
Dua minggu sudah berlalu, orang tua San Lin juga belum kembali. Membuat anak itu semakin bersedih. Dalam dua minggu ini, ia tidak selera untuk melakukan apapun. Bahkan ketika temannya mengajaknya bermain ia tidak menanggapi.
Didalam hatinya hanya ada kesepian dan kerinduan, yang ia butuhkan adalah sebuah pelukan hangat dari ayah dan ibunya. Namun apa yang dia dapatkan hanyalah menyendiri di rumah tuanya yang gelap.
Suatu saat, tabib Kang Ho sedang berjalan melewati rumah San Lin. Tabib Kang Ho bingung, kenapa selama dua minggu ini rumah Tang Jun selalu gelap jika malam sudah tiba. Karena tidak dapat menahan rasa penasaran nya, ia pun mendatangi rumah itu.
"Permisi, Tuan Jun apakah anda didalam?.. " Ujar Kang Ho memanggil, namun tidak ada suara.
"Tuan Jun?.. " Panggilnya lagi, namun masih tidak ada jawaban.
Kang Ho menggelengkan kepalanya, mungkin Tang Jun dan Tang Yu masih di ladang mereka pikirnya. Namun ketika ia ingin meninggalkan rumah tua itu, sayup-sayup suara tangisan anak kecil terdengar. Kang Ho menyeritkan keningnya, ia sangat mengenal suara ini, siapa lagi kalau bukan San Lin.
Akhirnya Kang Ho pun membuka pintu rumah yang tak terkunci, dan apa yang ia lihat pertama kali adalah kegelapan! Kang Ho menyalakan obor yang ia bawa, lalu ia berjalan kearah suara tangisan.
Kang Ho menemukan San Lin duduk bersender di samping tempat tidur, disana San Lin menyembunyikan wajahnya di kedua lututnya.
"Lin? Ada apa dengan mu? Kenapa kamu menangis?.. " Tanyanya penasaran. Satu hal yang paling Kang Ho tidak bisa lihat adalah, seorang anak kecil yang menangis.
San Lin mendongak dan menunjukkan wajah bersihnya yang di nodai oleh air mata. "Kakek Ho... Ayah dan Ibu sudah pergi selama dua minggu, dan sampai saat ini belum kembali.. " Ujarnya seraya terisak-isak.
Kang Ho sangat terkejut dengan San Lin yang mengadu padanya. "Apa? Kemana mereka pergi?.. " Tanya nya lagi.
San Lin menggelengkan kepalanya, "Tidak tahu.. "
Kang Ho semakin menyeritkan keningnya, "Apa ayah dan ibumu tidak mengatakan apapun padamu?.. "
__ADS_1
San Lin tidak menjawab, namun ia menyodorkan sepucuk surat pada Kang Ho. Kang Ho pun menerimanya dan membacanya. Setelah selesai membacanya, Kang Ho mengehela nafas tidak berdaya. Pasalnya di surat itu tidak tertulis kemana mereka pergi dan kapan kembali.
Di surat itu hanya tertulis bahwa keduanya memiliki urusan sangat penting dan akan kembali setelah urusan selesai. Kang Ho merasa ikut sedih dengan nasib San Lin, pasalnya ia juga sudah tahu dari mana dan apa yang menimpa San Lin. Ia mengetahui itu dari Tang Jun sendiri. Dan hanya mereka bertiga yang tahu itu.
Lantas Kang Ho pun mengangkat San Lin ke dalam gendongannya dan berkata, "Tidak usah sedih Lin. Ayah dan ibumu mungkin akan kembali sebentar lagi.. "
"Benar kah?.. " Tanya San Lin kembali dengan polosnya.
"Ya, jadi untuk menunggunya kamu mau tinggal dengan kakek?.. " Ujar Kang Ho menawarkan.
Namun San Lin menggelengkan kepalanya dan menolak, ia berkata ia ingin menunggu disini sampai kedua orang tuanya kembali. Kang Ho pun tidak bisa berbuat apa-apa karena ternyata San Lin sangat keras kepala. Keras kepala dan cengeng, itulah sifat San Lin.
Dengan perasaan khawatir Kang Ho meninggalkan rumah tua itu dan kembali gelap, namun ia berniat akan membantu San Lin selama ayah dan ibu San Lin kembali. Bagaimana pun caranya ia harus membantu anak itu, baik itu segi makanan, pakaian dan lain-lain.
Malam itu, San Lin lagi-lagi tidur seorang diri ditemani oleh sebatang lilin yang baru saja diantarkan oleh orang suruhan Kang Ho. San Lin tidak menolak bantuan itu, karena ia tahu ia membutuhkan lilin itu dan juga tidak ingin menyakiti perasaan Kang Ho karena menolak bantuannya.
San Lin berpikir akan mulai kuat dan mandiri mulai hari ini. Ia tidak boleh lagi cengeng, ia harus ingat dan berpengang teguh dengan nasehat Tang Jun. 'Seorang pria sejati tidak akan mengeluh apa lagi menangis dalam masalah yang ia hadapi'
Mengingat nasehat itu membuat San Lin malu sendiri, oleh karena itu hari ini ia ingin mengubah sifat cengeng nya. Ia mulai mengelilingi desa seraya mencari teman-temannya untuk bermain. Namun tak satupun ia temukan.
"Aneh.. Kemana mereka semua pergi?.. " Gumam San Lin seraya masih berjalan seorang diri dan berjalan entah kemana.
Tanpa terasa, ia tiba di sebuah lapangan besar. Entah apa yang membawanya kesana ia tidak tahu, dari tadi ia hanya mencari temannya kesana kemari dan akhirnya tibalah dia di lapangan yang lumayan besar.
"Ha..! Hiya! Ha! Hiyat! Ha!.. "
__ADS_1
Teriakan beberapa orang serempak, membuat San Lin mendongak dan tersadar. Dilapangan itu San Lin melihat semua teman-temannya sedang berlatih bela diri. Entah kenapa, keinginan San Lin untuk berlatih seperti mereka tiba-tiba sangat kuat! Padahal ia sudah menyerah untuk menjadi seorang kultivator. Tapi saat ini, keinginan itu bergejolak sangat hebat.
San Lin terus menonton teman-temannya dari kejauhan, ia mengagumi gerakan-gerakan indah teman-temannya yang sedang berlatih. Karena keinginan nya yang tidak bisa ia tahan, akhirnya San Lin mencoba untuk mengikuti gerakan-gerakan itu.
Namun sayang, karena jantung yang lemah dan tidak memiliki Dantian ia langsung kelelahan setelah beberapa gerakan. San Lin terduduk dan kehausan, ia ingin meminum sesuatu, tapi dia ingat jika dia tidak membawa air minum.
"Minumlah Lin," Ujar seseorang dan menyodorkan labu yang berisi air putih.
San Lin mendongak dan melihat siapa orang yang begitu baik ini. Dan ternyata itu adalah Tabib Kang Ho. "Kakek Ho?.. "
"Kakek tahu kamu haus, jadi minumlah.. " Ujar Kang Ho lagi seraya terus menyodorkan air minum itu dengan senyuman.
"Terima kasih kakek Ho.. " Ujar San Lin tulus seraya menerima air minum itu dan meminumnya sampai habis.
Nyatanya Kang Ho mengikuti San Lin dari awal, ia hanya takut San Lin akan melakukan sesuatu yang bodoh karena nasib buruk yang terus menimpanya.
"Apa kamu juga ingin menjadi kultivator Lin?.. " Tanya Kang Ho penasaran. Pasalnya ia melihat semangat San Lin dalam hal itu.
San Lin pun mengangguk dengan sedih tanpa bersuara. Rasanya ia malu mengakui itu, pasalnya ia tidak akan pernah bisa menjadi kultivator karena tidak memiliki Dantian.
"Berjuang lah Lin, kakek akan mendukung mu.. " Ujar Kang Ho memberikan semangat. Padahal ia pun sebenarnya tahu, jika San Lin tidak akan pernah menjadi seorang kultivator seperti yang anak itu ingin kan. Namun Kang Ho mengatakan itu karena ia tidak ingin membuat San Lin bersedih.
"Sudahlah kakek Ho, tidak usah memberikanku ucapan semangat. Aku yakin kakek juga sudah tahu jika aku tidak punya Dantian dan jantung yang lemah. Aku tidak akan pernah menjadi seorang kultivator. " Ujar San Lin seraya tersenyum sedih.
"Jangan berkata seperti itu Lin. Jika langit berkehendak, siapapun tidak akan bisa menolak! Kamu memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh kebanyakan orang.. " Ujar Kang Ho kembali.
__ADS_1
San Lin yang penasaran pun kembali bertanya, "Apa itu?.. "
"Keberuntungan!.. "