
Di sebuah tempat, seorang pria paruh baya berambut panjang sebahu, diwajahnya terdapat garis panjang bekas luka pedang. Dengan dua pedang ia silangkan dipunggungnya, ia berjalan dengan tergesa-gesa dan mendobrak sebuah pintu besar.
"Yang Mulia! Bagaimana bisa kamu membiarkan Tuan Agung dan Nyonya Agung bertarung sendirian diluar sana!" Bentak pria paruh baya itu pada seorang lelaki yang sedang duduk di singgasana kaisar. Benar, yang dibentak adalah kaisar dari Kekaisaran Tang! Sementara yang membentak adalah jendral tertinggi Kekaisaran itu.
"Tang Hao! Perhatikan kau bicara dengan siapa sekarang!. " Bentak balik kaisar itu. Ia tidak senang dengan Tang Hao yang baru saja membentak nya. Bukannya apa, tapi yang dibentak adalah seorang kaisar, tentu memiliki harga diri yang tinggi.
"Persetan dengan etika!.." Bentak Tang Hao lagi.
"Tang Hao! Kau sedang berbicara dengan kaisarmu saat ini!.." Balas kaisar itu tak kalah membentak.
"Aku tahu dan aku sadar sedang berbicara dengan kaisar! Maka karena itu aku katakan persetan dengan etika!! Sebagai seorang kaisar tidak seharusnya kau membiarkan tuan dan nyonya Agung berperang sendirian!.. " Bentak Tang Hao lagi dengan sangat keras, ia sangat sadar dengan siapa ia bicara, tapi ia sangat marah dengan apa yang ia dengar setelah baru saja pulang dari perbatasan utara Kekaisaran Tang.
"Aku sudah memberikannya sepuluh ribu pasukan Tang Hao! Apa lagi yang kurang?! Kami hanya memiliki tujuh puluh ribu pasukan, apa kau ingin aku memberikan semua pasukan itu pada tuan dan nyonya Agung hanya untuk balas dendam putranya?! Itu sangat tidak masuk akal! Kekaisaran Tang ini bisa hancur kapanpun jika aku melakukan itu!.. " Jelas kaisar itu dan terdengar masuk akal. Tapi Tang Hao tidak berpikir demikian, setelah kaisar mengatakan hal tersebut tiba-tiba Tang Hao tertawa.
"Hahahaha! Setelah apa yang dilakukan oleh tuan dan nyonya Agung, setelah semua pengorbanan nya untuk Kekaisaran ini! Apa begini caramu membalas semuanya?! Sebagai kaisar kau benar-benar tidak tahu malu Tang Quon! Tuan dan nyonya Agung sudah banyak memenangkan perang, mengangkat derajat Kekaisaran Tang ini sehingga disegani oleh Kekaisaran lainnya!."
__ADS_1
"Aku tahu itu Tang Hao! Aku tidak akan melupakannya, tapi sekarang aku juga tidak bisa melakukan apapun. Sepuluh ribu pasukan juga bukanlah jumlah yang sedikit! Kau tahu, musuh yang dihadapi tuan dan nyonya Agung saat ini bukanlah seseorang yang mudah untuk disinggung, aku hanya takut jika kita ikut campur terlalu dalam, maka Kekaisaran ini bisa hancur.. " Jawab Tang Quon dengan tidak berdaya.
"Lalu apa menurutmu dengan sepuluh ribu pasukan itu kau tidak ikut campur terlalu dalam? Kau ini bodoh atau apa ha?.. " Tang Hao mencibir pada akhirnya karena tidak mengerti jalan berpikir Tang Quon sebagai kaisar.
Namun meskipun Tang Hao mencibirnya, Tang Quon tidak marah sama sekali. Justru sebaliknya, ia merasakan rasa bersalah yang sangat dalam. Ia bahkan hampir meneteskan air matanya dan tidak tahu lagi harus menjawab apa. Bukannya Tang Quon tidak mau membantu Tuan dan Nyonya Agung nya, tapi beberapa tahun lalu ada orang yang sangat kuat datang padanya dan mengancam agar tidak ikut campur dengan urusannya dengan tuan Agung nya. Oleh karena itu ia dilema.
Ia ingin membantu tapi takut dengan orang kuat itu, tapi jika tidak dibantu itu adalah tuan dan nyonya Agung yang sudah banyak berkorban demi kekaisarannya.
"Tang Hao... Aku tidak bisa melakukan apapun lagi, sepuluh ribu prajurit adalah satu-satunya cara bagiku untuk membantu tuan dan nyonya agung. Seandainya orang itu tidak mengancam akan menghancurkan Kekaisaran Tang, aku pasti akan melakukan lebih daripada ini untuk tuan agung." Ujar kaisar itu dengan raut wajah sedihnya.
Perasaan Tang Quon tidak baik saat Tang Hao berbalik dan pergi. Maka dari itu ia menghentikan dan bertanya, "Tang Hao, kau mau kemana?.. "
Tang Hao berhenti dan menoleh sesaat lalu berjalan lagi seraya berkata, "Medan perang!.."
Dalam pikiran Tang Hao hanya ada satu yaitu lebih baik mati di medan perang bersama tuan agungnya dari pada menunggu kematian yang cepat atau lambat pasti akan menghampiri mereka ke istana Kekaisaran.
__ADS_1
Sementara Tang Hao termenung, ia mengingat dengan jelas wajah Tang Hao yang membara barusan. Dua kata yang diucapkan juga terngiang-ngiang dikepalanya.
Benar juga, cepat atau lambat, terlepas dari orang kuat yang mengancamnya sebelum nya. Jika tuan dan nyonya agung mati di medan perang, maka Kekaisaran akan menjadi sasaran selanjutnya. Satu-satunya yang paling ditakuti orang-orang di Kekaisaran Tang adalah tuan dan nyonya agung yang tak lain adalah Pendekar Ganda!
Jika tuan agung benar-benar mati, maka Kekaisaran Tang akan menjadi sasaran empuk bagi Kekaisaran lainnya. Bukan tidak mungkin musuh-musuhnya yang telah dikalahkan akan kembali membalas dendam setelah mendengar kematian pendekar ganda. Lantas apa bedanya membantu atau tidak membantu tuan agung jika pada akhirnya Kekaisaran akan tetap hancur?
Pada akhirnya Tang Quon tersenyum miris dan bangkit dari singgasana kaisarnya. Ia mengganti pakaian kebesarannya menjadi armor perang. Pilihan terakhir sudah diputuskan! Kaisar Tang Quon akan turun ke medan perang! Dengan begini peluang kemenangan akan menjadi lebih besar, dan tentang ancaman orang kuat sebelumnya Tang Quon memutuskan untuk memikirkan setelah perang berakhir.
"Kamu berubah pikiran sekarang yang mulia?.. " Tanya Tang Hao yang melihat Tang Quon keluar dengan armor perangnya.
"Apa kau diizinkan untuk bertanya? Cepat kumpulkan empat puluh ribu pasukan, kita akan turun ke medan perang dan membantu tuan dan nyonya agung!.. " Tegas Tang Quon tiba-tiba.
Bukannya tersinggung, namun Tang Hao justru menyeringai, "Hahaha! Ini adalah kaisar Tang Quon yang aku kenal! Tidak kenal takut pada siapapun!.." Teriaknya bangga.
Selanjutnya kurang dari satu jam, empat puluh ribu pasukan berjalan dengan rapi melewati kota hingga melewati gerbang terakhir istana Kekaisaran Tang. Pasukan itu tentu saja dipimpin oleh Tang Hao sebagai panglima perang tertinggi diseluruh Kekaisaran Tang. Sementara Tang Quon, ia menunggangi kuda putih dan berkendara berdampingan dengan Tang Hao.
__ADS_1
Empat puluh ribu pasukan berjejer dengan rapi dan berjalan teratur, mirip seperti gerombolan semut. Namun semut ini, adalah semut yang sudah berkali-kali membuat dunia gempar!