
"Anda mengenalku? Hmm... Sebentar. . Diam. . Jangan bergerak." Ucap Embun yang berusaha mengingat-ingat siapa sosok pria yang kini berada di hadapannya.
Di lihatnya secara keseluruhan wajahnya, Embun seperi pernah bertemu dengannya sebelumnya. Tapi lupa, mungkin karena sudah lama mereka tidak bertemu. Hingga banyak sekali perubahan pada dirinya dan membuat Embun hampir tak mengenalinya.
"Coba berdiri. . " pinta Embun kepadanya.
Diapun berdiri sesuai permintaan Embun, lagi-lagi Embun masih belum mendapatkan jawaban siapa sebenarnya pria yang saat ini berada di hadapannya.
" Coba senyum. . . " pinta Embun lagi.
Lagi-lagi dia mengikuti permintaan Embun untuk tersenyum, namun sepertinya Embun juga belum menyadarinya siapa pria itu dan mereka pernah bertemu dimana sebelumnya.
" Astaga... Kenapa rasanya aku pernah bertemu sebelumnya, tapi kapan? Dimana? Astaga. ." Celoteh Embun karena belum bisa mendapatkan jawaban.
"Salah Mbun, tapi Astaghfirullah." Ucapnya mengingatkan dengan lembut.
"Eh iya, Astaghfirullah. . ." Ucap Embun mengusap dadanya.
"Sudahkah ingat denganku? Kawan kecil yang selalu membuatmu menangis, tapi kamu selalu mengikuti kemanapun aku pergi main?" Ungkapnya dengan tenang dan senyum khasnya yang semakin membuat Embun teringat akan seseorang tapi belum menemukan jawabannya.
"Yudhis? Kau Azka Yudhistira yang dulunya hitam, dekil, ngeselin itu?" Ucapnya dengan memicingkan ujung bibirnya.
"Tapi kau selalu mengikutiku kemanapun aku pergi main kan Ca? Walaupun aku sudah membuatmu beberapa kali menangis, tapi selalu saja kau tak mau ketinggalan. Selalu mengekor ikut." Ucapnya dengan nada mengejek dengan candaan.
"Haiihhh. . Itupun terpaksa Dis, kan teman yang seumuran hanya kamu. Ada pun Mbak Dian teman mas Bayu." Celoteh Embun untuk membela dirinya di depan pria yang rupanya teman di masa kecilnya dulu.
"Kau ada perlu apa disini?" Tanya Yudhis pada Embun.
"Aku ada pertemuan dengan Pak Rian, kau sendiri? Tunggu, kau kerja disini?" Tanya Embun untuk memastikan.
"Menurutmu?" Tanya Yudhis dengan gayanya sambil merapikan dasi.
__ADS_1
"Haisss. . Kau ini. Aku tanya malah diajak main tebak-tebakan." Ujar Embun mulai kesal.
"Ya Allah Ca, kau ini lucu sekali. Iya aku bekerja disini, Pak Rian kebetulan bos ku, jadi mari aku antar. Tidak perlu menunggu disini." Ucap Yudhis pada Embun.
"Benarkah? Ok baik." Embun berjalan beriringan menuju lift untuk sampai di lantai 5 dimana ruang kerja Pak Rian berada.
Embun merasa senang, setidaknya ada orang yang dia kenal disini. Bahkan teman di masa kecilnya yang sekarang sulit sekali untuk mereka bertemu. Di sepanjang lorong mereka asyik bercerita satu sama lain hingga tiba di ujung lorong dimana terdapat sebuah ruangan yang terpisah dengan ruang kerja lainnya.
"Pak Rian masih ada tamu, sebaiknya kau ikut aku dulu ke ruang kerjaku. Nanti aku akan memberitahukan sekretarisnya untuk mengatakan jika kau sudah datang." Ucap Yudhis.
Lagi-lagi Embun hanya mengikuti Yudhis berjalan menuju ruang kerjanya. Sesampainya di ruang kerja Yudhis, Embun di persilakan untuk duduk di kursi kerjanya.
Embun hanya diam, memandangi Yudhis yang sedang duduk di sofa sibuk dengan laptop di hadapannya. Kedua tangannya bekerja dengan cepat, seolah sedang adu kecepatan satu sama lain.
"Mimpi apa aku semalam bisa bertemu dengannya? Dulu dia begitu jahil, dan suka sekali membuatku menangis. Tapi sekarang dia malah membantuku, setidaknya aku tidak perlu lama-lama duduk di depan resepsionis untuk menunggu waktu pertemuan dengan Pak Rian." Pikir Embun saat melihat Yudis dari jarak yang cukup jauh.
.... Yudhis POV...
[Flashback On]
Semalam saat dia baru saja membaringkan tubuhnya di atas kasur, dan hampir saja terlelap, tiba-tiba pintu apartemen di ketuk dengan cukup keras. Penasaran siapa yang malam-malam datang ke apartemen nya, Yudhis pun segera melompat dari kasur dan membuka pintu apartemen.
Terlihat Reza datang dengan penampilan yang kacau, rambut acak-acakan, dua kancing kemeja yang terlepas di bagian atas. Reza langsung masuk begitu saja sebelum di persilakan oleh pemiliknya.
"Apa yang terjadi? Kenapa dengan?" Tanya Yudhis yang langsung di potong Reza.
"Karina memutuskan ku, dia bercumbu dengan pria lain di apartemennya. Aku benar-benar tidak menyangka dia bisa melakukannya. Bahkan saat aku mengetahuinya, dia tak peduli dengan keberadaan ku. Mereka terus melanjutkan aktivitasnya tanpa merasa malu." Ucap Reza.
"Sudah berapa kali aku bilang? Wanita sepertinya tidak akan bertahan lama denganmu. Kau terlalu sibuk dengan duniamu sendiri, kau bahkan jarang mengabarinya." Ujar Yudhis pada pria yang sudah beberapa tahun ini menjadi sahabatnya.
__ADS_1
"Aku bekerja untuk dia, untuk masa depan keluarga kecil kita nantinya Dis. Aku sudah sering bergonta-ganti wanita, tapi setelah aku bertemu dengannya aku bahkan tidak pernah sekalipun diam-diam kencan dengan wanita lain. Kau tau sendiri kan? " Ucap Reza yang memulai menyalakan sebatang ro***.
" Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?" Tanya Yudhis untuk beberapa saat setelah Reza beberapa kali menghisap ro***.
"Haruskah aku memukuli pria itu dan menjadikannya mayat saja?" Celetuk Reza dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Haiss. . Apa kau sudah gi*a? Kau menjadi seorang pembunuh hanya karena satu orang wanita. Belum tentu pria itu yang salah, tapi sebaliknya." Ucap Yudhis sambil menyilang kan kaki kanannya di atas kaki kirinya.
"Maksudmu Karina yang? Tidak. . Dia bukan wanita yang seperti itu, kau salah. .Aku yakin ba****** itu yang telah menggoda Karina." Bela Reza meski dia sendiri tak yakin dengan apa yang dia ucapkan saat ini.
"Apa kau yakin? Apa kau tidak ingat dimana tempat pertama kali kalian bertemu saat itu?" Celoteh Yudhis berusaha mengingatkan Reza akan tempat pertama kali mereka bertemu saat itu.
"Hahaha. . Kau benar, aku bertemu dengannya di hotel karena dia gagal bermalam dengan seorang Pengusaha yang ternyata di ikuti oleh isterinya. Sekarang, temani aku minum aku butuh teman." Ucap Reza yang hendak menyalakan ro*** keduanya.
"Sudah malam, waktunya istirahat. Sebaiknya kau pulang dan berisitirahatlah, tenangkan pikiranmu." Ucap Yudhis.
"Haihhh. . Kau tidak asik kawan. Baiklah baiklah aku akan pergi sendiri saja." Ucapnya segera pergi meninggalkan Yudhis di ruang tamu.
"Tunggu. . Aku ganti pakaian dulu." Teriak Yudis pada Reza yang sudah berada di depan lift.
Yudhis segera berlari masuk ke dalam apartemen berganti celana jeans dan kaos berwana hitam dengan jaket jeans warna senada dengan celana.
"Mana bisa aku membiarkanmu pergi ke club sendirian dengan kondisimu yang kacau." Gerutu Yudhis.
______________________________________________
>>Maaf kemarin tidak Up, untuk gantinya hari ini Up 2 episode ya 😍😍
>> Terimakasih yang sudah berkenan membaca coretan ini😍😍
Jangan lupa Like, Komen, Rate5 dan Vote😍
__ADS_1
🌺CAHAYA EMBUN EPS. 13🌺
~Teşekkürler, Sizi seviyorum millet 😙😙~