Legenda Pedang Surgawi

Legenda Pedang Surgawi
Berita Tentang Ketiga Penyusup


__ADS_3

Ketiganya saat ini berada di tengah-tengah hutan. Li Fang tahu hutan ini terhubung ke jalan pintas yang sebelumnya ia lalui. Namun, ia tak tahu ke mana arahnya untuk sampai kesana.


Jubah hitam yang mereka bertiga pakai selama seminggu telah tak di gunakan lagi. Menunjukkan jubah pakaian berwarna hijau yang di pakai oleh Jia Song dan Jia Bingbu.


"Sekte kalian pasti ada hubungannya dengan tumbuhan yang berwarna hijau," ucap Li Fang sedikit tertarik ke warna jubah pakaian milik mereka berdua.


Jia Song tersenyum canggung. "Hehe. Benar, maka karena itulah Sekte kami bernama Hijau Daun. Karena daun-daun dari seluruh jenis tumbuhan berwarna hijau tumbuh dengan subur di sana."


"Oh, benarkah, mendengar perkataannmu aku menjadi tertarik ingin kesana."


Li Fang tertarik ingin pergi ke Sekte mereka berdua, setelah mengetahui di sana banyak tumbuh daun-daun. Karena dirinya sangat menyukai ke sejukan, ia berniat setelah ini pergi ke semua tempat yang memiliki udara sejuk.


"Meskipun, di sana jumlah murid wanita sangat sedikit. Namun, wajah dari semuanya cantik-cantik, aku akan mengenalkan mereka nanti padamu, Saudara Fang." Celetuk Jia Bingbu.


"Di pikiranmu hanya ada wanita saja. Lebih kau pikirkan kemana kita akan berjalan..."


Jia Bingbu tak membalas ucapannya, ia hanya mendengus kesal ke arah Jia Song. Mereka bertiga telah lama berjalan tak tentu arah. Kemana langkah kaki bergerak ke sanalah mereka akan pergi.


"Lebih baik, kita beristirahat di bawah pohon besar itu saja," kata Li Fang seraya tangannya menunjuk sebuah pohon. " Larut malam begini, hewan-hewan buas tengah mencari makanannya. Aku takut kita akan menarik perhatian."


Karena batang pohon itu besar, mereka menggunakannya sebagai sandaran tubuh.


"Saudara Bu, bisakah engkau mencari kayu bakar."


Tidak banyak berkata, Jia Bingbu mengangguk dan berjalan ke sekitar tempat pohon mereka ini bersandar.


Li Fang berniat membuat api unggun menggunakan teknik pengapian yang biasa di lakukan oleh seorang pengembara. Dia belajar dari Wu San sewaktu berada di hutan kabut.


Tak lama, Jia Bingbu sudah kembali dengan membawa cukup kayu bakar.


Jia Song yang melihat Li Fang membuat api unggun, semakin di buat penasaran ingin mengetahui siapa dia sebenarnya.


"Siapa anak ini sebenarnya, mengapa dia sudah mengetahui banyak hal. Padahal, usianya bahkan jauh lebih muda dari ku." Batin Jia Song sambil diam-diam memandang Li Fang.


Beberapa lama berlalu udara dingin di tambah dengan hangatnya api unggun. Membuat mereka bertiga tidur dengan nyenyak. Kendati begitu, mereka masih memasang sikap waspada. Kedua pedang Jia Song dan Jia Bingbu ia tancapkan di tanah depan mereka, sehingga apabila hewan buas datang mereka hanya perlu menariknya saja.


**

__ADS_1


Beberapa jam setelah serangan yang terjadi di cabang markas aliansi Aliran Hitam. Berita itu telah menyeruak ke seluruh dunia persilatan.


Saat ini, di situasi seperti sekarang. Informasi sangat di butuhkan oleh kubu Aliran Putih maupun Aliran Hitam. Berita penyusup yang menyerang salah satu cabang markas Aliansinya membuat Mo Xing tak bisa menahan amarah kedapa seluruh anggotanya yang di tugaskan ke sana.


"Yang Shu dan Ming Ling akan mengejekku habis-habisan. Setelah apa yang anggotaku di sana tak becus menjalankan pekerjaannya," guman Mo Xing pelan sambil sekali lagi melayangkan pertanyaan ke anggotanya, "berapa banyak anggota yang tewas di sana?"


"Ti-tidak ada, Ketua. Hanya Penatua Lang saja, sedangkan Penatua Yun sekarat." Wajah dari anggota yang bertugas sebagai informannya terlihat kaku ketakutan.


Mo Xing tersentak nendengar perkataannya. "Apa, coba kau ulangi lagi. Mungkin, ucapanmu tak terlalu jelas untuk telingaku dengar."


Anggotanya kembali mengulangi perkataannya. "Sa-satupun anggota kita tak ada yang tewas, Ketua..."


Untuk kedua kalinya, Mo Xing kembali di buat tersentak kaget.


"Jangan kau berbohong kepadaku! Ku penggal kepalamu baru tahu rasa kau!" Mo Xing menarik rambut anggotanya.


"Aku sama sekali tak berbohong, Ketua... Yang kukatakan adalah benar, anggota kita tidak yang tewas maupun terluka."


Melihat anggotanya memohon ampun, membuat Mo Xing percaya dengan ucapannya. Dia di paksa untuk mengerutkan dahi kebingungan.


"Apa mereka tidak melakukan tugasnya dan membiarkan ketiga penyusup itu mengacaukan markas kita!" Kesal Mo Xing memukul meja membuat minumannya tumpah.


Gong Xui adalah Ketua dari Kelompok Taring Serigala. Mo Xing dan Gong Xui mempunyai hubungan darah sebagai seorang saudara sepupu.


"Aku tak heran, mereka tewas. Semua anggota kelompok yang di Ketuai oleh sepupuku itu memang sombong akan kemampuannya."


Mo Xing kembali duduk di kursinya. Amarahnya sudah terlihat lebih meredam, tetapi ia masih bertanya-tanya tentang identitaa ketiga penyusup itu.


"Sekarang aku harus lebih mengetatkan penjagaan cabang markas yang lain. Ketiga penyusup itu mempunyai strategi yang sangat licik dan juga mematikan."


Aliansi Aliran Hitam akan beranggapan bahwa pelakunya adalah Aliran Putih. Namun, saat ini pun, di dalam ruangannya ia sedang berfikir. Setelah mendengar informasi dari telik sandi yang ia sebar tentang penyerangan di salah satu cabang markas Aliran Hitam.


"Mudah-mudahan ketiga penyusup itu berada di pihak Aliran Putih..."


Wen Hwa sangat mengharapkan itu. Mengetahui penyerangan itu hanya di lakukan oleh tiga orang dan berhasil membunuh salah satu Penatua Aliran Hitam. Membuatnya yakin bahwa ketiga individu itu memiliki kemampuan yang hebat.


**

__ADS_1


Kicauan burung di tambah sinar matahari. Berhasil membangunkan Li Fang dan Jia Song, sedangkan Jia Bingbu masih mengalunkan dengkurannya.


"Kakak Song, tolong bangunkan Saudara Bu. Hari ini sebelum matahari terbenam, kita bertiga harus segera berada di luar hutan ini."


Li Fang kembali di ingatkan sewaktu dirinya di gendong terbang ke udara oleh Pamannya, Wu San.


"Seandainya aku sekuat, Paman. Keluar dari dalam hutan tak akan selulit ini." Li Fang berkata dalam hati.


Baru saja bangun dari tidurnya, Jia Bingbu sudah membuka mulutnya. "Pagi ini, kita akan berjalan ke arah mana, Saudara Fang?"


"Kemana kedua kaki kita akan melangkah, di situlah kita berada. Aku memutuskan untuk kita pergi ke arah barat. Berdoa saja kita bertiga tak masuk ke wilayah hewan buas."


Mereka berdua hanya mengangguk. Karena sudah tak punya pilihan lain.


"Tapi ingat, kita harus bersama terus." Jia Song berkata menambahkan.


Hampir seharian berjalan, wajah mereka seketika sumringah. Sedikit lagi mereka bertiga berjalan, ketiganya akan keluar dari dalam hutan yang luas ini.


"Akhirnya, usaha kita terbayarkan," ucap lelah Jia Bingbu dengan nafas terengah-terengah.


Mereka bertiga terus berjalan keluar hutan.


"Awas, berhenti!"


Li Fang yang sejak awal memimpin jalan dengan berada paling depan, tiba-tiba meregangkan kedua tangannya memberi tanda kepada mereka berdua untuk berhenti.


"Ada apa, Adik Fang?" tanya Jia Song sambil berjalan pelan menghampiri Li Fang yang terus memandang ke suatu arah.


"Lihat di bawah sana, ada sebuah desa."


Jia Song dan Jia Bingbu segera mengalihkan pandangan ke arah yang di tunjuk Li Fang.


"Melihat dari atas sini, Desa itu terlihat sangat indah..."


"Benar," balas singkat Li Fang terhadap keterkejutan mereka berdua.


Tempat mereka bertiga sekarang berdiri, berada di dataran tinggi. Li Fang berasumsi warga-warga dari Desa itu sering ke dalam hutan ini. Dia melihat sebuah jalur jalanan menurun yang menghubungkan hutan ini ke bawah.

__ADS_1


Li Fang, Jia Song, dan Jia Bingbu kemudian berjalan turun melewati jalur jalanan yang sudah ada.


__ADS_2