Legenda Pedang Surgawi

Legenda Pedang Surgawi
Rencana Li Fang


__ADS_3

Seminggu sudah. Li Fang, Jia Song, Jia Bingbu menyusup di sini. Selama di sini, Li Fang mengetahui aktivitas semua anggota Pendekar aliansi Aliran Hitam, hanya makan dan tidur.


Mereka yang di tugaskan menjaga tempat ini sekaligus berfungsi sebagai markas pertahanan cadangan, jika di butuhkan untuk berperang mereka akan di utus. Namun, fakta itu berbalik, semua yang ada di sini hanya hidup bersenang-senang. Penjagaan di sini sangat longgar.


Li Fang membagi tugas kepada Jia Song dan Jia Bingbu. Karena mereka berdua masuk kesini dengan menotok anggota yang menjaga di pos, maka itu keduanya bertugas di sana menyamar sebagai penjaga pos gerbang.


Kendati begitu, Jia Song dan Jia Bingbu tak sepenuhnya menjadi penjaga pos gerbang. Kakak beradik itu menjalankan tugas yang berikan oleh Li Fang. Dalam 7 hari hari ini mereka berdua mengawas di depan, jika ada tamu dari Aliran Hitam berkunjung. Salah satu dari keduanya akan melapor.


"Kak, apakah ada tamu yang berkunjung hari ini?" tanya Jia Bingbu.


"Hari ini, hanya anggota dalam saja yang keluar masuk gerbang."


Jia Bingbu bertanya demikian. Pasalnya, kegiatan ia seharian ini hanya tertidur saja.


**


Sementara di dalam. Li Fang terus berkeliling mencari cara untuk menyempurnakan rencananya. Seminggu ini apa yang di lakukan oleh ia tak berbeda jauh dengan Jia Song dan Jia Bingbu.


Karena di sini dia adalah kepala strategi dari rencana sebentar lagi yang akan lakukan oleh mereka. Wajar, jika, dirinya sangat sibuk selama seminggu ini. Telinganya bekerja sangat baik selama seminggu ini. Dia banyak mencuri informasi ketika anggota-anggota sedang berbincang. Namun, informasi yang paling penting. Ia dapatkan dari mulut dua Penatua itu, saat dirinya di suruh untuk memijat tubuh keduanya.


Informasi yang didengarnya pada sat itu. Awalnya, membuat dirinya bingung. Inti pembicaraan yang ia ambil dari perbincangan antara kedua Penatua itu adalah; Aliansi Aliran Hitam akan menyerang secara diam-diam. Dia juga sedikit mendengar nama Sekte Merpati Putih di sebut. Tapi ia tak tahu apa hubungan antara penyerangan itu dengan Sekte tersebut.


Karena kebingungan itulah ia bertanya ke Jia Song tentang Sekte Merpati Putih. Jia Song memberikannya jawaban bahwa yang ia tahu Sekte itu adalah Sekte Aliran Putih terbesar dan terkuat di seluruh Kekaisaran ini.


Li Fang lantas mengingat kembali Sekte Pedang Abadi yang di serang dulu. Dia menghubungkan lalu menyimpulkan bahwa penyerangan secara diam-diam tersebut akan berikan ke Sekte Merpati Putih.


"Tidak akan ku biarkan itu terjadi, kalian semua akan merasa menyesal telah melalukan ini semua!"


Li Fang sekarang tengah berada di kandang kuda. Setelah selesai menyusun rencana, ia berniat ketika malam tiba untuk membakar kandang ini. Agar pada saat ia selesai melakukan rencana utamanya, musuh-musuhnya tak dapat mengejar mereka bertiga.


"Akan sangat menyusahkan bila mereka mengejar dengan memakai kuda...," lanjut Li Fang sambil tersenyum licik, "ini adalah awal dari terealisasinya rencanaku, dan Jia Song."

__ADS_1


Li Fang berhasil mengkorek lebih dalam lagi tentang tujuan Jia Song sebenarnya ke sini. Menguntitnya adalah suatu alasan yang di buat-buat olehnya. Jia Song memang tak memberitahunya secara rinci, tetapi secara garis besarnya kedua orang tuanya di bunuh oleh salah satu Pemimpin Kelompok Aliran Hitam. Dan, Jia Bingbu sama sekali tak mengetahui itu, karena apa yang ia dengar dari ceritanya. Kala itu Jia Song masih kecil pada saat pembunuhan kedua orang tuanya.


"Sudah cukup untuk kalian semua membuat kegaduhan di dunia ini. Aku akan memusnahkan seluruh Pendekar Aliran Hitam sampai ke akarnya..."


Setelah berkata demikian, Li Fang berniat ke pos penjaga menemui mereka berdua untuk sekali lagi menyempurnakan rencananya yang akan di lakukan malam ini.


Namun, saat ia sedang berjalan menuju ke pos penjaga gerbang. Li Fang melihat segerombolan orang-orang berkuda berhenti tepat di ambang gerbang. Dan terlihat Jia Song menghampirinya.


**


Sebentar lagi, sore akan berganti malam. Selama seminggu, pada jam-jam ini Jia Song akan mengunci gerbang, karena itu sudah menjadi peraturan di sini.


Hari pertama, sampai petang telah berlalu. Jia Song tidak menutup gerbang, salah satu Penatua yang melihatnya tak becus untuk melakukan tugas, langsung memberikan tamparan ke keduanya sambil memaki-maki.


Namun, ketika merasa jam begini, gerbang harus di tutup. Segerombolan orang berkuda menggunakan jubah abu-abu datang, untuk menghentikan niatnya menutup gerbang ini.


"Ada perlu apa, Tuan-tuan kesini?" tanya Jia Song.


"Tak ada urusannya denganmu, manusia rendahan! Kau hanya di tugaskan untuk membuka dan menutup gerbang ini!" Nada dari hinaan itu sangat tidak bersahabat.


Itu wajar, karena kata-kata sopan sudah menjadi racun bagi Pendekar Aliran Hitam. Yang bisa di lakukan mereka hanya bisa menghina dan menginjak-injak yang lemah.


Jia Song berusaha tak menunjukkan kegeramannya atas hinaan itu. Dia melipat kedua tangannya di belakang jubahnya sambil mengepalkan tangan dengan geram.


Jia Song menghela nafas, lalu kemudian berbicara tanpa menunjukkan ketidak senagannya kepada mereka. "Saya cuma menjalankan tugas, Tuan. Tepat pada waktu ini gerbang harus segera di kunci, dan seseorang tak boleh di perbolehkan untuk masuk lagi..."


Salah satu dari mereka yang berada di belakang, melangkah maju. "Oi, apa kau tahu kami ini siapa?! Penatua yang memimpin markas ini bahkan takut kepada kami."


"Tapi, Tuan.... Saya takut untuk melanggar tugas saya."


Jia Song berusaha dengan keras untuk menahan agar mereka tidak masuk. Rencana yang sudah ia susun bersama Li Fang seminggu ini akan sia-sia. Jika, mereka semua masuk ke sini.

__ADS_1


"Apa! Apa aku tidak salah dengar dengan ucapanmu itu. Kami anggota dari Taring serigala tak pernah mendapatkan perlakuan sepertimu. Baru menjadi penjaga pos gerbang saja sudah kelewatan begini! Minggir kita semua mau lewat!"


Orang itu kemudian mengangkat tangannya, memerintahkan yang lain untuk masuk.


"Untung saja, Kakakku tidak membunuhmu," ucap salah dari mereka sambil menyeringai.


Jia Song terpaksa menghindar dari menghalangi jalan mereka. Dia tidak bodoh ingin terluka dengan cuma-cuma di tabrak oleh kuda. Dia memandang mereka semua yang telah masuk dengan tatapan penuh dendam.


"Se-sebentar lagi a-akan kubunuh kalian semua...," katanya sambil merapatkan giginya.


Pada saat orang itu mengangkat tangannya. Dia melihat di lengannya terdapat tato bergambar taring serigala. Ia mengingat salah satu dari orang yang membunuh kedua orang tuanya mempunyai ciri seperti itu.


Dirinya merasa Kelompok Aliran Hitam itu adalah yang paling bejat, karena telah membunuh kedua orang tuanya.


"Ada apa, Kak. Apakah sesuatu yang tak di harapkan, terjadi?" tanya Jia Bingbu yang sedang berada di pos saat melihat Jia Song datang dengan ekspresi yang berbeda dari sehari-harinya yang ia ketahui, biasanya ceria.


"Tidak apa-apa. Kamu tidak perlu mengurus Kakak. Yang kamu pentingkan adalah mentalmu, karena sebentar lagi kita akan membunuh banyak orang."


"Tenang saja, Kak. Aku telah siap melakukan ini. Lagipula, mereka semua pantas mendapatkan itu. Ini demi Saudara Fang!"


Sementara di tempat Li Fang...


"Syukurlah dia tidak terbawa emosi dengan ucapan orang-orang itu."


Sedari tadi Li Fang hanya berdiri di sini. Walaupun tempatnya agak jauh, tetapi ia masih bisa mendengar pembicaraan antara Jia Song dengan orang-orang berkuda itu cukup jelas.


"Aku sudah mempersiapkan strategi cadanganku. Tenang saja, Kakak Song, tak perlu khawatir," ujarnya sambil berjalan ke tempat Jia Song dan Jia Bingbu.


**


Note : Kelompok Serigala Taring yang di ketuai Ming Ling berbeda dengan Kelompok Taring Serigala.

__ADS_1


__ADS_2