untuk menyerang muridmu, Pendekar Ye. Namun, dia lah yang berani masuk semau-maunya ke wilayahku, dan itu sudah ku amati selama dua hari ini."


Timbre dari suara itu berat dan serak. Aura mencekam sedikit menusuk setelah lelaki tua itu melontarkan beberapa kalimat.


Tak ada respons dari ucapannya, hanya tatapan dingin saja yang ia dapatkan. "Akan ku lupakan kejadian ini, jika muridmu itu tak melanggar perjanjian kita lagi."


Sehabis itu semuanya kembali ke wujud macan. Dan pergi meninggalkan Li Fang yang sedang kebingungan.


"Murid? Siapa yang ia maksud sebagai murid? " katanya dalam hati.


"Jangan kau lagi berani menganggu mereka dengan masuk kewilayahnya. Jika aku tidak ada, mungkin dirimu sudah tiada habis di cabik-cabik oleh macan itu," ucap lelaki itu sambil membalikkan badannya ke Li Fang.


"Kau! Mengapa kau kesini. Aku tidak menduga orang tua seperti mu masih memiliki sifat kanak-kanak dengan mengikutiku!"

__ADS_1


"Aku muak terhadap panggilan tak sopanmu kepadaku, Anak muda. Namaku Ye Biu kau bisa memanggil ku seperti itu."


__ADS_2