
“Ambil ini, dan jangan pernah dekati Ibuku lagi!” teriak Selly, seraya melemparkan segepok uang pada Dimas yang kini berdiri tepat di hadapannya, gadis itu menatap tajam Dimas, dengan tatapan penuh kebencian.
Semua murid terlihat langsung berbondong-bondong menghampiri mereka, mereka terlihat terkejut saat melihat uang berwarna merah yang kini berserakan di bawah lantai, Selly melemparkan segepok uang tersebut, tepat mengenai wajah Dimas cukup keras, membuat ikatan uang tersebut terlepas.
Para murid yang menyaksikan hal tersebut terlihat menganga melihat uang yang jumlahnya sudah dipastikan sangat banyak itu, kerusuhan mulai terdengar, mereka bertanya-tanya ada apa dengan Selly dan Dimas. Ada juga beberapa murid yang langsung mengeluarkan ponselnya dan merekam kejadian tersebut.
Dimas masih berdiri mematung ia terlihat terkejut dengan sikap muridnya itu, namun detik kemudian tatapan Dimas berganti, laki-laki itu menatap Selly dengan tatapan tajam, yang sulit diartikan. Wajahnya pun terlihat sudah merah padam, menandakan jika Dimas saat ini tengah memendam amarah pada gadis itu.
“Saya tidak butuh uang mu!” tegas Dimas yang masih menatap Selly dengan tajam itu, setalah berkata Dimas langsung berlalu.
“Dasar munafik!” teriak Selly, kesal, marah bercampur aduk di hati gadis itu. Namun Dimas nampak tak menghiraukan gadis yang menjadi salah satu muridnya itu.
Lalu Selly berbalik, menatap Dimas yang kini mulai menjauh dari hadapannya itu.
“Dengar Pak Dimas Baskoro yang terhormat! Saya punya bukti perselingkuhan anda dengan Ibu saya! Anda jangan mengelak Pak, karna saya punya buktinya!” teriak Selly, berhasil membuat langkah Dimas terhenti, lalu laki-laki itu membalikkan badannya, menatap kearah Selly.
Tatapan Dimas semakin sulit diartikan, Selly merasa sedikit takut melihat Dimas yang menatap seperti itu padanya.
‘Tidak, aku tidak boleh takut! Aku harus bisa mempermalukan manusia tidak tau diri ini! Semua demi Ayah!’ batin Selly.
“Jadi Pak Dimas selingkuhnya Ibu Selly?” ucap salah satu murid yang berada di sana. Mereka semua terlihat begitu terkejut, tentu saja mereka tidak menyangka, Pak Dimas Baskoro, guru biologi yang mereka sangat segani, terkenal kejam namun bijak, melakukan hal seperti ini, sungguh keterlaluan.
“Gila gak nyangka banget ya!” sahut murid lainnya.
__ADS_1
“Iya, kasian benget Selly.”
“Ibunya juga gak tau malu, pacaran sama guru anaknya sendiri.”
“Eh-eh, tapi kok Pak Dimas mau ya? Ibunya Selly kan gue rasa biasa-biasa aja.”
“Ah mungkin, karna kaya kali dia.”
“Pak Dimas, jadiin Ibunya Selly sugar Mommy dong.”
Beberapa murid yang menyaksikan kejadian tersebut terdengar membicarakan mereka.
“Bener semuanya, Pak Dimas yang kita hormati ini ternyata seorang PEBIOR!” teriak Sindy dengan lantang. Sengaja Sindy memperjelas semuanya, karna ia merasa sangat benci pada gurunya itu, kekagumannya pada Dimas kini berubah seketika setalah mengetahui bahwa Dimas adalah lelaki Selingkuhan Ibu dari sehabatnya itu.
Dimas terlihat mengepal kedua tangannya, masih menatap Selly, Selly tersenyum penuh kemenangan, ia merasa puas. ‘Mampus!’ ucap Selly dalam hatinya.
‘Sialan dari mana mereka tau! berani-beraninya dia mempermalukan ku seperti ini!’ batin Dimas penuh amarah.
Dimas tidak bisa berkata-kata, ia hanya berdiri memandangi Selly. Karna menurutnya bicara pun saat ini tidak ada gunanya. Dimas juga tidak akan mungkin membela diri, karna ia pun sadar jika dia memang benar melakukan hal itu, dia memang selingkuhan Ibunya Selly. Tapi bukan untuk menjadikan Ibunya Selly itu sugar Mommy-nya, Dimas tak terima dengan hal itu.
‘Lihat saja setalah ini aku akan membuat kamu bertekuk lutut di hadapan ku gadis ingusan!’ batin Dimas lagi.
“Ada apa ini?” Tiba-tiba seorang laki-laki dengan tinggi dan badan yang besar, perutnya terlihat buncit, seperti wanita yang tengah hamil sembilan bulan. Namun wajahnya terlihat garang.
__ADS_1
semua murid yang tadinya terdiam tak bersuara lagi, mereka terlihat takut, saat melihat laki-laki tersebut, yang tak lain adalah kepala sekolah mereka.
“Pak Dimas ada apa ini?” Kepala Sekolah yang bernama Edi itu kini bertanya pada Dimas.
“Dan ini apa? Kenapa ada uang banyak yang berserakan di sini? punya siapa ini?” tanya kepala sekolah yang kini mengalihkan pandangannya pada Selly.
“Itu uang saya Pak, yang saya berikan untuk Pak Dimas,” jawab Selly, ia berusaha mengahadapi Pak Edi dengan santai, padahal dalam hati ia rasa ingin lari, apa lagi melihat wajah Pak Edi saat ini, sangat menyeramkan, lebih seram dari pada melihat hantu, eh...
“Selly, Pak Dimas, kalian berdua ikut keruangan saya sekarang!” pinta Pak Edi tegas.
“Dan kalian semua bubar!” teriak Pak Edi pada murid-murid yang mengumpulkan di sana. Mereka langsung menurut, dan bubur.
“Sindy, Alda, kalian kumpulan uang itu, dan bawa keruangan saya,” lanjutnya pada kedua sahabat Selly.
“Baik Pak,” jawab Alda dan Selly bersamaan. Keduanya pun mulai mengumpulkan uang tersebut.
sementara Pak Edi terlihat sudah berjalan menuju ruangan, di ikuti oleh Dimas dan Selly.
Bersambung....
Jangan lupa like, komen dan Votenya ya.
Terima kasih.
__ADS_1