
Selly hanya diam, seketika tenggorokannya terasa tercekat.
“Selly apa benar ini kamu?!” pekik Ayah Abraham.
Raut wajah penuh amarah terlihat jelas dari wajahnya.
“I—iya, maaf Yah...” jawab Selly terbata-bata, rasanya sangat sulit untuk berbicara.
“Bikin malu saja kamu!”
“Bikin malu? Apa maksud Ayah. Selly ngelakuin semua itu demi Ayah. Selly sayang sama Ayah, Selly gak mau Ayah terus di curangi oleh wanita ular itu!”
“Siapa yang kamu sebut wanita ular hah? Kamu benar-benar keterlaluan Selly! Kamu pikir dengan cara seperti itu kamu merasa benar hah? Merasa jika kamu itu akan menjadi pahlawan! Tidak Selly, tidak! Diana dan Pak Dimas itu tidak ada hubungan apa-apa.”
“Tidak ada hubungan apa-apa? Ayah bilang! Yah aku punya buktinya kalau Diana itu memang selingkuh dengan Pak Dimas!”
“Cukup Selly, selama ini Ayah menyekolahkan kamu di sekolah yang bangus jadi ini hasilnya hah? Diana itu Ibu kamu! Jaga bicara kamu, paham!” tegas Ayah Abraham penuh menekankan.
“Bukan dia bukan ibuku. Aku tidak sudi punya Ibu seperti dia!” pekik Diana.
__ADS_1
“Berhenti!” pinta Ayah Abraham pada sopirnya itu. Sang sopir pun menurut, ia langsung mengehentikan laju mobilnya.
“Turun kamu Selly! Dan ingat jangan pulang jika kamu belum bisa merubah sikap kurang ajar kamu itu. mengerti!” titah Ayah Abraham pada putrinya itu.
Selly terlihat membulatkan matanya, ia terlihat begitu terkejut, tak menyangka jika akan Ayahnya akan bersikap seperti ini.
Tanpa kata Selly pun langsung keluar dari mobil tersebut. Bi Sani terlihat akan mencegahnya, namun dengan cepat Ayah Abraham memberikan isyarat untuk diam dan tidak ikut campur.
“Jalan!” kata Ayah Abraham pada sopirnya itu. Dan mobil pun kembali melaju.
“Tuan, maaf... apa ini tidak keterlaluan?” tanya Bi Sani, ia memberanikan diri untuk membuka suaranya.
Bi Sani hanya diam, ia sungguh tidak tega, rasanya ia ingin meminta di turunkan saja agar bisa menemani Selly. Tapi itu tidak mungkin, bisa-bisa ia langsung di pecat oleh majikannya itu.
‘Ya Tuhan lindungi Non Selly,” batin Bi Sani.
“Sudah bibi gak usah khawatir nanti juga dia akan pulang. Saya terlalu memanjakan dia, biar dia merasakan bagaimana susahnya hidup tanpa saya.” Abraham seakan tahu apa yang dirasakan oleh Bi Sani saat ini.
sementara Selly, ia masih menatap mobil Ayahnya yang kini sudah terus menjauh dari pandangannya itu.
__ADS_1
Selly kali ini benar-benar kecewa pada Ayahnya itu, Ayahnya lebih percaya pada Diana dari pada dirinya.
“Baiklah, aku tidak pulang. Aku akan membuktikan bahwa yang aku katakan itu adalah benar!” tekad Selly.
Selly pun mulai melangkahkan kakinya, menelusuri jalan tersebut. Saat ini Selly bingung, harus kemana dia?
Langit tiba-tiba saja diselimuti awan hitam, pertanda akan turunnya hujan. Selly masih berjalan tanpa arah dan tujuan, hingga beberapa saat kemudian tetasan air hujan mulai mengenai tubuh Selly, hingga akhirnya air hujan tersebut membasahi seluruh tubuhnya. Selly menggigil kedinginan, ia pun memutuskan untuk berhenti sejanak dan berteduh di sebuah halte bus.
Keadaan sekitar terlihat sangat sepi, Selly hanya duduk sendiri.
‘Harus kemana aku sekarang?’ gumamnya. Sebenarnya bisa saja Selly menghubungi kedua sahabatnya Sindy dan Alda. Namun Selly berpikir lagi, ia tidak mau merepotkan mereka.
Saat ini Selly benar-benar merasa sendiri, di saat-saat seperti ini Selly sangat merindukan mendiang Ibunya.
“Bu, Selly rindu...” lirihnya dengan air mata yang sudah mengalir deras membasahi wajahnya itu.
Bersambung....
Jangan lupa like, komentar dan Votenya ya.
__ADS_1
Terima kasih.