Lelaki Selingkuhan Ibuku

Lelaki Selingkuhan Ibuku
Chapter 13


__ADS_3

Beberapa tahun yang lalu....


“Mas, aku mohon jangan pergi....dengarkan penjelasan aku dulu, Mas...” teriak seorang wanita pada suami yang kini terlihat berjalan tergesa-gesa seraya menarik kopernya.


“Aku sudah tidak butuh penjelasan kamu lagi Maya! Sudah cukup!” sahut Baskoro, memperdulikan istrinya itu.


Dengan cepat Maya berlari menyusul suaminya, setalah itu Maya bersimpuh di bawah kaki Baskoro, wanita itu memohon dan menangis sejadi-jadinya.


Sesaat Baskoro terdiam, antara tidak tega, namun dia juga kecewa pada istrinya yang sangat ia cinta itu.


“Mas, aku mohon maafkan aku. Aku akan menjelaskan semuanya sama kamu, aku mohon jangan pergi Mas. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan, dia menipuku Mas.”


“Sudah cukup Maya! Aku akan segera urus perceraian kita. Aku tidak akan pernah bisa memaafkan kamu, kamu sudah menghianati dan mencurangi aku Maya. Kamu sudah puas bukan hah? Kamu sudah menghancurkan hidupku! Perusahaan ku yang aku bangun dengan susah payah, semua hancur, bukan hanya itu, kamu juga sudah menghancurkan hatiku dan kepercayaanku yang selama ini aku berikan untuk kamu. Tapi apa? Lihatlah? Bahkan kamu tega berselingkuh dengan musuh bisnis ku, dan kamu juga membongkar semua rahasia perusahaan ku. Kamu berikan semua informasi tentang perusahaan ku pada dia! Selamat Maya kamu dan Abraham menang, silahkan nikmati kemenangan kalian itu!” pekik Baskoro. Ia menariknya dengan kuat, hingga Maya terjungkal.


“Mas, jangan tinggalkan aku Mas, aku menyesal...” teriak Maya, namun tak dihiraukan oleh Baskoro.


Ia bergegas pergi meninggalkan rumah tersebut.


Sementara itu sedari tadi sepasang mata dan telinga melihat dan mendengarkan perdebatan antara Baskoro dan Maya. Yang tak lain adalah orang tuanya.


Anak laki-laki yang masih duduk di bangku SMP itu terlihat mengepal kedua tangannya. Kilatan amarah terpancar jelas dari sorot matanya.


Setalah itu ia segara bergegas menuju kamarnya, sampai di kamar ia membuka kemari, mengambil tas ransel ukuran yang cukup besar, lalu ia mengeluarkan beberapa pakaian dari dalam lemari dan memasukannya ke dalam tas tersebut.

__ADS_1


“Dimas kamu mau kemana?” tanya Maya pada Putranya itu, melihat Dimas yang membawa tas besar membuat Maya bingung.


“Tidak sok peduli denganku Bu!” jawab Dimas, ia menghentikan langkahnya sejenak, menatap Ibunya dengan tatapan penuh kebencian. Setalah itu Dimas pun kembali melanjutkan langkahnya.


“Dimas... Dim, kamu kamu kemana?” teriak Maya. Lagi, Dimas sama sekali tak menghiraukan. Maya mengikuti langkah Dimas, namun saat ia sampai luar Rumah, terlambat, Dimas sudah melajukan motor sport-nya itu.


.


.


.


Dimas tersadar dari lamunannya, memori masa kelam itu selalu saja menghantuinya. Membuat rasa dendam Dimas semakin membesar.


Dan semua itu gara-gara Abraham, ya Abraham. Ayahnya Selly. Abraham melakukan tipu daya muslihat Maya—Ibunya. Entah apa yang Abraham janjikan kali itu pada Maya, sehingga wanita itu begitu tergila-gila pada laki-laki itu, jelas Maya tau jika Abraham saat itu mempunyai istri. Dan begitu pun Maya dirinya mempunyai suami.


Bahkan Dimas waktu itu melihat sendiri penghianatan sang Ibu, dimana wanita yang sudah melahirkan itu ke hotel bersama Abraham.


Tanpa memikirkan perasaan Ayahnya.


Ingin rasanya saat itu Dimas marah dan melakukan hal yang kasar pada mereka. Tapi dulu, Dimas mengakui jika dirinya Cemen, mental tahu, tidak berani.


Dimas hanya bisa menyimpan semua itu sendiri. Rahasia penghianatan Ibunya pada Ayahnya itu. Tak berani jika Dimas mengatakan pada Ayahnya, karna Dimas sendiri tidak yakin, jika Ayahnya akan percaya padanya saat itu. Dimas tahu betul jika Ayahnya itu begitu mencintai Ibunya. Persetan dengan cinta, hingga Ayahnya menjadi bodoh.

__ADS_1


Hingga suatu hari kebusukan itu terbongkar, tepat di saat Ayahnya saat itu kalah tender dengan Abraham, membuat perusahaan jatuh bangkrut. Perselingkuhan ibunya pun juga terbongkar, terbongkar oleh istrinya—Abraham, dan istrinya—Abraham atau Ibunya kandungnya Selly itu, memberitahu Baskoro. Dan disitulah semuanya hancur.


Yang membuat Dimas dendam pada keluarga Abraham adalah, Dimas tidak terima atas kematian sang Ayah. Di depan rumah peristirahatan sang Ayah yang terakhir, Dimas bersumpah, bahwa ia akan membalas semua sakit hati yang dirasakan oleh Ayahnya sebelum Ayahnya itu pergi untuk selama-lamanya. Dan tepat di hari ketujuh Ayahnya meninggal, Dimas mendapatkan kabar jika Istrinya—Abraham meninggal Dunia.


.


.


.


.


Dimas kembali tersentak, saat ia merasakan ponsel yang ada di sakunya itu bergetar. Segara Dimas meraih ponselnya itu, dan melihat siapa yang menelepon.


Dimas terlihat malas untuk mengangkat telepon yang masuk ke ponselnya itu.


‘Pas dia mengamuk lagi! Kanapa dia tidak mati saja! Menyusahkan saja!’ batin Dimas, seraya menatap layar ponselnya itu. Lalu dengan terpaksa akhirnya Dimas pun mengangkat telepon masuk tersebut.


“Hallo...”


....


“Baiklah saya akan segara kesana.”

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2