LEGENDA SANG PENGUASA

LEGENDA SANG PENGUASA
Episode 06 "Tang Jun & Tang Yu.. "


__ADS_3

Wanita tua itu panik! Ia bingung harus melakukan apa pada San Lin yang kesakitan.


"O-obat! Ya... dimana obatnya!.. " Wanita tua itu gemetaran ketika mencari obat yang di tinggalkan oleh tabib Kang Ho. Di atas meja di kamar San Lin ada beberapa macam obat yang di tinggalkan, namun obat itu tidak bisa sembarangan di berikan. Terdapat aturan pakai dan dosis yang tertera di kertas yang juga di tinggalkan Tabib Kang Ho, karena itu si wanita tua harus membaca dan memperhatikan satu persatu.


"Ayolah!.. Yang mana obatnya!.. " Wanita tua itu semakin panik karena belum menemukan mana obat untuk pereda sakit, sementara San Lin terus berteriak kesakitan.


Si pria tua yang sudah ada dikamar itu, menatap istrinya dengan tatapan rumit. Tadi malam istrinya itu bilang ia membenci San Lin, lalu mengapa saat ini justru dia yang lebih panik?.


Pria tua itu menggelengkan kepalanya, dari pada ia memikirkan itu lebih baik ia membantu istrinya mencari obat itu.


Wanita tua itu melihat suaminya datang, namun ia mengacuhkan nya karena sedang fokus. Namun sedetik kemudian ia mengerutkan keningnya karena suaminya yang asal mengambil botol obat lalu ingin meminumkan nya pada San Lin.


"Apa yang kau lakukan!?.. " Teriak wanita tua dan ingin merebut botol obat itu dari suaminya, namun suaminya itu langsung menjauhkan tangannya.


"Ini obat untuk pereda sakit, memangnya apa yang kau pikirkan Yu'er?.. " Jelas pria tua.


"Benarkah? Dari mana kau tahu?.. " Ujar wanita tua itu tidak percaya.


"Aku sudah baca kertas yang kau pegang itu semalam, obat ini tertulis pada nomor tujuh.. " Jelasnya lagi.


Si wanita tua langsung membaca pada nomor tersebut, dan benar saja, itu tertulis disana.


"Lalu apa yang kau tunggu? Cepat berikan obatnya!.. "


Si pria tua pun menuruti istrinya, ia meminumkan ramuan obat pereda sakit pada San Lin. Obat itu bahkan tumpah sebagian karena San Lin yang tidak bisa diam. Namun pria tua itu memaklumi nya, memangnya siapa yang bisa diam jika merasakan rasa sakit tiga kali lipat luar biasa?.


Lima menit kemudian, rasa sakit San Lin perlahan-lahan mereda, ia pun sudah tidak berteriak lagi dan sedikit tenang. Namun ia masih belum bisa menggerakkan tubuhnya.

__ADS_1


"Bocah! Bagaimana keadaanmu?.. " Tanya Wanita tua langsung.


"Lumayan baik nek.. " Jawab San Lin lemah.


"Syukurlah.. " Wanita tua itu dan suaminya menghela nafas lega.


"Aku dimana nek? Apa ini alam setelah kematian?.. " Tanya San Lin penasaran, pasalnya ia masih ingat ketika di serang oleh sekelompok serigala, dan tidak mungkin dia selamat. Namun ia masih bingung kenapa ia masih bisa merasakan sakit jika memang ini adalah alam kematian?.


Si pria tua tertawa lucu karena pertanyaan San Lin. "Hahaha! Bocah, kau masih terlalu muda untuk mati. Kau masih belum merasakan nikmatnya surga dunia hahaha... "


Si wanita tua langsung mencubit lengan suaminya, ia jelas tau apa makna dari 'surga dunia' itu. Pria tua itu pun menggosok lengannya yang kesakitan seraya membatin 'memangnya aku salah? Kan memang benar jika anak ini belum menikmati wanita?.. '


"Jangan dengarkan kakek tua yang bau tanah ini nak, kau masih hidup dan berada di desa TERATAI BIRU. " Ucap wanita tua menjelaskan.


"Hah?.. Bagaimana bisa aku masih hidup? Tadi aku diserang oleh kelompok serigala.. " Ucap San Lin seraya mengingat kembali waktu ia di serang kelompok serigala. Dan ia kira hari masih belum berganti sejak itu.


Si pria tua pun diam tidak bergeming, bukan karena ia takut namun ia tahu jika istrinya saat ini ada diantara sayang dan benci pada San Lin. Jadi biarlah istrinya itu terus menghinanya dan melampiaskan semuanya padanya. Ini sudah takdir langit, siapapun tidak bisa mengubahnya.


Sementara San Lin langsung melototkan matanya lalu bertanya dengan semangat, "Seorang pria tua!? Apa dia bersama seorang anak juga.. "


San Lin sangat berharap kedua orang tua itu menjawab iya, karena iya pikir itu adalah ayahnya. Namun dia harus kecewa karena kedua orang tua itu menggelengkan kepalanya.


""Tidak.. "" Jawab keduanya serempak.


Lantas ekspresi San Lin pun langsung berubah sedih. Benar juga, mengapa dia masih berharap ayahnya yang menolongnya? Bukankah ayahnya sudah pernah berkata akan lebih baik jika San Lin mati?


"Apa orang yang kau maksud itu ayahmu?.. " Tanya pria tua itu langsung karena melihat ekspresi sedih San Lin.

__ADS_1


"Benar kek, dia adalah ayahku dan satunya lagi kakakku.. " San Lin membenarkan diikuti air matanya yang mengalir.


"Oh ya, omong-omong siapa namamu?.. " Tanya si wanita tua, ia sedikit kesal dengan suaminya yang belum menanyakan itu.


"Namaku San Lin.. " Jawabnya singkat, didalam hati dan pikirannya saat ini hanya di penuhi kesedihan, kesedihan, dan kesedihan.


"Aku TANG YU, dan ini suamiku TANG JUN.. " Ujar wanita tua itu memperkenalkan diri.


"Panggil saja nenek Yu dan Kakek Jun... " Ujarnya lagi.


Sontak itu langsung mengalihkan perhatian Tang Lin, pasalnya marga mereka sama. Bukankah seharusnya suami istri itu memiliki marga yang berbeda?


Pasangan suami istri tua itu tidak tahu apa yang sedang dipikirkan San Lin. Lagi pula meskipun ia tahu, ia tidak akan memperdulikan nya meskipun San Lin bertanya, karena setiap orang yang bertanya demikian, ia akan memberikan satu jawaban yaitu 'Ini privasi kami'.


"Baiklah San Lin, apa kau terpisah dengan orang tuamu?.. " Tanya Tang Jun menyelidik. Marga San, terdengar tidak asing baginya.


San Lin menggeleng, "Tidak, aku dibuang oleh ayahku di hutan belantara... " Jawab San Lin seadanya. Mengingat itu rasanya ia ingin menangis keras. Mengapa ayah dan kakak kandungnya sangat kejam padanya?


""Dibuang!?."" Tang Jun dan Tang Yu terperanjat kaget bersamaan.


San Lin tahu kedua orang tua ini pasti bingung mengapa ia dibuang, kemudian ia pun menjelaskan, "Kakek dan nenek pasti sudah tahu jika jantungku lemah, aku tidak punya dantian dan tidak bisa ber kultivasi.. "


Penjelasan yang singkat, namun Tang Jun dan Tang Yu langsung memahami itu. Di dunia kutivator ini, hukum yang berlaku adalah hukum rimba. Yang kuat adalah raja dan yang lemah adalah pecundang! Dan khusus untuk orang-orang seperti San Lin adalah... SAMPAH!!


Hati sepasang suami istri tua itu teriris ketika mendengar itu, sungguh anak yang malang. Sekejam-kejamnya orang tua, tidak akan pernah membuang anaknya seburuk apapun anak itu, dan khusus untuk orang tua San Lin, mereka pantas disebut BINATANG!


"Baiklah nak, kamu istirahat saja dulu. Nanti kita berbicara lagi ketika kamu sudah sembuh. Panggil aku jika kamu butuh sesuatu.. " Ucap Tang Jun dengan sedikit senyuman lalu meninggalkan kamar San Lin bersama istrinya.

__ADS_1


Bukan tanpa alasan mereka melakukan itu, kondisi San Lin masih terlalu lemah. Saat ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya banyak hal.


__ADS_2