
Tak lama kemudian Selly keluar dari kamar mandi, gadis itu terlihat sudah rapi dengan seragam sekolahnya.
“Ayah sudah bangun?” tanyanya, seraya berjalan mendekati ranjang sang Ayah.
Abraham hanya mengangguk, namun dengan ekspresi wajah yang terlihat acuh, seperti malas melihat pada putrinya itu.
“Ayah butuh sesuatu biar aku bantu? Atau mau sarapan, Selly suapin ya!” lanjut Selly, dengan antusias gadis itu mengangguk bubur yang sudah dibelikan oleh Bi Sani.
“Ayo Yah kita sarapan.” Selly mengambil satu sendok bubur tersebut dan mendekatkan pada mulut Ayahnya.
Namun Ayahnya masih terlihat acuh, bahkan menepis sendok tersebut.
“Tidak! Kamu makan saja sendiri! Jangan sok peduli dengan Ayahmu ini,” ketus Abraham pada Selly, wajah gadis itu terlihat kecewa, matanya pun berkaca-kaca, Selly merasa hatinya sedikit pedih dengan penolakan Ayahnya saat ini.
“Tapi Ayah harus makan, terus minum obat, biar cepat sembuh,” ujar Selly ia mencoba menepis rasa perih di hatinya itu. Selly berusaha membujuk Ayahnya kembali.
“Apa peduli kamu Selly?! Ayah sakit atau pun sehat, kamu tidak pernah menuruti apa kata Ayahmu ini bukan? Lebih baik kamu berangkat sana bersenang-senang saja dengan temanmu yang berandalan itu!” pekik Abraham.
“Apa maksud Ayah bicara seperti itu? Selly sayang sama Ayah, Selly peduli sama Ayah! Kenapa Ayah berkata seperti itu? Ayah jahat!” Selly sudah tidak bisa lagi menahan dirinya, ia sudah tersulut emosi, perkataan sang Ayah sungguh membuat pedih hati.
Selly kembali menaruh bubur tersebut, tanpa pamit ia langsung berajak keluar dari ruangan Ayah itu.
Ia sungguh kecewa dengan Ayahnya yang tiba-tiba berkata seperti itu, padahal selama ini ia selalu berusaha menjadi anak yang baik untuk sang Ayah. Menurut apa kata Ayahnya, hanya memang belakang ini Selly selalu pulang telat dari sekolah, itu pun bukan tanpa alasan, bahkan Selly selalu meminta izin dulu pada sang Ayah.
“Non sarapan dulu,” teriak Bi Sani sambil menatap Selly yang sudah berada di dekat pintu. Namun Selly tak menyahut, ia langsung membuka pintu dan keluar.
‘Ayah jahat! Aku kecewa sama Ayah!’ batin Selly, gadis itu terus berjalan menelusuri koridor Rumah sakit, hingga sampai di parkir, Selly segara masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil tersebut menuju sekolahnya.
***
“Tuan mau sarapan?” tanya Bi Sani pada Abraham. Laki-laki itu melirik pada Bi Sani, lalu mengangguk.
Bi Sani mengambil bubur untuk Tuannya itu, “ini Tuan, mau saya suapin?” Bi Sani memberikan semangkuk bubur tersebut pada Tuannya itu, penuh ragu menawarkan diri untuk menyuapi sang majikan.
__ADS_1
“Tidak usah Bi, saya bisa sendiri,” jawabnya, lalu mengambil bubur tersebut, dan memakannya.
“Emm, Tuan maaf jika saya lancang, apa Tuan tadi tidak keterlaluan bicara seperti pada Non Selly?” ucap Bi Sani gugup, sebenernya ia tahu, pertanyaan yang ia lontarkan pada majikannya itu tidak sopan, hanya saja Bi Sani tidak kuat menahan dirinya, untuk berucap seperti itu, apa lagi tadi ia melihat wajah kekecewaan Selly, ia merasa tak tega.
Abraham menghentikan suapannya, lalu menoleh kearah Asisten rumah tangganya itu, yang sudah ia anggap sebagai keluarga, karna memang sudah sangat lama berkerja dengan.
Bi Sani menunduk, ia takut jika majikannya itu merasa tersinggung.
“Biar dia berpikir Bi, dia itu sudah mulai dewasa! Saya tidak mau terus memanjakan dia, nanti dia keras kepala! Dan memang yang saya katakan itu benar bukan? Saya sakit dia bahkan seolah tidak perduli!”
“Tidak perduli bagaimana Tuan? Non Selly yang membawa Tuan ke rumah sakit, dia yang menemani, menunggu Tuan menjalankan pemeriksan, Non Selly juga yang mengurus sendiri semuanya, dari admistrasi dan yang lainnya,” jelas Bibi.
‘Apa benar yang diucapkan bibi? Bukannya yang melakukan semua itu Diana? Apa Bibi berbohong untuk membela Selly?’ batin Abraham.
“Lalu kenapa pas saya sadar, saya tidak melihat dia?”
“Oh itu, kita gak tau kalau Tuan udah siuman, Non Selly ngajak bibi buat nemenin dia keluar karna Non Selly bilang dia lapar. Dan kebetulan di sini ada Nyonya baru datang menemui Tuan, jadi kami merasa tidak terlalu khawatir, karna ada yang menunggu Tuan. Tapi setalah kami kembali ke sini, Nyonya sudah tidak ada lagi, Tuan,” jelas Bi Sani lagi.
“Bi, bibi tidak berbohong, 'kan?” tanya Abraham memastikan.
“Ya ampun Tuan, apa saya selama ini bisa berbohong sama Tuan? Tidak pernahkan saya berbohong?”
Abraham langsung mengelengkan kepalanya, memang iya, selama ini Abraham kenal betul siapa Asisten rumah tangganya itu, Bi Sani orang ya jujur, tidak pernah sekali berbohong, dia wanita yang bijak, jika melakukan kesalahan-kesalahan sekecil apa pun dia pasti mengatakannya.
“Tapi kenapa Diana bilang kalau Selly tidak datang ke Rumah sakit? Saya pikir Diana yang membawa saya ke sini dan mengurus semuanya!”
“Ya, kalau itu Bibi gak tau Tuan. Mungkin Nyonya yang mengarang cerita!” jawab Bi Sani.
Abraham langsung terdiam, ia merasa kepalanya pusing, bingung, mana yang berkata benar dan berkata bohong. Diana, setahunya wanita yang jujur, dia pun istrinya. Dan Bi Sani, ia juga tidak mungkin berbohong.
‘Oh jadi semuanya itu penyebab Nyonya, tadi Tuan berkata yang menyakiti hati Non Selly itu. Kenapa semakin kesini aku merasa ada yang tidak beres sama nyonya ya?’ batin Bi Sani.
***
__ADS_1
Selly baru saja sampai di sekolahnya, setalah memarkir mobil mewahnya itu, terlihat dua orang berteriak histeris sambil menghampirinya.
“Selly.....” teriak mereka, dia adalah Alda dan Sindy, sahabatnya. Mereka langsung memeluk Selly.
“Gimana-gimana, bokap lo udah mendingan kan?” tanya Alda diangguki oleh Sindy.
“Udah mendingan, makanya gue masuk ke sekolah hari ini,” jawab Selly.
“Ah syukurlah, nanti pulang sekolah kita mau jenguk bokap lo, bolehkan Sell?”
“Boleh dong,” jawab Selly, “masuk yuk,” ajaknya kemudian.
Alda dan Sindy mengangguk, lalu mereka bertiga pun bejalan beriringan menuju kelas.
“Eh Sell, kasih contekan dong, PR gue belum dikerjain nih,” mohon Sindy. Diantara mereka, memang Sindy otaknya dibawah rata-rata, entah bagaimana dia bisa masuk ke sekolah favorit itu, pinter enggak, cantik, enggak juga, biasa aja. Cuman ya bokap-nya punya saham di sekolah ini.
“Jangan mau Sell, biarin aja ini anak males biar kena batunya,” pungkas Alda. Sementara Selly hanya tersenyum.
“Jahat Lo sama gue Sin, eh tapi biarin aja gue di hukum, rela sumpah gue di hukum sama guru itu, lagian Pak Dimas paling cuman minta gue berisi di depan, liatin kalian.”
“Dasar sinting!” ledek Alda dan Selly. Tapi yang diledek malah tersenyum tanpa dosa.
“Temen Lo kesambet apa si Ald?” sindir Selly.
“Kagak tau, kesambet jin iprit kali,” sahut Alda sambil tertawa, Selly juga ikut tertawa.
Sementara Sindy ia terlihat kesal, “gila Lo pada, masa Pak Dimas Lo berdua sebut Jin iprit, gue aduin sama dia, mati Lo berdua!” balas Sindy, ia tak rela jika guru favoritnya itu di jadikan bahan bercandaan oleh kedua sahabatnya itu.
“Silahkan gak takut!” jawab Selly dan Alda kompak.
Dimas yang dibicarakan oleh mereka itu adalah salah satu guru di sekolah mereka, parasnya emang tampan, Sindy saja sampe kagak tahan. Tapi bagi Selly dan Alda, dia adalah guru yang paling nyebalkan!
Bersambung...
__ADS_1