LEGENDA SANG PENGUASA

LEGENDA SANG PENGUASA
Episode 17 "Lagi-lagi Tidur Bertemankan Nyamuk Dan Gelapnya Malam.. "


__ADS_3

Setelah melakukan sumpah itu, mulai hari ini San Lin sudah hilang. Dan yang ada hanyalah Tang Lin. Ia tidak membuang-buang waktu, Tang Lin langsung pergi kebelakang rumahnya untuk mempelajari Kitab Kung-Fu itu.


Lembar demi lembar ia buka, membaca setiap kata dengan sangat teliti dan berulang-ulang. Tang Lin melakukan itu sampai ia benar-benar mengerti teorinya.


Tidak butuh waktu lama baginya untuk memahami beberapa lembar buku itu. Setidaknya ia hanya menghabiskan waktu satu jam untuk memahami 10 halaman. Itu sungguh diluar batas normal manusia, entah apa yang membuatnya bisa seperti itu, mungkin ini berkaitan dengan darah keluarga Tang yang mengalir dalam nadinya.


Tentu saja jika hanya membaca saja seseorang dapat menghabiskan beberapa menit untuk puluhan halaman. Namun untuk memahami makna dalam setiap halaman itu tidak mudah, apalagi dengan seorang bocah kecil seperti Tang Lin. Tapi untuk Tang Lin sendiri itu berbeda.


Tang Lin berdiri dan meletakkan kitab Kung-Fu nya dibawah pohon. Ia berjalan kearah sebuah batu raksasa didekatnya.


Tang Lin mulai memperagakan tehnik yang tertulis di kitab Kung-Fu dengan hati-hati dan perlahan. Awalnya gerakan-gerakan yang ia lakukan terlihat tidak beraturan dan sangat berantakan. Dari pada sedang berlatih, ia lebih mirip dengan seorang badut yang melakukan atraksi.


Jika ada orang yang melihat Tang Lin saat ini, orang itu sudah pasti akan tertawa terbahak-bahak dan menyangka Tang Lin sudah gila. Tidak ada yang akan percaya pada Tang Lin jika ia berkata sedang berlatih menjadi seorang pendekar, karena Tang Lin tidak memiliki Dantian maka ia pasti akan disangka benar-benar gila.


Namun Tang Lin tidak peduli dan tidak menyerah! Lagi pula tidak ada yang melihatnya jika ia berlatih di halaman belakang rumah tuanya. Ia mengulangi setiap gerakan dengan sangat serius. Berapa kali pun ia gagal dalam gerakan itu, ia akan mengulanginya lagi dan lagi. Ia akan berhenti jika ia rasa sudah memiliki kemajuan dalam latihannya.


Sebenarnya ini terlihat menyedihkan, bagaimana tidak? Tang Lin adalah calon Sang Penguasa yang ia sendiri tidak tahu itu, namun tidak ada seorangpun yang melatihnya. Ia berlatih seorang diri tanpa guru.

__ADS_1


Sore hari tiba, matahari sudah terlihat condong ke barat. Tang Lin pun menghentikan latihannya setelah gerakan-gerakan nya sudah terlihat semakin indah.


"Huft, huft, huft... Buruk! Aku berlatih sampai lupa waktu.. " Gumamnya yang kelelahan seraya memandang matahari yang hendak tenggelam.


Tang Lin yang telah basah dengan keringat dan kelelahan, menjatuhkan dirinya terlentang ditanah seraya memandang langit, "Hah... Bagaimana aku harus menyiapkan makan malam hari ini?.. " Gumamnya kebingungan.


Sungguh sakit berada diposisi Tang Lin. Di suatu sisi ia harus menjaga dan mengurus kebun jagungnya, suatu sisi dia harus mengurus diri sendiri termasuk pola makan, mandi dan tidur. Dan di suatu sisi ia mengharuskan dirinya untuk berlatih Kitab Kung-Fu.


Sebagai seorang bocah berusia sebelas tahun, bagaimana ia bisa membagi semua waktunya sendirian?. Yah, tidak ada cara lain, ia dipaksa untuk mandiri sejak usia dini. Mulai saat ini, ia harus mengorbankan masa kecilnya yang berharga. Masa kecil yang dimana ia seharusnya bermain dengan bergembira bersama teman-teman nya, sekarang ia tidak lagi memiliki kesempatan itu.


Justru sebaliknya, ia akan menjadi orang yang tidak memiliki rasa simpati terhadap sembarangan orang. Ia akan menjadi kejam dan lebih kejam dari pada musuh-musuhnya. Suatu saat nanti ini pasti akan terjadi, maka jangan salahkan dia, salahkan saja alam semesta yang memaksanya demikian.


Tang Lin bangun dan mulai berjalan kedalam rumah tuanya dengan gontai, ia sangat haus dan ingin minum saat ini. Lantas ia pun memasuki dapur dan mengambil air minum mentah dari ember.


Ketika Tang Lin ingin mengambil air mentah itu, ternyata persediaan air didapur sudah hampir habis. Terpaksa ia harus menimba air malam ini juga. Ia butuh mandi, minum dan memasak untuk makan.


Kehidupan yang sungguh pahit bagi bocah kecil polos sepertinya, tidak bisakah keajaiban datang padanya sekali lagi? Setidaknya ia berharap ayah dan ibunya cepat kembali. Melakukan semua tugas untuk anak kecil sepertinya itu terlalu berat.

__ADS_1


Setelah selesai minum air mentah, Tang Lin pun pergi ke halaman belakang. Tidak jauh dari tempat ia berlatih sebelumnya terdapat sebuah sumur air. Tang Lin pun mulai menimba air itu sedikit demi sedikit. Tenaga nya sudah terkuras habis sejak ia berlatih, jadi dia tidak bisa mengambil air sebanyak yang ayahnya biasa lakukan.


Menimba dan membawa air itu kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang bau keringat itu terlalu melelahkan, jadi ia memutuskan untuk mandi dipinggir sumur itu. Tang Lin tidak peduli dengan air mandi yang ia pakai kembali memasuki sumur itu.


Setelah selesai dengan semua itu, Tang Lin langsung menuju dapur dan melihat bahan makanan apa yang tersisa, ia sangat lapar sekarang. Dan sayangnya yang tersisa hanya segenggam beras dan beberapa cabai kering. Namun Tang Lin tidak mengeluh meskipun sebenarnya ia hampir putus asa, ia sudah memutuskan untuk tidak menjadi anak cengeng lagi.


Oleh karena itu Tang Lin pun memasak segenggam beras itu. Tak lupa ia menggiling cabai kering itu hingga halus dan dicampur dengan sedikit garam. Hanya butuh waktu tiga puluh menit ia sudah menyelesaikan semuanya.


Lantas Tang Lin membawa mangkuk yang berisikan nasi yang terlihat seperti bubur dan gilingan cabai barusan. Sengaja ia memasak nasi itu dengan banyak air, ia pikir itu bisa membuatnya semakin kenyang.


Tang Lin meletakkannya dimeja makan dan mulai melahap bubur nasi itu. Ia terkadang mencolek gilingan cabai kering itu agar nasinya memiliki rasa. Semua itu ia makan sampai habis tanpa tersisa. Dan sayangnya ia masih belum kenyang. Tapi tidak apa, ini sudah cukup menahan laparnya sampai esok pagi, dan esok pagi ia akan menunda latihannya dan pergi ke kebun untuk memetik sayur-sayuran.


Setelah selesai dengan semua itu, Tang Lin memasuki kamarnya dan ingin istirahat dengan tenang. Setelah semua yang ia lalui hari ini, ia sangat kelelahan. Namun saat ia hampir memejamkan matanya, lilin yang diberikan oleh tabib Kang Ho habis.


Lagi-lagi, Tang Lin harus tidur dengan nyanyian nyamuk yang berdenging dan rumah tuanya kembali menjadi gelap gulita. Jika seseorang lewat dari depan rumah tuanya saat ini, orang-orang akan ketakutan karena rumah tuanya itu terkesan horor.


"Hah!... Tidur dengan bertemankan sepi dan gelapnya malam lagi.. " Gumamnya seraya tersenyum sedih, ia memaksakan memejamkan matanya hingga akhirnya ia tertidur.

__ADS_1


__ADS_2