Legenda Pedang Surgawi

Legenda Pedang Surgawi
Sang Kakek


__ADS_3

Mencakup bidang apa saja. Ketika melakukan transaksi jual beli antara kubu dari kedua sisi. Seorang pembeli akan di perlakukan baik bak seorang raja, penjual akan mempromosikan apa yang di jualnya sebisanya dan bahkan ada pula yang sampai memuji-muji kepribadian dengan kata lain 'menjilat' seseorang agar mau membeli.


Dan pada hari ini, di dalam gubuk ini. Apa yang di gaungkan tentang sikap pedagang ketika bertemu pembeli seakan terbalik saat Li Fang bertemu Kakek itu. Dia tidak menduga kali ini hal tak bersahabat terjadi kepadanya tanpa suatu alasan yang tak di mengerti dirinya.


Mulanya, ia masuk kesini karena tertarik. Dan saat mendengar di dalamnya ada suara tempaan besi, Li Fang berniat ingin melihat kualitas pedang yang di buat oleh seseorang itu.


Namun, saat ini ia merasa ingin kembali keluar dari dalam gubuk ini. Atas ketertarikan itu lah dirinya di bawa kesini dan saling bertatap dengan sorot mata tak bersahabat itu.


"Mo-mohon maaf. Mungkin aku salah masuk..."


Li Fang merasakan dirinya tiba-tiba tidak nyaman berada di dalam sini. Saat melihat tatapannya, ia yakin Kakek sepuh itu tak suka dengan keberadaannya di sini. Dari tatapannya ia mengartikan, bahwa dirinya di anggap sebagai nyamuk pengganggu yang tiba-tiba masuk.


"Mau kemana kau?" Berkata sang Kakek, melihat Li Fang berbalik ingin keluar.


**


Kakak beradik ini baru saja selesai berbelanja. Mereka berdua masing-masing membeli satu pedang.


Tetapi, ada hal berbeda dari jumlah mereka saat ini yang bertambah satu. Jia Song dan Jia Bingbu bersama dengan seorang lelaki sekilas berusia 30 tahunan bergabung sama keduanya. Mereka bertiga sekarang berdiri di luar gerbang masuk Desa.


"Song'er, Paman tak punya waktu lagi. Lebih baik kamu hiraukan temanmu itu, urusan Sekte saat ini lebih penting dari apapun."


Wajah dari Jia Hong sedikit kesal. Ia dan kedua keponakannya itu telah berdiri di sini selama hampir satu jam. Lelaki setengah baya itu adalah Adik dari ibu Jia Song dan Jia Bingbu.


"Sebentar lagi, Paman. Jika temanku tak datang kita akan segera pergi," balas Jia Song. Sedangkan Jia Bingbu terlihat sedang asyik memainkan pedang baru yang ia beli.


Mereka bertiga tak sengaja bertemu di salah satu lapak penempa. Jia Hong membeli banyak sekali bilah besi mau itu pisau ataupun pedang. Pertemuan tidak di sengaja ini menjadi ajang pelepas kerinduan. Sebab, Jia Song dan Jia Bingbu sudah lama tak bertemu dengannya, sejak terakhir sebelum mereka berdua keluar Sekte.


Jia Hong memberitahu alasan ia berada di sini. Dia mengatakan bahwa ini atas perintah Ketua. Dan yang lebih mengejutkan Kakak beradik itu, semua pedang dan pisau yang banyak ia beli dari para penempa akan di gunakan untuk sebagai persiapan untuk sesuatu besar yang sebentar lagi akan terjadi.


Jia Song lalu mengerti apa yang di maksud oleh Pamannya. Sebuah peperangan sepertinya akan terjadi antara Sekte Hijau Daun yang sudah lama bersitegang dengan penguasa Bukit yang letaknya berada di dekat Sektenya.


"Sebentar? Kamu tak menyebut secara rinci waktunya...," Jia Hong mendegus kasar.


**


"Sepertinya, kalian akan membayar 2 keping emas kepadaku!"

__ADS_1


"Jangan senang dulu, kita tunggu beberapa saat lagi. Dan aku yakin Pemuda itu akan terhempas keluar dari gubuk itu dengan luka di tubuh..."


Ketiga orang itu tak pernah melepaskan pandangannya dari gubuk itu. Mereka merasakan perasaan yang sama, tetapi dengan harapan yang berbeda. Di dalam hati ada yang berdoa buruk kepda pemuda itu, namun ada juga yang baik.


Sedangkan di dalam, Li Fang hanya duduk diam di atas kursi memandang Kakek sepuh itu yang sedang menempa besi. Dia tidak tahu sudah berapa lama dirinya duduk di sini sambil memandangi Kakek yang hanya fokus terhadap besinya, sementara ia di cueki.


"Dia memperlakukanku seperti ini, tetapi mengapa pada saat tadi aku ingin pergi dia malah menahanku?" Li Fang bertanya-tanya dalam hati.


Li Fang di buat bingung terhadap sifat labil Kakek itu. Mungkin sepanjang hidupnya orang yang di temui, Kakek itu adalah yang paling aneh dan absurd.


"Coba kau nyalakan penerangan di dekatmu itu," perinta sang Kakek.


"Ah? Apa dia hanya ingin menggunakanku sebagai asistennya?!"


Li Fang tak menolak permintaan Kakek itu. Dia bergerak menyalakan penerangan gubuk ini, karena beberapa saat lagi akan gelap.


"Jadi apa tujuanmu kesini? Bila kau ingin membeli pedang, aku tak akan menjualnya," ucap sang Kakek tanpa menoleh kepadanya.


Li Fang tidak tahu harus memberi balasan apa. Pasalnya, ia kesini tidak mempunyai niat khusus untuk membeli pedang. Akan tetapi, dalam ucapan Kakek itu, ia merasa tertarik dengan empat patah kata terakhirnya.


"Kau bisa tanya kepada seluruh penempa di Desa ini. Namun, aku punya alasan berbeda terhadap dirimu."


"Apa?"


"Pertama-tama ku beritahukan kedapamu, agar tak perlu lagi menyembunyikannya. Diriku merasakan kehinaan yang tak pernah ku alami."


Li Fang menaikkan kedua alisnya, mendengar perkataannya yang terdengar seperti melantur. Dia sama sekali apa yang Kakek itu maksud dengan menyembunyikan.


"Kedua...," lanjutnya.


"Ini masih berhubungan dengan yang pertama. Karena kau sudah memiliki sebuah pusaka. Tidak ku tahu pusaka apa yang kau sembunyikan itu, tetapi meskipun samar-samar auranya sangat kuat. Maka aku tak akan menjual pedang yang telah ku buat padamu."


Sontak Li Fang kaget setelah mendengarnya. Dia berdiri agak jauh darinya sambil memasang sikap siaga dan waspada.


"Dari mana kau tahu, bahwa aku memiliki sebuah pusaka!"


"Hahaha, sungguh kau mengatakan hal yang bodoh, Anak Muda. Aura seperti itu sudah aku kenal lebih dahulu sebelum kamu, karena diriku juga mempunyai sebuah pusaka namun bentuknya adalah pedang....

__ADS_1


"Sebagai yang lebih senior darimu. Aku sarankan agar kau harus lebih mengetahui lagi, mana seseorang yang mempunyai niat jahat dan baik. Jangan pikiranmu tanamkan bahwa sikap yang tadi ku tunjukkan kepadamu itu, lalu kau opinikan aku ini orang jahat."


"Aku menyesal berada di sini!" Li Fang segera keluar dari dalam gubuk ini.


Melihat hal itu, sang Kakek segera menahannya. Dengan memegang lengannya. "Tak ada niat jahat dalam diriku. Aku hanya sekedar ingin mengenalmu."


Tentang itu, Li Fang tak terlalu mau berkenalan dengan orang lain, cukup Jia Song dan Jia Bingbu saja. Dia mempunyai tujuan yang lebih penting dari sekedar mempunyai banyak teman. Ia sengaja membiarkan sebentar tangan Kakek itu menahannya. Namun, setelah beberapa saat ia tak kunjung melepaskan tangannya.


Li Fang lantas mengambil langkah yang biasa ia lakukan. Memberikan serangan peringatan dengan melayangkan sebuah tinjuan.


"Maaf, aku sebenarnya menghormati yang lebih tua. Namun, karena kau berusaha mengangguku..."


Li Fang melayangkan tinjuan ke tangan Kakek itu. Dia tak memakai penuh kekuatannya, sehingga mudah di hindari oleh sang Kakek.


"Kau ternyata anak muda yang tempramen," respons sang Kakek dengan senyum simpul. "Namun, aku tak tersinggung atas apa yang kau coba lakukan terhadapku tadi. Sekarang pergilah aku tak akan menahanmu."


Melihat Pemuda itu keluar dari dalam gubuk tanpa mengalami luka atau yang di harapkan oleh kedua orang itu. Membuat salah satu dari ketiganya berkata girang.


"Sesuai dengan perjanjian, karena aku yang menang atas taruhan ini. Tak perlu ku tanyakan lebih lanjut dong...Berikan cepat keping emas kalian!"


Setelah ia keluar dari gubuk itu, dalam perjalanannya wajahnya terlihat jengkel.


Meski belum terlalu lama di sini, tapi ia cukup tahu jalan ke gerbang Desa ini. Akan tetapi, tak sesuai dengan yang di harapkannya. Ia tak mendapati Kakak beradik itu di sini.


"Kemana mereka? Tidak mungkin mereka berdua belanja selama ini."


"Tuan, Tuan."


Li Fang berbalik sesaat setelah mendengar seseorang seperti memanggilnya.


"Teman Anda, menitipkan ini kepada saya untuk di berikan kepada, Tuan."


Li Fang mengambil sebuah lencana berwarna hijau dengan sehelai kertas yang di berikan oleh orang itu. Dia lantas membuka kertas yang di lipat lipis itu.


~Adik Fang, ku tunggu kedatanganmu di Sekteku~


Pesan singkat itu berhasil membuat kening Li Fang mengerinyit.

__ADS_1


__ADS_2