
Sementara itu, Alda dan Sindy masih menjalankan misi mereka, mengikuti Diana dan Dimas, sudah hampir 4 jam mereka berada di Mall tersebut, mengikuti Diana dan lelaki Selingkuhan Ibunya—Selly itu.
“Gila Ald, kaki gue pegel banget dari tadi ngikutin mereka, mana keluar masuk toko mulu. Hobi banget mereka pada belanja,” bisik Sindy pada Alda.
“Asli gue juga Sin, tapi tanggunglah, kayanya mereka mau pulang deh, ayo kita ikutin mereka lagi.”
Sindy mengangguk, mereka masih mengikuti Diana dan Dimas, dan seperti dugaan mereka benar, kini ibu tiri sahabatnya dan gurunya itu berjalan menuju pintu keluar Mall.
“Aku antar pulang ya,” ucap Diana pada Dimas, terdengar oleh Alda dan Sindy, mereka bersembunyi di samping mobil yang terparkir di samping mobil milik Diana.
“Gak usah. Aku pulang sendiri saja. Lagian tadi ke sini aku bawa motor,” tolak Dimas, suaranya terdengar sangat lembut pada Diana.
“Yakin?”
“Iya, sudah sana kamu pulang duluan. Bukannya suami kamu masih di rawat di Rumah sakit?”
“Iya Dim, huh aku malas sekali sebenarnya ke sana, aku maunya sama kamu terus,” ucap Diana manja, sambil memeluk Dimas.
Alda dan Sindy yang mendengarkan pembicaraan kedua orang itu, rasanya mereka ingin muntah, sumpah demi apa pun mereka merasa geli pada tingkat Diana dan Dimas.
Tapi mereka juga merasa tak menyangka. Sikap Dimas bertolak belaka dengan sikapnya seorang guru saat di sekolah. Ya memang itu wajar saja, tapi yang jadi masalahnya, bolehlah bucin, tapi please! Jangan bucin sama istri orang!
Bukannya dia berpendidikan, harusnya tau mana yang benar dan mana yang tidak! Apa benar cinta bisa membuat orang pintar menjadi bodoh seperti itu.
__ADS_1
“Gila banget Ald, gue eneg benget liat mereka berdua, pengen gue hajar aja tuh mereka!” bisik Sindy, suaranya terdengar sangat geram.
“Sut, diem Lo! Nanti kita ketauan, mampus kita!”
“Ya sudah aku pulang dulu ya, jangan lupa kabari aku nanti,” ucap Diana, suara masih terdengar manja.
“Iya, hati-hati.”
“Iya kamu juga ya. Kalau butuh apa-apa bilang saja Dim, gak usah ragu.”
“Pasti, tapi ini juga udah lebih dari cukup kok. Thanks ya udah dibelanjain,” ucap Dimas.
Diana mengangguk sambil tersenyum manis, wanita itu pun masuk ke dalam mobilnya dan mulai melajukan mobilnya. Setalah kepergian Diana, Dimas pun terlihat berlalu dari sana.
Alda dan Sindy pun keluar dari persembunyiannya. Mereka mengamati kesekitar, berjaga-jaga takut Dimas masih berada di sana. Tapi sepertinya sudah tidak ada, laki-laki itu sudah pergi.
Di dalam mobil keduanya langsung membuka masker, topi dan Kacamata hitam yang digunakan mereka itu.
“Huaaah...” Sindy merasa dunianya kembali lega. “gila, gue bener-bener gak nyangka Ald!” lanjut Sindy.
“Sama gue juga! Edan emang tuh guru. Kagak tau malu banget sumpah. Pacaran sama bini orang, mana usianya terpaut beda pula.”
“Gue penasaran Ald, sebenernya Si Pak Dimas itu, suka beneran apa kagak ya sama Ibu tirinya Selly itu?” tanya Sindy.
__ADS_1
“Kalau itu gue juga gak tau Sin. Hati orang gak bisa di baca. Tapi gue rasa ada gak hal lain sih, ada tujuannya dia pacarin emak tirinya Selly!”
“Kira-kira apa ya Ald?”
“Ck, apa Lo tadi gak liat? Gak denger hmm? Si Dimas itu kayanya matre deh, pacaran sama emak tirinya Selly, cuman mau duitnya aja,” jelas Alda geram.
“Iya sih, bener. Tadi liat aja belanjaan dia orang segitu banyaknya, di bayarin sama Tante Diana ya!”
“Nah, 'kan!”
“Keterlaluan benget sih ini, kita harus cepat temui Selly,” lanjut Alda, langsung diangguki oleh Sindy.
Dan Alda pun mulai melajukan mobilnya meninggalkan kawasan Mall tersebut, mereka ke Rumah sakit kembali, untuk bertemu dengan Selly dan mengatakan semuanya.
“Eh Ald, Tante Diana kok banyak banget ya duitnya? Dari mana ya kira-kira? Dia bisa belanjaan Pak Dimas barang-barang branded, harga mahal, mana banyak lagi.”
“Ya dari mana lagi Sindy, pasti dari bokap-nya Selly lah. Tante Diana punya duit dari mana coba? Apa Lo pernah liat dia kerja? Enggakkan! Apa Lo pernah liat dia ngelo*te?”
“Ya emang enggak sih. Tapi kalau pun dia ngelo*te! Mana laku njir... Body kaya bihun gitu lurus, cantik kagak, biasa-biasa aja! Kagak ada yang istimewanya kalau menurut gue!” jawab Sindy tanpa dosa.
“Buset dah bocah, ngomong kagak di saring! Tapi tumben otak Lo berjalan dengan baik, hahaa...” ucap Alda sambil tertawa. Alda merasa jika Sindy terlalu jujur, tapi memang itu kenyataannya sih, Diana ya memang seperti itu. Hanya saja mereka heran, kok bisa Ayahnya Selly begitu tergila-gila, sampe dijadikan istri, modelan wanita seperti itu.
“Fakta woy, gue ngomong faktanya!” tekan Sindy.
__ADS_1
“Iya deh, terserah elo aja!”
Bersambung...