LEGENDA SANG PENGUASA

LEGENDA SANG PENGUASA
Episode 09 "Yun Zhang. "


__ADS_3

Seorang anak laki-laki yang berusia 10 tahun, memperhatikan San Lin yang tertawa saat menonton mereka bermain. Dalam pikiran nya ia bertanya-tanya siapa anak itu? Kenapa dia baru melihatnya? Dan lagi mengapa ia hanya menonton? Akan lebih bagus jika anak yang duduk itu ikut bermain, pikirnya.


Lantas anak itu pun menghampiri San Lin, anak itu dengan riangnya bertanya pada San Lin, "Hei teman, siapa namamu?.. "


"N-namaku San Lin.. " Ucap San Lin gugup, baru kali ini ia diajak bicara secara pribadi oleh anak-anak seusianya. Tentu saja ia takut, karena selama ini tidak ada yang mau bicara dengannya jika tidak penting.


"San Lin ya, nama yang bagus. Kenalkan, aku YUN ZHANG.. " Anak yang bernama Yun Zhang itu tidak tahu jika San Lin sedang sakit, lantas ia pun menarik nya untuk bermain.


(Di novel PUTRA SANG PENGUASA, Yun Zhang sudah menjadi dewa)


Namun apa yang terjadi selanjutnya membuat Yun Zhang ketakutan, ia melihat San Lin terjatuh karena tidak bisa mengimbangi kecepatan larinya. Luka-luka San Lin yang dijahit kembali terbuka, darah segar bercucuran membasahi tubuh San Lin.


"Aaarrrggghhh!!.. " Jerit San Lin kesakitan dan membuat Yun Zhang ketakukan setengah mati.


"Lin! Maafkan aku, aku tidak tahu jika kau sedang tidak sehat!.. " Ucap Yun Zhang meminta maaf dengan tulus, namun San Lin tidak menjawab, ia hanya menjerit kesakitan.


Jeritan itu membuat anak-anak lainnya mengerumuninya, anak-anak itu merasa kasihan dengan San Lin, sementara mereka menatap Yun Zhang dengan kebencian.


"Yun Zhang! Apa yang kau lakukan!? Kau sengaja ingin membunuhnya!?.. " Teriak teman Yun Zhang yang bernama Fei Hung memarahinya.


"T-tidak! bukan begitu... " Sangkal Yun Zhang.


"Tidak bagaimana? Lihat itu!? Dia kesakitan! Lagi pula dia tidak akan berdarah jika kau tidak ingin membunuhnya!.. " Teriak teman yang lainnya lagi.

__ADS_1


Sekarang Yun Zhang bingung bagaimana cara menjawab itu, tadi dia hanya ingin mengajak San Lin untuk bermain, tidak ada niat lain. Namun siapa sangka akan menjadi begini, sampai-sampai ia diteriaki pembunuh oleh teman-teman nya.


Sementara Tang Yu, mendengar jeritan San Lin dari dalam rumah, ia pun lekas berlari karena takut dan khawatir pada San Lin. Ketika ia sampai di luar, apa yang ia takutkan benar-benar terjadi, San Lin berguling-guling ditanah dan sekujur tubuhnya dipenuhi darah. Tang Yu langsung berlari dan menggendongnya, ia tidak peduli dengan darah San Lin yang mengotori pakaian nya.


"Lin'er kenapa bisa begini! Ibu sudah bilang agar jangan nakal!.. " Ia tanpa sadar memarahi San Lin, itu karena ia takut kehilangan San Lin.


"M-maafkan Lin'er bu, Lin'er tadi ingin pipis, tapi Lin'er jatuh.. " Jawab San Lin seraya menahan rasa sakitnya. Ia berbohong tentang itu, ia dengan jelas melihat ketakutan dan rasa bersalah diwajah Yun Zhang. Baru saja ia mendapatkan teman, jadi dia tidak ingin membawa temannya itu kedalam masalahnya.


Yun Zhang dan anak-anak lainnya pun heran, mengapa San Lin berbohong? Anak-anak itu ingin mengatakan kebenaran, namun karena San Lin sudah berbohong duluan tidak ada gunanya lagi menjelaskan.


Tang Yu tidak sanggup lagi berkata-kata ketika mendengar penjelasan San Lin, ia hanya bisa merutuki kebodohannya yang meninggalkan San Lin sendiri.


Tidak jauh dari tempat itu, Tabib Kang Ho melihat semuanya dari kejauhan, ia menggelengkan kepalanya lalu berjalan mendekati San Lin dan ibunya. Kebetulan ia baru saja kembali dari rumah pasiennya, jadi ia membawa peralatan tabibnya.


"Ah! Kebetulan sekali tabib! Lin'er terjatuh dan luka-lukanya kembali terbuka, tolong obati putraku tabib!.. " Ucap Tang Yu memohon.


Permintaan tolong itu tentu saja tabib Kang Ho menerima nya, tapi ia menyeritkan keningnya sesaat mendengar Tang Yu berkata 'putraku' Jadi sekarang pasangan tua itu memutuskan untuk merawat San Lin secara pribadi? Tapi ya sudahlah, mengobati San Lin lebih penting dari pada memikirkan itu.


Hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit bagi tabib Kang Ho untuk menjahit kembali luka-luka San Lin, setelah itu ia langsung pergi meninggalkan San Lin Dan Tang Yu. Rasanya tabib Kang Ho ingin tertawa ketika Tang Yu menceramahi San Lin tadi. Tapi dia memaklumi nya, karena itulah sifat asli para betina, suka sekali merepet. Di dunia nyata juga begitu, suka merepet seperti kenalpot resing.


Ketika sampai diluar rumah, Kang Ho melihat Yun Zhang yang terduduk diam dengan wajah pucat nya di bawah sebuah pohon. Yun Zhang pun lekas menghampiri nya.


"Yun Zhang, apa yang kamu pikirkan?.. " Tanya nya lembut.

__ADS_1


"Kakek Ho, a-aku... " Yun Zhang hendak menjelaskan, namun Kang Ho memotongnya duluan.


"Tidak usah dipikirkan, anak itu baik-baik saja. Kemaren memang dia terluka, aku yang mengobatinya. Nenek Yu juga paham itu, itu bukan salahmu.. " Ucap Kang Ho untuk menenangkan Yun Zhang.


"Tapi kakek Ho, Teman-teman ku mengataiku pembunuh, mereka sekarang menjauhiku.. " Ucap Yun Zhang lagi disertai isak tangisnya.


Kang Ho menghela nafas panjang, kasihan sekali anak ini, hanya karena sesuatu yang tidak disengaja sekarang ia dikatai pembunuh.


"Zhang, kamu bukan pembunuh, kakek percaya itu... " Ucap Kang Ho dan berhasil membuat Yun Zhang menatap kearahnya, namun apa yang dikatakan oleh Kang Ho membuat Yun Zhang kesal, "Kamu itu maling, tukang maling manggaku.. " Ujarnya bercanda.


"Ck! Kakek Ho! Aku serius!.. " Kesal Yun Zhang.


"Hahaha... Memangnya kakek salah? Kamu sering maling manggaku kan?.. " Tawa Kang Ho lepas ketika melihat ekspresi kesal sekali gus malu diwajah Yun Zhang.


Yun Zhang tidak tahu harus berkata apa, akhirnya ia memalingkan wajahnya dan ngambek.


Kang Ho yang memang menyukai anak-anak, tidak tahan jika melihat anak-anak itu ngambek. Akhirnya ia menggendong Yun Zhang seraya berusaha menenangkannya dengan segala cara.


Meskipun banyak anak-anak yang sering mencuri mangganya, ia tidak mempermasalahkan itu, termasuk Yun Zhang salah satu nya. Anak itu jika mencuri mangganya tidak tanggung-tanggung, paling sedikit ia akan mengambil sepuluh kilo lalu ia jual.


Bukannya marah tapi justru membuat Kang Ho tertawa dan gemas dengan tingkah anak itu. Jika itu orang lain mungkin sudah memotong tangan Yun Zhang, tapi tidak dengan Kang Ho. Lagi pula ia mengerti dengan kondisi keluarga anak itu.


Didesa ini mayoritas dihuni oleh penduduk miskin. Untuk memenuhi kehidupan sehari-hari para penduduk itu bertani dan terkadang berburu sekali gus menjaga tanaman mereka.

__ADS_1


Meskipun desa ini kecil, tapi penghuninya semuanya ramah dan baik, suka menolong satu sama lain.


__ADS_2