
Alda dan Sindy mengikuti mobil milik Diana yang mulai melaju meninggalkan kawasan Rumah sakit tersebut.
“Ald sebenernya kita mau kemana sih? Kok kita ngikutin mobilnya Tante Diana?” tanya Sindy, Alda memang tak memberitahu rencananya itu pada sahabatnya yang satu ini, karna baginya percuma. Sindy yang otaknya agak-agak beku, sudah dipastikan lambat mencerna semuanya, ribet jadinya.
“Udah deh Lo diem aja! Pokoknya ikutin aja gue. Oke!” jawab Alda. Sindy hanya mengehelai napasnya, ia pun pasrah.
Lama mereka mengikuti laju mobil Diana, yang mereka tidak tahu arahnya akan kemana, tapi untungnya, seperti Diana tidak mencurigai mereka.
“Ck, ini orang mau kemana sih? Jauh amat!” gerutu Alda, merasa sedikit kesal karna Diana masih saja belum sampai di tempat tujuannya.
“Makanya, ngapain coba kita ngikutin Tante Diana! Kurang kerjaan!” sahut Sindy.
“Diem Lo, bocah jangan banyak omong! Pusing gue!” kesal Alda. Sindy memutar bola matanya memalas. Sindy benar-benar tidak habis pikir, ngapain ngikutin mobil ibu tirinya Selly.
Hingga tak lama kemudian, mobil Diana terlihat berhenti di depan sebuah Mall ternama yang ada di kota tersebut.
Alda pun ikut menghentikan mobilnya, namun sedikit jauh dari Mobil Diana. Hingga Diana terlihat keluar dari mobil tersebut.
Alda pun segera mengajak Sindy keluar dari mobil. Tapi sebelum itu, Alda memberikan sebuah masker dan topi pada Sindy, tak lupa juga kacamata hitam. Alda sudah menyiapkan semuanya, sengaja mereka memakai barang-barang tersebut, untuk berjaga-jaga, takut jika Diana melihat mereka, jika mereka berpenampilan seperti itu, sudah dipastikan Diana tidak akan mengenali mereka.
“Peke ini cepat!” titah Alda pada Sindy, memberikan masker, topi dan kacamata hitam tersebut pada Sindy.
“Buat apaan ini?” tanya Sindy, gadis itu malah menatap barang-barang yang diberikan oleh Alda berusaha.
“Sudah pake aja! Jangan banyak tanya napa Sin!” ketus Alda kesal.
“Yaudah iya!” Sindy pun menuruti apa kata sehabatnya itu, ia memakai masker, topi dan kacamata hitam tersebut. Begitu pun dengan Alda gadis itu terlihat sudah memakai semuanya.
“Udah nih Ald, sesak gue peke ginian,” kata Sindy.
“Ayo cepat kita keluar, kita ikutin Tante Diana, ingat jangan dibuka dulu itu, nanti kalau misi kita udah kelar, baru. Biar kagak ketahuan sama dia. Paham gak Lo?”
__ADS_1
“Oh jadi kita mau jadi mata-mata Tante Diana? Oke-oke gue paham. Cus kita jalan misi kenegaraan ini, biar sejahtera, aman dan damai!” seru Sindy.
“Misi kenegaraan, pala Lo. Pusing gue, kagak ngerti lagi, kenapa gue bisa punya sahabat kaya Lo!” pekik Alda. Dan Sindy hanya menanggapinya dengan cengiran.
Setalah itu Alda dan Sindy pun keluar dari mobil, ia mengikuti Diana yang sudah mulai berjalan memasuki Mall tersebut. Mereka berjalan mengikuti Diana dengan jarak kurang lebih dua meteran.
Dian terlihat memasuki sebuah Restoran dan mereka pun mengikutinya. Diana berjalan ke salah satu meja, dan di sana juga terlihat sudah ada seorang laki-laki, seperti laki-laki itu tengah menunggu Diana, Diana seperti sudah membuat janji dengan laki-laki itu.
Dan begitu terkejut Alda serta Sindy, saat melihat laki-laki yang kini sudah duduk berdampingan dengan Diana.
“Ald, itukan Pak Dimas!” Sindy terlihat begitu terkejut, ia tidak bisa menahan keterkejutannya itu sehingga bersuara cukup keras.
Namun dengan cepat Alda membungkam mulut sahabatnya itu dengan tangannya.
“Jangan keras-keras, nanti dia denger bege!” bisik Alda. Sindy pun mengangguk mengerti.
Dan Alda langsung melepaskan tangannya yang membungkam mulut Sindy tersebut.
“Ayo kita duduk,” ajak Alda kemudian, kedua gadis itu duduk tak jauh dari meja Diana dan Dimas.
Alda merasa sedikit kesal pada Sindy, hampir saja. Tapi untungnya Dimas dan Diana tidak mendengar suara Sindy yang cempreng itu, entahlah, tidak mendengar atau memang tidak terlalu menghiraukannya, karna kini Alda melihat Diana dan Dimas terlihat tengah mengobrol, dan melihat dari raut wajah keduanya, mereka seperti tengah membicarakan suatu hal yang serius.
Sayangnya Alda tidak bisa mendengar pembicaraan mereka, ingin rasanya Alda pindah tempat mendekati mereka, tapi ia juga takut, takut jika mereka menyadari kehadirannya.
Lalu pelayan terlihat mendekati meja Alda dan Sindy, menanyakan mereka akan memesan apa. Alda segara memesan makannya dengan cepat, bahkan tidak memberi kesempatan pada Sindy, untuk mengatakan akan memesan apa.
“Steak 2, minumnya jus jeruk 2,” ucap Alda pada pelayan restoran tersebut.
“Alda gue, gak...” Sindy tak melanjutkan ucapannya, saat Alda memberikan kode, dengan meletakkan jarinya di bibir, meminta Sindy untuk diam.
“Baik, kami akan menyiapkan pesanannya,” ujar sang pelayan, usai mencatat pesanan Alda. Alda dan Sindy hanya mengangguk, setalah itu pelayan pun berlalu.
__ADS_1
Setalah itu Alda diam-diam mengambil gambar Diana dan Dimas, Alda beruntung bisa mendapatkan Poto di mata Diana tengah memegangi tangan Dimas, lalu Dimas yang mengelus kepala Diana.
Waw, menakjubkan. Alda bener-bener tidak menyangka jika gurunya yang terkenal sangat bijaksana itu di sekolahnya, ternyata aslinya sangat busuk. Menjalin hubungan dengan istri orang, benar-benar memalukan!
Tidak mungkin jika Dimas tidak tahu jika Diana adalah istri orang, Diana bahkan pernah bertemu dengan Dimas di sekolah mereka, sebagai orang tua wali dari Selly, tidak mungkin bukan Dimas tidak tahu?
Setalah mengambil beberapa Poto mereka, Alda pun segara mengirimkannya pada Selly.
Sementara Sindy dia hanya diam, sepertinya gadis itu benar-benar sangat shock, melihat semuanya.
Tak menyangka, kecewa, benci, hancur, semua rasa menghinggapi hati gadis itu. Guru yang ia kagumi, ternyata kelakuannya seperti ini di luar sekolah. Benar-bener tidak patut untuk di hormati, contoh yang sangat buruk.
Walau pun otaknya sedikit lemot, tapi bukan berarti Sindy bodoh, ia bisa membedakan mana yang benar dan mana yang tidak! Seperti melihat Dimas dan Diana saat ini, otak Sindy berjalan cepat, mengerti semuanya. Melihat Dimas memang benar memiliki hubungan dengan Diana, tapi bukan hubungan antar guru dan orang tua murid seperti biasanya, tapi hubungan spesial.
‘Lihat saja! Aku akan adukan semua ini sama Papa, aku tidak mau punya guru berperilaku buruk di sekolah ku!’ batin Sindy.
Sementara itu, Selly yang baru saja mendapatkan kiriman Poto dari Alda—sahabatnya. Selly terlihat sangat terkejut, ia benar-benar tidak menyangka.
‘Gue juga belum tau bener apa enggaknya, mereka ada hubungan. Tapi dari gelagatnya mereka, gue yakin mereka ada something. Nanti gue kabarin Lo lagi, untuk kejelasannya, gue akan ikutin mereka lagi.’ Pesan dari Alda yang baru saja Selly baca, setelah Alda mengirimkan Poto Ibu tirinya dan gurunya itu, Dimas.
‘Oke!’ Balas Selly.
Lalu Selly meletakan ponselnya, ia berjalan mendekati ranjang sang Ayah, Ayahnya terlihat tengah tertidur lelap, mungkin karna efek dari obat.
Selly menggenggam tangan Ayahnya dengan erat, setetes air mata terlihat menetes dari pelupuk mata indah gadis itu.
Ia merasa sangat iba pada Ayahnya, padahal Ayahnya sangat mencintai Diana, bahkan mempercayai wanita, memberikan apa yang wanita itu mau, segalanya Ayahnya serahkan untuk wanita itu, tapi kenapa? Kenap teganya Diana melakukan hal ini pada Ayahnya, kenapa Ibu tirinya itu menghianati Ayahnya.
‘Ayah aku berjanji akan membalaskan penghianatan Diana pada kita!’ batin Selly.
Bersambung...
__ADS_1