LEGENDA SANG PENGUASA

LEGENDA SANG PENGUASA
Episode 07 "Andaikan Ibuku Masih Hidup. "


__ADS_3

"Yu'er, bagaimana menurutmu tentang anak itu? " Ujar Tang Jun bertanya dengan serius setelah keduanya keluar dari kamar San Lin.


"Keluarga San, itu terdengar tidak asing.." Jawab Tang Yu dengan ekspresi serius pula.


"Hahaha... Meskipun sudah tua, tapi ingatanmu masih berfungsi dengan baik istriku!. " Ujar Tang Jun tertawa senang. Tampaknya pasangan suami istri yang sudah bau tanah itu mengenal keluarga San Lin.


"Benar, aku masih ingat betul keluarga itu. Keluarga San adalah salah satu keluarga besar yang dipandang tinggi di ALAM ATAS. Tapi sayang, kelakuan mereka selalu saja mirip seperti binatang! Lihatlah anak kecil yang tidak tahu apa-apa itu, dia berakhir sangat menyedihkan hanya karena tidak memiliki DANTIAN! " Tang Yu mengepalkan tangannya erat ketika mengatakan itu, entah mengapa ia merasa marah dengan keluarga San itu.


"Mereka telah di butakan oleh kekuatan dan kekuasaan. Mereka bahkan sudah lupa bagaimana keadaan seluruh alam sekarang!.. " Tang Jun berkata dengan suara berat yang menahan emosi, jika bukan karena alasan khusus, ia dan istrinya tidak akan bersembunyi di desa kecil ini.


"Sudahlah, lupakan saja. Tentang apa yang sedang terjadi pada seluruh alam saat ini, kita tidak bisa menyesalinya. Kita hanya harus menjalankan tugas masing-masing, suatu saat nanti, akan lahir seseorang yang diberkati oleh langit! Ia akan mengusir para iblis yang sekarang sedang berkuasa! Dia akan menjadi cahaya harapan bagi seluruh alam. Aku percaya itu!.. " Ujar Tang Yu penuh keyakinan, dia hanya tidak tau saja jika orang yang dia maksud sedang berbaring lemah di kamar rumahnya itu.


Tang Jun pun mengangguk setuju, setelah itu pasangan suami istri itu kembali melanjutkan tugas mereka masing-masing. Bukan tanpa alasan mengapa Tang Jun dan Tang Yu seyakin itu, beberapa tahun yang lalu, Tang Jun dan istrinya secara tidak sengaja menemukan sebuah buku tua yang tertimpa reruntuhan bekas perang. Didalam buku itu sudah tertulis sebuah ramalan tentang itu. Namun siapa yang menulis buku tua itu tidak ada yang tahu.


Satu jam berlalu dengan cepat, Tang Yu membawakan bubur kekamar San Lin. Dia memandang San Lin dengan tatapan rumit, didalam hati dan pikirannya sedang bertarung mati-matian. Satu sisi ia membenci San Lin yang mirip seperti putranya yang telah mati, satu sisi lainnya ia merasa kasihan pada San Lin. Ada pula satu sisi karena kemiripannya itu membuat Tang Yu tidak bisa memarahinya, padahal ia sangat ingin menghina San Lin, namun ia tidak bisa berkata-kata setelah melihat wajah anak itu.


Tang Yu menarik nafas panjang dan menghembuskannya kembali, kemudian mendekat kearah San Lin yang sedang tidur.


"Lin, bangun dan sarapan.. " Ucapnya lembut, namun didalam hatinya ia ingin kasar pada anak ini, namun lagi-lagi ia tidak sanggup melakukannya.

__ADS_1


San Lin yang memang tidak susah untuk dibangunkan, lekas membuka matanya yang terasa berat. "Iya nenek Yu.. " Jawabnya lalu bersender pada dinding ranjang.


"Makanlah dan minum obat, " Ujar Tang Yu lagi searaya menyerahkan mangkuk bubur.


San Lin ingin menerimanya tapi ia masih terlalu lemah, bahkan untuk mengangkat tangannya saja ia harus berusaha keras.


"Maafkan aku nenek Yu, aku tidak sanggup menggerakkan tanganku.. " Ujar San Lin sedih, ia menunduk dan takut Tang Yu akan memarahinya karena di sangka manja.


Tang Yu mengumpat dalam batinnya, mengapa dia terlalu bodoh? Anak ini baru saja sadar dan dari kemaren belum makan apapun, pasti dia lemah tidak bertanaga.


"Tidak apa-apa, aku akan menyuapimu.. "


Ketika San Lin sedang di suapi saat makan, hatinya merasa hangat. Ia memandang Nenek peot di depannya dengan tatapan sedih. 'Andaikan ibuku masih hidup, mungkinkah ia akan menyuapiku seperti ini? ' Batin San Lin.


Benar, jika saja ibunya masih hidup, ia tidak akan dibenci oleh ayahnya apa lagi dibuang. Tapi mengingat dirinya yang tidak memiliki DANTIAN, tidak menutup kemungkinan hal ini akan tetap terjadi. Pikiran itu memenuhi pikirannya dan membuatnya hampir menangis.


Tang Yu bingung dengan mata San Lin yang merah dan raut wajah sedihnya. Lantas ia pun bertanya, "Ada apa? Apa kau tidak suka buburnya? Kalau begitu biar aku ganti.. " Ujarnya dan ingin berdiri, namun tiba-tiba San Lin menghentikannya.


"Tidak nek, buburnya sangat enak, aku menyukainya.. "

__ADS_1


"Lalu mengapa raut wajahmu terlihat sedih?.. " Tanyanya menyelidik.


"Aku hanya berpikir, andaikan ibuku masih hidup mungkin ayah tidak akan membenciku sampai-sampai membuangku seperti ini. Dan mungkin ibu akan menyuapiku seperti ini.. " Jawab San Lin, air matanya sudah menetes ketika mengatakan itu.


Hati Tang Yu teriris mendengar itu, ia hampir saja menangis. Namun ia masih bisa menahannya.


"Apa ibumu tiada karena sakit?.. " Tanyanya kembali semakin lembut.


San Lin menggelengkan kepalanya, "Ibu meninggal karena kelahiran ku.. " San Lin sudah tidak dapat menahan suara tangisnya ketika mengatakan itu. "Nek... Aku telah membunuh ibu, aku anak pembawa sial nek! Aku seorang pembunuh! Pantas lah ayah dan kakak membenciku! Huhuhu.. " Ujar San Lin sangat emosional dan menangis terisak-isak.


Hati Tang Yu semakin teriris mendengar itu, ia juga merasa menyesal karena membenci anak ini. Anak ini tidak berdosa, ia masih polos dan tidak tahu apapun, lantas apa alasan yang membuatnya harus membenci anak malang ini? Jika dipikirkan kembali, akan ada banyak anak yang mirip seperti putranya yang telah mati, jadi itu bukan alasan untuk di jadikan membenci San Lin.


Anak sekecil San Lin, seharusnya ia masih bermanja-manja dengan ibunya, bermain dengan ayahnya dan menikmati masa kecilnya bersama teman-teman nya. Tapi berbanding terbalik dengan San Lin, anak itu harus menderita karena tidak punya ibu! Dia dihina! Di kucilkan! Baik itu orang dewasa atau anak-anak seusianya, tidak ada yang mau berteman dengannya! Bahkan ayah dan kakaknya secara terang-terangan berkata akan lebih bagus jika San Lin mati! Lihatlah betapa malangnya kehidupan anak ini!


Hati Tang Yu meleleh ketika mendengar cerita San Lin yang tidak berbohong, lantas ia pun memeluknya. "Kalau begitu, jadikan aku sebagai ibumu.. " Ujar Tang Yu lembut seraya mengelus kepala San Lin lembut.


San Lin seketika berhenti menangis dan melotot tidak percaya. Diam nya San Lin membuat Tang Yu bingung. "Kenapa? Apa kau tidak mau? Apa kau malu punya ibu setua aku?.. " tanyanya seraya memegang kedua pundak San Lin.


"Tidak! Aku mau! Dan aku tidak akan pernah malu! Hanya saja apakah nenek tidak malu memiliki anak sampah pembawa sial sepertiku?.. " Tanya San Lin antusias. Ia sangat ingin mendengar jawaban Tang Yu, dan ya, jawaban Tang Yu persis seperti yang ia harapkan.

__ADS_1


Lantas keduanya pun saling memeluk dan menangis haru. Sementara Tang Jun baru saja memasuki kamar dan melihat semua kejadian itu, didalam hatinya ia sangat bahagia. Kehadiran San Lin ditengah-tengah keluarganya, akan melengkapi apa yang selama ini kurang.


__ADS_2