
Dimas berajak dari ruangan, sebenarnya ia malas untuk ke tempat yang akan ditujunya itu, tapi di sekolah juga dia merasa tidak semangat, mood untuk mengejarnya hilang.
Alhasil Dimas pun meminta izin kepada kepala sekolah untuk pulang, beralasan ada keperluan penting dan mendadak.
Setalah meminta izin dan ia diberi izin, Dimas pin segala bergegas meninggalkan tempat ia mengajar itu.
Dimas langsung menancap gas motor sport miliknya itu, kawasan sekolah terlihat sepi, siswa dan siswi memang sudah masuk ke dalam kelas mereka masing-masing karna jam pelajaran sudah di mulai sejak 30 menit yang lalu.
Motor Dimas mulai membelah jalan raya yang terlihat sedikit padat. Hingga 30 menit kemudian, akhirnya Dimas sampai di salah satu Rumah sakit tempat orang yang jiwanya terganggu, atau RSJ.
Usai memarkirkan motornya itu, Dimas pun segara memasukinya kawasan Rumah sakit tersebut.
“Dimas, akhirnya kamu datang juga. Om pikir kamu akan datang siang nanti karna masih mengajar,” ucap Om Firman, dia adalah keponakan dari mending Ayah-nya Dimas.
Dimas hanya tersenyum tipis, tanpa berkata apa-apa.
“Kondisi Ibu sangat memprihatikan Dim, akhirnya ini dia selalu mengamuk terus,” sambung Om Firman, dia adalah Dokter yang menangani Maya—Ibunya Dimas.
__ADS_1
Lagi, Dimas masih diam. Dari wajahnya tidak terlihat ada reaksi apa pun, padahal wanita yang kini tangah ia lihat tertidur di ruangan khusus tersebut adalah Ibunya, wanita yang sudah melahirkannya ke dunia.
“Kau tau Dim, setiap mengamuk dia pasti akan memanggil-manggil nama mendiang Ayah-mu. Kadang dia menangis, lalu dia ketawa. Sudah beberapa tahun Ibumu di rawat di sini, tapi Om rasa tidak ada efeknya sama sekali, padahal kami pihak Rumah sakit sudah melakukan usaha terbaik untuk kesembuhan Ibumu,” jelas Om Firman.
Dimas terlihat menghelai nafasnya, entahlah, mendengar penjelasan kondisi Ibunya itu, entah Dimas harus sedih atau senang?
“Kalau begitu kenapa Om tidak suntik mati saja wanita itu!” Akhirnya Dimas membuka suaranya.
Firman mengelengkan kepalanya, sambil tertawa. Dia tahu permasalahan Dimas dan Ibunya, hubungan mereka sangat-sangat tidak baik, Dimas tidak dekat dengan Ibunya, saat dulu keluarga mereka masih utuh dan bersama juga. Ya tepatnya memang Maya dulu tidak terlalu memperhatikan Dimas, dia asik dengan dunianya sendiri.
Dan beberapa bulan kemudian, Maya mengidap penyakit gangguan jiwa, entah apa penyebabnya, mungkin karna belum siap kehilangan Baskoro. Entahlah, tidak ada yang tahu jelas juga.
“Om kok malah ketawa? Emang ada yang lucu dengan pertanyaanku?” tanya Dimas lagi.
Firman mengelengkan kepalanya, “tidak Dimas, jika Om melakukan itu, Om bisa terkana pidana. Ya walau pun memang Ibumu ini sangat menjengkelkan,” canda Firman.
“Ya dari pada menjengkelkan, lebih baik suntik mati saja dia Om, dari pada menyusahkan kalian,” ucap Dimas tanpa dosa.
__ADS_1
“Sudahlah, jangan seperti itu. Dia ibumu Dimas, bagaimana Maya itu Ibumu, Ibu kandung mu, kamu harus menghormati dia, bagaimana kondisi. Dia wanita yang sudah melakukan dirimu ke dunia ini, kamu harus ingat itu!”
“Aku tidak pernah meminta di lahirkan kedua ini Om, apa lagi dari rahim wanita seperti dia. Jika bisa memilih lebih baik aku tidak di lahirkan ke dunia ini.”
Om Firman hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Entahlah, ini bukan yang pertama atau kedua kalinya dia mengatakan hal tersebut pada Dimas, mencoba menasihatinya. Tapi hasilnya selalu saja begini.
Firman kadang merasa heran, sebenernya apa yang sudah terjadi, ia benar-benar sangat tidak mengenal Dimas saat ini, berbeda dengan Dimas yang dulu. Entah kekecewaan seperti apa yang diberikan Maya, sehingga Dimas sekarang menjadi keras seperti ini.
“Ini sudah takdir kamu Dimas, mau tidak mau Maya itu adalah Ibu kamu, Ibu kandung mu. Lebih baik kamu lebih sering ke sini ajak dia bicara pelan-pelan, perhatian dia, mungkin dia sangat butuh dukungan dari keluarganya. Apa lagi kamu, Putra satu-satunya dia,” ucap Firman.
“Entahlah Om, nanti aku pikirkan lagi. Jadi tidak ada yang akan dibicarakan lagikan? Aku pamit pulang,” ujar Dimas, tanpa menunggu jawaban dari Firman, Dimas langsung bergegas dari sana. Dan meninggalkan Rumah sakit Jiwa tersebut.
Bersambung....
Jangan lupa, like, komentar dan Votenya ya.
Terima kasih...
__ADS_1