
Dimas dan Selly kini sudah berada di dalam ruangan Pak Edi, mereka duduk berdampingan di kursi yang ada di depan meja kepala sekolah tersebut.
Sesaat mereka semua diam, Pak Edi menatap Dimas dan Selly bergantian, tatapan laki-laki berperut buncit itu menampakan aura yang sangat menyeramkan, Selly sendiri yang melihat itu, merasa gugup dan takut, tapi sebisa mungkin ia menyembunyikan rasa itu, ia harus bisa terlihat tenang apa lagi di sampingnya ada Dimas, Selly tidak mau terlihat lemah di mata Guru yang sangat menyebalkan dan ia benci itu!
Sementara Dimas, laki-laki itu terlihat santai, duduk bersandar, raut wajahnya datar, Dimas seperti tidak ada rasa takut atau pun bagaimana, padahal jika Selly mengatakan semuanya pada Pak Edi, sudah dipastikan posisi guru itu akan terancam.
‘Sial! kenapa dia seperti tidak berdosa! Apa dia hanya pura-pura tenang saja? seperti yang gue lakuin saat ini? Sebenernya siapa dia? Dia begitu misterius, apa bener dia cinta sama Ibu tiri gue tulus? Bukan karna dia matre! Kenapa dia gak mau ambil duit yang gue kasih tadi! Ah tidak! Paling dia hanya pura-pura tidak butuh saja, mungkin malu. Dasar lelaki munafik!’ batin Selly sekilas ia melirik pada Dimas yang duduk di sampingnya itu. Entah kebetulan atau apa Dimas juga melirik kearah Selly, Dimas tersenyum menyingrai, Selly langsung mengalihkan pandangannya.
‘Seram juga,’ batin Selly.
“Pak Dimas, jelaskan apa yang terjadi?” Pak Edi mulai membuka percakapan diantara mereka. Ia bertanya terlebih dahulu pada Dimas.
“Saya tidak tau apa-apa Pak!” jawab Dimas, terlihat santai.
“Lho, bagaimana Pak Dimas berkata seperti itu?” Pak Edi terlihat bingung, jawaban yang Dimas berikan sungguh ambigu.
“Ya memang seperti itu adanya Pak! Saya memang tidak tau apa-apa. Silahkan Bapak tanya saja pada anak ini!” jawab Dimas lagi, seraya melirik kearah Selly.
Pak Edi pun langsung menatap Selly, sorot matanya seakan minta penjelasan pada salah satu siswanya itu.
“Saya akan jelaskan Pak!” ucap Selly, ia terlihat sangat percaya diri. “Saya hanya menegur Pak Dimas, karna dia sudah menjalani hubungan terlarang dengan Ibu saya!” sambung Selly menjelaskan, sekilas Selly mengalihkan pandangannya pada Dimas, kilatan matanya memperlihatkan kebencian dan amarah.
“Hubungan terlarang apa maksud kamu?” Pak Edi sebenarnya mengerti akan ucapan Selly, tapi dari pada ia mengira-ngira, lebih baik biar Selly menjalankan semuanya secara rinci.
“Pak Dimas menjalin hubungan khusus dengan Ibu saya Pak, padahal jelas-jelas Pak Dimas sudah tau jika Ibu saya itu masih sah menjadi istri Ayah saya. Saya tak terima dong Pak, apa lagi saya ada bukti jika Pak Dimas itu berhubungan dengan Ibu saya hanya ingin memanfaatkan uangnya saja, dia memeras Ibu saya Pak! Bukannya sebagai seorang guru itu harus jadi contoh yang baik untuk semua muridnya? Mau itu dia dalam sekolah atau pun luar sekolah! Tapi Pak Dimas? Kelakuannya sungguh hina Pak!” jelas Selly, sekuat tanaga ia menahan amarahnya.
Pak Edi mengangguk-anggukan kepala, dia mengerti dengan ucapan Selly, tapi tetap saja sikap Selly itu tidak bisa dibenarkan.
__ADS_1
“Saya mengerti Selly, tapi tetap saja sikap kamu menegur Pak Dimas di sini, di sekolah. Itu tidak bisa dibenarkan, kamu salah. Karna ini tidak ada kaitannya dengan status Pak Dimas sebagai guru di sini,” kata Pak Edi. Di balik wajah seramnya itu, Pak Edi bisa dikatakan sangat bijaksana.
Masalah Dimas dan Selly memang sebenernya tidak ada kaitan dengan sekolah. Tapi Pak Edi juga tidak membenarkan sikap Dimas, dia salah. Sebagai guru memang seharusnya Dimas harus mengajarkan contoh yang baik, baik itu di dalam sekolah atau pun luar sekolah. Tapi, ia rasa urusan ini adalah urusan pribadi mereka.
Dimas terlihat menunjuk senyuman penuh kemenangan, Selly yang melihat itu langsung terasa panas, ia merasa geram. Tapi percuma saja, jika Pak Edi sudah berkata seperti itu, Selly tidak berdaya.
Ia kenal betul siapa Pak Edi, jika ia sudah berkata Iya atau Tidak, itu semua tidak bisa diubah, sudah mutlak, tidak bisa di bantah.
“Dan untuk Pak Dimas, sebaiknya jika ada urusan pribadi seperti ini, Pak Dimas yang berpendidikan tinggi, tau semua aturannya bukan? Pak Dimas harusnya bisa menghendle dan menyelesaikan semua ini terlebih dahulu!” kata Pak Edi pada Dimas.
“Maaf Pak,” hanya dua kata yang terlontar dari mulut laki-laki itu.
“Sekarang kalian berdua, keluar. Saya tidak mau tahu, selesai permasalahan kalian secepatnya, saya tidak mau hal seperti ini terjadi lagi. Untuk saat ini saya akan membuat teloransi untuk kalian berdua.”
“Tapi Pak...” Selly terlihat keberatan dengan keputusan akhir dari Pak Edi.
“Selly, apa kamu tidak dengar saya tadi berbicara!” Suara peka Edi terdengar tegas namun penuh penekanan.
‘Kamu pikir semudah itu? Lihat saja aku akan membuat keluarga kamu hancur Selly, bukan hanya kamu tapi Ibu tiri dan Ayah mu juga!’ batin Dimas.
Lalu terlibat Alda dan Sindy memasuki ruangan tersebut, Pak Edi mempersiapkan kedua masuk.
“Ini uangnya Pak,” ucap Alda seraya meletakkan yang tadi Selly berikan pada Dimas, namun tidak diterima oleh laki-laki itu.
“Selly, besok saya minta orang tua kamu untuk datang ke sini, untuk mengambil uang ini,” ucap Pak Edi pada Selly.
“Hah?” Selly membulat matanya. Apa? Menyuruh orang tuanya untuk datang ke sekolah? Itu sama saja Selly bunuh diri. Niat hati masalah ini tidak mau diketahui oleh kedua orang tuanya, terlebih oleh sang Ayah, jika Ayahnya datang ke sini, besok sudah dipastikan beliau akan tau semuanya, aduh bagaimana ini? Selly berpikir keras.
__ADS_1
Dimas semakin merasa di atas awan, ia berpikir Selly itu senja makam tuan.
Alda dan Sindy yang mendengar itu semua sontak mereka pun menganga, terkejut. Terutama Alda, karna ini idenya dia. Tapi Alda tidak menyangka jika akhirnya akan seperti ini.
Sebenernya apa yang tadi Dimas, Selly dan Pak Edi bicarakan? pikir Alda.
“Maaf Pak, seperti tidak bisa, Ayah saya sedang sakit,” ucap Selly, benar adanya.
“Oh kalau begitu, Ibumu saja yang datang, tidak apa-apa saya hanya ingin memberikan uang ini pada orang tuamu.”
“Tapi Pak, itu uang saya, bukan uang orang tua saya, itu tabungan saya Pak,” ucap Selly, memang konyol. Tapi Selly berpikir, jika Diana yang datang, memang sih situasi pasti aman. Karna tidak mungkin juga Diana mengatakan semua itu pada Ayahnya, dia sama saja cari mati bukan? Tapi uang Selly, kalau sudah masuk ke tangan Diana, ah sudah pupus sudah semua uangnya itu. Memang sih uang itu tidak seberapa bagi Selly, tapi ia rasanya tak rela jika berikan pada Diana, Diana pasti akan memakai uang itu untuk bersenang-senang dengan laki-laki simpanan, si Dimas.
“Baik Pak,” ucap Selly pasrah. Sudahlah, tidak ada pilihan lain. Relakan uang itu, biar Diana juga merasakan akibatnya, pasti besok Pak Edi akan menjaleskan semuanya, dia pasti malu, sikap hinanya itu diketahui oleh orang lain.
Sekarang Selly harus fokus lagi pada tujuannya, rencana saat ini sudah di pastikan gagal, dan memang sudah gagal. Ia harus berpikir keras mencari cara lain, menyingkirkan Diana, menghancurkan Dimas, tapi tanpa sepengetahuan sang Ayah.
Setalah itu mereka semua pun keluar dari ruangan Pak Edi.
“Kali ini kamu boleh menang! Tapi lihat saja nanti!” ucap Selly pada Dimas penuh ancaman, setalah mereka sudah berada di luar.
“Saya ikuti permainan kamu! Saya tunggu,” balas Dimas terlibat santai, bahkan laki-laki itu tersenyum lebar.
Selly langsung mengajak Alda dan Sindy bergegas dari sana. Rasanya hatinya sungguh panas berhadapan dengan guru tidak tau diri itu.
“Kita lihat saja siapa yang akan menang! Aku akan membuatmu merasakan apa yang aku rasakan selama ini, kamu harus membayar semuanya Selly, aku akan membuat keluarga hancur, aku akan membuat mu bertekuk lutut padaku, dan setalah itu kamu akan menangis darah di hadapanku!” gumam Dimas, sorot matanya memperlihatkan begitu banyak dendam.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, dan Votenya ya.
Terima kasih.