
"*Jangan pernah malu menjadi anak dari keluarga miskin. Kalau tidak ada miskin tidak akan ada yang namanya kaya. Boleh kita miskin harta, tapi jangan sampai kita miskin ilmu dan hati. Ilmu tidak hanya kamu dapatkan di sekolah, tapi di sekelilingmu Nak. Ilmu bukan hanya dari pelajaran sekolah, tapi dari tutur kata dan tingkah laku.
Ibu tidak berharap kamu cerdas dan menjadi juara kelas. Cukup kamu jadi Embun yang rendah hati, tidak sombong dan tidak bertingkah semena-mena terhadap orang lain. Ibu tidak minta kamu punya cita-cita jadi orang kaya, buat apa banyak harta kalau pada akhirnya kamu akan berubah menjadi manusia yang sombong.
Kalau Ibu mau kaya mungkin sejak dulu Ibu tidak akan hidup susah seperti ini Nak. Mungkin sekarang Ibu sedang menikmati masa tua Ibu dengan berlibur ke luar negeri dengan jet pribadi. Tapi Ibu lebih memilih untuk mempertahankan kamu, kamu harta ibu satu-satunya yang Ibu punya*."
Itulah pesan Ibu sebelum Embun pergi meninggalkan kampung halamannya untuk meniti karir di Ibukota. Embun terlahir dari keluarga yang sederhana, sejak kecil dia dibesarkan oleh Ibunya seorang diri.
Embun tidak pernah mengenal sosok Ayahnya, pernah beberapa kali tanya pada Ibu tentang Ayahnya. Tapi Ibu selalu terlihat sedih saat Embun menanyakannya.Sejak saat itu, Embun tak berani lagi bertanya perihal Ayahnya pada Ibu.
Baginya, memiliki Ibu yang kuat saja sudah lebih dari cukup. Urusan Ayah yang mungkin sudah meninggal atau bahagia dengan keluarga barunya sudah tak Embun perdulikan lagi.
Embun berdiri menatap sebuah foto besar berfigura hitam di tembok tempat tidurnya. Embun sengaja memasang foto Ibu di kamar supaya dia bisa merasakan keberadaan Ibunya saat dia sedang terlelap.
"Bu, aku tidak mungkin menjadi gadis yang sekuat ini tanpamu. Makasih sudah menjadi inspirasi dan alasan untuk Embun bisa bertahan sampai saat ini." Ucapnya sembari mengusap wajah Ibunya di foto.
tring. . . tring. . .
"Pagi Mbun. . . hari ini ada pertemuan di Pelangi Resto pukul 10.00. Apa kau bisa langsung datang saja ke sana? Aku sepertinya sedikit telat, karena harus mengantar kekasihku ke Bandara." Ucap seseorang dari seberang sana.
"Baiklah. . . .Aku bisa datang. Selesaikan urusanmu lalu susul aku. Jangan ikut kekasihmu ke Australie. " Ucap Embun.
"Baiklah. . . Makasih Embun. . .kamu memang pertner terbaiku." Ucap Sita.
"Hmm. . . .Aku tau, kau selalu mengucapkannya setiap kali kau terselamatkan oleh ancaman Pak Bos." Ujar Embun pada Sita.
"Hehe. . .Tapi sungguh. . .aku tidak bohong padamu. Kamu memang teman terbaikku Mbun." Ucap Sita lagi.
__ADS_1
"Iya Sit. . iya. . .aku tau." Ucap Embun.
Setelah panggilan terputus, Embun segera bersiap-siap menuju restaurant yang sudah di tunjukkan oleh Sita. Dia memakai celana panjang bahan dan juga blazer dengan warna merah cerah.
Sebuah mobil berwarna merah terparkir di garasi kecil miliknya. Embun segera masuk ke dalam mobil setelah menaruh tasnya di kursi sebelah kiri kemudi.Tak lupa Embun menyalakan musik supaya merasa lebih relaks dan setidaknya tidak tegang sebelum pertemuan dengan klien nanti.
Seorang penjaga membukakan pagar untuknya, dan Embun tak lupa mengucapkan terimakasih dan menyunggingkan sembuah senyuman manis di wajahnya.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, jarak rumahnya dengan restaurant sekitar 14 km. Jalanan tampak lengang, karena saat ini waktu menunjukkan pukul 8.30 WIB.
Sesampainya di Pelangi Resto, Embun berkaca di spion mobil untuk memastikan penampilannya sudah rapih atau belum. Dan dia memoles sedikit bibirnya dengan liptint agar terlihat lebih fresh.
Setelah dipastikan berulang kali, Embun turun dari mobil dan segera masuk ke dalam restaurant. Embun segera memesan private room untuk pertemuan dengan klien. Sebelum klien datang, Embun membuka laptopnya untuk memeriksa file yang akan dia presentasikan dengan klien nanti.
"Selamat Pagi Ibu Embun. . . " Ucap Pak Rian menyapa balik Embun.
"Silakan duduk Pak Rian. . . .silakan Bu." Ucap Embun mempersilakan keduanya untuk duduk.
"Terimakasih. . ." Ucap Pak Rian.
"Sebelumnya saya minta maaf Pak Rian, karena Bu Sita masih ada urusan jadi saya yang datang untuk menggantikan sementara pertemuan pagi ini. Setelah urusan selesai, beliau akan menyusul kesini." Ucap Embun.
"Tidak apa Bu. . . Saya rasa kalian berdua sama-sama kompeten dalam bidang ini. Bukankan kalian juga satu tim? Jadi tidak ada masalah untuk saya." Ucap Pak Rian.
Meeting di mulai, Embun dengan kompeten menjelaskan setiap poin yang muncul di layar laptopnya. Pak Rian juga sekretarisnya memperhatikan dengan serius dan sesekali mengangguk.
__ADS_1
Terlihat tatapan penuh bangga dari Pak Rian terhadap Embun, setiap kata yang di keluarkan dari mulutnya tertata dengan rapi dan penjelasan yang di sampaikan mudah untuk di pahami membuat Pak Rian tak pernah berpaling ke Perusahaan lain yang belum tentu masih menonjolkan sikap sopan dan tegas.
"Dia gadis yang cantik, tutur katanya tertata dengan rapih dan sopan. Wajahnya mengingatkanku pada seseorang di masa lalu. Entah kenapa dia begitu mirip, apakah dia masih family dengannya?" -Batin Pak Rian saat menatap wajah Embun.
Saat meeting sudah berjalan setengahnya, Sita datang dan membantu Embun untuk melanjutkan presentasinya. Ucapan Pak Rian benar, Embun dan Sita sama-sama kompeten di bidang ini. Bahkan mereka beberapa kali mendapat penghargaan dari Perusahaan tempat mereka bekerja karena kemampuan yang mereka miliki.
"Saya merasa tersanjung sekali, karena pertemuan kali ini bisa bertemu dengan dua primadona Perusahaan. Pak Jhon beruntung sekali memiliki kalian." Ucap Pak Rian memuji Embun dan Sita.
"Terimakasih Pak Rian. . . sudah menjadi tanggung jawab kami untuk bekerja sama dalam menjaga nama baik Perusahaan, menghormati klien serta melayaninya dengan sebaik-baiknya. Dan saya merasa sangat beruntung bisa di jadikan satu tim dengan Bu Embun, karena dia selalu bisa saya andalkan saat di waktu yang sulit." Ucap Sita.
"Terimakasih. . .Kalian sudah membuat saya GR saja. Jangan terlalu memuji saya Pak Rian, saya takut khilaf dan menjadi besar kepala. Saya juga masih belajar serta masih banyak sekali kekurangan. Toh memang sudah sewajarnya kita saling membantu satu sama lain. Inilah gunanya partner dalam dunia kerja, harus bisa membantu satu sama lain." Ucap Embun dengan bijaknya.
"Siapa dia sebenarnya? Kenapa aku merasa tidak asing, seperti sedang melihat orang di masa laluku. Setiap tutur katanya mirip sekali, apakah ini hanya kebetulan saja? Tapi kenapa sebanyak ini kemiripan antar keduanya?"Batin Pak Rian.
Pertemuan sudah berakhir, Pak Rian sudah pergi lebih dulu. Disusul oleh Sita yang harus segera kembali ke kantor. Dan Embun segera kembali ke rumah, karena dia mengambil cuti hendak pulang ke rumah untuk menemui Ibunya yang sudah menantikan kepulangannya sejak kemarin.
"Ibu. . .semoga Ibu mau ikut denganku hidup di Kota. Sudah sepantasnya aku yang merawat Ibu dan melayani Ibu. Tunggu kepulanganku Bu. . ." -Batin Embun setelah menutup koper kecilnya.
_____________________________________________
》Mohon maaf yang sebelumnya terpaksa di hapus karena satu dari lain hal. 🙇🙇
》Kritik dan Saran dari kalian selalu aku tunggu 😊
🌺CAHAYA EMBUN EPS. 01🌺
~Teşekkürler, Sizi seviyorum millet 😙😙~
__ADS_1