
Mana bisa aku membiarkanmu pergi ke clubs sendirian dengan kondisimu yang kacau." Gerutu Yudhis.
Setelah berpakaian lengkap, Yudhis segera keluar dari apartemen dan menguncinya sebelum meninggalkannya.
Terlihat Reza sudah berdiri bersandar pada pintu lift menunggu Yudhis dengan senyum masamnya.
"Akhirnya kau ikut juga Dis." seringai wajahnya tak mampu ia tutupi.
...Di Club...
Dua orang pria yang sudah berusia cukup matang masih terduduk di sofa yang terletak di sudut club. Salah satunya tampak sudah di bawah pengaruh minuman beralkohol, terlihat beberapa botol telah kosong diatas meja.
Sedangkan satunya hanya diam, melihat sahabatnya yang terus menceracau tak jelas membuatnya merasa iba saat melihatnya. Bagaimana tidak, kawan yang selama ini dia anggap kuat karena sering bergonta-ganti wanita bahkan bisa juga galau dan hampir gila karena satu wanita itu.
"Rupanya kau benar-benar mencintainya Za? Apakah tidak ada wanita lain selain wanita itu? Bahkan wanita mu pernah menggodaku saat kau tak ada denganku. Itukah yang dinamakan wanita baik-baik? " Gumam Yudhis.
Beberapa wanita secara bergantian menghampiri mereka mencoba untuk menawarkan jasanya. Tapi Yudhis menolak, dan meminta untuk mereka tidak mengganggunya. Yudhis hanya tidak ingin Reza macam-macam dalam kondisi yang kacau.
Sedangkan dirinya memang tidak pernah sekalipun bermain wanita, pacaran saja belum pernah. Yudhis lebih memilih untuk menjadi obat nyamuk daripada harus bermain wanita meski cantik sekalipun.
Waktu telah menunjukkan pukul 02:45 pagi, club sudah semakin sepi. Tapi Reza masih enggan untuk diajak pergi dari tempat itu meski ia sudah mabuk berat. Akhirnya Yudhis meminta bantuan security untuk mengangkat tubuh Reza dan memasukkannya ke dalam mobil.
Selesai di eksekusi, Yudhis segera menginjak gas menuju apartemen Reza. Jalanan tampak lengang, membuat Yudhis dengan leluasa melajukan kecepatan mobil dengan kecepatan tinggi supaya dia cepat sampai dan bisa beristirahat karena waktu sudah semakin pagi dan dia harus bekerja.
Setelah mengantar Reza dan memastikan sahabatnya sudah tertidur, Yudhis segera pergi dan memilih untuk pulang saja karena badan sudah semakin lelah setelah seharian bekerja dan malamnya menemani Reza di club meski dirinya hanya duduk.
"Semoga besok aku tidak terlambat. . " Gumamnya sambil merebahkan dirinya diatas kasur.
[Flashback Off]
Yudhis segera pergi mandi dan bersiap-siap untuk segera pergi ke Perusahaan. Untung saja hari ini tidak ada pertemuan atau rapat. Lagi-lagi mobil yang ia kendarai melaju dengan kecepatan tinggi membelah keramaian di jalan. Beradu kecepatan dengan kendaraan yang lain seolah sedang dalam perlombaan.
Sesampainya di area parkiran, Yudhis segera mencari tempat untuk memarkirkan mobilnya di tempat yang dia anggap aman.
"Huhh. . . Terlambat 1 jam." gumamnya sebelum turun dari mobil.
Setibanya di depan meja resepsionis, ekor matanya tertuju pada sosok gadis berpakaian serba hitam yang saat ini sedang duduk sendirian di sebuah kursi panjang. Terlukis bulan sabit di ujung bibirnya, dia segera memanggilnya dan melambaikan tangannya.
__ADS_1
"Pagi-pagi bertemu dengan bidadari yang sepertinya baru keluar dari tempat persembunyiannya."
.... Embun POV....
"Dis, kau tinggal dimana?" Tanya Embun untuk memecahkan kesunyian yang tercipta sejak tiga puluh menit yang lalu.
"Aku tinggal di sebuah kontrakan kecil di Jakarta Ca" Ucap Yudhis dengan senyum kembali mengembang di wajahnya.
"Haihh. . Bohong aja terus. . ." Ucap Embun dengan ketus.
"Kau tau Casa Grade? " Tanya Yudis kemudian.
" Hmm. . . Kau tinggal di sana? Wahh..." Ucap Embun.
"Kontrakan ku tak jauh dari sana Ca." Ucapnya lagi membuat Embun semakin kesal di buatnya.
"Astaghfirullah Dis, terserah kamu sajalah." Ucap Embun dengan pasrah seraya mengeluarkan ponselnya yang sejak tadi ia lupakan karena sibuk memandangi sahabatnya yang sudah menjelma menjadi pria yang keren.
Settt
Yudhis merebut ponsel yang baru saja keluar dari tas kecil milik Embun. Yudis segera memasukkan nomornya dan dia save dengan nama Yudhistira 💖. Tak lupa ia juga memasukkan nomor Embun dengan cara menghubungi nomornya menggunakan ponsel Embun yang baru saja dia rebut nya.
" Sudah, kalau kamu kangen cari saja namaku di kontak mu." Ucap Yudhis kembali menyerahkan ponsel pada pemiliknya.
Embun segera melihat siapa nama Yudis di kontaknya, saat melihatnya dia terpekik kedua matanya melotot dan bibir mungilnya terbuka saking terkejutnya.
"Astaghfirullah Dis, apa kau saking jomblonya sampai kau menyimpan namamu di kontak ku dengan emot love seperti ini? Baiklah tidak akan aku ganti supaya kau senang. Bukankah membuat senang orang lain itu dapat pahala?" Ungkap Embun dengan santainya.
"Hahahah. ." Yudhis hanya tertawa di buatnya karena melihat Embun yang pasrah saja saat ponsel nya di otak-atik olehnya.
Tokk. .. Tokk. . Tokk.
Terdengar suara pintu di ketuk oleh seseorang dari luar, Yudhis segera berjalan mendekat ke pintu untuk melihat siapa yang datang. Rupanya sekretaris Pak Rian yang memberitahukan bahwa Pak Rian sudah selesai bertemu dengan tamu, dan meminta Embun untuk segera datang ke ruangannya.
Embun pun berpamitan pada Yudhis dan segera mengikuti sekretaris Pak Rian berjalan menuju ruang kerja Pak Rian. Sesampainya di sana, sambutan hangat Pak Rian berikan.
"Selamat pagi Ibu Embun. . . Selamat datang. Maaf sudah membuat Ibu terlalu lama menunggu." Ucapnya dengan ramah.
__ADS_1
"Selamat pagi Pak Rian, terimakasih. Tidak apa Pak, karena saya yang datang terlalu cepat." Ucap Embun.
Mereka terlibat dalam obrolan yang cukup serius dengan sesekali Embun melirik pada sebuah berkas yang sudah terbuka di hadapannya.
Obrolan masih berlanjut sampai satu jam ke depan, hingga tiba saatnya Embun membubuhkan tanda tangan di berkas yang sejak tadi di atas meja. Perjanjian kerjasama telah di sepakati oleh kedua belah pihak, dan di akhiri dengan jabat tangan antar kedua belah pihak.
Embun segera pamit undur diri karena hari sudah menjelang siang, dan rencananya dia akan pulang karena kebetulan masih cuti, jadi tak perlu kembali ke Perusahaan hari ini.
Drtt. . Drtt. .
¬Diam di tempat, jangan bergerak.¬
Sebuah pesan masuk datang dari Pria yang baru saja bertemu dengannya. Embun diam dan masih berdiri di tempatnya saat ini. Dia menatap sekelilingnya mencari dimana pria itu.
"Haiiihhhh. . . Sampai kapan aku harus berdiam diri disini? Astaga." Batin Embun.
"Ikut aku. . . " Seseorang menarik tangannya secara tiba-tiba membuat Embun terpekik dan hampir saja berteriak. Namun saat melihat siapa yang menariknya, ia segera mengurungkan niatnya.
" Mau kemana Dis? Aku mau pulang. . . " Rengek Embun.
" Sudah waktunya makan siang, kita makan siang dulu, setelah itu kau baru bisa pulang. Kalau kau langsung pulang kau akan terlambat untuk makan siang, dan jadinya makan sore." Ucap Yudhis dengan santainya membuat Embun ingin menjewer kupingnya.
"Haiihhh. . Untung teman, coba kalau bukan. Sudah ku hiihh. . . " Celotehnya dengan ekspresi yang benar-benar geregetan seperti seorang Ibu yang di buat kesal oleh anaknya.
" Mana kunci mobilmu?" Tanya Yudhis.
"Wait. . . " Ucap Embun merogoh tasnya untuk mencari kunci mobilnya. "Nih. . . ." Embun menyerahkan kunci mobil pada Yudhis.
Yudhis pun menekan remote untuk mencari dimana mobil Embun. Setelah mendapatkan feedback dari mobil Yudhis kembali menggandeng tangan Embun dan membawanya segera menuju mobilnya.
______________________________________________
>> Alhamdulillah sudah Up lagi, janji up 2 episode sudah terpenuhi. Happy reading all 😍😍
>> Terimakasih yang sudah berkenan membaca coretan ini😍😍
Jangan lupa Like, Komen, Rate5 dan Vote😍
__ADS_1
🌺CAHAYA EMBUN EPS. 14🌺
~Teşekkürler, Sizi seviyorum millet 😙😙~