
Semantara itu, Ayah Abraham sedari tadi terus mondar-mandir di ruang tamu. Sudah lewat tengah malam, namun Selly tak kunjung pulang ke rumahnya itu. Perasaan khawatir mulai timbul bahkan sejak tadi langit mulai gelap, apa lagi saat ini hujan di luar sana tidak kunjung berhenti.
“Selly, kamu dimana?” gumamnya cemas.
Berulang kali ia menghubungi ponsel putrinya itu, namun sejak tadi tidak bisa dihubungi. Ayah Abraham benar-benar mencemaskan putri gadisnya juga.
Sejak tadi juga Ayah Abraham sudah menghubungi semua sahabat Selly, Alda dan Sindy, namun mereka bilang tidak tahu. Hari ini Selly tidak datang ke rumah mereka atau pun menghubungi mereka. Bahkan kedua sehabatnya Selly itu malah bertanya balik pada Ayah Abraham. Menanyakan kenapa Selly bisa tidak ada, karna yang mereka tahu Selly hari ini tidak masuk sekolah dan bukannya dia menjemput Abraham pulang dari rumah sakit.
Dan akhirnya Ayah Abraham pun menceritakan semuanya. Reaksi kedua putrinya itu seperti sangat terkejut. Bahkan secara terang-terangan mereka berkata kalau dirinya itu egois.
Ayah Abraham menyadari itu semua, dan kini ia menyesali semuanya. Tapi jujur saja, tadi itu dia tidak bermaksud untuk mengusir Selly atau pun bersikap kasar pada anak gadisnya itu.
Ia hanya ingin memberikan pelajaran untuk Selly, agar tidak bersikap yang menurutnya sangat tidak wajar. Dan Ayah Abraham tidak menyangka jika Selly akan senekat ini. Ia berpikir selama ini Selly selalu ia manjakan, dia tidak akan bisa mandiri, dan dia pasti akan pulang! Tapi kenyataan ini begitu mengejutkan, tak menyangka bahwa akan seperti ini jarinya.
“Selly kamu di mana Nak? Maafkan Ayah sayang... pulanglah,” gumam Ayah Abraham.
“Tuan...” tiba-tiba saja Bi Sani sudah berdiri dibelakangnya. Ayah Abraham terlihat terkejut, lalu berbalik menghadap Art-nya itu.
“Bibi, bikin kaget saja!” Ayah Abraham mengusap dadanya, kelihatan dia begitu terkejut.
“Maaf Tuan,” ucap Bu Sani, tampak menyesal. Ia langsung menunduk kepalanya.
“Bibi ngapain di sini? Ini sudah malam, kenapa belum tidur?” cerca Ayah Abraham.
“Saya tidak bisa tidur Tuan, saya kepikiran sama Non Selly. Non Selly belum pulang ya Tuan?”
Terdengar helaian nafas berat dari laki-laki itu. Lalu Ayah Abraham mengelengkan kepalanya pelan.
__ADS_1
“Bi, apa saya keterlaluan?” tanyanya.
Bu Sani tak menjawab pertanyaan majikannya itu. Karna tidak berani, jika saja Bi Sani bisa berkata, mungkin dia akan berbicara dan mencaci Tuannya itu.
‘Jelas terlaluan Tuan! Bahkan sangat keterlaluan! Malah tanya lagi, huh... pasti si Tuan menyesal!’ batin Bi Sani.
“Saya gak tau harus gimana Bi? Ponselnya tidak aktif, saya juga sudah menghubungi sahabatnya. Tapi mereka bilang tidak tau,” keluhnya.
Lagi, Bi Sani hanya terdiam. Wanita yang sudah merawat Selly dari kecil itu terlihat begitu sangat mengkhawatirkannya. Tapi sayangnya dia tidak bisa apa-apa.
“Semoga Non Selly segara pulang Tuan. Saya sangat mengkhawatirkannya,” ujar Bi Sani. Ayahnya Selly hanya mengangguk.
“Apa Tuan mau dibuatkan sesuatu? Kopi atau Teh?” lanjutnya.
“Tidak Bi, sebaiknya bibi tidur saja ini sudah malam,” titahnya.
Sementara itu di atas, tepatnya di lantai dua di sebuah kamar, tepatnya kamar Ayah Abraham. Diana—istirnya terlihat tengah tertidur lelap. Diana tahu jika masalah Selly dan Ayahnya itu. Tapi dia tidak mempedulikan semua itu, malah dia merasa sangat senang, dan berdoa semoga saja Selly tidak kembali.
Bukannya bagus jika anak tirinya itu tidak kembali? Dia bisa lebih mudah menguasai Abraham. Dan ada satu lagi, ia merasa jika semesta sangat mendukungnya.
Tantang Video Selly dan Dimas itu, ternyata suaminya lebih percaya padanya dari pada dengan Selly. Sebelumnya, jauh sebelum Selly mengetahui kebusukannya itu, perselingkuhannya dengan Dimas—guru dari anak tirinya. Sebenarnya Abraham sudah menaruh curiga padanya. Bahkan Abraham pernah memergoki Diana jalan bersama Dimas.
Tapi karna keduanya pandai berakting dan Abraham juga tahu jika Dimas itu adalah guru anaknya di sekolah. Diana dan Dimas mengatakan kalau mereka tidak ada hubungan apa-apa, hanya sebatas orang tua murid dan guru anaknya saja. Tidak lebih, dan Diana berkata jika saat itu mereka tak sengaja bertemu dan sekalian membahas tentang bagaimana Selly di sekolah, jika Selly melakukan tindakan yang buruk, Diana meminta agar Dimas menegurnya atau memberitahu dirinya. Seolah Diana sangat peduli dengan Selly, mungkin begitu ceritanya.
Dan Dimas pun seolah membenarkan perkataan Diana. Dan akhirnya Abraham pun membuang semua kecurigaan, dan percaya pada ucapan busuk mereka.
Jika dipikir secara logika saja, harusnya Abraham tidak seharusnya percaya begitu saja. Tanpa harus diperingati pun, biasanya seorang guru akan mengurus seorang muridnya jika mereka melakukan sikap yang buruk, dan jika sudah melewati batas maka mereka akan mengadukan pada orang tua murid tersebut.
__ADS_1
Entah bagaimana cara berpikir Abraham saat itu, mungkin dia sudah diperbudak oleh istrinya itu, sehingga kepintaran yang ia miliki hilang jika sudah berhadapan dengan Diana. Jelas-jelas Diana membodohinya, tapi dia tidak sadar sama sekali. Miris!
Dan itulah alasan Abraham tidak mempercayai Selly—putrinya sendiri. Karna dia berpikir dia lebih tahu dari Selly.
***
Sementara itu di sebuah kamar, Selly masih berbaring di atas kasur, matanya masih terpejam, wajahnya terlihat pucat.
Selly terlihat sudah berganti pakaian, selimut tebal juga terlihat menutup tubuh gadis itu.
Beberapa saat kemudian, Selly mulai membuka mata, ia masih merasa kepalanya sangat berat.
“Di mana aku?” gumam Selly seraya mengamati ruangan tersebut.
Bersambung....
Like
Komen
Vote
gift
Jangan lupa ya...
Terima kasih...
__ADS_1