
Keesokan paginya, Tang Lin bangun sedikit telat karena ia sangat kelelahan tadi malam. Ia langsung mengambil barang-barangnya dan pergi ke kebun untuk melakukan tugas yang sudah ia susun dengan baik. Ketika Tang Lin membuka pintu rumahnya, dia langsung melihat Yun Zhang dan teman-temannya yang lain sedang bermain. Ia menatap iri teman-temannya, ia sangat ingin berada diposisi itu, tapi keadaan memaksa nya untuk tidak bisa.
"Hei Lin! Ayo bermain!.. " Ajak Yun Zhang dengan semangat nya dan menghampiri Tang Lin.
"Maaf, aku tidak bisa. Aku memiliki banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.. " Tolak Tang Lin dengan halus. Setelah itu ia berlalu pergi meninggalkan teman-temannya yang kebingungan.
Pekerjaan? Memangnya pekerjaan apa yang bisa dikerjakan oleh anak sekecil mereka? Pikir teman-temannya. Namun karena Tang Lin sudah pergi jauh, teman-temannya tidak memiliki kesempatan untuk mengetahui nya, dan akhirnya mereka kembali bermain tanpa Tang Lin.
Tabib Kang Ho menatap itu dari kejauhan, ia menggelengkan kepalanya sedih. Kenapa anak sekecil Tang Lin harus berjuang seperti orang dewasa? Dengan tampilan Tang Lin saat ini, ia jelas tahu apa yang akan dilakukan oleh anak itu dan kemana ia akan pergi.
"Antarkan barang-barang yang aku pesan ke dalam rumah itu.. " Perintah Tabib Kang Ho pada dua orang pengawal ia bawa.
"Baik tabib.. " Jawab keduanya serempak.
Barang yang dimaksud tak lain adalah berupa sembako dan kebutuhan sehari-hari. Kang Ho sangat kasihan pada Tang Lin, jika saja anak itu mau tinggal dengannya, kehidupan anak itu tidak akan se menyedihkan ini. Namun karena alasan Tang Lin yang tetap setia menunggu kepulangan ayah dan ibunya, ia pun tidak bisa memaksa.
Saat diperjalanan, Tang Lin samar-samar mendengar suara kucing. Tang Lin menghentikan langkahnya dan mencoba mendengarkan sekali lagi. Suara kucing itupun kini terdengar jelas olehnya.
Tang Lin mentap kearah rerumputan yang lebat, ia perlahan berjalan kesana. Suara itu terdengar semakin jelas ketika ia semakin mendekat.
Ketika Tang Lin menyibak rerumputan itu dengan tangannya, ia melihat seekor anak harimau putih kecil yang terluka disana. Sebilah pisau kecil menancap dikaki harimau putih kecil itu.
"Kucing kecil, apa yang terjadi padamu?.. " Tanya Tang Lin dan tidak mungkin dijawab oleh harimau kecil itu.
__ADS_1
Tang Lin ingin meraih harimau kecil itu, namun harimau itu meraung. Tentu saja itu raungan ketakutan, harimau kecil itu meraung dan berharap Tang Lin akan takut. Tapi suaranya yang lebih mirip kucing mengeong itu membuat Tang Lin gemas.
"Hehehe... jangan takut kucing kecil, aku tidak akan menyakitimu." Ucapnya gemas dan meraih harimau itu.
Harimau itu juga tidak bisa melakukan apa-apa, dan dia hanya bisa pasrah atas apa yang akan Tang Lin lakukan padanya.
Tang Lin membawanya ke sebuah sungai yang memang dekat dari tempatnya. Tang Lin berpikir siapa yang begitu tega melukaimu kucing kecil ini? Huft!.. Seandainya Tang Lin tahu jika harimau putih kecil itu bukan harimau biasa maka... Sudahlah, lupakan saja.
"Tahan sebentar ya kucing kecil.. " Ujarnya lagi dan langsung mencabut pisau yang menancap dikaki harimau itu dan membuatnya memberontak kesakitan, namun tenaga Tang Lin lebih besar darinya. Dan dia tidak akan pernah bisa lepas sekuat apapun ia berusaha melepaskan diri demi menghindari rasa sakit saat ini.
Setelah pisau itu tercabut, darah merah langsung menetes keluar dari bekas pisau itu. Tang Lin lantas membersihkannya lalu membalut luka harimau kecil itu dengan bajunya ia sobek.
"Nah, sekarang kau sudah baik-baik saja kucing kecil. Lihat, aku tidak menyakitimu kan?.. " Ujar Tang Lin seraya mengelus lembut kepala harimau kecil itu.
Namun Tang Lin berbeda, anak itu justru menyelamatkan nya dan mengobati luka-luka nya. Apakah karena Tang Lin tidak tahu jika harimau itu bukan harimau biasa makanya dia menyelamatkan nya? Tapi apapun itu, ia harus membalas kebaikan ini suatu hari nanti. Sangat jarang ada orang seperti Tang Lin, pikir harimau kecil itu.
Tang Lin meraih pisau yang sebelumnya menancap dikaki harimau putih itu dan bertanya, "Apa kau tahu siapa yang melukaimu?.. "
Harimau itu mengangguk, dan Tang Lin pun hanya membalas, "Bagus! Jangan pernah lupakan orang itu!.. "
Setelah itu Tang Lin memasukkan pisau kecil itu ke keranjang dipunggung nya. Keranjang itu tentu saja berisi semua barang-barang yang hendak ia bawa ke kebun.
Tang Lin melanjutkan perjalanannya seraya menggendong harimau kecil itu. Sepanjang jalan Tang Lin terus tersenyum kearahnya seraya mengelus lembut kepalanya. Harimau putih kecil itu semakin bingung dengan sikap Tang Lin padanya.
__ADS_1
"Apa? Kenapa menatapku seperti itu? Apa kamu lapar kucing kecil?.. " Tanyanya seraya terkekeh sendiri. Harimau kecil ini terlalu menggemaskan dengan ekspresi nya saat ini.
Harimau itu menggeleng, dari pada memikirkan makanan, ia lebih ingin tahu tentang anak yang sedang menggendongnya ini. Ia sangat penasaran dengannya.
"Heh!.. Kucing pembohong! Lihat, perutmu bahkan kempis seperti itu karena kau lapar. " Ujarnya lagi.
Perkataan Tang Lin barusan membuatnya menoleh kearah perutnya sendiri. Dan memang benar, harimau kecil itu sedang kelaparan. Sudah berhari-hari ia tidak makan.
Tidak lama setelah adegan tidak berguna itu, akhirnya Tang Lin sampai dikebun. Ia langsung memetik buah tomat dan memberikannya pada harimau itu. Tentu saja harimau itu tidak mau memakan tomat, makanan utamanya adalah daging.
"Kenapa? Kau tidak suka?.. " Tanya Tang Lin bingung.
Harimau itu menggelengkan kepalanya.
Tang Lin lalu mengambil sebuah timun dari ladang tetangganya dan memberikannya lagi pada harimau itu. Yah, ia mencuri timun itu. Mengambil tanpa izin itu namanya mencuri kan?
Dan ya, harimau itu tidak akan memakannya karena memang itu bukan makanannya. Entah Tang Lin yang terlalu polos ataukah justru terlalu bodoh sehingga makanan seekor harimau saja ia tidak tahu.
Tang Lin menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena bingung. Sebenarnya apa sih yang diinginkan kucing kecil ini? pikirnya.
Tapi Tang Lin tidak menyerah, ia mengambil beberapa tanaman lainnya dengan jenis yang berbeda-beda dan sebagian sudah pasti dia curi dari ladang tetangganya.
Namun tetap saja harimau itu tidak akan memakan tumbuhan ataupun buah-buahan. Terkecuali jika itu adalah tanaman roh yang bisa meningkatkan kultivasi nya. Namun dari semua yang Tang Lin ambil itu tidak ada yang tanaman roh, semuanya tanaman biasa.
__ADS_1
Dan karena harimau itu tidak memakannya, Tang Lin menjadi kesal dan akhirnya menggendong kembali harimau itu dan memilih untuk pulang dan bertanya saja pada tabib Kang Ho. Mungkin saja harimau kecil ini sedang sakit makanya tidak selera makan pikirnya.