Lelaki Selingkuhan Ibuku

Lelaki Selingkuhan Ibuku
Chapter 7


__ADS_3

Selly dan kedua sahabatnya itu langsung menuju kelas, mereka bertiga memang duduk berdekatan. Sambil menunggu kelas di mulai, seperti biasa mereka mengobrol kesana kemari dengan topik pembicaraan yang melenceng, walau pun ketiganya selalu bercekcok, namun semua itu tidak mempengaruhi persahabatan mereka, mereka selalu kompak, saling membantu satu sama lain jika sedang kesusahan dan ada masalah.


Mereka bertiga memang sangat terkenal di sekolahnya. Mereka terlahir dari keluarga kaya raya, namun tidak pernah sombong, mereka tipe orang-orang yang ramah, baik pula pada teman-teman mereka yang lainnya.


Banyak yang suka pada mereka, baik itu dari kaum wanita atau pun pria, karna sikap mereka itu. Namun sebagian ada yang tidak suka juga, tentu saja orang yang merasa tidak suka pada mereka karna iri dengan mereka bertiga.


Tak lama bell pun berbunyi, tanda kelas akan segara di mulai. Semua siswa dan siswi langsung membenahi posisi mereka masing-masing, suasana yang tadinya ricuh seketika jadi hening, saat seorang laki-laki masuk ke dalam ruangan kelas mereka itu.


“Selamat pagi...” sapa laki-laki tersebut, yang tak lain adalah guru mata pelajaran mereka hari ini, suaranya terdengar tegas dan berwibawa. Apa lagi dengan penampilannya yang sangat rapi di tambah dengan raut parasnya yang tampan dan rupawan.


“Pagi...Pak...” jawab mereka serentak.


“Kumpulkan tugas yang kemarin saya berikan, sekarang!” titah guru biologi yang bernama Dimas tersebut.


Mereka semua langsung menurut, begitu juga dengan Selly dan Alda, mereka memberikan buku tugas mereka kepada Pak Dimas.


“Sindy, punya kamu mana?” tanya Pak Dimas menatap Sindy dengan tatapan yang datar, melihat Sindy yang sedari duduk di tempatnya, dan tidak ke depan memberikan buku tugasnya, seperti teman-teman yang lain.


Namun yang di tatap malah terlihat salah tingkah, Sindy malah tersenyum cengengesan, “hehe, maaf Pak saya lupa,” jawab Sindy, dengan wajah yang merah merona.


Dimas terlihat mengehelai nafasnya, ini bukan satu atau dua kali, siswinya yang bernama Sindy itu tidak mengumpulkan tugas yang ia berikan.


Sementara teman-temannya yang lain hanya bisa menggelengkan kepala mereka, begitu pun dengan Selly dan Alda.


“Mampus lho Sin,” ledek Alda berbisik, semantara Selly hanya tersenyum, dan Sindy hanya membalasnya dengan mencibirkan bibirnya pada sahabatnya itu.


“Ke depan!” pinta Dimas dengan tegas pada Sindy. Sindy hanya pasrah ia pun berajak dari tempat duduknya dan berjalan ke depan.


“Kenapa kamu tidak mengumpulkan tugas kamu! Ini bukan satu atau dua kali kamu seperti ini Sindy, saya sudah bosan memperingati kamu! Apa kamu sengaja? Apa kamu mau terus saya hukum?” Dimas membondong pernyataan pada siswanya itu. Raut wajahnya terlihat penuh misteri. Seperti orang sedang marah, tapi terlihat tenang. Sudahlah, guru yang satu ini memang sangat sulit untuk di tebak!


“Maaf Pak, saya lupa, sumpah Pak saya gak bohong!” jawab Sindy masih dengan cengengesan, gadis itu mengacung dua jarinya pada Dimas. Sindy memang tidak ada takut-takutnya.


“Lupa kamu bilang? Apa tidak ada alasan yang lain hah?” Dimas kini berbicara dengan nada sedikit meninggi.


Semua murid yang ada di kelas tersebut langsung menunduk, mereka terlihat ketakutan, selama ini memang Dimas dikenal sebagai guru yang sangat ditakuti oleh semua siswa dan siswi yang ada di sekolah tersebut. Bahkan melihat Dimas, mereka merasa lebih horor dibandingkan melihat setan. Hanya satu, cuman satu, yaitu Sindy, mereka merasa heran pada gadis itu, aneh pikir mereka, apa Sindy kurang waras ya? Entahlah, tapi yang mereka tahu otak Sindy memang dibawah rata-rata. Lama-lama mereka terbiasa, dan memaklumi teman sekelas mereka satu itu.


“Ada kok Pak alasan lain!” seru Sindy.


“Apa?” tanya Dimas geram.


“Alda sama Selly, mereka gak ngasih saya contekan Pak,” jawab Sindy sambil melihat pada kedua sahabatnya itu.


Selly dan Alda langsung membulatkan matanya, kesal pada sahabatnya itu. Kenapa Sindy bicara seperti itu? Auto kena masalah Selly dan Alda. Apa lagi kini terlihat Dimas sudah menatap mereka.


“Apa benar kalian sering memberikan dia contekan?” tanya Dimas pada Selly dan Alda.


Karna terkesima dengan tatapan guru mereka itu, Selly dan Alda melihat tatapan Dimas begitu mengerikan, pikrinya.


Tak sadar mereka mengangguk, namun detik kemudian mereka mengelengkan kepalanya, memberikan jawaban ambigu, antara iya dan tidak.


“Kalian berdua ke depan!” tegas Dimas.


“Tapi, Pak...” Alda terlihat ingin protes.


“Saya bilang ke depan!” tegas Dimas lagi.


Selly memberikan isyarat pada Alda untuk menuruti saja permintaan dari guru mereka itu. Selly tanpa ekspresi langsung berjalan ke dapan, begitu pun dengan Alda ia menyusul Selly namun dengan langkah yang gontai.


“Gara-gara elo Sin, kenapa bawa-bawa gue sama Selly coba?!” bisik Alda kesal pada Sindy yang berdiri di sampingnya.


Namun Sindy terlihat tenang dan tidak merasa bersalah, gadis itu malah mengulas senyumannya tanpa dosa pada Selly dan Alda.


“Sekarang kalian bertiga keluar dari sini, kalian tidak boleh ikut kelas saya hari ini. Dan ingin saya tidak mau tahu kejadian seperti ini jangan terulang lagi! Kalain mengerti?” Selly, Alda dan Sindy mengangguk.


“Untuk saat ini saya berikan kalian toleransi, tapi jika kalian mengulangnya lagi. Kalian bukan hanya tidak akan bisa mengikuti kelas saya lagi, tapi kelas semua guru di sini!” ucap Dimas tegas pada mereka bertiga.


Selly, Alda dan Sindy hanya mengangguk pasrah.


“Ini bukan berlaku untuk kalian bertiga saja, tapi murid yang ada di kelas ini juga! Kalian paham?” ucap Dimas lagi pada semua murid yang ada di kelas tersebut.


“Paham Pak...” jawab mereka semua serentak.

__ADS_1


“Sekarang kalian bertiga keluar!” titah Dimas.


Mereka pun keluar, meninggalkan ruangan kelas tersebut.


“Gara-gara elo sih Sin, gue sam Selly jadi ikutan di hukumkan!” ketus Alda kesal pada Sindy.


“Hehe, maaf, kita kan friend, harus kompak!” sahut Sindy masih tak merasa bersalah.


“Friend, sih friend tapi kagak gini juga kali. Masa elo di hukum kita juga mesti ikut, gak ada akhlak Lo,” ketus Alda lagi.


“Udah, jangan berdebat, kaya orang penting aja Lo pada! Mending kita ke kantin aja yuk, gue laper ini, tadi kagak sempet serapan,” kita Selly melaraikan perdebatan sengit kedua sahabatnya itu.


“Nah bener tuh kata Sell, cus yuk, gue juga laper nih,” timpal Sindy.


“Laper mulu Lo perasaan!” ketus Alda, sumpah demi apa pun Alda masih kesal pada sahabatnya yang satu ini.


“Sell emang Lo gak kesel apa sama dia?” lanjut Alda bertanya pada Selly sambil memancingkan matanya pada Sindy.


“Kesel sih, tapi ya mau gimana lagi,” jawab Selly pasrah, “lagian gue juga melas ikut kelas Pak guru menyebalkan itu!” lanjutnya.


“Tuh Ald, liat, Selly kesel sama gue, tapi dia orangnya sabaran gak kaya Lo,” ucap Sindy pada Alda.


“Tau ah pusing gue ngomong sam Lo sin!”


“Udah gue bilang, kan Zayaaanggg...” timpal Selly.


“Yes Lo bener, cus lah kita ke kantin.” Alda mengandeng tangan Selly lalu mereka berdua berjalan terlebih dahulu meninggalkan Sindy.


“Woy... tungguin gue....” teriak Sindy, lalu ia berlari mengejar kedua sahabatnya itu.


Sesampainya di kantin mereka langsung memesan makanan. Tak lama pesanan mereka pun datang. Sindy dan Alda terlihat sangat menikmati makanan mereka itu, sementara Selly dia hanya makan satu suap, dan setelah itu ia hanya mengaduk-aduk makanannya saja. Entah mengapa tiba-tiba saja selera makan Selly hilang, padahal tadi ia sangat lapar. Tapi kini ia merasa kenyang, Selly teringat kata-kata Ayahnya tadi, membuat hatinya terasa perih kembali. Tapi Selly yakin, Ayahnya tidak mungkin bicara seperti itu tanpa ada sebabnya, sebenarnya siapa yang mengadu pada sang Ayah, sehingga Selly selalu salah di mata Ayahnya itu.


Sementara Alda dan Sindy, mereka menghentikan aktifitas makannya itu, saat menyadari Selly yang terlihat murung, tatapannya pun seperti sedang melamun, mereka merasa ada yang aneh, tidak bisanya sahabatnya itu seperti ini.


Alda dan Sindy saling berpandangan, sekilas mereka memancingkan sudut mata mereka pada Selly yang duduk di sampingnya itu.


Keduanya seperti sedang berbicara melalu bahasa isyarat.


Selly sedikit tersentak, lalu ia tersenyum pada Sindy dan Alda. “Santai aja kali Sin, udah biasa kita ya Ald,” sahut Selly, dan Alda menanggapinya dengan senyuman kikuk.


Alda merasa bukan itu masalahnya, Alda merasa jika Selly tengah memikirkan sesuatu, seperti ada yang sedang di sembunyikan oleh sahabatnya itu.


“Sell, Lo baik-baik ajakan?” Tiba-tiba saja Alda berkata seperti itu, membuat Selly menatap Alda penuh tanda tanya.


“Gue baik-baik aja kok Ald, no problem!” jawab Selly enteng. Alda yang memang tipekal orang yang sangat peka, tapi dia tidak bisa dibohongi apa lagi sama Selly, Alda yakin Selly sedang ada masalah.


Berbeda dengan Sindy, sedari tadi gadis itu hanya menyimak, entahlah apa dia mengerti atau tidak, yang ia tau hanya iya-iya saja.


“Sell kalau Lo ada masalah cerita sama kita, jangan di pendem sendiri, siapa tau kita bisa bantu!” ucap Alda seraya memegangi tangan Selly. Ucapan Alda diangguki oleh Sindy.


Selly menghembuskan nafas beratnya, memang tidak mudah untuk menutupi masalahnya itu pada kedua sahabatnya itu.


Selly pun akhirnya pasrah, ia menceritakan kejadian tadi bagi tentang sikap Ayahnya itu pada Alda dan Sindy. Selly juga menceritakan tentang sikap aneh Diana—ibu tirinya belakangan ini.


“Apa gue yang terlalu baperan ya?” tanya Selly pada kedua sehabatnya itu usai menceritakan semuanya pada mereka.


“Enggak kok, Lo gak baperan Sell, kalau gue digituin sama Papi gue, gue juga pasti sakit hati! Apa lagi alasannya gak jelas!” sahut Sindy, tumben ini anak pikirnya lulus no minus.


“Apa iya Sin?” tanya Selly lagi. Sindy mengangguk-anggukan kepalanya.


“Iya Sell, gue juga pasti bakalan sama kaya Lo, kali digituin sama Daddy gue,” ungkap Alda.


“Terus gue harus gimana?” Selly meminta saran pada kedua sahabatnya itu. Alda terlihat sedang berpikir, begitu juga dengan Sindy ia meletakan jari telunjuknya di kepalanya.


“Ya kita cari tau penyebabnya Sell,” jawab Alda kemudian, sepertinya gadis itu sudah mempunyai cela.


“Caranya?” tanya Selly lagi, menatap Alda penuh tanya.


“Lo, kan tadi bilang curiga sama nyokap tiri Lo itu, kita selidiki dia aja, biar tau kebenaranya, jika memang terbukti, kita cari tau juga apa alasannya dia, terus apa maksudnya dia menjelekkan Lo sama bokap Lo, pokoknya Lo ikutin aja nanti apa kata gue! Gimana?” jelas Alda.


Selly mengangguk, walau pun ia masih bingung bagaimana caranya, tidak mungkin juga jika bertanya langsung pada Diana—ibu tirinya itu, seumpanya jika bener pun Diana yang mengatakan hal itu pada Ayahnya, tidak mungkin wanita itu mengaku bukan? Istilahnya, maling ngaku penjara penuh. Bukannya begitu?

__ADS_1


***


Selepas pulang dari sekolah ketiga gadis itu segara menuju Rumah sakit tempat Ayahnya Selly di rawat, seperti rencana awal, kedua sehabatnya itu ingin menjenguk Ayahnya Selly.


Selly membawa mobilnya sendiri, semantara Alda ia menumpang di mobil Sindy, mobil Alda ditinggal di sekolah, dan nanti dia bilang sopirnya akan membawanya. Sengaja Alda tidak membawa mobilnya, karna ia sudah menyusun semua rencana untuk menyelidiki Diana—ibu tiri sahabat itu.


Sesampai di Rumah sakit, mereka langsung menuju ruang rawat Ayah Selly.


Ayah Selly terlihat sangat ramah menyambut kedua sahabat putrinya itu, tak lupa ia juga mengucapkan terima kasih pada mereka. Sikap Ayah Selly juga sudah tidak seperti pagi tadi pada Selly, bahkan ia sudah meminta maaf pada Selly, namun sang Ayah tida mengatakan apa penyebab sang Ayah berkata seperti itu pada Selly tadi pagi. Ayahnya meminta Selly untuk melupakan semua.


Dan hal itu membuat Selly dan kedua sahabatnya yang memang sudah paham, akan pembicaraan Selly dan Ayahnya, semakin curiga pada Diana.


Setalah mengobrol cukup panjang, Alda dan Sindy memutuskan untuk pulang, ia berpamitan pada Selly dan Ayahnya.


Bertepatan saat Alda dan Sindy akan keluar, ibu tirinya Nisa terlihat baru saja datang ke sana.


Alda memberi kode pada Selly, Selly mengedipkan matanya mengerti. Setalah itu kedua sahabatnya Selly terlebih dulu menyapa Ibu tirinya Selly sebelum mereka pergi.


Setalah kepergian Alda dan Sindy, suasana tiba-tiba saja hening, Selly terlihat asik dengan ponselnya sambil duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut, Selly saat ini tengah bertukar pesan dengan Alda, Alda sudah memberitahu rencananya pada Selly, Selly tersenyum, rasanya ia sudah tidak sabar untuk menjalankan ide yang diberikan oleh sahabatnya itu.


‘Lihat saja! Aku akan membuka kebenarannya,’ batin Selly, sekilas ia melirik pada Ibu tirinya dengan tatapan sinis.


Semantara Diana, ia terlihat bingung, merasa diacuhkan, Selly sedari tadi asik sendiri, dan Abraham, sedari tadi suaminya itu tidak bersuara sama sekali. Antara kesal, tapi tidak mungkin ia memperlihatkan kekesalan itu dihadapan mereka berdua, yang ada akan memperburuk suasana.


‘Sabar Diana, sabar. Ini kenapa sih si tua bangka mingkem terus dari tadi, dan si Selly juga, ah menyebalkan mereka berdua sama saja!’ batin Diana menggerutu.


“Mas sudah makan?” Diana membuka suaranya, ia bertanya pada suaminya itu, dengan sikap sok perhatian.


“Sudah!” jawab Abraham singkat, tanpa menatap Diana seperti biasanya jika ia berbicara dengan istrinya itu.


“Emm, sudah minum obat?” tanya Diana lagi, masih berusaha sabar dengan sikap suaminya yang berbeda itu, tidak seperti biasanya.


“Sudah!” Abraham kembali menjawabnya dengan singkat, bahkan nadanya kini terdengar ketus.


‘Sial! Aku harus cari cara buat keluar dari sini. Melas banget, dicuekin! Mending aku temui Dimas saja,’ batinnya.


Lalu Diana mengambil ponselnya dari dalam tas, ia berpura-pura mengangkat telepon.


“Hallo...”


“Oh iya, aduh gimana ya, suami saya sedang di Rumah sakit kayanya saya gak bisa deh!”


“Apa? Hangus, jangan begitulah, tolong mengerti posisi saya.”


“Oke, baiklah saya akan coba izin dulu sama suami saya ya, oke.. bye..”


Dia berpura-pura berbicara seolah memang dia tengah menelpon dengan seseorang. Abraham yang menyaksikan hal tersebut menatap istrinya itu dengan penuh tanda tanya, apa lagi saat ini Diana terlihat memasang wajah paniknya. Sementara Selly ia hanya tersenyum sinis, Selly yakin bahwa ibu tirinya itu tengah berdusta, akting yang sangat bagus, tapi sayang Selly tidak percaya, bahkan Selly tadi melihat sendiri ponsel milik Diana itu menyala saat wanita itu meletakan ponsel itu di dekat telinganya, dilayar ponsel itu tidak muncul nama kontak atau panggilan yang masuk.


“Ada apa?” Abraham yang penasaran itu pun bertanya.


“Ini lho Mas, hari ini aku ada janji ketemu sama temen-temen arisan, sebenarnya aku sudah telat datang, dan niatnya juga aku gak mau datang, karna gak mungkin aku ninggalin kamu yang lagi sakit begini. Terus barusan temen aku ngabarin, kalau aku yang menang arisan kali ini, terus kalau aku tidak datang mereka bilang uangnya hangus,” jelas Diana, dengan wajah yang terlihat sendu.


Selly yang mendengar penjelasan ibu tirinya itu pada Ayahnya, ia mengerutkan keningnya, Selly merasa aneh dengan sistim arisan yang di ikuti oleh ibu tirinya itu. Mana ada uang arisan hangus begitu, baru dengan rasa Selly ada arisan seperti itu. Bukannya kalau arisan yang dapat giliran menang itu tetap dapat uangnya, walau pun gak hadir di kumpulan arisan itu. Penjelasan macam apa itu? Tidak masuk akal? Tapi Selly tidak ingin berkata-kata, ia membiarkan saja Ibu tirinya itu membodohi sang Ayah, karna Selly yakin Ayahnya pasti percaya, lagian Ayahnya mana ngerti begituan.


Selly saat ini hanya fokus dengan rencana yang ia rancang bersama dua sahabatnya itu.


“Gimana ya Mas, aku bingung,” ucap Diana.


“Ya sudah kamu pergi saja! Di sini ada Selly juga.”


“Beneran Mas? Ah terima kasih ya Mas. Kalau begitu aku berangkat dulu ya,” pamit Diana dengan girang. ‘Yes berhasil, dasar bodoh, gampang sekali di bohongi,’ lanjutnya dalam hati.


“Sell, Ibu pergi dulu ya. Gak lama kok, titip Ayah ya,” sambung Diana berkata pada Selly.


Selly hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Setalah itu Diana langsung bergegas keluar dari ruang rawat tersebut.


‘Dia sudah pergi, cus lanjut, misi kita.’


Selly mengirim pesan pada Alda. Beberapa detik kemudian, Alda membalas pesannya.


‘Siap Bos ku, target sudah dalam sasaran.’

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2