Lembayung Rindu

Lembayung Rindu
Ch. 08 Obrolan Malam


__ADS_3

Hari telah beranjak sore, semua persiapan telah selesai untuk acara aqiqah nanti malam. Embun mendekati Ibu nya dan berpamitan untuk pulang karena belum mandi dan sebentar lagi Maghrib akan tiba.


Setelah di iyakan, Embun pulang sendirian karena Ibu masih harus menyelesaikan pekerjaannya sebelum dia pulang dan mandi. Embun jalan dengan langkah pelan menikmati hembusan angin yang mengibarkan rambutkan menutupi hampir sebagian wajahnya.


Sesampainya di rumah, Embun segera masuk ke dalam dan pergi mandi untuk bersiap-siap karena Maghrib akan segera tiba.


Adzan Maghrib telah berkumandang, Embun yang sudah selesai mandi segera mengambil mukena di atas nakas dan menggelar sajadah di samping ranjangnya.


___


*Tokk. . . Tokk. .


"Assalamu'alaikum*"


"Wa'alaikumussalam. ."


Mendengar suara salam dari seseorang di luar rumah nya membuat Embun menghentikan aktivitasnya yang sedang memeriksa beberapa file di ponselnya yang baru saja di kirim oleh Sita untuk pertemuan dua hari yang akan datang.


Ceklekk. .


"Eh mas Bayu. . ." Ucap Embun saat melihat seorang Pria berdiri di depan pintu dengan senyuman lebarnya.


"Mas ganggu kamu ya Dek?" Tanya Mas Bayu dengan senyum malu-malu.


"Enggak Mas. . Silakan duduk." Embun mempersilakan Bayu duduk di kursi teras rumahnya. Untuk menghindari fitnah karena di rumah sedang tidak ada orang.


"Makasih Dek, Oh iya ini tadi aku disuruh antar makanan buat kamu. Kata Budhe Umi takut kamu belum makan karena Bu Lek Maya masih disana." Kata Mas Bayu menyerahkan satu kantong plastik kecil.


"Oh Makasih Mas, ya sudah Embun masuk dulu, mas mau kopi apa teh?" Tanya Embun.


"Terserah kamu saja Dek." Jawab Bayu.


Embun berlalu masuk ke dalam rumah untuk membuatkan minuman untuk Bayu. Bingkisan makanan yang Bayu bawa Embun letakkan di piring untuk di hidangkan bersama kopi yang ia buat nanti.


Segelas kopi dan teh sudah siap di atas nampan. Tak lupa sepiring kue yang Bayu bawa juga Embun letakkan diatas nampan dan di bawanya ke luar bersamaan.


"Maaf ya Mas, cuma ada kopi sama teh." Ujar Embun.

__ADS_1


"Enggak apa-apa Dek, maaf ya kalau kedatanganku merepotkan." Ucap Mas Bayu.


"Iya Mas gak apa-apa. Acaranya memang sudah selesai Mas?" Tanya Embun.


"Belum Mbun, acaranya di undur nanti jam 8. Pak Kyai nya masih dalam perjalanan dari satu acara di tempat yang agak jauh dari sini." Ucap Mas Bayu.


"Oh gitu, lah Mas Bayu kapan pulang dari kota? Embun dengar Mas Bayu sudah punya usaha sendiri sekarang." Tanya Embun.


"Aku pulang seminggu yang lalu Mbun. Hanya usaha kecil-kecilan Mbun." Ujar Mas bayu.


"Biar kecil yang penting berkah Mas, halal." Ucap Embun pada Bayu.


Bulan bersinar terang malam itu, menemani dua insan yang sedang berbincang di teras rumah yang kecil. Sesekali terdengar gelak tawa dari keduanya, entah apa yang sedang mereka bicarakan saat itu.


Jarum jam telah menunjukkan pukul 19.45, yang mana acara aqiqah akan di mulai dalam waktu 15 menit. Bayu pun berpamitan pulang pada Embun.


"Mas Bayu dari dulu selalu sederhana orangnya, walaupun sekarang sudah sukses tapi masih mau berbagi ilmu sama banyak orang. Semoga Allah selalu memberikan kesehatan dan kelancaran rezeki untukmu Mas."


___


~Di ruang tamu~


Ya, Embun sedang mempelajari beberapa berkas untuk pertemuannya dengan Pak Rian dua hari yang akan datang. Setiap kalimat yang tertera ia baca tanpa ada yang terlewat.


Tokk tokk.


Assalamu'alaikum. .


Terdengar suara Ibu dari luar membuat Embun segera mengalihkan perhatiannya. Embun segera berdiri dan berjalan mendekati pintu untuk membuakanya. Terlihat senyuman yang mengembang di wajah wanita yang usianya sudah menginjak usia 42 tahun.


"Kok baru pulang Bu?" Tanya Embun meraih dua kantong plastik di kedua tangan Ibunya.


"Iya Nak, Ibu bantu beres-beres disana. Lagian kan Ibu bakalan lama tidak seperti ini lagi. Kamu kok belum tidur?" Tanya Ibu nya.


"Hmm. . Belum Bu. Sita barusan kirim beberapa file yang harus aku baca. Ya sudah Ibu mandi terus istirahat." Ujar Embun.


"Kamu juga jangan kemalaman ya. Besok kan harus menyetir mobil, jadi gak boleh ngantuk." Ujar Ibu pada Embun.

__ADS_1


"Iya Bu, besok kita berangkat selepas duhur aja ya Bu, sekalian nunggu Mba Dian datang." Ucap Embun.


"Memang Dian mau ikut Nak? Kan anaknya masih kecil." Tanya Ibu.


"Enggak Bu, tapi Mba Dian yang akan jagain rumah ini, bersihin rumah ini. Nanti setiap bulannya Embun yang akan kirim buat biaya perawatan rumahnya. Biar kita bisa pulang setiap lebaran tanpa harus capek bersihin rumah Bu." Ucap Embun.


"Oh gitu, syukurlah kalau Dian yang jaga rumah ini. Ibu pasti bisa merasa tenang karena dia orangnya bisa di percaya, dan InsyaAllah amanah." Ucap Ibu.


"Iya Bu. Makanya Embun langsung mengiyakan setelah Mba Dian menawarkan dirinya untuk menjaga rumah kita. Selain itu kita juga bisa membantu menambahi uang bulanan buat Mba Dian Bu." Ucap Embun.


"Hmm kamu benar. Daripada Dian harus jadi TKW setelah anak keduanya besar nanti. Kasihan Aura sama Rara kalau di tinggal Ibunya walaupun di rumah ada Mbah nya." Ujar Ibu.


Setelah obrolan singkat dengan Embun, Ibu segera pergi ke dalam untuk mandi dan berisitirahat. Aktivitasnya hari ini benar-benar menguras banyak tenaganya.


Dan benar saja dalam hitungan beberapa menit, Ibu sudah tertidur pulas dalam balutan selimut tebal. Diam-diam Embun mengecek ke kamar Ibu untuk memastikan apakah Ibunya sudah tidur atau belum.


"Ibu pasti kelelahan. . . Selamat tidur Bu, semoga mimpi indah, selalu di berikan kesehatan sama Allah dan besok pagi bisa beraktivitas seperti biasanya."


Embun kembali menutup pintu kamar Ibu nya, ia segera mengunci pintu depan dan pintu belakang. Tak lupa lampu dapur dan ruang tamu ia matikan, dan menyisakan ruang tengah agar lampu tetap menyala.


Sesampainya di dalam kamar, Embun langsung naik ke atas ranjang dan masuk ke dalam selimut. Embun tak langsung tidur, ia teringat dengan foto Ayahnya yang ia letakkan di bawah bantalnya.


"Selamat malam Ayah, semoga Ayah selalu sehat dimanapun Ayah berada saat ini. Semoga Allah mempertemukan secepatnya ya Yah, walaupun Embun hanya bisa melihat Ayah dari jauh juga tidak apa. Embun kangen Ayah." Ucap Embun mengusap wajah Ayahnya dengan lembut.


Malam semakin larut, udara dingin semakin terasa hingga menusuk tulang. Embun telah tertidur di bawah balutan selimut yang hangat sejak 30 menit yang lalu.


__________________________________


>>Maaf terlambat Up ๐Ÿ˜Š๐Ÿ™


>>InsyaAllah kalau tidak ada halangan mulai hari ini Up setiap hari ๐Ÿ˜


>> Terimakasih yang sudah berkenan membaca coretan ini๐Ÿ˜๐Ÿ˜


Jangan lupa Like, Komen, rate 5 dan Vote ya ๐Ÿ˜


๐ŸŒบCAHAYA EMBUN EPS. 08๐ŸŒบ

__ADS_1


~TeลŸekkรผrler, Sizi seviyorum millet ๐Ÿ˜™๐Ÿ˜™~


__ADS_2